Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 28


Aku dan Andres mengangkat Devano dan mendudukkannya di tepi ranjang. Kupeluk tubuhnya erat sambil menangis menyesali kejadian ini.


Ia menggigil dan menangis ketakutan sambil meremas perutnya.


"Sayang, nak kamu lapar nak? Mama ambilkan makanan ya."


"Biar aku saja Ra, kamu tunggu di sini jaga Devano."


Aku mengangguk, sedangkan Andres beranjak ke dapur mencari makanan yang masih hangat lalu kemudian membawanya kehadapan kami.


"Ini, makanannya." Aku langsung mengambilnya dan menyuapi Devano dengan telaten.


Ia begitu lahap dan gembul seperti orang yang kelaparan. Bahkan belum sepuluh menit aku menyuapinya, makanannya dengan cepat habis tak tersisa. Aku lalu menyodorkan segelas air putih dan ia pun langsung menyambar air tersebut dan meneguknya sekaligus.


"Nak, kenapa kamu bisa dikunci dari luar sama papa? Apa kamu membuat kesalahan?" Aku dengan hati-hati bertanya pada Devano setelah ia tenang.


"S-semalam papa sama tante Luna pelukan di atas sofa sambil minum minuman yang ada di botol. Mereka juga berciuman saat aku keluar dari kamar untuk ambil makanan karena aku lapar." Ia menunduk dan menangis.


Aku ternganga mendengar cerita Devano yang begitu polos, aku bahkan merasa malu dan jijik dengan kelakuan mereka yang dengan sengaja melakukannya diruang keluarga seperti ini tanpa memikirkan bagaimana perasaan Devano.


"A-aku memanggil papa untuk diambilkan makanan, tapi papa malah marah-marah dan nyeret aku ke kamar dan aku di kunci di dalam sendirian. Kenapa mama ninggalin aku sendiri kemarin" Ia melanjutkan ceritanya sambil menangis. Tangisannya begitu menyayat hati dan membuat aku merasa bersalah karena telah meninggalkannya disini.


"Maafin mama ya sayang. Mama janji gak akan ninggalin kamu lagi. Mama janji." Aku memeluknya erat dan ikut menangis.


"Sudahlah Ra, lebih baik kamu ambil barang-barang yang kamu perlukan dan kita segera pergi dari sini. Biar aku yang membawa Devano keluar."


"Devano."


Tak sempat kami keluar, mas Adi datang dan hendak merebut Devano dari pangkuan Andres.


Aku langsung menghalangi jalannya dan mendorongnya sekuat tenaga sampai dia terhuyung menubruk pintu


"Berengsek kamu mas. Apa yang kamu lakukan pada Devano benar-benar keterlaluan. Pergi dan jangan halangi aku untuk bawa Devano pergi dari sini."


"Dengerin penjelasan aku Ra, semalam aku dalam pengaruh alkohol dan tidak ingat kalau aku menguncinya di dalam."

__ADS_1


"Terus, kenapa kamu sengaja membawa barang haram itu ke rumah sampai kamu mabuk dan menyeret Devano?. Bahkan kamu melakukan hal menjijikan di depan anak ku Hah.!!." Aku berteriak dan kembali mendorongnya dengan kaki ku sampai dia terjatuh dan meringis memegangi perutnya.


Tanpa ku hiraukan, aku segera mengemasi barang-barang ku dan Devano. Mas Adi mencoba berdiri dan menghentikan langkahku, tapi aku langsung menepisnya kasar.


''Jangan halangi aku lagi. Kali ini kamu benar-benar keterlaluan mas. Aku tidak akan lagi membiarkan Devano tinggal sama kamu. Bahkan saat dipersidangan nanti aku tidak akan membiarkan kamu memenangkan hak asuh anak-anak ku.''


Aku langsung melangkah pergi bersama Andres, sedangkan mas Adi hanya diam tanpa sepatah kata pun. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Aku tak akan lagi menampakkan batang hidungku dihadapan nya lagi.


Aku dan Andres langsung melaju ke tempat sewaan tadi. Sepanjang perjalanan, aku hanya memeluk Devano dengan kuat. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Sudah beberapa kali aku lalai dan membuatnya cemas.


''Maafin mama ya nak, maafin mama.'' Aku menangis terisak sambil memeluk Devano yang ketiduran di dalam mobil.


