Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 7


Sesampainya di rumah, kak Diana dan Devano membopong ku masuk ke dalam kamar. Kak Diana dengan sigap menyiapkan makan dan minum untukku dan Devano.


Rumahku ini sudah seperti rumah nya sendiri, karena seringnya ia datang berkunjung ke sini untuk sekedar bermain dengan Devano ketika ia sedang libur dari pekerjaannya.


"Ra, kamu makan dulu ya, lalu kamu minum obatnya." Kak Diana menyodorkan makanan ke arahku.


"Makasih ya kak"


"Sayang, kamu juga makan ya, Tante bunda suapi, mau?"


"Iya Tante bunda, aku mau."


Lalu kak Diana beralih menyuapi Devano yang makan dengan lahapnya.


"Oh ya, aku lupa menanyakan satu hal. Kenapa aku bisa sampai rumah sakit, dan kak Diana bagaimana bisa tahu kalau aku pingsan?" Aku mulai membuka pembicaraan.


"Jadi, semalam ketika kakak pulang kerja, tetangga mu menghubungi kakak lewat handphone kamu. Dia bilang kamu pingsan dan akan dibawa ke rumah sakit, ya kakak jadi khawatir. Akhirnya kakak pergi ke rumah sakit dan ternyata benar kamu sedang terbaring dan Devano sedang menangis, tetanggamu berusaha untuk menenangkan nya."


"Iya ma, semalam aku berteriak keluar rumah untuk minta tolong, lalu orang-orang datang dan membawa mama ke rumah sakit. Aku meminta seseorang untuk menghubungi papa, tapi papa malah mematikan telponnya beberapa kali, akhirnya aku meminta agar menghubungi Tante bunda."


Devano memberi penjelasan yang membuat mataku memanas. Akhirnya air mataku jatuh, menetes membasahi selimut yang ku kenakan. Aku tak bisa membayangkan betapa cemasnya Devano saat aku tak sadarkan diri, ia berjuang sendirian meminta pertolongan kepada orang lain, sedangkan orang yang dia panggil papa sama sekali tidak memperdulikan nya saat ini.


Aku bangkit menghampiri anakku dan memeluknya erat.


"Maafkan mama sayang. Mama membuatmu cemas sendirian, lain kali mama janji, mama akan jaga kesehatan karena mama tidak mau kamu mengkhawatirkan mama seperti semalam." lalu Devano membalas pelukan ku.


"Memang nya semalam Adi kemana Ra, apa dia tidak pulang ke rumah?. Kok dia sama sekali tidak menanyakan keberadaan mu saat semalam kamu di bawa ke rumah sakit."


Aku terdiam, Kak Diana menatapku penuh selidik. Lalu sesaat kemudian ia tersenyum.


"Ra, Kakak tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari kakak saat ini. Jika kamu tidak ingin menceritakan nya, biar saja, kakak akan selalu siap mendengar keluh kesah mu kapan pun kamu mau."


"Oh ya, kakak gak bisa lama-lama nemenin kamu sama Devano, kakak ada pekerjaan yang masih harus di selesaikan. Nanti kalau urusan kakak sudah selesai, kakak akan usahakan balik kesini lagi ya."


Kak Diana bangkit dari duduknya lalu mengambil tas selempang yang di bawanya.


"Makasih ya kak sudah bantu aku dan Devano. Maaf karena sudah merepotkan kakak, gara-gara aku kakak jadi kesiangan berangkat kerjanya." Aku membuka suara sebelum kak Diana berlalu pergi.


"Iya Inara, kamu gak usah minta maaf gitu, kan udah jadi tanggung jawab kakak. Oh ya, nanti kakak kasih tahu Adi sama ibu ya, biar mereka datang dan merawat kamu."


"Ehh eumm tidak usah kak biar saja, aku akan menghubungi mereka nanti." Aku semakin gelagapan, kak Diana tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Aku memang tidak ingin menceritakan semua yang ku alami saat ini. Meskipun kak Diana adalah pendengar dan penasihat yang baik, tapi untuk saat ini aku tidak mau jika harus selalu membebani nya dengan masalah-masalah ku yang semakin banyak. Sepertinya kak Diana juga tahu perasaan ku saat ini yang tidak ingin bicara apapun.


"Kalo gitu kakak pergi ya. Daah anak bunda."


Kak Diana berlalu pergi setelah mencium kening Devano.


...----------------...


Hari sudah mulai gelap, Devano tampak sudah tertidur pulas setelah dari tadi menemaniku sambil bermain memainkan mainan pemberian dari tantenya.


