
Bab 13
Tiba-tiba bapak duduk di sofa tanpa sepatah katapun, pandangannya tidak lepas dari Andres.
"Paman, Apa kabar."
Andres menyalami bapak, tapi bapak masih diam dan melihatnya dari atas sampai bawah.
Apa bapak mengenalnya, atau bapak akan memarahinya.
Andres tampak salah tingkah, ia menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal.
"Nak Andres?" Ia mengangguk pelan.
Bapak memeluknya erat, dan dia pun membalas pelukan bapak. "Ini nak Andres kan?". Aku sangat lega ternyata bapak juga mengenalinya dan tidak salah paham.
"YaAllah nak.. Kamu sudah dewasa ya sekarang, sudah lama sekali kamu pergi. Kamu sehat nak, Bapak sama ibumu sehat?"
"Alhamdulilah sehat paman. Ayah menitip salam pada paman, katanya kalau ada waktu paman bisa kan berkunjung ke rumah."
"Insyaallah nak, paman selalu siap kok, justru ayahmu yang tidak punya waktu."
"Hha iya paman. Tapi, sekarang ayah punya banyak waktu karena perusahaannya sudah ada yang mengaturnya."
"Kamu memang anak yang hebat, bapak bangga sama kamu nak." Bapak menepuk pundak Andres .
Mereka berdua terlihat begitu lepas saling bertukar cerita.
Lagi-lagi aku hanya terdiam mendengarkan mereka berdua. Lalu bapak menatapku dan menyuruhku untuk memasak makanan yang enak untuk hidangan makan malam.
"Nara, kamu kok malah diam saja, ibumu mana, kok ada tamu tidak di buatkan makanan si."
Lalu ibu datang membawa Devano. Ia berlari ke arahku, lalu ia menatap ke arah Andres yang sedang tersenyum kepadanya.
"Ma, ini artis Korea yang ada di film itu ya, yang mama sering nonton sama Tante bunda di tv kan."
Aku terkejut dengan tingkah Devano yang polos menyebutnya artis Korea.
"E-eh sayang, ini tuh teman mama, ayo sun tangan sama om."
Lalu ia mengulurkan tangannya hendak sun tangan, tapi Andres malah mengepalkan tangannya dan mengajaknya untuk tos.
"Tos dong, kan om belum tua tua amat."
Tos..
"Yeyy, mama hebat punya temen artis Korea. Om Om, tau gak kalau mama sering nonton om loh di tv sama Tante bunda, mereka kadang sampai nangis guling-guling berdua, kadang ketawa ketawa, kadang sampai gebrak-gebrak meja loh om."
Kami semua tertawa dengan tingkah Devano, dia begitu polos menceritakan semua tingkahku yang di lihatnya saat menonton Drakor bersama kak Diana.
Wajahku sampai memerah karena menahan rasa malu.
"Issh.. Sayang bukan om yang ini, tapi om yang berbeda, dia tinggal jauh di Korea bukan di disini." Aku mencoba menjelaskan pada Devano agar Andres tidak kepedean di bilang artis Korea.
Ya, kalau dilihat lihat si dia sekilas mirip dengan artis Korea, wajahnya memang tampan apalagi gaya rambutnya yang mirip seperti jungkook BTS, boyband Korea kesukaan ku.
"Tapi om ini gantengnya sama kaya jungkook BTS, idola mama itu loh."
"Iya iya, kamu memang benar, ketampanan teman mama mu memang seperti artis Korea. Sekarang sana mandi dulu sama mama, habis itu kita makan ya."
Akhirnya bapak mengakhiri tingkah Devano dan menyuruhnya untuk bersi-bersih. Devano mengangguk dan aku langsung membawanya keatas, biar dia mandi di kamarku saja.
"Bu, masakin makanan yang enak ya buat tamu kita. Kamu ini bukannya dari tadi di siapkan malah main keluar."
"Bukan main keluar pak, tadi ibu jemput Devano dari lapangan karena nak Andres mau kenalan katanya sama cucu kita."
"Gak papa kok paman, gak usah berlebihan seperti itu, ini juga sudah banyak makanan dimeja, tadi bibi yang siapin."
__ADS_1
"Gak papa nak, kamu sudah lama tidak makan masakan ibunya Inara kan. Biasanya kamu makan setiap hari sehabis pulang sekolah. Sekarang kamu harus merasakannya lagi, itung-itung nostalgia."
