Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 11


Ah mana mungkin istriku yang berasal dari keluarga miskin itu kenal dengan seorang CEO. Lagi pula, CEO itu kan baru pulang dari London.


Lalu, aku tak terlalu menghiraukan pikiranku. Aku melangkah menuju meja kerjaku dan langsung mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.


Setelah beberapa lama bergelut dengan pekerjaan yang melelahkan, aku pun pulang bersamaan dengan karyawan yang lain.


Setelah sampai di rumah, aku menjatuhkan diri ku di atas sofa yang empuk di depan TV, meregangkan otot-otot ku yang terasa keram sambil memejamkan mata.


Lalu aku teringat dengan Luna, calon istriku yang cantik, aku belum memberinya kabar. Aku merogoh ponsel di saku celana ku untuk menghubungi nya. Rasanya rindu sekali tidak bertemu dengan nya hari ini.


Tapi, setelah beberapa kali terhubung, dia tidak mengangkat telpon ku. Mungkin dia sedang sibuk dengan kebiasaanya pergi ke salon untuk merawat diri, tidak seperti Inara yang hanya rebahan saja di rumah sambil ngemil. Tak heran jika perutnya saat ini seperti bantal yang ditempelkan ditubuhnya.


Lalu aku melempar ponselku ke atas sofa. Lelah sekali rasanya, tak ada yang menyiapkan air setelah aku pulang kerja. Lagi pula ibu kemana si, sudah sore begini masih saja keluyuran keluar rumah.


Dengan berat hati aku mengambil air minum sendiri dan memakan beberapa cemilan di atas meja makan. Aku membuatkan jus untuk diri ku sendiri, lalu aku meminumnya sendiri.


Sudah seperti lagu Caca Handika saja.


......................


"Ibu kemana si jam segini belum pulang juga. Masa keluyuran sampai selarut ini kaya ABG saja."


Aku mencoba menghubungi ibu dengan ponselku, tapi tidak ada jawaban. Lalu aku menghubungi Luna, mungkin ibu pergi berbelanja dengan nya dan mereka sampai tak ingat waktu.


"Hallo," Terdengar suara lembut Luna di sebrang telpon.


"Hallo sayang, apa ibu sedang di sana bersama denganmu."


"I-iya nih, kami habis berbelanja."


"Oh syukurlah. Aku pikir dia kemana. Kalian ini belanja dari pagi sampai selarut ini?"


"Enggak kok mas, ibu tadi kesini sore-sore sebelum kamu pulang kerja, jadi kami pulangnya kemalaman, lagipula kita kan harus ke salon juga dan makan-makan di kafe."


"Yasudah kalau gitu, makasih ya cantik. Tetap percantik dirimu untuk ku ya sayang, agar aku tidak pernah bosan melihat mu."


"Iya sayang daah." Ia memutus telponnya.


Lagi-lagi aku merasa bosan sekali. Lebih baik aku juga main ke kafe untuk sekedar bersantai dan menetralkan otot-otot ku. Lalu aku segera bersiap dan keluar menuju mobilku.


vrooom......


Aku langsung tancap gas melajukan mobilku secepat kilat. Tapi baru saja di pertengahan jalan, kini aku malah terjebak macet.


Kerumunan orang-orang di depan sangat ramai, sepertinya telah terjadi kecelakaan. Para pengendara mobil maupun motor berlari turun ke arah kerumunan.

__ADS_1


"Huh, sial. Berniat refreshing di kafe malah terjebak macet seperti ini."


Aku terpaksa harus turun dari mobilku karena kendaraan dari kerumunan orang itu menghambat jalan ke depan dan belakang mobilku.


"Pak, di depan ada apa ya kok berkerumun seperti itu."


Aku bertanya pada seorang bapak yang sedang bolak balik sambil menelpon ambulans.


"Itu mas, ada seorang wanita yang di tabrak lari. Dan pelakunya malah kabur, saat ini korban nya pingsan, saya berusaha menghubungi ambulance."


Lalu aku memberanikan diri melihat wanita itu. Aku menembus membelah kerumunan. Mata ku melotot melihat korban tabrak lari tersebut ternyata Inara. Ia sepertinya masih setengah sadar, aku melihat matanya sedikit terbuka dan tangannya masih bergerak memegangi perutnya.


Aku bingung, harus menolongnya atau membiarkan nya sampai ambulance datang. Jika aku membopongnya, akan sangat sulit karena mobilku berada di belakang. Lebih baik aku biarkan saja lah, lagi pula dia hanya pingsan tidak berdarah-darah juga.


Aku hendak membalikan badan ku, tiba-tiba seorang lelaki muncul dari belakang ku sambil membawa kantong keresek berisi makanan.


"Inara. Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."


Aku tidak melihat dengan jelas wajah lelaki itu karena ia datang dari arah belakang ku. Tapi, dilihat dari sikapnya sepertinya ia kenal dekat dengan Inara. Ia begitu panik dan langsung mengangkat tubuh Inara tanpa bantuan seorangpun.