Aku menyelimuti tubuhnya yang mungil. Lalu aku bangkit dari tempat tidur hendak mengambil ponselku yang berada di dalam tasnya Devano, karena semalam ia membawa ponselku bersamanya.


Ketika aku membuka kunci layar, terlihat notifikasi chat di atas layar ponselku.


Aku membuka isi chat tersebut yang ternya pengirimnya adalah kak Diana. Ia mengirimkan sebuah foto, lalu aku mengunduh foto tersebut sambil membaca chat yang ada di bawahnya."Ra, kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari kakak ."

__ADS_1


Aku melebarkan mata ku, ternyata yang ada di dalam foto tersebut adalah mas Adi dengan selingkuhan nya. Adegan nya terlihat sangat mesra, tangannya merangkul pundak perempuan itu sedangkan ia memeluk pinggang mas Adi dengan mesra.


Mata ku memanas, dan tak terasa air mataku mengalir dengan deras nya. 'Kenapa rasanya sakit sekali YaAllah'.


Aku mencoba menahan suaraku agar Devano tidak bangun. Lalu, tanpa membalas chat dari kak Diana aku langsung menyimpan ponselku asal dan mencoba memejamkan mata.


"Ma, bangun ma, sudah pagi aku harus ke sekolah."


"Mmmm, oh sayang maaf mama kesiangan ya." Aku menggeliat, Devano membuatku terbangun, ia tidak bisa bersiap sendiri untuk pergi ke sekolah.


Lalu aku dengan segera masuk ke dapur, membuatkan makanan untuk sarapan.


Saat kami berdua sedang sarapan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahku, aku melangkah membukakan pintu.


"Permisi Bu, ini ada paket surat untuk ibu. Silahkan ibu tanda tangani disini."


"Makasih ya pak."


Lalu pria itu pergi, dan aku kembali masuk untuk membuka isi surat itu. Rupanya itu adalah surat cerai yang dikirimkan mas Adi untuk ku.


Aku tidak masalah jika harus bercerai dengannya, karena aku juga menginginkan nya sejak lama. Tapi, kabar perselingkuhan yang dilakukannya sejak lama, membuatku merasa telah dibodohi selama ini.


"Ma, aku sudah selesai aku berangkat dulu ya."


"Ehh iya sayang hati hati ya, jangan lari lari di jalan."


"Iya ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Lalu ia pergi sedangkan aku bingung harus berbuat apa.


Apa aku harus memberi tahu mas Adi tentang kehamilanku ini. Tapi, aku tidak mau dianggap mengemis perhatiannya. Mas Adi dan ibunya pasti berpikir kalau aku tidak mau diceraikan.


"YaAllah tolong kuatkan hamba mu ini untuk menghadapi semua masalah yang engkau kehendaki."


Tak lama kemudian pintu rumah kembali diketuk. Aku kembali membukakan pintu dan ternyata ibu dan ayahku yang datang.


"Ibu, bapak." Aku menyalami mereka dan mempersilahkannya masuk lalu mereka duduk di sofa.


"Nak, kok kamu Kemarin masuk rumah sakit tidak kabari ibu sama bapak si. kami benar-benar khawatir dengan keadaan kamu loh."


"Loh, ibu tahu dari mana. Aku justru sengaja tidak mengabari ibu dan bapak karena aku tahu ibu juga lagi sakit, jadi aku tidak mau menambah beban pikiran ibu. Lagian aku juga sudah mendingan kok sekarang."


"Kemarin bapak ketemu sama kakak ipar mu dijalan. Dia bilang dia habis dari rumahmu karena semalam kamu di bawa ke rumah sakit karena pingsan. Kamu ini, hal seperti ini kamu tidak kabari bapak sama ibu."


Bapak sedikit marah padaku karena tidak mengabari nya. Aku tersenyum dan meminta maaf pada keduanya.


Lalu aku hendak pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum, tapi pandangan ibu mengedar ke seluruh ruangan.


Ibu celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


"Nak, suamimu sudah pergi kerja sepagi ini. Kok istri lagi sakit malah kerja. Harusnya dia libur dulu untuk merawat mu. Apa kamu tidak mencegah nya."


Ternyata ibu mencari keberadaan mas Adi.


Aku terdiam dan menyodorkan gelas berisi air. Aku bingung harus bilang apa ke ibu dan bapak.


