
Bab 27
"Nara?"
"Kak Diana?"
"Loh, jadi kalian udah saling kenal?" Timpal Dipika kembali.
"Kita mah bukan saling kenal lagi, Inara ini adik ipar aku, istri dari adiknya suami aku." jelas kak Diana.
"Oh ya? Bagus dong, jadi kita gak perlu perkenalan lagi, dan gak perlu banyak nawar." Dipika mencolek lengan ku sambil tersenyum danmengangkat kedua alisnya.
"Issh, kamu ini malu-maluin aja, dari tadi kamu nawar banyak?" bisik ku pada Dipika.
"Gak papa kok Ra, kalau aku tahu kamu yang jadi ownernya, aku bakal langsung aja kasih harga dibawah standar, gak aku naik-naikin dari tadi." Kak Diana ikut tersenyum.
"Ishh, jangan gitu dong kak. Kita fair aja, harga untuk rekan bisnis, bukan sebagai adik kakak." Sanggahku karena tak enak.
"Nggak papa, hitung-hitung bantu kamu juga. Lagian tempat ini juga nggak dipake nya udah lama kok, jadi kakak seneng kalo di pake buat usaha kamu. Jadi, kamu nggak usah nggak enak hati. Di atas juga ada tempat tidur, om sama tante bisa tinggal disini juga."
"Makasih ya kak. Oh ya, katanya yang rekomendasiin tempat ini kamu ya An.? Kok bisa kamu kenal sama kak Diana.?" Aku beralih pada Andres, karena dari tadi dia hanya diam.
"Bu Diana ini auditor baru aku di kantor. Ia dipindah alihkan dari kantor cabang untuk jadi auditor ku di kantor pusat." Jelasnya.
"Iya Ra, pak Andres bilang beliau sedang mencari tempat untuk buka usaha kue temannya, ya akhirnya aku tawarin tempat ini.
Dan ternyata teman pak Andres yang dimaksud adalah kamu." tambah kak Diana.
"Dan mbak Diana juga merupakan salah satu langganan kue kita yang paling sering memesan, karena dia bilang suka banget sama desain kue yang ada di toko kita." Dipika ikut menjelaskan.
Aku manggut-manggut kecil sembari tersenyum tanda mengerti dengan penjelasan mereka.
Setelah sepakat dengan harga standar yang diberikan kak Diana 20 juta/ tahun. Kami pun langsung memanggil para karyawan untuk membantu membersihkan dan menata tempat ini.
Kak Diana juga ikut membantu membereskan tempat bersama ibu dan bapak serta Dipika.
Sementara itu, aku harus menjemput Devano anak ku dari sekolah karena hari sudah siang.
"Buk, Pak. Gak papa kan aku tinggal dulu. Aku harus jemput Devano dan ambil barang-barang di rumah mas Adi."
"Nggak papa kok nak, kamu pergi aja. Banyak orang kok disini, ibu sama bapak juga harus bantu mereka membereskan tempat ini." Kata ibu.
"Aku antar ya Ra." Pinta Andres.
"Ngga usah An aku bawa motor kok."
"Ra, kamu jangan terlalu sering naik motor, bahaya buat bayi dalam kandungan kamu."
__ADS_1
"Iya nak, kamu di antar nak Andres aja ya biar nggak kecapean, dari tadi kamu motoran terus." Pinta ibu juga.
Aku tak bisa menolak lagi, dan akhirnya aku pergi bersama Andres setelah berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
*
Aku celingak-celinguk mencari keberadaan Devano ditengah keramaian anak-anak yang pulang sekolah. Tapi tak ku dapati dia dimana pun.
"Dek, lihat Devano tidak ?" Ku tanyakan pada salah seorang murid yang lewat, tapi ia malah menggelengkan kepalanya.
Tak berselang lama, wali kelasnya Devano akhirnya keluar dan hendak pulang. Aku menanyakan keberadaan Devano padanya saat ia akan masuk ke ruang guru.
"Permisi Bu." Sapa ku saat ia hendak masuk.
"Ya, eh mamanya Devano. Iya ada apa ya." Sambutnya sembarj tersenyum.
"Anak saya Devano kok belum keluar kelas ya. Apa dia sudah pulang duluan?"
"Loh, bukannya Devano tidak masuk kelas ya hari ini." Jelasnya dengan heran.
"Hah !! Devano tidak masuk kelas ?" Aku terkejut, begitupun Andres.
