Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 29


POV Author


"Aaarrrgghhh..."


Selepas kepergian Inara dengan membawa serta Devano yang entah kemana, Adi merasa menyesal. Ia mengacak-acak rambutnya asal dan menendang properti yang ada di hadapannya.


Ia melihat ke sekeliling ruangan di rumahnya, begitu berantakkan dan tak teratur. Pakaian dalamnya dengan Luna berserakan di lantai.


Sedikitnya ia merasa malu dan menyesal karena kelakuannya semalam yang melakukan hubungan intim bersama Luna di ruang keluarga bahkan dihadapan anaknya.


"Kenapa semuanya jadi begini, aaarrrgghh."


Ia melirik ke arah jam dinding, jarumnya masih menunjukkan pukul 11 siang, belum waktunya Luna untuk pulang dari kerjanya saat ini.


Dengan terpaksa ia membereskan semua yang ada di hadapannya seorang diri. Karena ia sendiripun merasa jijik dengan benda-benda tersebut.


Bekas makanan dan minuman yang dikerubungi semut, bekas pakaian dalam, bahkan botol alkohol yang baru kali ini ia meminumnya.


Ia menyisir seluruh ruangan sampai benar-benar bersih dan rapi tanpa ada yang tersisa sedikitpun, hingga tak terasa hari sudah mulai sore.


Tok tok tok...


Suara pintu di ketuk dari luar. Dengan malas Adi langsung membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah Bu Marta, ibunya.


"Loh, Adi kamu kenapa? Muka kamu kok kusut gitu, keringetan lagi. Kamu habis ngapain?" Bu Marta langsung menodongkan pertanyaan pada Adi karena ia terlihat kusam dan tak bersemangat.


"Ibu ngapain kesini? Aku...."


Tak menunggu jawaban dari Adi, Bu Marta langsung nyelonong masuk dan duduk di sofa.


"Luna kemana? Belum pulang kerja dia?"


"Belum bu, aku habis beres-beres rumah, tadi rumah kami berantakan." Adi membuntuti ibu dan ikut duduk di sofa.


"Apa? Kamu? Beberes rumah.? Memangnya Luna nggak bisa apa sebelum berangkat kerja beresin rumah dulu? Terus kamu nggak kerja?" Bu Marta terlonjak kaget, ia melotot tak percaya dengan penuturan Adi.


"Emm, aku...Sebenarnya tadi..."


Adi menceritakan semua kejadian kemarin, bahkan dari semenjak Inara berubah dan menjadi banyak uang dan banyak belanja.


"Hah.. Ibu nggak salah dengar kan. Inara banyak uang, dan membawa Devano pergi dari rumah.?"


"Iya, aku juga nggak tahu ia mendapatkan uang dari mana dan ia membawa Devano kemana, tapi yang pasti saat ini aku benar-benar frustasi dengan keadaan ini, mana Luna belum pulang kerja lagi." Adi tampak menyender pada kursi dan terlihat lelah.


"Sudah-sudah, sekarang kamu istirahat aja dulu, kita tunggu sampai kapan istri kamu itu keluyuran sendirian diluar sana."

__ADS_1


"Tapi, apa yang membuat ibu tiba-tiba datang ke sini?, hari gajian aku masih satu minggu lagi kan, apa ibu lupa."


"Issh, kamu itu, iya ibu nggak lupa. Ibu kesini bukan mau minta gaji kamu kok. Sebenarnya tadi saat ibu mau ke pasar, ibu sekilas melihat ibu sama bapaknya Inara di sebuah ruko, terus ada laki-laki yang waktu itu belain Inara juga sama beberapa orang lagi kaya beberes gitu. Kayanya mereka lagi mau buka usaha deh."


"Ibu yakin itu mereka? Apa selama ini uang yang dipakai Inara itu pemberian Andres?"


"Ooh, jadi namanya Andres, mungkin aja dia jual diri sama laki-laki itu?" Bu Marta menerka-nerka.


"Aku yakin Inara nggak seperi itu bu." Adi mematahkan dugaan Bu Marta.


"Kamu ini malah belain dia. Apa kamu sama sekali nggak curiga, status dia itu masih istri kamu loh. Dia masih mengandung anak kamu. Harusnya kamu bisa lebih tegas dong sama dia."


"Percuma bu, sekarang dia udah jadi pembangkang."


"Issh, dasar perempuan nggak bermoral. Bisa-bisanya dia jual diri di saat hamil kaya gitu."


Adi hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar gerutu ibunya yang nggak tahu menahu asal-usul ceritanya.


......................


