Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 16


POV Author


"Ayo Ra, pelan-pelan ya."


Andres menurunkan Inara dari mobil dan membantunya untuk berjalan. Ia membopong Inara Sampai ke dalam rumah, sedangkan Bu Sarah, ibunya Inara menuntun Devano dan mengeluarkan beberapa barang bawaannya.


"Sudah An, di sini saja." Inara menghentikan langkahnya di depan sofa dan Andres pun mendudukkannya pelan-pelan.


Devano berlari mendekat ke arah Inara dan duduk di sampingnya.


"Akhirnya kita pulang ya ma, aku udah kangen benget di ajarin sama mama, apalagi sekarang ujian. Mama pasti ajarin aku lagi kan?".


"Iya sayang, mama pasti ajarin kamu lagi." Inara mengusap lembut pucuk kepalanya dan menciuminya.


Kemudian Bu Sarah datang membawa beberapa gelas air dan menyodorkannya di hadapan mereka.


"Di minum dulu ya air hangatnya, kalian pasti lelah. Ibu masak dulu di dapur untuk makan siangnya. Kamu tunggu dulu ya nak Andres, kita makan sama-sama."


"Tidak perlu Bi, aku harus segera pergi. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan."


Andres langsung berpamitan pada mereka untuk segera pergi.


"Loh kok buru-buru nak."


"Iya Bi, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Kalau sudah selesai aku pasti kesini lagi untuk menjenguk inara."


"Yasudah kalau begitu kamu hati-hati ya nak.Terimakasih sudah banyak membantu, Maafkan kami karena terlalu sering merepotkan mu."


"Tidak papa ko Bi, aku malah senang bisa membantu kalian, kalau ada apa-apa lagi kalian bisa hubungi aku. Insyaallah aku pasti ke sini untuk bantu lagi."


"Semuanya sudah cukup nak, kami benar-benar mengucapkan terimakasih padamu."


"Kalo gitu, aku permisi dulu. Ra, aku pulang ya. Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu banyak gerak okey."

__ADS_1


Inara tersenyum dan mengangguk, kemudian Andres berpamitan, menyalami Bu Sarah dan pergi dengan kendaraannya.


"Nak, tadinya ibu berpikir untuk membawamu ke rumah ibu saja, biar ibu lebih leluasa untuk merawat mu." Bu Sarah duduk di sofa di samping Inara.


"Kenapa Bu, di sini juga tidak papa. Tidak akan terjadi hal yang tak di inginkan juga kok."


"Ini masih rumahnya Adi nak, takutnya dia malah mengusir ibu dan bapak seperti kejadian di rumah sakit kemarin. Ia meminta bapak untuk tidak mencampuri urusan kalian berdua."


"Tidak akan Bu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sudah, ibu tidak usah khawatir. Sekarang lebih baik ibu juga istirahat, pasti ibu juga lelah." Inara mencoba menghilangkan kecemasan ibu tentang mas Adi.


...........


Sementara itu, di kediaman Bu Marta, ibu mertua Inara, terlihat Luna dan Bu Marta sedang berbincang.lll


"Bu, aku sudah tidak tahan ingin bertemu mas Adi, sudah beberapa hari ini bahkan ia jarang mengabari ku lewat telepon." Luna tampak protes kepada Bu Marta.


"Yang sabar dong Lun, saat ini Adi sedang menyusun strategi untuk bisa menikahi mu tanpa ada masalah sedikitpun."


"Iya tapi kapan?" Luna melipatkan tangannya sembari menghentakkan kaki. "Aku heran, kenapa Inara bisa selamat saat itu."


"Iya, ibu juga bingung padahal waktu itu, kita menabraknya dengan sangat kencang, bahkan ia sampai terpental waktu itu."


"Kamu ini, jangan membahayakan diri sendiri. Itu sangat beresiko karena polisi akan mudah mengungkap kasus semudah itu."