Andres sesekali melirik ku dari kaca mobil karena aku duduk di belakang bersama Devano.


......................


Aku membuka mataku perlahan, entah karena pingsan atau ketiduran, tiba-tiba aku sudah berada diatas ranjang. Rupanya hari sudah gelap.


Tak ada siapapun di sekelilingku, bahkan saat aku sadar Devano tak ada di sisiku, aku langsung terperanjat turun dan keluar dari ruangan bercat putih biru itu.


"Nak, kamu mau kemana,?" Tiba-tba Ibu datang dan menghampiriku yang masih sempoyongan memegangi kepalaku.


Ibu langsung menuntunku kembali ke dalam dan menduduk kan ku di atas ranjang.


"Nak, kamu istirahat dulu saja ya, Devano ada di bawah sama kakek nya sama nak Andres juga, sekarang kamu makan dulu saja ya nak." Ibu menyodorkan sepiring nasi dengan sayur.


Rupanya saat diperjalanan tadi, aku tak sadarkan diri. Andres langsung memanggil teman dokternya untuk datang ke tempat sewaan dan memeriksakan keadaan ku.


"Semua pegawai sudah dipulangkan oleh nak Andres. Rekan kerjamu dan nak Diana juga sudah pulang duluan karena hari juga sudah mulai gelap." Tutur ibu sambil menyuapkan nasi kedalam mulutku.


Aku hanya manggut-manggut kecil sambil sesekali memegangi kepalaku yang sedikit pusing.


"Nak Andres sudah cerita semuanya sama kami semua. Mulai sekarang, kamu jangan terlalu kecapean, kamu harus banyak istirahat. Devano biar ibu dan bapak yang jaga dan antar jemput kesekolah."


"Iya bu." Jawabku singkat.


"Mama... " Devano berlari memelukku bersama bapak dan Andres dibelakangnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu udah baikan nak,?" kataku sambil membalas pelukannya.


"Aku udah baikan kok mah, tadi aku udah makan banyak, aku diajak makan nasi padang disebrang jalan sama om Andres dan Kakek."


"Oh ya."


"heem, mama juga harus banyak makan biar gak kelaparan kaya aku semalam, nanti dede bayinya juga ikut lapar kalo mamah makannya sedikit."


Mata ku berkaca-kaca mendengar ia menceritakan keadaannya tadi malam. Ia langsung saja menyambar sendok yang ku pegang dan menyuapiku dengan telaten.


"Maafin mama ya sayang." Kubelai rambut hitamnya dengan lembut.


"Ra, aku pamit pulang ya, udah larut malam.Besok kalau gak ada kerjaan aku balik lagi kesini." Andres mengalihkan pembicaraanku dengan Devano.


"Makasih ya An, maaf, lagi-lagi aku ngerepotin kamu."


"Nggak papa kok Ra, nggak usah sungkan. Aku akan selalu siap kalau kamu perlu bantuan. Aku pamit ya, Paman bibi Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab kami serempak.


Setelah kepulangan Andres, akhirnya kami tidur bersama dalam satu ruangan, Sedangkan ruangan yang di sebelahnya akan dipakai untuk ruang istirahat para karyawan saat bekerja nanti.


Istirahat kami cukup nyenyak dan nikmat. Karena banyak sekali kegiatan yang melelahkan hari ini.


Suara rolling dor terdengar sudah di buka, tandanya hari sudah pagi. Aku mencoba bangkit dan mataku menyusuri sekeliling ruangan. Ternyata semua sudah bangun kecuali aku.


Aku keluar dari ruangan yang kujadikan kamar itu sambil sesekali mengucek mata dan mencoba menetralkan pandangan ku.


"Pak, ibu sama Devano udah berangkat ke sekolah ya. Kok nggak kelihatan mereka pagi ini,?"


Aku duduk di kursi kasir, sedangkan bapak sedang merapikan etalaseu yang akan dipakai untuk pajangan kue.


"Kamu udah bangun nak. Ibu sama devano lagi ngejar tukang bubur, katanya buat sarapan kita. Karena kalo masak nggak akan sempat karena harus beli lauk pauk dulu, nanti keburu siang lagi nganterin Devano ke sekolah."


Tak berselang lama, datang seseorang dengan mengendarai mobil dan langsung memarkirkannya di halaman.


Tin tin tiin

__ADS_1


................


__ADS_2