Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 30


Sementara itu di kediaman Andres, para pelayan bergantian untuk menyiapkan sarapan.


Satu persatu penghuni rumah mulai berdatangan untuk sarapan bersama.


"Dimana Andres,? Apa dia belum bangun?."


Tanya Tuan Jhonshon, kakek dari Andres yang mulai membuka suara, menanyakan Andres yang belum juga turun dan bergabung dengan mereka.


"Dia lagi bersiap ayah." Jawab Vidia, ibunya Andres.


"Pagi semua." Sapa Andres yang baru saja datang lalu mencium kepala ibunya.


"Tumben kesiangan kamu An, biasanya juga selalu yang pertama bangun." Sindir Catrin, satu-satunya anak perempuan Jhonson yang merupakan tantenya Andres.


"Semalam banyak kerjaan." Jawabnya singkat.


"Gimana urusan kamu di kantor An, lancar kan.?" Tanya Tuan Jhonson, setelah Andres duduk di kursinya.


"Semuanya baik-baik saja kek, kakek nggak usah khawatir, aku bisa menghandle semuanya. Seperti yang aku bilang sejak satu minggu kemarin aku sudah dua kali menang tender dari perusahaan besar. Dan kita mengalami kemajuan pesat dari perusahaan lain." Jawab Andres.


"Syukurlah, sekarang papa bisa mempercayakan semuanya sama kamu. Papa yakin kamu pasti bisa membuat perusahaan kita semakin berkembang pesat." Timpal Andrew, papanya Andres


"Iya pah, semoga semuanya berjalan dengan baik seperti kamu menjalankannya dulu." Tutur lembut Vidia pada Andrew.


"Aku janji, aku nggak akan membuat kalian kecewa." Ucap Andres lagi seraya menyuapkan sepotong roti.


Semua merasa kagum dan memuji Andres, kecuali Chatrin, dan Dalva. yang merupakan, tante dan saudaranya Andres. Ibu dan anak ini merasa tersaingi semenjak kepulangan Andres dari London.


mereka selalu kalah telak dari Kaknya itu dalam hal apapun, terutama Dalva, meski usianya hanya berbeda satu tahun di bawah Andres, bahkan dalam hal percintaanpun ia selalu kalah dan membuatnya harus mengalah. Hingga membuat hubungan kedua keluarga itu menjadi tidak harmonis meskipun berada dalam satu rumah.


Tuan Jhonson sengaja menempatkan keluarga Andrew dan Chatrin dalam satu rumah bersamanya. Karena hanya merekalah dua anak yang ia miliki.


Andrew adalah penerus perusahaan pertama karena ia satu-satunya anak laki-laki dan anak tertua. Sedangkan Chatrin, ia anak perempuan satu-satunya yang tidak di perbolehkan oleh Jhonson untuk keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Meski begitu, keduanya selalu diperlakukan adil oleh Jhonson. Keduanya sama-sama di percayai untuk memegang perusahaan yang diberikannya di tempat yang berbeda.


Tetapi, Perusahaan yang di pegang oleh suaminnya Chatrin, yaitu Marko selalu mengalami masalah. Sehingga mereka selalu kalah tender dari perusahaan lain.


Sedangkan perusahaan Andrew, selalu berkembang pesat, apalagi semenjak dipimpin oleh Andres, anaknya.


"Aku berangkat duluan." Dalva beranjak dari meja makan dengan kasar dan meninggalkan mereka semua tanpa makan sedikitpun.


Semua mata tertuju pada Dalva.


"Loh, kamu nggak mau sarapan nak." Kata Tuan Jhonson.


"Udah nggak nafsu." Jawabnya singkat.


"Ini semua gara-gara kalian." Chatrin juga beranjak sambil membanting sendok dan garpu yang di pegangnya.


Semua orang yang ada di sana, termasuk para pelayanpun terkejut dengan kelakuan Chatrin.


Vidia berusaha mengejarnya, tapi Tuan Jhonson mencegahnya.


"Tapi ayah.."


"Sudah, biarkan saja." Ucapnya lagi dengan tenang.


"Maafkan Chatrin dan Dalva, ayah." Ucap Marko, suami dari Chatrin.


"Sudah, seharusnya ayah yang minta maaf karena tidak bisa mendidiknya dengan baik, sehingga selalu merepotkan kamu." Jawab Jhonson pada Marko.


"Aku akan susul Chatrin." Marko hendak beranjak dari kursi.


"Tidak perlu, kamu sarapan saja dengan tenang lalu berangkat ke kantor. Biar Chatrin jadi urusan ayah."


Setelah itu, hening tak ada suara lagi setelah semuanya menyantap sarapan. Lalu, semuanya bersiap dengan kegiatan masing-masing.


"Aaarrrggh, sial. Kenapa harus selalu dia yang menang." Dalva memukul stir mobil yang di kendarainya.

__ADS_1


Ia melaju dengan kecepatan penuh, hatinya merasa terbakar karena semua seisi rumah memuji-muji keberhasilan Andres.


"Sial, sial, sial."


Ia memaki dirinya sendiri. Hingga tak sadar bahwa di hadapannya ada ibu dan anak yang sedang menyebrang jalan.


"Aaaaaaaaaaa"


Braaaak


Ia terkejut dan langsung menginjak rem. Tapi, anak tersebut tidak bisa terhindarkan dari laju mobil Dalva. Ia terpental jauh hingga kepala dan hidiungnya mengeluarkan banyak darah.


"Tidaaaaaak." Perempuan paruh baya itu histeris dan berteriak minta tolong.


Sementara Dalva, ia bingung harus berbuat apa. Ia mengacak-acak rambutnya hingga gebrakan pintu mobil membuatnya tersentak.


"Keluar kamu, jangan kabur." Teriak beberapa pria yang mengerubungi mobilnya.


Dengan terpaksa dan hati yang berdegup kencang, akhirnya ia turun dan meminta ampun kala seorang bapak-bapak mencengkram kerah kemeja nya.


"Jangan coba kabur kamu. Ayo tanggung jawab."


"B-baik pak, maafkan saya, saya akan bertanggung jawab."


Beberapa orang lainnya menggendong anak tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil Dalva.


Dalva melajukan mobilnya untuk membawa anak itu ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup sangat kencang.


"Nak, bangun nak, kamu harus bertahan." Lirih wanita paruh baya itu membuat Dalva semakin gemetar.


Hingga sampailah mereka di rumah sakit, lalu Para suster membantunya membawa anak itu ke ruang UGD.


"Bu, s-saya minta maaf." Ucap Dalva terbata.


........

__ADS_1


__ADS_2