
Bab 32
Bu Sarah tengah berada di ruang tunggu. Dengan hati gelisah, dan jantung yang berdetak tak karuan. Ia terus saja duduk, berdiri, lalu duduk lagi, dan berdiri lagi sambil mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Sementara Dalva, ia duduk di seberang kursi Bu Sarah. Ia menunduk, menyesali kejadian yang menimpa nya.
"Ibu.!!!".
Inara, Bapak, Diana dan Aldo berlari ke arah Bu Sarah.
"Dimana Vano bu," Tangisnya pecah dalam pelukan Bu Sarah.
"Maafkan ibu nak, ibu nggak bisa jaga Vano."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Devano? Kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti ini.?" Tanya Bapak Inara yang mencoba untuk menetralkan hatinya.
Bu Sarah melirik ke arah Dalva yang tiba-tiba berdiri dan menghampiri mereka semua.
"S-saya akan bertanggung jawab. Saya tidak sengaja menabrak anak itu. Saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab."
Serentak, semua mata tertuju pada Dalva. Ia menunduk dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ternyata kamu yang menabrak cucu saya."
Bapak Inara mencengkram kerah baju Dalva, sedangkan Aldo mengepalkan tangan dan hendak memukulnya, tapi di tahan oleh Bu Sarah dan Diana.
"Jangan.!!, Jangan buat keributan di rumah sakit. Nanti malah kita yang diusir dari sini." Cegah Diana sambil memegang erat tangan Aldo.
"Ampun Pak. Saya akan bertanggung jawab sampai anak itu sembuh, saya janji. Tapi, jangan laporkan kasus ini ke polisi. Saya janji akan bertanggung jawab."
"Iya pak, biar kita selesaikan saja secara kekeluargaan. Lagi pula, ibu yang telah lengah membiarkan Devano lari-larian di jalan. Ibu yang salah, ibu yang salah." Tangisnya lagi.
Dengan kasar, Bapak Inara melepaskan cengkramannya dari Dalva dan langsung duduk.
"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah."
Hingga pintu ruang UGD dibuka dan dokterpun sudah selesai memeriksa Devano. Inara langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter,?
"Alhamdulillah saat ini anak ibu baik-baik saja. Terdapat cedera di tangan dan sedikit luka di kepala, tapi itu tidak berbahaya." Tutur dokter dengan tenang.
"Apa kami sudah boleh melihatnya, dok?" Timpal Bapak Inara.
"Hanya satu orang saja, yang lainnya silahkan tunggu di luar karena pasien sedang dalam pemulihan.?
Semuanya terdiam dan memandang ke arah Inara.
"Baik dok terima kasih." lanjut Bapak Inara.
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi dulu." Sambil tersenyum, dokterpun melangkah pergi.
Inara melangkah masuk ke ruangan Devano, dengan gontai ia mendekati Devano yang terkapar dengan selang infus di tangan dan perban di kepalanya.
"Sayang, bangun nak. Kamu harus kuat nak.Ya Allah, kenapa selalu anakku yang mengalami semua ini? Kenapa cobaan selalu datang menghampiri kami Ya Allah." Lirihnya tak kuat menahan tangis sambil memeluk Devano.
......................
Hingga pagi tiba, Devano sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.
Dalva mengurusi semua dokumen pembayaran dan semua yang di perlukan oleh perawatan Devano.
Ia berniat memberikan ruang VIP, tapi Inara menolaknya dan malah memilih ruangan biasa.
Inara menunggu Devano sendirian sedangkan Bapak dan Ibunya pulang ke rumah untuk mengambil keperluan.
Dalva kembali ke rumah sakit setelah ia pulang ke rumahnya tanpa memberi tahu anggota keluarganya. Ia membawa makanan dan beberapa mainan untuk Dalva.
Dengan hati-hati, ia memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan.
"Permisi, apa saya boleh masuk.?"
Inara meliriknya sekilas. Dan menghela nafasnya.