Gubrak


Adi dan Bu Marta yang sedang menonton televisi seketika menoleh ke sumber suara.


"Luna.!" Kata mereka berbarengan sambil melangkah mendekat ke arah Luna yang terhuyung ke lantai sambil sempoyongan karena mabuk.


Bu Marta melotot dan beralih memandang Adi. Lalu mereka mengangkat tubuh Luna dan menidurkannya di sofa.


"Sayang... Ayo minum uhuk uhuk.."


"Huhh.. Bau banget lagi. Sejak kapan kamu sama Luna minum-minuman keras kaya gini Adi." Cerca Bu Marta sambil menyingkirkan botol tersebut.


"Aku baru kemarin merasakan minuman ini kok bu itupun karena Luna memaksa, kalau dia mungkin sering. Aku kan nggak tahu kehidupan dia di luar sana sebelum kami menikah."


"Yasudah, ambilkan air seember, kita guyur aja dia biar dia sadar." Titah Bu Marta yang membuat Adi langsung berdiri.


"Ibu yakin mau guyur dia,?"


"Udah cepetan. Emang kamu mau dia terus-terusan mabuk dan ngelantur kaya gitu."


"Mending kita bawa aja langsung ke kamar mandi bu."?


"hhhh, yasudah ayo."


Byuurrr...


Satu ember air membasahi tubuh Luna, namun ia masih Belum sepenuhnya tersadar, dan matanya masih terpejam. Bu Marta hendak mengambil air lagi namun Adi mencegahnya.

__ADS_1


"Udahlah bu, kita bawa aja ke kamar dan gantiin bajunya, biar dia tidur dulu. Kita bicara lagi besok ya."


"Yaudah sana. Ibu gamau urus menantu mabuk kaya gitu."


Adi langsung membawanya masuk ke kamar dan menidurkan Luna. Ia juga menggantikan bajunya yang basah kuyup.


......................


Hari sudah pagi, Adi dan Bu Marta sudah berada di meja makan untuk sarapan. Sedangkan Luna baru saja bangun dan langsung ikut nimrung sambil mengucek-ngucek matanya.


"Baru bangun kamu Luna." Ketus Bu Marta sambil menatapnya sinis.


"Loh, ibu sejak kapan ibu disini,? Pagi-pagi bsnget." Luna baru sadar akan kehadiran ibu mertuanya.


"Kamu nggak usah mengalihkan pembicaraan. Kemana aja kamu kemarin sore? Pulang malam sambil mabuk sama bawa alkohol. Kamu nggak sadar kalo Adi seharian beresin rumah sampai dia kewalahan. Apa setiap hari kelakuan kamu kaya gitu?"


"Apa si bu, kok pagi-pagi udah ngajak ribut aja, lagian ibu ngapain si pake kesini segala. Nggak usah ya ibu ikut campur sama rumah tangga kami." Balas Luna tak kalah ketus.


Adi langsung menatap Luna dengan tatapan yang tajam.


"Luna, jaga ucapan kamu. Dia ini ibu aku."


"Mas, ibu yang mulai duluan, kamu denger kan tadi."


"Tapi itu faktanya. Kamu keluyuran sementara Adi pulang kerja ngurusin rumah seharian. Terus apa gunanya kamu di rumah ini." Ibu membentak Luna sambil berdiri.


"Kan aku juga kerja bu, cari uang biar aku bisa merawat diri, biar nggak kucel, dekil. Lagian kan selama ini yang urusin rumah selalu Inara." Bantah Luna


"Itu kan saat masih ada Inara disini. Sekarang dia udah minggat, dan kamu harus gantiin posisi dia dalam segala hal, bukan cuma pengennya jadi nyonya aja di sini."


Bu Marta terus saja menyudutkan Luna. Luna mencoba mencari pembelaan dari Adi tapi dia justru membela ibunya.


"Cukup bu, Luna. Biar aku yang memutuskan. Mulai hari ini Luna, kamu nggak usah kerja lagi, urus pekerjaan rumah dan biar aku yang cari uang sendiri." Adi bangkit dan berlalu pergi.


"Apa mas, ini nggak adil. Aku harus kerja, aku nggak mau seharian ngurusin rumah." Luna berlari mengejar Adi dan diikuti Bu Marta.


"Itu sudah keputusan aku Luna, dan kamu harus mau menurutinya."


"Tapi mass.."


"Sudahlah Adi kamu berangkat saja. Biar ibu yang awasin istri kamu ini."


"Maas.. Tunggu."


Adi tak menghiraukan panggilan Luna lalu pergi melajukan mobilnya.


.........

__ADS_1


__ADS_2