Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 17


Setelah beberapa hari, kini kesehatan Inara mulai membaik. Ia sudah bisa beraktivitas seperti semula, ibu dan bapak nya pun sudah kembali pulang ke rumah mereka.


"Vano, ayo sarapan dulu nak nanti keburu siang sayang." Inara memanggil Devano yang masih berada di kamarnya.


"Iya ma"


"Loh masih belum rapih ternyata. Sini mama benarkan bajumu." Inara hendak merapikan baju Devano tapi ia malah menolaknya.


"Tidak usah ma, aku kan harus belajar mandiri, karena sebentar lagi aku punya adik."


Inara hanya tersenyum kagum melihat sikap Devano yang sudah mulai sedikit dewasa. Ia lalu duduk di kursi dan hendak mengambil makanan untuk Devano.


"Ma, tidak usah biar aku saja. Mama duduk saja dengan tenang, aku akan ambilkan makanan untuk mama, okey."


Lalu Devano dengan tangan mungilnya menyiapkan makanan untuknya dan Inara. Meskipun agak berantakan tapi Inara hanya tersenyum dan menuruti keinginan anaknya.


"Ini ma nasinya."


"Makasih sayang, kamu memang anak mama yang paaaling pintar." Inara mengambil nasi yang di siapkan Devano dengan lauk pauk yang lengkap.


Lalu mereka makan dengan lahap dan Devano dengan cekatan mengambilkan air minum untuk Inara.


Setelah beberapa menit, Devano pun berangkat ke sekolah dengan naik angkutan umum yang biasa di tumpangi nya bersama teman-temannya.


Inara melambaikan tangannya ketika Devano sudah agak menjauh, tapi ketika hendak berbalik masuk kedalam rumah, sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumahnya.


Mobil itu tidak asing di matanya, 'Pasti mas Adi." Batinnya.


Inara hanya terdiam dan menunggu seseorang keluar dari mobil tersebut dengan santai.


Lalu tiba-tiba Adi keluar bersama ibunya dan Luna dengan membawa koper besar serta barang-barang yang ia tak tahu apa isinya.


Inara melebarkan matanya, ia tampak heran, apa yang akan dilakukan Adi dengan membawa banyak barang me rumah ini.


"Woow, rumah kamu besar banget ya mas."


Luna melangkahkan kaki dan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Inara yang sedari tadi berdiri di depannya.


Lalu disusul oleh Adi dan ibunya. Mereka berdiri di hadapan Inara yang hanya menatapnya.


"Kenapa Inara, kaget ya dengan kehadiran kami disini." Ibu menyunggingkan senyum liciknya. Inara hanya menatapnya datar tanpa menjawab.


"Nih, bawakan barang-barangnya Luna ke dalam." Bu Marta menyodorkan beberapa barang kehadapan Inara. Ia benar-benar kaget, kenapa barang-barang Luna harus dibawa ke rumahnya.


Lalu mereka masuk ke dalam dengan leluasa. Inara membuntuti mereka dari belakang, menatap Luna yang tengah menelusuri setiap ruangan dan bahkan sampai masuk ke kamar utama milik Inara.


"Mas aku tidurnya di kamar ini ya." Pinta Luna setelah keluar dari kamar Inara.


Inara melotot dan melangkah ke hadapan mereka.

__ADS_1


"Cukup mas, apa maksud dari semua ini. Koper besar, barang-barang dan kamu Luna, kenapa kamu seenaknya masuk ke kamarku tanpa izin."


"Oh, jadi ini kamarmu ya. Dengar ya Inara mulai sekarang kamar ini akan menjadi milikku dan mas Adi. Aku akan tinggal disini dan menjadi nyonya di rumah ini untuk selama-lamanya. Kamu dengar?" Luna tersenyum sinis.


"Iya Inara, mulai sekarang Luna akan tinggal di disni bersama denganmu. Kami sudah menikah siri, jadi biarkan dia tinggal di rumah ini." Adi akhirnya membuka suara.


"Tidak, aku tidak setuju. Kamu jangan macam-macam mas, mana bisa satu lelaki tinggal bersama dua wanita dalam satu atap. Aku tidak perduli jika kalian sudah menikah siri. Tapi untuk tinggal serumah, aku tidak akan sudi".


Bu Marta mendekat ke arah Inara, ia mendorong bahu Inara sampai terhuyung.


"Heh, siapa kamu berani-berani membantah keputusan Adi. Kamu cuma numpang di sini, kamu istri yang tidak berguna. Jika kamu tidak mau tinggal di sini bersamanya lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini. Ayo Adi keluarkan semua barang-barang Inara dari kamarnya."


"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu." Inara berlari kearah kamarnya dan menghalangi mereka di depan pintu.


"Jangan halangi kami Inara, menyingkir atau kami akan berbuat kasar padamu."


"Tidak, kalian yang harusnya menyingkir dari sini."


Inara terus saja mempertahankan posisinya, hingga akhirnya Luna menarik tangan Inara, tapi tak di sangka, bukannya Inara yang jatuh tapi malah Luna yang terpental karena tangannya terlepas.


