Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 34


Inara dan Andres menghentikan tingkah konyolnya, ketika seseorang datang dan berada di ambang pintu.


Dalva, ia kembali lagi ke rumah sakit untuk mengambil ponsel miliknya yang tertinggal. Ia tertegun melihat kedekatan Andres dengan ibu dari seorang anak yang ia tabrak.


"Kamu? Ngapain lagi.?" Tanya Inara.


Dalva hanya diam mematung. Tatapannya tak lepas dari Andres. Dengan tegap ia melangkah, mendekat ke arah Andres dengan tatapan yang tajam. Sedangkan Andres hanya menatapnya dengan datar.


Begitu bencinya Dalva pada Andres, karena Andres dianggap sebagai penyebab dari semua masalah yang selalu dihadapinya.


"Om baik.."


Teriakan Devano menghentikan aksi tatap mata antara Dalva dan Andres. Keduanya langsung memalingkan wajah satu sama lain. Lalu Dalva mendekat pada Devano.


"Ponsel om ketinggalan." Jawab Dalva sambil tersenyum, dan mengambil ponselnya dari atas sofa.


"Kalo gitu, om pulang dulu yah. Daaah." Dalva melambaikan tangannya, lalu mengepalkannya dengan erat ketika melewati Andres.


Andres hanya diam menatap kepergian Dalva dari ruangan tersebut.


"An, kenapa.?" Inara melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Andres.


"Jadi, dia yang udah...."


Andres menghentikan ucapannya ketika Inara menutup mulut Andres dengan telunjuknya sambil berbisik.


"Ssssst, iya. Dia yang udah nabrak Vano kemarin."


"Kenapa kamu nggak bilang." Ucapannya menjadi dingin.


"Bilang gimana maksudnya,?"


"Ya, kamu nggak bilang kalo dia pelakunya."


"Kan kamu nggak nanya, An. Lagian, aku nggak tau juga namanya siapa. Emang kamu tau?,." Tanya Inara lagi.


Andres kembali duduk di sofa." Yaudah, syukur juga kalo kamu bisa memaafkan dengan lapang orang itu."


"Kenapa si An.?" Tanya Inara yang heran dengan ucapan Andres.


"Nggak papa."


Hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Devano pun sudah tertidur pulas karena pengaruh obat.

__ADS_1


*


Drrrt..drrrt..drrrt..


Ponsel Andres bergetar di atas meja. Sedangkan yang empunya sedang berada di kamar mandi.


Inara mencoba melihat nama yang tertera dilayar kaca ponsel tersebut.


'Audy Marisa'


Ia terdiam. Orang yang menghubunginya sepertinya wanita. Ia kembali duduk di sofa sampai Andres selesai dari kamar mandi.


Andres mengambil ponselnya, dan melihat ada panggilan tak terjawab.


"Ra, tadi ada yang telpon ya? Kok nggak panggil aku.?" Kata Andres.


"Nggak denger." Sambil memainkan ponsel miliknya.


"Handphone nya bergetar Ra, masa nggak denger. Nggak mungkin juga kan kamu nggak denger, ruangannya sunyi sepi kaya gini." Sambil melihat-lihat pesan yang diterima.


Inara hanya diam, Andres yang melihat itu langsung mendekat.


"Cemburu ya, karna yang telpon cewek." Goda Andres.


"dihh, ngapain cemburu."


"Nggak mau tahu juga." Jawabnya singkat.


"Yaudah, kalo nggak mau tahu. Aku balik kantor ya. Ada kerjaan yang harus di selesaikan."


"Hmmmmm." Sambil terus fokus pada ponselnya.


"Dingin banget si jawabnya, kaya kulkas 5 pintu." Andres mencubit kedua pipi Inara karena kesal.


"Aaaw.. Ih sakit An.." Sambil memegangi pipinya yang kesakitan.


"Lagian. Cemburu sampe segitunya." Lanjut Andres sambil memakai jasnya.


"Hah,, ihh, dasar ge'er. Udah sana," Balas Inara bete.


"Nanti aku kesini lagi. Kamu mau aku bawain apa.?"


"Nggak perlu."


"Yakin.? Nggak mau sate, soto, atau apaaa gituh.?" Goda Andres sebelum ia melangkah pergi.

__ADS_1


"Nggak Aan.. Udah sana. Kasian nanti 'ASISTEN' kamu nungguin lama lagi." Sambil menekankan kata asisten.


Andres hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Yaudah, kamu jaga diri ya, daah."


Andres melangkah keluar. Ia melajukan


mobilnya di keramaian jalanan. Tapi tiba-tiba..


Ckiiiiiiiit...


Ditengah perjalanan, sebuah mobil menyalip mobil milik Andres, dan menghadangnya. Andres terkejut, hingga ia menginjakkan rem secara mendadak.


"Ouchh, sial." Gerutunya di dalam mobil.


Ia melihat ada seseorang yang turun dari dalam mobil tersebut. Dan ternyata, orang itu adalah Dalva, ia menunggu kepulangan Andres dari rumah sakit dan membuntutinya dari belakang.


Kemudian, Andres turun dari mobilnya dengan tatapan dingin.


"Apa lagi.?" Tanya Andres dengan nada yang datar.


Dalva menyunggingkan senyum licik.


"Kenapa Tuan Andres,? Takut.? Kalau gue tahu anak itu adalah anak dari wanita pilihan lo, gue habisin dia sekalian kemarin."


"Jangan macam-macam Dalva,!! Mereka nggak salah apa-apa, jangan libatkan mereka dalam masalah kamu." Andres mencengkram kerah Dalva.


"Cihhh, masalah yang selalu terjadi dalam hidup gue itu, lo penyebabnya." Jawab Dalva sambil menghempaskan cengkraman Andres.


"Mau sampai kapan Dalva, sampai kapan kamu akan membenci apa yang saya punya.?"


"Sampai lo, menyingkir dari dunia ini. Semua yang lo punya, semua pencapaian lo, itu membuat gue dianggap sebagai benalu. Dan yang paling sialan, semua yang jadi milik gue hilang gara-gara lo." Teriaknya lagi sambil mendorong Andres


Bugh, bugh, bugh.


Dalva menyerang Andres secara sepihak. Tiga pukulan dilayangkan pada Andres tanpa dibalasnya satu kali pun.


"Gue benci lo.!!"


Dalva mendorong Andres hingga terkapar di atas aspal, lalu pergi meninggalkannya.


"Akhhh."


Andres memegangi perut dan ujung bibirnya yang berdarah. Ia mencoba berdiri, lalau masuk kedalam mobil dan mengobatinya sendiri.

__ADS_1


......


__ADS_2