Tak lama setelah ibu menyiapkan masakan yang begitu banyak, aku membantunya untuk bersiap dan menghidangkannya di meja makan. Ada banyak lauk yang dibeli ibu dari warung. Sedangkan bapak, Andres dan Devano sedang bermain sambil mengobrol di sofa.
Aku sesekali melihat ke arah mereka. Tampaknya bapak sedang bicara serius dengan Andres. Wajah mereka terlihat begitu tegang, apa yang mereka bicarakan ya.
"Nak, ayo panggil semuanya kesini, kita makan sama-sama, makanannya sudah siap."
Ibu menyuruhku untuk memanggil mereka, aku langsung mengangguk dan melangkah menuju sofa.
"Pak, makanan nya sudah siap."
"Oh, ayo ayo nak Andres kita makan malam dulu ya."
"Iya paman."
Lalu aku hendak mengajak Devano yang sedang duduk bermain mobol-mobilan, tapi kemudian Andres malah menggendongnya dan langsung membawanya ke meja makan.
"Eh ayo ayo nak, sini turun kasihan om nya berat gendong kamu."
"Gak papa kok, anak kamu ini gemesin kaya kamu dulu."
Ia berbisik, lalu berjalan melewati ku.Wajahku seketika memerah mendengar ucapannya. Suaranya sangat bariton dan maskulin saat berbisik, memberikan kesan seksi padanya apalagi sambil menggendong Devano dengan satu tangan.
"Astagfirullah, kenapa dengan pikiranku"
Aku menepuk kepalaku yang isinya sangat kotor..
"Ayo, ayo silahkan duduk."
Aku duduk bersebelahan dengan Devano dan Andres, posisiku berada di tengah tengah antara mereka. Aku mengisi piring anakku dengan nasi dan hendak menyuapi nya.
"Loh, nak sajikan juga untuk nak Andres, ayo sekalian sama lauknya yang banyak."
"Iya pak." Aku beralih mengambil piringnya, menuangkan nasi dan lauk pauk kesukaannya yaitu tempe orek dan telur dadar, tak lupa ku tambahkan daging ayam dan sambal tomat.
"Sebenarnya ibu sudah lupa tadi, tapi Inara mengingatkan ibu untuk membuatkannya, ibu jadi ingat deh lauk kesukaan kamu."
Lalu Andres menatapku sambil tersenyum dan menyuapkan nasi ke mulutnya, ia begitu kegirangan entah karena masakannya yang enak atau karena lapar. Toh di London mana ada makanan seperti ini.
Aku tersenyum kecut melihat tingkahnya, dia begitu lahap makan sampai tak bersuara, persis seperti dulu. Ibu dan bapak sesekali melihatnya dan saling melempar pandangan sambil tersenyum.
Setelah selesai makan, kami kembali duduk di sofa, Devano merangkul ku karena ngantuk. Dia sudah jarang tidur siang, jadi di selalu sudah mengantuk di jam jam segini.
"Nak, bawa Devano masuk gih, sepertinya dia sudah mengantuk."
"Iya pak. Ayo sayang."
Aku membawa Devano masuk ke kamar, tak butuh waktu lama ia langsung tertidur pulas dan aku langsung kembali keruang tamu berkumpul bersama mereka.
Disela obrolan kami, tiba-tiba aku merasa perutku seperti keroncongan lagi, aku memegangi perutku, aku mendadak ingin memakan sesuatu. Baru saja aku makan banyak, masa perutku sudah lapar lagi.
"Bu, kok rasanya aku pengen makan lagi deh."
Aku berbisik di telinga ibu, ibu tersenyum dan mengerti keadaanku.
"Yasudah kamu makan lagi sana, makanannya masih banyak kok tadi."
"Bukan itu, aku mau makan yang lain."
Bapak melihat tingkah aneh ku yang berbisik pada ibu dan ia pun berhenti berbicara dengan Andres.
"Ada apa nak, ada masalah." Bapak mengalihkan pembicaraan pada ku.
"Ini pak, katanya Inara mau makan lagi, lapar lagi katanya, tapi dia maunya yang lain."
Ibu memberi tahu keinginanku. Aku tersenyum kecut sambil memegangi perutku. Ibu ini bikin malu saja, masa diceritakan didepan Andres, nanti dia kira aku gembul lagi.
