
Bab 9
POV Adi
"Sial.."
Aku mengumpat. Terlihat ibu dan Luna saling bertatapan dan kembali menatapku.
"Adi, kamu kok bisa sih membuat Inara sampai hamil lagi. Seharusnya kamu juga bisa menjaga perasaan Luna."
Ibu menghakimi ku. Aku frustasi sambil memijit kening ku untuk bisa berfikir bagaimana cara nya agar masalah ini cepat selesai.
"Iya mas, lalu bagaimana dengan calon anak kita juga."
"Sudah, kalian jangan ribut dulu. Biarkan aku berfikir untuk menyelesaikan masalah ini. Lagipula, kenapa kamu harus memberi tahu bapak kalau saat ini kamu sedang hamil Luna."
Wanita itu tampak gelagapan dan duduk berdempetan dengan ibuku. Ia sedikit ketakutan ketika aku balik bertanya kepadanya.
"Loh, kok kamu malah menyalahkan Luna si. Kejadian ini mungkin tidak akan terjadi kalau dari dulu kamu mendengarkan ibu untuk segera menceraikan Inara." Ibu tampak membela Luna yang sedikit ketakutan.
"Iya mas, kamu bilang sudah hilang selera dengan istrimu itu karena dia kucel. Tapi buktinya, sekarang kamu malah menghamilinya lagi."
"Luna sayang, kejadiannya tidak seperti itu. Kamu ingat waktu kamu diluar kota untuk berlibur bersama teman teman mu? Disaat itu pula aku menahan hasrat yang selama ini aku pendam sejak jauh darimu. Aku kehilangan kendali dan memaksa istriku untuk melayaniku setiap hari. Biasanya, aku hanya memintanya satu atau dua bulan sekali."
"Lalu kenapa sampai hamil lagi." Ia kembali protes dan memonyongkan bibirnya.
"Sayang, saat itu dia masih istriku kan?. sudah menjadi hal yang wajar jika aku memintanya setiap hari. Lagian kamu juga keluar kota sampai berminggu-minggu, aku jadi frustasi.
Setelah sekian lama Inara tidak memasang KB karena kami sudah jarang berhubungan. Mungkin saat itu ia lupa memasangnya kembali karena aku terlalu mendadak memintanya setiap hari melayaniku."
Aku menjelaskan pada ibu dan Luna dengan gamblang. Memang tidak sopan rasanya aku harus membicarakan hal sesensitif ini dihadapan ibu. Tapi kenyataan nya memang seperti itu, aku tidak tahan jika harus jauh dari Luna saat itu. Jadi aku menumpahkan hasrat ku pada Inara istriku.
"Kamu ini, sudah sudah lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana agar kehamilan Inara tidak menghambat pernikahan kalian berdua."
"Aku ada ide Bu." tiba-tiba Luna terpikirkan sesuatu yang membuatnya senyum senyum sendiri.
"Apa, apa."
"Kita gugurkan saja kandungan Inara."
Aku melebarkan mata dan menggeleng tidak setuju dengan ide gilanya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak setuju. Itu terlalu beresiko. Jika sampai ketahuan kita akan masuk penjara nanti."
"loh, ya jangan sampai ketahuan dong mas. Kita pakai cara halus saja." Ia mengangkat kedua alisnya tanda kalau ia ada banyak ide.
Aku semakin tidak yakin dengan rencananya. Menggugurkan kandungan seseorang akan membuat akan sangat beresiko. Aku tidak mau jika Sampai semua ini ketahuan dan aku akan dikurung dipenjara.
"Sudah, kamu jangan macam-macam. Sekarang kamu pulang saja dulu, aku akan memikirkan bagaimana pernikahan kita akan berlangsung tanpa harus ketahuan oleh mereka. Dan jangan sampai kamu berfikir lagi untuk menyakiti kandungan Inara okey."
"Kamu sekarang ngusir aku mas."
"Bukan ngusir sayang. Biarkan aku berfikir dulu sendiri. Dan untuk beberapa waktu, kamu jangan dulu kesini ya. Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Inara, dan setelah itu aku akan mengabari mu okey."
Aku mencoba menjelaskan beberapa hal kepada Luna agar ia mengerti dengan keadaan ini. Lalu tanpa diminta lagi ia segera pergi sambil beberapa kali menggerutu.
"Adi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini.Ibu tidak mau ya kalau kamu balikan lagi sama perempuan itu."
"Aku tidak tahu Bu, biarkan aku berfikir untuk sementara waktu."
Aku beranjak meninggalkan ibu sendiri diruang tamu menuju ke kamarku
Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Merebahkan kaki dan tangan selebar mungkin. Pikiranku melayang kemana mana.
