
Bab 15
"Ekhem.."
Seketika kami menoleh ke arah suara. Ternyata mas Adi sudah berdiri dihadapan kami, aku tak tahu sejak kapan dia di sana. Tatapannya begitu aneh, dan mau apa dia kesini?.
Lalu Andres perlahan menurunkan tangannya dari pipiku.
"Sedang apa kalian disini. Berduaan ditempat dingin, tak malu dilihat orang?"
Ia berbicara seakan dia orang paling suci di muka bumi ini. Andres hanya diam tak bersuara sambil memainkan ponselnya dan mengabaikan mas Adi.
"Untuk apa kamu ke sini mas.?" Aku menyeka air mataku yang masih tersisa.
"Untuk apa kamu bilang. Kamu pikir aku ke sini mau apa?, aku kesini untuk menjenguk mu Inara Larasati istriku."
Ia menyebut namaku dengan sedikit menekan sambil sesekali melirik ke arah Andres yang dari tadi hanya mengabaikannya.
"Untuk apa? Aku tidak memerlukan mu mas, sudah ada Andres di sini yang menemaniku."
"Dengar Inara istriku, aku kesini datang baik-baik untuk merawat mu selayaknya seorang suami. Lagipula, aku lebih berhak berada disini dari pada dia."
Mas Adi menunjuk Andres dengan telunjuknya. Andres langsung melirik tangan mas Adi yang tepat berada didepan wajahnya, lalu ia berdiri sambil menyingkirkan tangan mas Adi perlahan dengan tatapan yang dingin.
"Jangan membuat keributan di sini, jika kau tak mau kehilangan karirmu."
"Kenapa pak Andres, apa karena kau seorang CEO?. Kau akan memecat ku? Cihh.. Aku tidak takut padamu." Mas Adi menyunggingkan bibirnya dan mengejek ancaman Andres.
Aku heran dengan ucapan mas Adi. 'CEO?' Jadi selama ini, dia bekerja di perusahaan ayahnya Andres.
"Jangan main-main dengan ku tuan Adi Parawijaya. Pergi dari sini atau kau akan dapat masalah."
Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Terlihat sorot mata mas Adi yang sedang menahan amarah sambil mengepalkan tangannya. Ia hendak menghajar Andres tapi dengan sigap Andres menangkap tangannya dan memelintirnya ke belakang.
"Akhh.." Mas Adi meringis, aku mencoba melerai mereka. Tapi aku tak berdaya, aku tak mau mereka berduel di tempat yang tidak semestinya ini.
"Aku bilang jangan membuat keributan jika kau tidak ingin terkena masalah."
"An, sudah jangan ladeni dia." Aku mencoba meraih tangannya, tapi sulit untuk ku bergerak dari kursi roda ini.
"Lepaskan, brengsek." Mas Adi meringis tak tahan.
Andres langsung melepaskan cengkraman tangannya, ia menatap lekat pada mas Adi yang terlihat kesakitan.
"Jangan coba-coba mengancam ku ya, aku tidak akan pernah takut denganmu. Lagipula, apa urusan mu dengan istriku? kau bukan siapa-siapa di sini."
Andres tampak lebih tenang, ia kembali duduk di depan ku. Aku bingung dengan tingkahnya.
"Aku calon suaminya."
Ia menatapku dalam-dalam, aku melotot mendengar ucapannya begitu pun mas Adi. Ia tampak begitu shock hingga akhirnya mas Adi mendekat dan mencengkram kerah baju Andres dengan kuat hingga membuatnya berdiri.
"Jangan macam-macam dengan ucapan mu. Inara masih istriku, istri sah ku."
Andres langsung menyingkirkan cengkraman mas Adi dengan kasar. Ia sedikit membenarkan kemejanya yang agak kusut sambil menyunggingkan senyum sinis nya.
__ADS_1
"Bukankah kau akan menceraikannya?. Aku akan menunggunya sampai ia melahirkan anakmu. Dan setelah itu jangan mencampuri urusan kami berdua."
"Kurang ajar."
Bugh..bugh..
Mas Adi memukul wajah Andres sampai bibirnya berdarah, aku terkejut dan refleks menjerit minta tolong.
Mereka berdua saling menghajar satu sama lain, aku terus saja meminta tolong dan berharap ada yang memisahkan mereka.
"Cukup mas, cukup. Tolong."
Akhirnya dua orang satpam datang dan melerai mereka berdua. Yang satu memegangi mas Adi dan yang satunya memegangi Andres.
"Ada apa ini tuan Andres, kenapa membuat keributan di rumah sakit ini."
"Usir dia dari hadapan ku, dan pastikan jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah sakit ini." Andres langsung memerintahkan satpam tersebut untuk mengusir mas Adi.
Lalu mereka berdua memegangi mas Adi yang terus saja memberontak.
"Harusnya dia yang diusir dari sini. Lepaskan."
Para satpam tak menghiraukan teriakannya dan langsung menyeretnya dari hadapan kami.
Lalu kami berdua kembali ke ruangan ku. Andres tampak masih dengan tatapan dinginnya saat mendorongku.