"Ya, Silahkan."
Dalva menghampiri keduanya dengan canggung. Ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia menyimpan barang-barang bawaannya di bawah.
"Nggak usah, saya ngga lapar."
" Saya mohon mbak, terima ini sebagai ucapan permohonan maaf saya." Dalva mencoba membujuk.
Akhirnya dengan terpaksa Inara mengambil papper bag tersebut dan menyimpannya di atas meja.
"Loh, kok nggak dimakan mbak,?"
"Saya belum lapar,"
Dalva kembali diam dan sesekali melirik Inara yang hanya diam memegang tangan Devano.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Hening, dan canggung sampai di detik selanjutnya, tangan Devano mulai bergerak dan matanya sedikit terbuka.
Inara terperanjat dan langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
"Sayang, kamu udah siuman nak. Alhamdulillah Ya Allah."
Dokterpun masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan Devano.
"Alhamdulillah, keadaan anak ibu sudah mulai membaik, hanya saja ia masih lemas. Suster akan segera membawakan makanan dan obat. Saya permisi dulu."
__ADS_1
"Terima kasih dok."
"M-mama." Ucap Devano terbata.
"Sayang, kamu kuat ya nak. Mama ada disini dukung kamu buat sembuh." Inara menggenggam tangan Devano.
"Ma, kepala aku sakit."
"Kamu pasti kuat sayang."
Tiba-tiba seorang suster memasuki ruangan dengan membawa makanan dan obat untuk Devano.
Inara lalu mencoba menyuapi Devano, tapi Devano enggan untuk makan. Sudah beberapa kali, tapi tetap saja ia tidak ingin membuka mulutnya.
Dalva yang melihat itu langsung membuka beberapa mainan yang di bawanya. Dan menunjukkannya pada Devano.
"Dek, lihat deh om bawain mainan buat kamu, kamu suka nggak.?"
Devano tersenyum dan mengambil mainan itu dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya mengalami patah tulang dan masih di perban.
"Waah, robotnya besar-besar banget. Ini pasti mahal ya om." Devano tersenyum kegirangan.
"Ini semua buat kamu. Kamu boleh main sesuka hati, asalkan kamu harus sembuh dulu. Masa mau main robot-robot sambil tiduran gitu." Bujuk Dalva, diikuti anggukkan Devano.
"Sekarang kamu makan dulu ya, biar om yang suapin."
Inara tersenyum haru melihat Devano kembali semangat dan mau membuka mulutnya untuk makan.
"Udah, mbak makan aja dulu. Biar saya yang suapin anak mbak."
Akhirnya Inara juga menurut dan mau makan makanan yang di bawa Dalva.
Dalva menyuapi Devano dengan gaya kapal terbang yang biasa di pakai orang tua untuk menyuapi anaknya, membuat Inara hanya menggeleng melihat tingkahnya.
Dalva sesekali melirik me arah Inara yang sedang makan makanannya dengan lahap sampai pipinya gembul. Tampaknya, Inara juga kelaparan karena hampir satu hari satu malam ia tak makan.
"Pelan-pelan mbak,"
Hhhk, uhuk, uhuk, uhuk....
Dalva mengagetkan Inara sampai ia terbatuk-batuk. Ia baru sadar ternyata dari tadi lelaki yang ada dihadapannya itu sedang memperhatikannya.
"Kamu dari tadi lihatin saya makan ya.?"
Dalva memberikan air mineral yang juga ia beli di supermarket tadi.
"Saya nggak merhatiin, cuman nggak sengaja lihat gerakan tangan mbak yang kaya lagi nge-live mukbang aja."
Pipi Inara memerah karena merasa malu. Sedangkan Dalva hanya tertawa kecil melihat tingkah gemas Inara yang pipinya memerah.
__ADS_1
Hingga sedetik kemudian, mata mereka saling bertemu. Mereka saling memandang satu sama lain.
Deg...