
Bab 19
"Mas."
Luna keluar dari kamarnya dengan langakah yang gontai sambil mengucek-ngucek matanya. Ia mencari keberadaan Adi yang sejak ia bangun, ia tidak mendapatinya di sisinya.
"Mas." teriaknya lagi.
"Kenapa sayang. Kamu perlu apa?" Adi tiba-tiba keluar dari dapur sambil mengeringkan rambutnya karena habis mandi.
"Mas, kamu mau kemana keramas sepagi ini. Mana mandinya di kamar mandi belakang lagi."
"Mas mau kerja sayang, kan udah dua hari absen karena jagain kamu. Sekarang kamu udah agak baikan kan? Nanti siang akan ada tukang ke sini untuk memperbaiki kamar mandi di dalam kamar kita, soalnya sudah lama tidak di pakai, jadi kerannya rusak."
"Kok udah kerja aja si mas, aku jadi sendirian dong di sini." Luna memanyunkan bibirnya manja sambil bergelayut di lengan Adi yang kekar.
"Sayang, kalau mas gak kerja lagi nanti bisa-bisa mas di pecat gara-gara terlalu banyak absen." Tutur Adi sambil mengelus pucuk kepala Luna dengan lembut. Luna memeluknya manja sambil memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba Inara keluar dari kamarnya dan mendapati mereka berdua. Ia langsung menuju ke ruang makan untuk menyiapkan sarapan untuk Devano.
"Heh, buatkan aku dan mas Adi sarapan dong. Udah lapar nih." Pinta Luna sambil melepas pelukannya.
"Buatkan saja sendiri, jangan merepotkan ku. Lagi pula aku tidak di gaji untuk melakukan semua itu." Inara hanya meliriknya sekilas.
"Ra, sekalian dong. Kan kamu mau masak, sekalian buatkan untuk mas dan Luna ya, mas udah kesiangan banget ini."
"Maaf ya mas, tanganku cuma dua, hanya cukup untuk membuatkan sarapan untuk ku dan Devano saja." Ucapnya sambil berlalu pergi.
"Issh, mas aku laper banget. Pengen makan."
pinta Luna sambil bergelayut manja.
"Kamu beli nasi Padang saja ya di depan jalan raya sana. Mas udah kesiangan banget ini kalau harus membeli makanan sendiri."
"Hah, di deket jalan raya? Jauh banget mas. Keburu pingsan nanti kalau harus berjalan jauh dengan perut kosong. Aku pesan go food aja deh." Luna mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Sekarang mas siap-siap dulu ya."
Adi akhirnya berangkat bekerja dengan perut kosong. Luna menunggu makanan nya di sofa sambil nonton televisi. Sedangkan Inara masih menyantap sarapan yang di buatnya bersama Devano.
"Ma, kok Tante Luna tidak di ajak makan?" Tanya Devano di sela suapan nya.
"Tadi mama sudah ajak. Dianya tidak mau, katanya lagi diet." kata Inara
"Diet itu apa ma?"
__ADS_1
"Emmm, diet itu tidak makan nasi karena takut gemuk. Tante Luna akut badannya segede gajah nanti" Jelas Inara sambil terkekeh.
Mereka berdua tertawa kecil sambil sesekali melirik ke arah Luna yang sedang menonton televisi. Luna menghampiri mereka karena perutnya sudah benar-benar keroncongan.
Inara dan Devano menghentikan tawanya saat Luna berada di hadapan mereka sambil saling pandang.
"Inara, aku laper banget. Kamu benar-benar tidak menyisakan sedikit saja untuk ku." rengek nya sambil duduk di kursi meja makan.
"Maaf ya, aku cuma masak sedikit. Lagi pula kamu kan punya tangan sama kaki, kenapa tidak masak sendiri saja dari pada merepotkan ku."
"Issh, kamu ini aku tuh gak biasa masak ya. Aku biasanya di masakin sama pembantu di rumah. Kalo aku masak bisa-bisa tanganku jadi kasar lagi." Kata Luna sambil memperlihatkan kukunya.
"Kalau gitu, minta saja dibuatkan makanan sama pembantu mu sana."
"Iya Tante. Lagian Tante jangan terlalu banyak makan nasi, nanti badan Tante jadi gede segede gajah." Ucap Devano polos sambil menggembungkan pipinya sambil merenggangkan tangan.
