Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 23


Aku menata baju-baju baruku dan memasuk kan baju lama yang sudah lusuh dan lecek kedalam kardus bekas, sebenarnya hampir semua baju yang dibelikan mas Adi beberapa tahun lalu aku keluarkan dan aku ganti dengan baju yang baru aku beli kemarin.


Aku membawa baju lusuh itu ke halaman belakang bersama barang-barang yang sudah tak layak pakai, aku memasukannya ke dalam Tong sampah dan mulai menyulutkan api untuk membakar semuanya.


Kepulan asap yang tebal memenuhi halaman belakangku dan hampir masuk kedalam rumah. Lalu tak berselang lama Luna dan mas Adi menghampiri ku sambil memprotes kegiatanku.


Uhuk,uhuk..


"Kamu ngapain si, pagi-pagi gini udah main api. Mencemari udara segar tau, mana asapnya hampir masuk rumah lagi." Protes Luna sambil mengibaskan tangan menghindari asap.


"Kamu bakar apa si Inara sepagi ini, bikin sesak napas aja deh asapnya sampai mengepul gitu." timpal mas Adi.


Aku hanya meliriknya sekilas dan kembali membolak-balik bajunya agar terbakar secara menyeluruh.


"Kamu lihat kan aku lagi bakar baju-baju lusuh yang kamu belikan beberapa tahun lalu. Nih, kamu ingat ini, baju terakhir yang kamu belikan untukku dua tahun lalu, itupun karena ada diskon besar-besaran." Kataku sambil mengangkat baju berwarna merah yang sudah terkena api.


"Hah, kamu membakar baju-baju yang dibelikan mas Adi, lalu apa yang akan kamu pakai Inara? karung bekas, hahaha" Ejek Luna sambil tertawa terbahak-bahak.


Mas Adi hanya diam menatapku dengan tatapan yang aneh, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Tenang saja, aku sudah punya baju yang lebih layak untuk dipakai. Tidak seperti baju-baju ini, bahkan untuk diberikan kepada orang yang kurang mampu saja sudah tidak pantas, apalagi aku."


Aku berkata dengan penuh keangkuhan, bukan untuk menyombongkan diri, tapi agar mas Adi tertampar dan sadar akan perbuatannya padaku.


Luna mengangkat alis dan melipatkan tangannya.


"Cihh, dari mana kamu bisa beli baju-baju sebanyak itu, kamu bahkan hanya pengangguran yang tidak berguna, kerjaan mu hanya beberes rumah dan mengurus anak. Apa yang bisa kamu lakukan selain itu Inara." Ucap Luna sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu tahu apa pekerjaanku, yang pasti apa yang aku lakukan ini bersih dan halal, bukan sepertimu merebut dan memoroti harta suami orang."


Luna dan mas Adi melotot tak percaya dengan apa yang aku ucapkan, mungkin mereka tak menyangka kalau aku akan segamblang ini membicarakan kenyataan tentangnya.


"Berani kamu berkata seperti padaku, lalu kenapa kalau aku merebut suami orang, memang kenyataanya kan mas Adi sudah tidak berselera lagi denganmu dan memilihku yang lebih cantik dan menarik. Harusnya kamu ngaca dan introspeksi diri." Luna sedikit berteriak karena kesal.


"Cihh, aku yakin kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Lelaki bajingan, akan tetap menjadi bajingan sampai kapanpun." Aku tersenyum sinis.


"Sudah cukup, Luna sebaiknya kamu menyiapkan sarapan untukku, sebentar lagi aku akan berangkat kerja."


Mas Adi menghentikan pembicaraan kami dan meminta Luna untuk masuk. Luna pun masuk dengan kesal karena aku telah menyumpah kan agar nasibnya sama sepertiku.


"Dan kamu Inara, hentikan aktivitasmu yang tidak berguna ini dan masuk ke dalam, aku perlu bicara denganmu" Ia juga memerintah ku untuk masuk.