Semua mata tertuju pada Luna, ia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Adi dan Bu Marta dengan segera menghampiri Luna.


"Luna, kamu gak papa sayang.?"


"Aaw, perutku sakit sekali maas arrgh." Luna terus saja memegangi perutnya erat-erat.


"Bu, di celana Luna ada darah."


Bu Marta terkejut dan panik karena darahnya semakin banyak. Lalu ia menghampiri Inara dan langsung menamparnya.


Inara memegangi pipinya yang terasa panas sambil menangis. Sementara Adi memangku Luna untuk di bawa ke dokter.


"Sudah Bu, lebih baik kita bawa Luna ke rumah sakit." Ia berlari melewati Inara yang juga kesakitan karena tamparan ibunya.


"Awas kamu ya, kalau terjadi sesuatu dengan Luna, kamu tanggung akibatnya."


Lalu Bu Marta berlari mengejar Adi dan masuk ke dalam mobil. Sementara itu Inara hanya duduk terkulai lemas sambil memegangi pipinya yang terasa perih.


Ia menangis sesenggukan di atas lantai, ia benar-benar kecewa dengan Adi yang begitu mengkhawatirkan Luna, sedangkan saat ia di tabrak oleh sebuah mobil kala itu, Adi hanya diam tanpa menolongnya.


"Aaarrrrrghhhh." Inara berteriak dengan kencang dan histeris. Ia mengutuk dirinya sendiri yang merasa bodoh dan tak berguna di dunia ini.


Tanpa sadar ternyata sudah ada Andres di dalam rumah dan langsung menghampirinya.


Ia panik dan langsung memeluk Inara yang sedang histeris.


"Inara, YaTuhan kamu kenapa Ra." Ia memeluknya erat.


Sementara Inara hanya menangis tanpa menjawabnya. Dan kemudian Andres mengangkat Inara untuk berjalan dan duduk di kursi.


"Hey, hey kamu kenapa Ra." Andres memegangi pipi Inara yang basah karena air mata.

__ADS_1


"Dia laki-laki brengsek. Dia laki-laki brengsek."


teriaknya sambil memukul-mukul dada Andres. Ia hanya diam dan mencoba menenangkannya .


"Ssuuttt, sudah sudah tenangkan dirimu ya." Ia memeluknya dengan erat sampai akhirnya Inara berhenti dan membalas pelukan Andres.


.........


Sementara di rumah sakit, Adi dan Bu Marta tengah merasa gelisah menunggu hasil pemeriksaan dokter. Mereka mondar-mandir di depan pintu dan berharap adanya kabar baik dari dokter.


"Jika terjadi sesuatu pada Luna, kita harus beri pelajaran pada wanita itu. Dia harus bertanggung jawab atas kejadian ini Adi." Bu Marta terus mengoceh dan menyalahkan Inara.


"Sudah Bu, lebih baik kita mendoakan keselamatan Luna dan calon bayiku."


Tak berselang lama, akhirnya dokter keluar dari ruangan dimana Luna di periksa. Dengan cepat Adi menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Luna.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Istri bapak masih pingsan karena pengaruh obat bius, anda suaminya? mari kita bicara di ruangan saya."


Adi mengangguk dan mengikuti dokter keruangannya, dan Bu Marta masuk kedalam untuk melihat keadaan Luna.


"Maaf pak, dengan berat hati saya katakan janin di kandungan istri bapak tidak bisa kami selamatkan."


"Apa dok, maksud dokter istri saya keguguran?"


"Iya pak, karena benturan yang sangat keras saat istri bapak terjatuh, janinnya pun tidak bisa di selamatkan."


Adi merasa frustasi dan menangis di hadapan dokter. Lalu ia keluar dan menghampiri Luna di ruangannya yang sudah mulai tersadar.


"Adi, bagaimana hasilnya. Apakah Luna dan janinnya baik-baik saja?"


"Mas kamu kok nangis, kenapa? bayi kita baik-baik saja kan?".


Adi tidak menjawab pertanyaan mereka dan berjalan menghampiri Luna. Kemudian ia memeluknya erat.


"Mas, katakan ada apa."


"Kamu keguguran sayang, bayi kita tidak bisa di selamatkan."


Bu Marta dan Luna terkejut dengan penuturan Adi. Luna langsung menangis histeris di pelukan Adi.


"Tidak mungkin mas, aku tidak mungkin keguguran." Adi terus memeluk Luna dengan erat sambil menenangkannya.


"Kamu jangan tinggal diam Adi, Inara harus kita jebloskan ke dalam penjara."


"Cukup Bu, jangan terus menyalahkan Inara, ini semua kecelakaan." Bantah Adi.


"Kenapa kamu malah membelanya mas, apa kamu masih mencintainya?"


Luna semakin menjadi-jadi. Adi merasa bingung dengan perasaannya, ia hanya diam menatapnya kosong.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu tidak mau bertindak biar ibu yang akan melapor pada polisi."


......


__ADS_2