Luna yang sedang minum air putih pun langsung tersedak dan melotot ke arah Devano.
"Apa, maksud kamu badan Tante gemuk gitu?"
"Heh, jangan berani bentak anak saya ya, lagian ucapan anak kecil itu selalu jujur kok."
Bela Inara karena melihat Luna melotot pada Devano.
"Lagian anak kamu tuh, ngatain aku gendut kaya gajah."
"Kenapa?" Luna tampak duduk kembali di kursi sambil mendengarkan ucapan Inara dengan seksama.
"Karena badan aku gemuk katanya."
Luna melotot, sedangkan Inara dan Devano dengan santai menyuap makanan sambil saling pandang dan tertawa kecil.
"Hah, aku gak mau badanku jadi gemuk. Aku gak mau mas Adi ninggalin aku."
"Permisi... Pesanan.."
Suara orang memanggil dari luar. Inara membuka pintu sedangkan Luna masih sibuk mencemaskan badannya sambil melihat dirinya di cermin.
"Permisi mbak, ini pesanan makanan atas nama mbak Luna." Ia menyodorkan kantong keresek berisi makanan.
"Ooh, makasih ya pak. Ini sudah di bayar kan pak?"
"Sudah mbak. Saya permisi dulu ya."
Inara membawa masuk pesanan Luna kedalam dan menyodorkan padanya.
__ADS_1
"Nih, pesanan kamu." Luna hanya diam menatap makanannya sambil menelan air liurnya susah payah.
"Kenapa? Gak mau?"
"Buang aja deh, aku harus diet, badanku gak boleh sampai gemuk."
"Ehh, sini kalo gak mau gak usah di buang. Aku gak mau ya rumahku ini jadi hilang keberkahan karena telah menyia-nyiakan makanan."
Inara mengambil kantong makanan yang hendak dibuang Luna. Lalu ia memasukannya pada kulkas.
Luna kembali menonton televisi di sofa. Ia terpaksa harus menahan lapar karena ketakutannya pada kegemukan.
Kreok..Kreok..
Adi terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara perut meraung-raung yang berasal dari perutnya Luna.
"Sayang, kamu kenapa, sakit?" Tanyanya membangunkan Luna yang sedang meremas perutnya.
"Gak papa kok mas."
"Tapi perut kamu tadi bunyi. Kamu belum makan?"
"Aku lagi diet mas."
"Hah, ngapain kamu diet-diet segala. Badan kamu udah langsing kok, mau sekecil apa lagi?" Tanyanya lagi sambil memegang bahu Luna.
"Tapi mas, Devano bilang badanku udah besar, kalau aku banyak makan, badanku akan lebih besar kaya gajah."
"Devano? Devano anak ku?"
Adi bertanya sambil terkekeh. Luna hanya mengangguk sambil terus meremas perutnya.
"Kamu ini, ucapan anak-anak kamu anggap serius. Dia kan masih kecil, ya pantaslah dia bilang badan kamu besar, lah emang benar kok badan kamu lebih besar dari dia ."
"Tapi Inara juga bilang kalau badan aku gemuk nanti kamu ninggalin aku, kaya kamu ninggalin dia." Timpalnya.
"Yaampun, sayang dengar aku gak akan ninggalin kamu. Inara hanya iri sama kamu yang cantik dan langsing, gak kaya dia yang tidak bisa mengurus diri dan penampilannya. Sekarang kamu makan ya, jangan biarkan perutmu meraung-raung kaya gitu."
Adi mencoba meyakinkan Luna agar dia mau mendengarkannya dan segera makan agar tidak kelaparan.
Akhirnya Luna mau mendengarkan ucapannya dan pergi ke dapur untuk mengambil makanan ditemani oleh Adi.
Adi menyiapkan makanan untuknya dan menyuapinya dengan romantis. Tak sadar Inara sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia yang hendak mengambil air minum karena kehausan, harus melihat pemandangan yang membuatnya menjadi risih hingga akhirnya ia tak jadi mengambil air dan kembali ke kamarnya.
"Hhhhh, Risih juga harus tinggal serumah dengan mas Adi dan madunya. Tapi aku harus tetap bertahan sampai pekerjaanku selesai dan sampai aku bisa membuat dia menyesal."
__ADS_1
Lalu tak lama, Inara memejamkan matanya dan kembali tertidur.