Kemudian ia menggendongku ke atas kasur, dan ia pun duduk di kursi yang ada di samping ku.
"Maafkan aku membuatmu cemas." Ia menatapku dan memegang tanganku.
"Bibir dan hidung mu berdarah An, sebaiknya kau segera mengobatinya." Aku panik, tapi ia malah tersenyum.
Lalu seorang suster masuk ke ruangan ku sambil membawa kotak obat. "Ini tuan, obat yang kau minta." Andres langsung mengambil kotak obat tersebut.
"Terimakasih."
Suster pun berlalu meninggalkan kami. Andres membuka kotak obat tersebut dan mencoba mengobati lukanya.
"Sini berikan, biar aku saja."
Aku meminta obat ditangannya dan ia memberikannya pada ku, aku mulai mengusapkannya pada sudut bibirnya. Ia sesekali meringis menahan rasa perih.
"Tahan sedikit ya."
Aku terlalu fokus membersihkan lukanya sampai tidak sadar bahwa wajah kami begitu dekat, ia menatapku tanpa berkedip.
"Kamu cantik." Lalu tiba-tiba ia berbisik lembut.
Ketika mata kami saling bertemu, aku memalingkan muka dan merasa salah tingkah. Ia tertawa melihatku yang kikuk dan menahan malu.
"Hahaha, kamu ini tidak berubah, sama seperti dulu, ketika seorang memandang mu bahkan dari jauh, wajahmu langsung merah dan salah tingkah."
"Ih nggak kok, mana ada pipiku merah."
Aku manyun dan menahan rasa malu, apa iya begitu? apa pipiku memerah. Aku sampai meraba-raba pipiku.
__ADS_1
"Tuh,tuh,tuh sekarang hidungnya yang merah."
Ia menunjuk hidungku, sambil tertawa, aku menangkap tangannya dan memukul mukul bahunya.
"Iiih kamu ya, dasar nyebelin, sini rasain rasain." Aku terus memukulnya dengan keras sampai dia kesakitan
"Aww sakit Ra, tanganmu ini sama seperti sumo tahu gak." Ia memegangi lengannya yang sakit.
"Biarin, siapa suruh nyebelin."
Aku melipatkan tanganku dan memalingkan muka, tak mau melihatnya yang nyebelin itu.
"Iya iya maaf Inara Larasati. Lagian sampai segitunya ngobatin luka sekecil ini. Ini tidak akan lama kok nanti juga sembuh."
Ia menarik tanganku dan aku langsung berbalik melihatnya yang tersenyum membujukku.
"Oh ya tadi apa kamu bilang.? Aku calon istrimu, maksud kamu apa bicara seperti itu pada mas Adi?"
Aku baru ingat untuk mempertanyakan hal itu. Dia hanya diam memandangiku.
"Hey, hello.." Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya. Ia hanya berkedip dan tersenyum.
"Ra, suamimu itu harus di beri sedikit pelajaran. Aku hanya ingin membuatnya cemburu dan merasakan apa yang kamu rasakan selama ini."
Aku terdiam mendengarkan penuturannya. "Ooooh." aku tersenyum kecil, bisa-bisanya Aku berpikir yang ia katakan di taman itu sungguh-sungguh.
Lalu, setelah beberapa lama , ibu datang bersama Devano yang masih memakai seragam.
"Mama.."
Ia berlari mendekat ke arahku, Andres langsung menangkapnya dan memangku Devano di pangkuannya.
"Ma, mama udah sembuh? kita pulang ya, aku kangen main sama mama." Dengan polos ia memeluk ku dan naik keatas kasur.
Lalu Andres berdiri agar ibu bisa duduk di kursinya. "Bi, duduk dulu bibi pasti pegal."
"Iya nak Andres, makasih ya."
"Hey jagoannya om, sini sama om. Mama masih harus istirahat, agar Dede bayinya cepat sembuh, yah sini sayang." Ia mengambil Devano ke pelukannya.
"Oh ya, nak Andres apa sudah makan? Ini ibu bawakan makanan banyak, kita makan sama-sama ya." Ibu menunjukan kantong yang dibawanya.
"Iya Bi, nanti saya makan." Andres tersenyum sambil menurunkan Devano. Lalu ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Devano.
"Om artis, kenapa bibirnya berdarah? Apa om habis berantem? Sama siapa?"
Aku dan ibu menoleh kearah mereka berdua. Lalu ibu memegang pipi Andres.
"YaAllah nak, ada apa denganmu? apa ini sudah diobati?"
"Sudah tidak papa kok Bi, tadi aku kejedot pintu, makannya jadi berdarah gini."
"Yasudah, kamu pasti lelah jagain Inara dari tadi. Ayo kita makan sama-sama disini."
Mereka pun makan bersama di atas sofa rumah sakit. Andres menyuapi Devano yang duduk dipangkuannya.
__ADS_1
Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, ada rasa yang berdesir di hatiku, aku merasa bahagia dengan kedekatan Devano dan Andres sahabatku. Aku tersenyum dan berpikir ada apa denganku? Apa aku mencintai sahabatku sendiri? Aku menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal, mana mungkin ia menyukaiku yang dekil ini.
......