"Iya, hari ini Devano tidak masuk kelas dan tidak ada surat izin pula. Saya kira Bu Inara datang ke sini mau minta izin soal ketidak hadiran Devano hari ini." Wali kelasnya Devano tampak kebingungan denganku hari ini.
Bagaimana bisa Devano tidak sekolah sedangkan tadi pagi dia tidak kelihatan batang hidungnya saat aku pulang ke rumah mas Adi.
"Iya, tapi Devano gak kelihatan ada di rumah pagi tadi." Aku langsung panik dan tidak bisa berkata apa-apa.
" Bu Inara yang tenang ya, coba Bu Inara tanyakan pada papa nya Devano, mungkin itu akan membantu." Wali kelasnya Devano menghampiriku sambil mengelus pundakku agar aku lebih tenang.
Aku buru-buru mencari nomor ponsel mas Adi dan langsung menghubunginya.
Tuutt...Tuutt...Tuutt...
Satu kali tidak di angkat.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi."
Ke dua kali, ia malah mematikan teleponnya. Aku mencengkram ujung baju ku. Merasa khawatir dengan keadaan Devano.
"Jika Devano tidak ada di sekolah, lalu dimana ? Sedangkan saat mas Adi dan Luna berangkat bekerja, mereka tidak membawa serta Devano bersamanya."
"Kamu tenang dulu Ra, aku coba telepon kantor."
Andres mencoba menghubungi kantor, dan tak butuh waktu lama akhirnya tersambung juga. Ia langsung menyuruh karyawannya untuk memanggil mas Adi dan menghubunginya lagi.
"Halo, siapa."
__ADS_1
"Mas, ini aku Inara. Dimana Devano.? Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan padanya.
"Devano? maksud kamu apa ?"
"Devano gak ada di sekolah, dimana dia ?" Aku menekankan suara ku karena geram.
"Devano ? aku..." Ia menyeka ucapannya dan lalu...
"Oh , iya aku lupa. Dia masih di rumah, aku lupa membangunkannya." Ia sedikit berteriak karena mengingat telah meninggalkan Devano sendirian di rumah.
"Ya Allah maaaas, keterlaluan kamu." Aku juga tak ikut berteriak karena terkejut dengan penjelasan mas Adi.
Bagaimana bisa dia melupakan anaknya yang berada didalam rumah sendirian.
Aku langsung mematikan telepon. Aku dan mas Andres langsung berlari dan masuk ke dalam mobil lalu tancap gas menuju rumah.
Air mata ku tak henti-hentinya mengalir deras membayangkan bagaimana takutnya Devano berada di dalam rumah sendirian dalam keadaan terkunci.
Setelah sampai di rumah, Andres langsung memarkirkan mobilnya dihalaman. Aku berlari sekencang mungkin ke arah pintu dan memanggil Devano sekeras-kerasnya.
"Devano, sayang kamu didalam nak."
Aku berusaha membuka pintu, tapi aku lupa kalau kuncinya ada pada mas Adi.
"Biar aku saja."
Kemudian Andres menyuruhku menyingkir dan mendobrak pintu dengan tubuhnya.
Dan satu..Dua..Tiga
Pintu pun terbuka lebar. Tak kutemukan keberadaan Devano di ruang tengah. Hanya ada pakaian yang berserakan termasuk pakaian dalam pria dan wanita, yang sudah pasti milik mas Adi dan Luna.
Keadaan rumah begitu berantakan seperti kapal pecah, sampah makanan bahkan ada dua botol minuman keras di dalam rumah yang telah ku rawat dengan baik selama bertahun-tahun.
Tapi, tak ku hiraukan itu semua. Aku langsung berlari ke kamarnya Devano, dan alangkah terkejutnya aku ternyata kamar Devano dikunci dari luar.
"Benar-benar keterlaluan mereka." Umpat Andres.
Aku langsung mencari kunci cadangan di ruangan ku, karena jika di dobrak takutnya Devano berada di depan pintu dan malah terluka.
Kubuka kunci, dan pintu pun terbuka lebar. Aku terperangah melihat keadaan Devano yang meringkuk di atas lantai. Ia memegangi perutnya dengan erat. Matanya sembab, mungkin habis menangis karena lapar dan takut.
"Devano."
Aku menghampirinya dan memeluknya erat, tubuhku bergetar hebat melihat keadaan anakku saat ini. Aku benar-benar bodoh telah mempercayai orang yang salah.
"Mereka benar-benar keterlaluan.!!"
__ADS_1