Mereka membicarakan rencana gagal mereka saat menabrak Inara dan mulai merencanakan strategi yang baru. Tanpa sadar seseorang di balik pintu telah mendengar ucapan mereka.


"Jadi kalian dalang di balik semua ini? kalian yang telah membuat Inara celaka?"


Adi tampak frustasi. Ia menjambak rambutnya kasar, sementara Luna dan Bu Marta terkejut dan diam seribu bahasa.


"Kenapa kalian bertingkah seceroboh ini? kalau ada yang melaporkan kalian bagaimana? aku juga akan terseret nanti."


"A-adi, kamu tenang dulu dong, lagian Inara juga tidak apa-apa saat ini. Dia masih selamat kan?" Bu Marta bicara dengan tenangnya.


"Iya sayang, lagian kan jika ia celaka itu akan lebih bagus biar kita bisa cepat-cepat menikah, hemm." Luna mencoba mendekati Adi, tapi ia tampak menghindar dan menghempaskan tangan Luna.

__ADS_1


"Cukup Luna, singkirkan ide konyol mu itu dan jangan pernah lagi merencanakan hal bodoh itu lagi. Sekarang aku sedang tidak ingin menemui mu, sebaiknya kamu pergi dari sini."


"Loh, kok kamu malah ngusir aku sih. Kita sudah beberapa hari tidak bertemu, apa kamu tidak merindukanku." Luna tampak kecewa dengan ucapan Adi.


"Adi, kamu ini apa tidak kasihan pada Luna, ia juga sedang mengandung anakmu. Harusnya kamu jagain dia, kalau perlu kalian nikah siri saja biar kalian tidak usah berjauh-jauhan lagi."


"Nah, itu ide bagus Bu, kita nikah siri saja ya mas, agar kamu tidak pergi-pergi lagi." Ia tersenyum kegirangan.


"Aku mau istirahat dulu, kalian pikirkan saja bagaimana baiknya untuk semua ini."


Lalu Adi berlalu pergi meninggalkan mereka dan pergi ke kamar. Ia memijit-mijit keningnya yang terasa berdenyut.


Kini hatinya telah bimbang, ada rasa yang aneh ketika melihat kedekatan Inara dengan lelaki itu.


Bagaimana bisa semua ini terjadi. Adi harus menikahi kekasihnya Luna karena ia tengah hamil anaknya saat ini. Tapi disisi lain, perasaannya pada Inara benar-benar menjadi aneh dan membingungkan.


Hingga tiba lah saatnya, Adi dan Luna menikah siri secara sembunyi-sembunyi dan tidak melibatkan banyak orang. Bagaimana pun ia harus tetap bertanggung jawab atas kehamilan kekasihnya itu.


"Mas, besok kita pindah ya, jangan tinggal disini."


Luna berada di pelukan Adi, mereka tengah menikmati masa-masa indahnya setelah resmi menjadi suami istri walaupun tidak seperti pengantin pada umumnya.


"Pindah kemana sayang."


"Ya kamu Carikan rumah baru lah untuk ku."


"Iya sayang nanti aku usahakan cari rumah yang nyaman untukmu. Untuk sementara waktu, kamu tinggal disini dulu sama ibuku, okey." Adi mencolek hidung Luna dengan lembut.


"Janji ya mas, tapi jangan lama-lama. Aku mau rumah yang besar dan nyaman untuk ku dan anakku nanti. Kaya rumah yang kamu tempati sama Inara dulu."


"Hemm, atau kamu mau tinggal bareng sama Inara di rumah kami?."


Luna terbangun dan melepas pelukannya. "Emangnya bisa mas? tapi, aku tidak mau ya tidur seranjang dengannya."


"Sudah, kamu tidak usah khawatir biar mas urus semuanya okey."

__ADS_1


Luna mengangguk, dan kembali tidur dipelukan Adi.


.....


__ADS_2