__ADS_1
"Mungkin bawaan bayi paman."
Aku terkejut dengan ucapan Andres, kok dia tahu aku sedang hamil.
"Kamu tahu dari mana kalo aku hamil."
"Tadi paman yang cerita. Kamu mau makan apa biar saya belikan, mumpung belum terlalu larut." Dia memberiku tawaran sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu. Mungkin sate atau soto, atau juga ayam bakar, atau martabak atau..."
"Yasudah, kamu ikut saja denganku. Nanti biar kamu bisa pilih makanan yang kamu mau."
Ia menghentikan ucapan ku dan mengajakku untuk keluar memilihnya sendiri. Tapi mataku tertuju pada bapak, bapak memandangku dan menganggukkan kepala.
"Gak papa kan paman, lagian ini masih jam 7 belum terlalu larut."
"Yasudah, tapi hati hati, Jangan pulang kemalaman, kalau sudah dapat makanannya kalian langsung pulang ya."
Aku langsung bersiap dan berangkat memakai mobil mewah miliknya. Bapak menunggui ku di sofa, dia biasanya tidak akan tidur sebelum aku tidur terlebih dahulu.
Lalu Andres melajukan mobilnya pelan, aku terdiam melihat kearah jalanan. Ia begitu fokus menyetir.
Aku kepikiran dengan ucapannya tadi. Bapak memberi tahunya kalau aku sedang hamil lagi, tapi apa bapak menceritakan semuanya kepada Andres tentang rumah tanggaku yang sedang di ujung tanduk?.
"Ra, kamu mau makan apa."
Ia membuyarkan lamunanku. Aku terperangah dan melihat kearah kiri ku yang berjejer aneka makanan yang dijual.
"Kita turun disini saja. Aku mau jalan kaki sambil melihat lihat."
"Yasudah." Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Lalu kami turun dari mobil dan berjalan kaki, rasanya dingin sekali, angin bertiup sangat kencang sedangkan aku lupa tidak memakai jaket.
Aku menggigil memeluk tubuhku. Tiba-tiba Andres membuka jasnya dan memakaikan nya padaku. Adegan ini mirip seperti film Drakor yang sering aku tonton.
"E-eh kok kamu buka jas sih, ini dingin loh."
Aku kaget dengan perlakuan nya, dia malah tersenyum dan melipatkan tangannya.
"Gak papa, kamu dan calon anakmu lebih membutuhkan nya dari pada aku."
"M,makasih"
Ia diam tanpa menjawabnya. Lalu aku melihat ke sebrang jalan ada aneka kue. Sepertinya bayiku menginginkan nya.
Lalu aku berhenti dan menunjuk ke arah tukang kue itu, Andres mengerti dan memintaku menunggu di pinggir jalan.
"Kamu tunggu di sini saja, jalannya ramai bahaya. Biar aku belikan."
Aku mengangguk dan berdiri dipinggir jalan.
Aku melihat lihat makanan yang lain untuk dibawa pulang, lalu aku melihat ada sate kambing, sepertinya sangat enak tapi posisinya diseberang jalan juga dan agak jauh dari posisi Andres.
Aku tidak enak jika harus menyuruhnya lagi untuk bolak balik menyebrang jalan, akhirnya aku berjalan menjauh hendak menyebrang dan...
Braak.....
Sebuah mobil menabrak ku, aku sedikit terpental ke tengah jalan sedangkan mobil itu malah menancap gas dan kabur tanpa bertanggung jawab.
Aku masih setengah tersadar dan memegangi perutku. Terlihat beberapa orang berkerumun hendak menolong, aku melihat ke sekeliling untuk mencari Andres, tapi ada seseorang yang membuat mataku tertuju padanya, wajah nya sedikit buram tapi aku mengenalinya. Dia mas Adi, aku yakin dia mas Adi . Dia hanya diam tanpa rasa khawatir dan tidak berusaha menolongku.
Lalu, Andres tiba-tiba muncul dari belakang kerumunan dan langsung membawaku ke dalam mobilnya. Mataku masih tertuju pada mas Adi. Tak ada rasa khawatir di dalam dirinya.
Lalu mataku seketika tertutup, semuanya gelap dan aku tak sadarkan diri.
.....
__ADS_1