Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 36


"Mas, aku ikut ya.?"


Luna terus membuntuti Adi yang sedang bersiap untuk pergi kerumah sakit.


"Nggak usah Lun. Kamu di sini aja, jaga rumah, ya.?" Adi memegang kedua bahu Luna.


"Tapi, aku nggak mau dirumah sendirian." rengeknya.


"Adi, kamu udah siap.? Ayo cepetan keburu larut malam." Bu marta mengetuk pintu kamar Adi.


"Iya bu, aku kesana sekarang." Sambil berjalan meninggalkan Luna.


"Maaas.."


Luna terus merengek sampai kedepan pintu.


"Sayang, mas bukan mau rekreasi. Cuma mau jenguk Devano sebentar kok." Bujuk Adi.


"Iya nih, manja banget si jadi istri. Kamu disini aja jagain rumah. Nggak usah kemana-mana, lagian kita nggak akan lama kok." Timpal Bu Marta.


Luna hanya diam sambil cemberut. Dengan terpaksa ia menuruti perintah keduanya untuk tetap di rumah.


*


Hingga Tiba di rumah sakit, Adi dan Bu Marta segera mencari ruangan Devano.


Tok, tok, tok...


Adi perlahan membuka pintu ruangan. Terdapat Dalva tengah duduk di kursi dekat ranjang Devano.


Awalnya Adi kira, ia salah masuk ruangan. Hingga Bu Sarah datang dari belakang mereka dan mengagetkan Adi dan Bu Sarah.


"Nak Adi, Bu Marta."


Keduanya berbalik dan menutup kembali pintunya.


"Kalian disini.?". Tanyanya dengan ramah.


"Iya. Kami mau jenguk Vano, kenapa nggak hubungin kami. Kami kan juga keluarganya." Bu Marta marah-marah.


"Bu," Adi menatap Bu Marta agar berhenti bicara.


"Kalian masuk saja, Inara juga di dalam kok." Bu Sarah mendahului keduanya untuk ikut masuk.


Inara yang sedang berada di sofa seketika terkejut dengan kedatangan suami dan mertuanya itu.


"Bu, kenapa ibu panggil mereka kesini.?" Bisik Inara saat Bu Sarah mendekat.


"Ibu, nggak panggil mereka. Mereka datang sendiri kok." Bisik Bu Sarah juga.

__ADS_1


"Mama," Devano memanggil Inara untuk menghampirinya.


Semenjak kejadian dirumah saat itu, pandangan Devano terhadap papanya menjadi buruk. Ia juga menjadi takut akan kehadiran papanya itu.


"Iya sayang, mama disini kok." Inara memeluk Devano.


Dalva yang sedang duduk dan bermain dengan Devano langsung berdiri dan berpindah posisi.


"Vano, sayang. Kamu udah baikan nak.?" Tanya Bu Marta sambil mendekat.


"Nak, ayo salam sama nenek sama papa." Kata Inara. Meski Inara juga enggan bertemu dengan mereka, tapi baginya Devano tetap harus hormat pada orang tua.


Devano hanya diam dan memeluk Inara.


"Ayo sayang, nggak papa kok. Vano kan anak pinter dan berbakti." Bujuknya lagi.


Akhirnya, pelan-pelan Devano menurut dan menyalami keduanya dengan terpaksa.


"Ra, kenapa nggak kasih tahu aku kalau Vano kecelakaan.?" Tanya Adi.


"Ibu sama mas Adi, tahu dari mana kalau Vano ada di sini.?" Tanya balik Inara pada Adi.


"Mbak Diana yang bilang. Kemarin Mas Aldo sama mbak Diana ke rumah dan kasih tahu kami." Lanjut Adi.


Inara hanya diam. Sementara Adi beralih menatap pria asing yang ada di samping Inara.


"Terus, dia siapa.?" Tanya nya lagi.


"Saya, yang bertanggung jawab atas kesembuhan anak ini. Saya yang telah...."


Inara memegang tangan Dalva dan membuatnya berhenti bicara.


"Sudah, jangan bahas ini di depan Devano, nggak baik buat mental dia juga."


Adi yang mendengar itu langsung mendekat kearah Dalva dan mencengkram kerah bajunya.


"Jadi, kamu yang membuat anak saya seperti ini.!"


"Mas.!" Inara berteriak dan berusaha menengahi.


"Cukup. Kamu membuat Devano ketakutan mas.!"


Devano semakin erat memeluk Inara.


"Adi, sudah cukup." Bu Marta menarik tangan Adi.


"Kenapa nggak dibawa ke kantor polisi,? Kenapa dia malah ada disini.?" Tanya Adi geram.


"Mas, dia sudah mau bertanggung jawab, Itu sudah cukup. Lagian, kejadian ini murni kecelakaan dan ketidak sengajaan." Jelas Inara.


Adi terdiam sambil terus menatap Dalva yang membenarkan bajunya. Lalu berjalan mendekat ke arah Devano.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik aja kan.?"


Devano terdiam sambil memeluk Inara dengan erat.


"mama, aku takut."


"Keadaannya udah mulai membaik sekarang. Kata dokter, besok atau lusa ia akan segera di pulangkan." Timpal Bu Sarah.


"Sayang. Maafin papa ya nak atas kejadian malam itu, papa benar-benar...."


Belum sempat Adi menjelaskan semuanya, Inara langsung memotong perkataan Adi.


"Sudah mas. Jangan katakan apapun lagi tentang kejadian malam itu. Devano sudah melupakannya, dan kami pun tidak ingin mendengarnya lagi." Inara memalingkan wajahnya.


Adi menunduk, "Baiklah."


"Sebaiknya, mas Adi sama ibu pulang saja, Devano harus segera istirahat." Pinta Inara.


Adi dan Bu Marta pun tidak bisa membantah. Akhirnya mereka pulang setelah memberikan buah tangan berupa parsel buah kepada Devano.


"Dan kamu, sebaiknya kamu juga pulang. Sekarang sudah larut." Kata Inara pada Dalva.


"Iya, mbak. Emmm, nama saya Dalva mbak. Mbak bisa panggil saya Dalva." Balas Dalva.


"Iya,"


"Kalo boleh tau. Mbak namanya siapa? Biar saya bisa lebih santai panggilnya." Tanya Dalva dengan ragu.


"Saya Inara." Jawabnya singkat.


"Bolehkan, saya panggilnya Inara aja.?"


Inara menghela nafas panjang, "Iya, terserah."


"Yaudah kalo gitu, saya pamit." Dalva pun juga melangkah pergi setelah berpamitan pada Inara dan Bu Sarah.


*


Beberapa hari kemudian, keadaan Devano sudah mulai benar-benar membaik. Ia sudah bisa berjalan sendiri dan tangannya yang patah pun sudah mulai bisa di gerakkan secara perlahan.


Dokterpun sudah mengizinkan ia untuk dibawa pulang.


Tin, tin, tin..


"Sayang, ayo pelan-pelan nak turunnya." Bu Sarah membopong Devano untuk turun dari taksi online.


Sementara Pak Jaka, Bapaknya Inara menurunkan barang-barang dan membawanya kedalam.


"Makasih ya pak." Kata Inara sambil menyodorkan uang kepada supir taksi tersebut.


"Ayo, di bawa ke atas aja. Bapak udah bereskan semuanya kok." Pak Jaka membantu Bu Sarah untuk membopong Devano untuk menaiki tangga.

__ADS_1


....


__ADS_2