Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 33


Deg...


Ada yang berdesir di hati Dalva. Ia memalingkan wajahnya ke arah Devano, sedangkan Inara merasa kesal karena terus di perhatikan.


Dug dug dug dug dug


Jantung Dalva berdetak sangat kencang, ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sudah sekian lama ia tak merasakan desiran aneh di hatinya, karena terlalu lama ia men-jomblo.


Terakhir ia pacaran dengan wanita yang telah dipisahkan oleh mamanya, karena ia harus fokus dengan perusahaannya agar tidak kalah saing terus dari Andres.


"Om, kenapa keringetan gitu.?" Devano membuat Dalva kikuk dan juga salah tingkah.


"Eumm, om pulang dulu deh. Besok, om balik lagi kesini, okey." Dalva beranjak.


Matanya tak berani lagi melihat kearah Inara. Ia salah tingkah, yang seharusnya ngambil tas kantornya, dia malah ngambil papper bag mainan Devano.


"Loh, Om. Itu katanya buat aku.?" Devano menunjuk mainan yang hendak di bawa lagi.


"Eh,, Om salah ambil. Maaf ya." Dalva nyengir kuda.


Sedangkan Inara dan Devano saling pandang, mereka cekikikkan menertawakan Dalva.


Dalva keluar ruangan dengan rasa malu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Sampai di parkiran, ia melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Andres,? Ngapain dia disini.?" Dalva memperhatikan Andres yang masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan membawa banyak barang.

__ADS_1


"Cihh, bukan urusan gue juga si."


Lalu ia masuk kedalam mobil dan berlalu pergi ke kantornya.


*


Tok tok tok..


Andres masuk ke ruangan Devano.


"An, kamu kesini,? tahu dari mana?" Tanya Inara heran.


"Bibi yang bilang tadi. Kamu kok nggak ngabarin aku Ra.?"


"Iya, maaf. Boro-boro ngabarin kamu, aku aja panik. Tapi orangnya udah tanggung jawab kok. Dia udah urus semua keperluan Vano di sini. Kamu nggak usah khawatir." Balas Inara sambil tersenyum.


"Oh, syukurlah. Vano, kamu udah baikan sekarang. Bilang sama om, mana yang sakit?" Tanya Andres pada Devano sambil memegang pipi gembulnya.


Andres menatap beberapa papper bag dan mainan yang berjejer diatas sofa.


"Waah, mainannya banyak banget. Emangnya, tadi ada yang kesini ya nengokin kamu.?"


"Iya om, tadi ada Om baik kesini bawa mainan, sama makanan buat mama juga."


Andres menatap Inara heran sambil mengangkat kedua alisnya.


"Siapa Ra,?"


"Eum... Dia, yang....."

__ADS_1


Inara memberi kode tangan yang bertabrakan, yang artinya dia orang yang nabrak Devano kemarin.


Ia sengaja tidak memberi tahunya secara gamblang dihadapan Devano, agar devano tidak kesal dan dendam pada orang yang menabraknya.


Andres mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda ia mengerti dengan kode yang diberikan oleh Inara. "Ooooh..."


"Eumm, Vano, udah makan.? Lanjut Andres lagi.


"Udah om, disuapin sama om baik tadi."


"Yaudah. Ra, tadi bibi bawain kamu baju-baju sama makanan juga. Bibi bilang nanti sore dia kesini."


"Kok, ibu nggak bareng aja sama kamu kesini.?"


"Katanya, banyak banget kerjaan di sana. Karyawan juga kan harus dikasih makan, paman mana bisa urus semuanya sendiri."


"Hemmm, yaudah deh." jawab Inara sembari menopang dagunya.


"Kok cemberut gitu si, kan ada aku nemenin kamu disini."


Andres mencolek hidung Inara, membuat Inara langsung melotot kaget dan melirik kearah Devano. Untung saja ia tidak melihat karena sibuk dengan mainan barunya.


"Ish.. Colek-colek." Inara menangkis tangan Andres.


"Idihh, so jaim lagi."


Andres terus menggoda Inara dengan menggelitiknya. Tapi Inara berusaha menangkis semua serangan Andres.


"An, cukup ihh, geli tau." Sambil terus menghindar.

__ADS_1


Hingga pintu ruangan di buka. Mereka berdua terkejut dan menghentikan tingkah konyolnya.


.....


__ADS_2