Tak berselang lama, setelah barang-barang itu hangus terbakar, aku lalu meninggalkannya dengan keadaan api yang sudah padam.


Aku melangkah masuk kedalam rumah dan hendak membersihkan diri.


Aku melipat tanganku malas, ia bahkan sudah tahu jawaban yang aku lontarkan padanya.


"Sudah kubilang, kamu jangan mencampuri urusanku lagi. Jadi, menyingkirlah dari hadapanku sekarang juga." Aku hanya menatapnya datar.


"Kamu jangan macam-macam Inara, kehamilan mu saat ini yang membuatku masih tetap harus mencampuri urusanmu sampai anak ini lahir."


"Kamu benar-benar egois mas, kamu bahkan tidak pernah bertanggung jawab lagi dengan ku semenjak kamu berselingkuh, dan sekarang kamu malah membuatku semakin stres dengan tinggal di sini dan membawanya kedalam rumah ini. Dan kamu juga ingin mengusikku dengan mencampuri kehidupanku setelah aku sudah mulai ingin hidup mandiri tanpa kamu. Dasar gak punya otak."


Aku mendorong tubuhnya yang menghalangi jalanku. Ia hanya bengong mendengar penuturan ku tanpa menjawabnya lagi.


Harusnya dia sadar mendengar kata-kata ku, tapi entah kenapa ia bagaikan manusia tanpa otak yang tidak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


Aku segera pergi dan masuk kedalam kamarku untuk membangunkan Devano yang masih tertidur pulas.


Setelah itu aku juga bersiap mandi, berganti pakaian dan memoles wajahku dengan sedikit riasan. Kali ini aku akan mengantar Devano ke sekolah sambil sekalian pergi membeli sesuatu lalu melihat perumahan yang akan aku beli.


Setelah keberangkatan mas Adi ke kantor, aku dan Devano sarapan, makanan yang kemarin di beli sudah aku hangatkan terlebih dahulu, kami makan dengan lahap dan langsung pergi.


Luna hanya menatap kepergian ku bersama Devano, ia melirik-lirik penampilan dan baju baru yang aku pakai, dengan model yang moderen dan modis serta wajahku yang sedikit bersih dan cantik karena sedikit berdandan.


"Tumben kamu pakai riasan. Mau open BO dimana? di lampu merah?,hahaha"


Aku hanya menatapnya datar tanpa menjawab pertanyaannya, lalu keluar rumah dan berangkat dengan menaiki taksi online yang sudah aku pesan.


"Ayo sayang, naik." Aku menuntun Devano untuk masuk ke dalam mobil.


Ia pun naik dan duduk bersamaku di kursi belakang.


"Ma, kok tumben mama anterin aku ke sekolah, dan kenapa gak naik angkot yang biasanya aja." Tanya Devano heran.


"Iya sayang, sekali-sekali kan kamu gak perlu berdesakan lagi di dalam angkot. Mama juga lagi ada perlu sebentar, jadi sekalian aja mama antar kamu, lagian arahnya sama kok. Nanti kalau sudah pulang sekolah, mama jemput lagi ya." Tutur ku sambil tersenyum dan mencium pucuk kepala anakku.


Setelah sampai di sekolah, aku mengantarnya sampai ke halaman sekolah, Devano berpamitan dan mencium tanganku. Aku mencium pipinya lalu ia pun masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Lalu aku kembali masuk kedalam mobil.


"Pak, antar saya ke dealer motor ya." Pinta ku pada supir taksi online ku.


"Baik buk?" jawabnya singkat.


Lalu mobil pun melaju ke tempat yang aku minta. Setelah sampai, aku langsung masuk dan melihat-lihat model motor yang akan aku beli.


Aku memang sedikit demi sedikit akan memberi kejutan pada Luna dan mas Adi. Aku akan membuktikan pada mereka bahwa aku jauh lebih bahagia setelah apa yang mereka lakukan pada ku.

__ADS_1


Aku akan membuat mas Adi jantungan dengan kesuksesan ku saat ini, dan memberinya pelajaran yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.


__ADS_2