Teringat pertama kali bertemu dengan Inara. Ia dulu begitu cantik, tubuhnya tinggi semampai dan rambutnya indah terurai. Dulu ia sangat menjaga penampilan, meskipun ia berasal dari keluarga miskin, tapi penampilannya tidak pernah mengecewakan sebagai seorang gadis.
Aku mulai jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Saat ia sedang bekerja di sebuah toko kue milik salah seorang temannya.
"Permisi mba, ada kue untuk anniversary nggak."
Aku yang waktu itu baru pulang bekerja. Masih memakai seragam kebanggaan ku yaitu seragam kantoran. Gadis itu melihatku dari atas sampai bawah, mungkin ia terpesona dengan ketampanan dan kegagahan ku yang masih memakai seragam kantoran yang banyak diimpikan para wanita.
"Eh, iya ada mas, sebentar saya ambilkan."
Inara tampak gugup melihatku, sambil mengambil kue yang aku minta, aku merasa pandangannya tak luput dari wajahku.
"Ini mas, kue nya ada yang rasa strawberry,coklat, blueberry, dan yang campur juga ada,kalau kata-katanya ada yang mau ditambah silahkan katakan saja, biar saya tulis diatasnya."
Ia menjelaskan kue yang dibawanya, mataku tak berkedip memandang wajahnya. Ia begitu imut, rambut panjangnya diikat kebelakang dan menyisakan dua poni di kiri dan kanan wajahnya.
"Mas, maas jadi pesan tidak."
Ia melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku dan langsung menyambar kue yang dibawanya.
__ADS_1
"Eh iya mba yang ini saja dibungkus."
"Ada yang mau di tambahkan dari kata katanya? biar saya tuliskan diatasnya."
"Oh ya, boleh tuliskan saja kuenya untuk Kakak ipar saya. Kata katanya terserah mbak saja."
Lalu ia menuliskan beberapa kata di atas kuenya dengan sangat teliti. 'cantik sekali', gumam ku dalam hati.
"Ini mas sudah jadi."
Lalu ia menyodorkan kuenya ke arahku. Aku pun mengambil dan membayarnya.
"Emm mbak, boleh minta nomor telponnya tidak."
Aku memberanikan diri meminta nomor ponselnya. Walau dalam hati merasa gugup dan sedikit malu.
"Maksudku biar kalau aku mau pesan lagi, biar langsung menghubungi."
"Ooh kalau itu ada didepan mas, ada nomor khusus untuk pemesanan."
Ia menunjuk kearah papan iklan yang dipasang didepan toko.
"Ehh, bukan maksudnya nomor mbak nya saja biar lebih nyaman pesan nya. Kalau ke bosnya langsung saya sering gugup."
Aku beralasan, dan iapun dengan senang hati memberikan nomor ponselnya padaku.
Semenjak itu, selain aku sering menghubunginya untuk memesan kue, aku juga sering basa basi sekedar menanyakan kegiatannya. Lama-lama kami semakin akrab dan sering bertemu.
Setelah menjalin sebuah hubungan, aku pun tak menunggu lama untuk mempersuntingnya. Keluarga nya begitu bahagia karena anaknya mendapatkan lelaki tampan dan berwibawa seperti ku. Tapi tidak dengan orang tua ku, mereka menganggap bahwa seleraku sangat rendah karena menikahi gadis miskin yang tidak terpelajar.
Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya orangtuaku merestui pernikahan kami karena aku tak henti hentinya memohon kepada mereka.
Tak lama kemudian, kami pun menikah dan selang beberapa bulan kami mendapatkan momongan.
Orangtuaku sangat senang karena mendapatkan cucu pertamanya yang tidak didapatkannya dari kakak ipar ku karena istrinya yang tidak bisa hamil lagi. Tapi, beberapa bulan kemudian, ayah pergi meninggalkan kami untuk selama lamanya karena penyakit jantung dan paru paru.
Semenjak anak pertama ku lahir, istriku berubah drastis, dari mulai bentuk tubuh, wajah dan penampilan nya yang tidak sedap di pandang. Padahal aku selalu memberi nya uang yang menurutku cukup untuk merawat dirinya.
Meskipun kami tidak menyewa ART karena aku tidak mau semua urusan rumah tanggaku di atur oleh orang lain, tapi istriku selaku telaten dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Meski begitu, aku tetap tidak nyaman dengan penampilannya yang semrawut, tidak seperti saat ia masih gadis.
__ADS_1
Semenjak itu, aku jarang berada di rumah dan sering pergi ke lapangan bola untuk sekedar menyalurkan hobi.
Di situlah aku bertemu dengan Luna, gadis impianku saat ini.