Lalu ia lari membawa masuk Inara ke dalam mobil mewahnya dan langsung melajukan mobilnya segera.


Aku langsung balik kebelakang dan masuk ke dalam mobilku. Aku mengklakson beberapa pengendara di depanku agar bisa langsung berjalan.


Aku begitu penasaran dengan sosok lelaki tersebut. Sepertinya dia bukan orang biasa, dilihat dari pakaian dan mobil mewahnya seperti orang yang penting.


Aku langsung menancap gas mobilku, tanpa menghiraukan pengendara yang lain.


"Sus, korban tabrak lari yang baru saja datang di rawat di sebelah mana ya."


"Atas nama siapa."


"Inara."


"Maaf pak tidak ada pasien korban tabrak lari yang bernama Inara di rumah sakit ini."


"Loh, baru saja ada kecelakaan dijalan, masa tidak dibawa ke rumah sakit ini sih."


Aku terheran, dibawa kemana Inara oleh pria asing itu. Jangan-jangan ia di bawa kabur lagi.


"Iya, pak tidak ada pasien yang bernama Inara saat ini." Petugas itu masih berusaha mengecek data di dalam komputernya, dan memang tidak ada.


"Yasudah, saya permisi."


Aku melangkah keluar, mencari mobil mewah tadi di parkiran, dan ternyata memang tidak ada di sini.


Ah sudahlah, tidak penting juga. Mau dia di culik, ataupun dibawa kabur oleh kekasihnya, itu justru akan bagus untukku. Agar dia tidak menghambat pernikahan ku dengan Luna.

__ADS_1


Tapi, siapa sosok lelaki yang membawa dia tadi, dilihat dari belakang punggungnya sepertinya aku pernah melihatnya.


Aku sedikit berlari ke arah mobilku. Sekarang tujuanku menjadi ambigu, mau ke kafe pun mood ku sudah tidak enak. Aku melajukan mobilku mengikuti arah jalanan. Tak ada tujuan, hingga tiba-tiba ponselku berdering.


Nomor tak di kenal yang menelpon ku saat ini. Aku langsung mengangkatnya tanpa basa basi.


"Siapa."


Tanyaku singkat. Dan sedetik kemudian, suara ibu mertuaku memanggilku.


"Adi, Inara saat ini ada di rumah sakit, ia jadi korban tabrak lari di jalan. Kamu segera kesini ya."


"Berikan alamat rumah sakitnya, aku akan segera ke sana."


Aku langsung tancap gas menuju rumah sakit dimana Inara di rawat. Ketika sudah sampai, aku langsung masuk dan menuju ke ruangan yang disampaikan ibu mertuaku.


Rumah sakit ini begitu mahal, bisa-bisanya pria itu membawa Inara kesini.


Aku berjalan melewati beberapa ruangan. Dan akhirnya sampai disalah satu ruangan VIP, aku langsung masuk kedalam dan terlihat bapak dan ibu sedang duduk menunggui Inara sadar.


"Apa Inara belum sadar?."


"Nak Adi, belum nak dokter baru saja memeriksanya."


Pandangan ku beredar ke seluruh ruangan. Aku mencari sosok lelaki yang membawa Inara tadi, tapi tidak ada siapa-siapa disini selain bapak, ibu dan juga Devano anak ku.


"Papa, papa dari mana saja? kok sudah beberapa hari papa tidak ada di rumah."


Devano mendekat ke arahku dan memelukku. Aku mengusap kepalanya lembut. "Papa ada banyak pekerjaan sayang, jadi papa tidak bisa pulang ke rumah."


Lalu aku menatap ke arah bapak dan ibu secara bergantian."Siapa yang membawa Inara kesini. Aku mencarinya di rumah sakit lain tapi dia tidak ada di sana."


Aku bicara tanpa berpikir, aku keceplosan kalau aku juga tahu kejadian tadi. Bapak langsung menatap ke arahku.


"Siapa yang memberi tahu mu, apa kamu ada di tempat kejadian tadi. Lalu kenapa bukan kamu yang membawa Inara ke rumah sakit."


Bapak langsung melemparkan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan ku. Aku langsung gelagapan wajahku memanas dan bingung harus menjawab apa.


"E-emmm, aku.."


"Bu, ini makanan nya."


Tiba-tiba seseorang datang dari luar dengan membawa bingkisan berisi makanan. Mataku langsung tertuju pada nya. Seketika tubuhku membeku, pandanganku tak lepas dari wajahnya.


Ia berjalan mendekat kearah kami, sedangkan aku terus saja melotot ke arahnya.


"Terimakasih ya nak."

__ADS_1


Ibu menerima bingkisan itu, sedangkan lelaki itu berpaling ke arahku.


"Kamu.." Ia menunjuk ke arahku.


__ADS_2