"Bu, airnya diminum dulu, pasti bapak sama ibu capek harus naik angkutan umum dan berdesak desakan sama orang lain." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu harusnya gak usah repot -repot. Ibu sudah biasa kok naik angkutan umum. Kan setiap hari ibu pergi ke pasar bantuin bapak jualan sayur. Kamu ini masa sudah lupa sama profesi orang tuamu."


Aku tersenyum malu dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Tiba-tiba ibu melihat amplop surat yang berada di atas meja, aku lupa menyimpannya karena asyik mengobrol dengan ibu dan bapak.


"Nak, surat apa ini."


Ibu membacanya dan sedetik kemudian mata ibu melebar dan menitikkan air mata. "Suami mu ingin bercerai? Kenapa nak."


Bapak mengambil surat itu dari tangan ibu. Mereka berdua menatapku dengan penuh rasa iba.


"Apa maksud dari ini semua nak. Kenapa kamu menutupi semuanya dari orang tuamu ini."


Ibu menangis dan memelukku. Sementara bapak mengusap punggung ibu. Aku tak tahan dan ikut menangis.


"Maaf bu, aku tidak mau membuat ibu dan bapak khawatir dan malah membebani pikiran ibu sama bapak."


"Itu saja yang kamu pikirkan. Takut bapak khawatir, takut ibu bersedih. Kamu itu anak kami satu satunya. Bapak sama ibu tidak mau jika kamu memendam semua ini sendiri."


Bapak sedikit membentak, ia sangat kecewa dengan kenyataan ini.


"Sekarang coba jelaskan. Apa alasan suami mu sampai ia harus melayangkan surat cerai terhadapmu. Kesalahan apa yang kamu perbuat nak."


Aku melepas pelukan ibu. Lalu aku mencoba menjelaskan nya pada bapak dengan tenang.


"Sebenarnya, sudah sejak lama aku juga ingin berpisah dari mas Adi. Tapi aku urungkan niatku karena aku tidak mau membuat Devano tumbuh menjadi anak tanpa ayah."


Aku menyeka ucapan ku, aku menghempaskan nafas ku dan menjelaskan alasan mas Adi Samapi menceraikan ku.


"Tapi, mas Adi malah lebih dulu menceraikan ku karena...."


Aku menatap ibu dan bapak, tak tega rasanya jika harus menerima kabar pahit seperti ini.


"Karena apa Inara, katakan pada bapak."


"Karena mas Adi memiliki wanita lain. Alasan semua itu karena aku sudah tidak menarik lagi bagi nya. Bahkan ia sudah melakukan perselingkuhan itu sejak Devano lahir."


penuturan ku membuat wajah bapak memerah. Ia mengepalkan tangannya erat, tapi ibu mencoba menenangkannya.


"Kurang ajar suami mu itu, bisa-bisa nya dia memilih wanita lain dibandingkan dengan istrinya sendiri. Bapak harus kasih pelajaran pada laki-laki berengsek itu itu."


"Sudah pak. Sabar, kita tidak boleh gegabah menghadapi semua ini. Biar Allah yang membalasnya."


"Inara, tadi kamu bilang kamu juga berniat untuk minta pisah dari suami mu. Kenapa?


apa alasan nya." Ibu mencoba tenang untuk mendengarkan penjelasan ku selanjutnya.


"Bu, selama ini mas Adi hanya memberiku uang Nafkah yang pas-pasan. Bukan nya aku tidak bersyukur, tapi mengingat gaji mas Adi yang lumayan besar, aku hanya mendapat kurang dari setengah gajinya itu, itupun harus dibaginya lagi dengan ibunya. Sedangkan yang sebagian besarnya ia ambil lagi untuk keperluannya yang tidak penting. Aku tidak masalah jika uang itu ia tabung atau investasikan sebagai modal usaha, tapi ia malah sering menggunakan nya untuk bersenang senang dengan temannya, bahkan mungkin selama ini uangnya ia kasihkan ke selingkuhannya itu."


Aku menyeka air mataku agar ibu tidak merasa iba dengan keadaanku.


"Aku bahkan harus mengirit uang belanjaan demi untuk bertahan. Disaat wanita lain berbelanja baju dan alat make up untuk mempercantik diri, aku justru harus rela berpakaian lusuh tanpa riasan. Dan mas Adi malah menyalahkan ku di saat penampilanku sudah tidak menarik lagi."


Ibu memelukku dan mencoba menenangkan pikiran ku kembali.


"Sudah sudah jangan diteruskan ya, sekarang kamu minum dulu, dan istirahat di kamar. Nanti kita bicarakan lagi."


"Tapi Bu ada satu hal lagi."

__ADS_1


...----------------...


"


__ADS_2