
Bab 24
Setelah selesai dengan urusan motor, aku langsung melaju ke tempat perumahan yang akan aku beli.
Aku melihat beberapa perumahan sederhana yang sudah selesai di bangun, ada juga yang masih dalam tahap pengerjaan.
"Bagaimana Bu Inara, apa anda berminat untuk menjadi penghuni perum di sini." Tanya pak Andi, seorang yang mempromosikan perumahan di di daerah ini.
Aku sengaja mencari rumah yang dekat dengan sekolah Devano, agar ia tidak harus ikut pindah sekolah gara-gara aku pindah rumah.
Aku melihat rumah dua tingkat yang masih dalam tahap pengerjaan, bangunannya besar dengan halaman depan yang luas. Langkahku langsung tertuju pada rumah tersebut.
"Pak, kalau yang itu?" Aku menunjuk rumah yang ku lihat.
"Yang itu tanahnya lebih luas, bangunannya dua tingkat, dengan empat kamar di atas dan bawah, dua kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, serta halaman yang lebih luas dan ada bagasinya juga. Tapi, masih dalam tahap pengerjaan Bu, mungkin akan membutuhkan satu sampai dua minggu lagi untuk bisa di tempati."
Aku berjalan mengikuti pak Andi yang sedang menjelaskan detail rumah tersebut. Sepertinya itu rumah yang aku butuhkan.
Aku langsung saja menandai rumah tersebut dan memberinya uang DP, meskipun aku masih harus menunggu dua minggu lagi untuk menempatinya, tapi aku tidak keberatan karena butuh waktu untuk membuktikan pada mas Adi bahwa aku tidak selemah yang dia pikirkan.
Setelah hampir tengah hari, aku langsung saja pulang dan menjemput Devano dari sekolah. Sebelum itu, aku menelpon dan meminta pegawai dealer untuk mengirim motor yang sudah aku beli ke rumahku.
"Mama." Devano menghampiri ku yang sedang berdiri di pintu mobil taksi online ku.
"Sayang, pas banget mama baru saja sampai, yuk naik kita pulang sekarang."
Aku dan Devano menaiki mobil dan langsung melaju menuju rumah. Aku tak sabar ingin memberi tahunya tentang motor yang ku beli hari ini.
Setelah sampai dihalaman rumah, aku dan Devano langsung turun, tak lupa ku bayar dulu taksi online yang mengantarku dari pagi dan memberinya uang lebih.
Tak butuh waktu lama, aku baru saja ingin membuka pintu dan motor yang ku beli sudah sampai di halaman rumah.
"Ma, itu motor siapa?" Tanya Devano sambil berteriak.
"Itu motor yang mama beli sayang, untuk mengantar jemput mu ke sekolah."
"Beneran ma, itu motor mama?" Kata Devano lagi sambil berlari menghampiri motor yang sudah di turunkan dari atas mobil pick up.
Aku mengangguk sambil tersenyum kegirangan, Devano menaiki motor tersebut sambil memainkannya.
__ADS_1
"Hati-hati jatuh sayang." Aku memeganginya agar tidak jatuh.
"Woow, motor siapa ini, bagus banget." Tiba-tiba Luna datang dari luar gerbang.
"Ya motorku lah, motor siapa lagi." Kataku sambil tersenyum sinis.
"Hah, dari siapa? kamu gak mungkin beli kan? pasti hasil nyuri, atau dikasih sama pelanggan BO kamu?" Ucapnya dengan wajah tanpa dosa.
Aku mencoba tenang dan tidak emosi, apalagi ada Devano di sini, meskipun ucapannya benar-benar memancing amarah, tapi aku tidak boleh merusak mood ku hari ini.
"Aku heran ya sama kamu, kamu sering mengatai ku yang tidak-tidak, padahal kamu sendiri yang melakukan hal memalukan itu. Harusnya kamu bercermin pada diri kamu sendiri Luna." Balasku.
"Aku tidak perduli dengan itu. Aku akan laporkan pada mas Adi kalau kamu hari ini keluyuran entah kemana, dan pulang-pulang bawa barang mewah, mas Adi pasti akan menuduh mu yang tidak-tidak juga."
"Cihh, Terserah ya. Kamu lakukan saja apa yang kamu inginkan, aku juga tidak perduli dengan itu."
"Ayo sayang, kita masuk. Ganti baju, makan dan kita jalan-jalan, cobain motor baru. Okey." Devano mengangguk dan mengikuti ku masuk ke dalam rumah.
Luna tampak kesal dan menghentak-hentakkan kaki nya ke aspal. Lalu ia juga melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah karena emosi.
Aku dan Devano masuk ke kamar dan mengganti pakaian. Lalu kami bersiap-siap untuk mencoba motor baru. Devano sangat senang dan kegirangan saat aku menyalakan motor.
"Ma, kita ketempat mainan yang kemarin sama om artis ya ma." Pinta Devano.
Lalu aku memarkirkan motorku di depan mall yang kemarin dikunjunginya bersama Andres saat sedang menunggu ku treatment.
"Ayo ma, ayo." Ia menarik tanganku yang masih berusaha melepaskan helm.
"Iya sayang, mama lepas helm dulu. Itu kamu memangnya helm nya mau di bawa ke dalam."
"Oh, iya aku lupa." Katanya sambil nyengir dan melepaskan helm yang di pakai nya.
Lalu Devano menuntunku masuk menuju toko mainan dan langsung memilihnya sesuai keinginannya.
Setelah hari mulai sore, akhirnya kami pulang dengan menenteng banyak belanjaan, makanan, mainan dan baju.
Aku memarkirkan motorku di dalam bagasi, lagi-lagi mas Adi dan Luna sudah menungguku di depan pintu.
"Kenapa? mau menuduhku lagi?."
__ADS_1
Belum sempat mas Adi mengintrogasi ku, aku langsung menyambar ucapannya ketika mulutnya sudah menganga.
"Ayo sayang, kita masuk dan coba barang-barang yang kita beli." Aku Langsung menuntun Devano masuk dan membuat mereka menyingkir.
"Issh, mas kok diam saja si. Bukannya marahin dia." Protes Luna.
"Inara, tunggu." Mereka berbalik dan menyusul ku.
"Apa lagi si mas? Kamu mau menginterogasi ku lagi? dari mana motor baru ku? baju baru? barang-barang baru? dan kesenangan ku? Itu yang mau kamu tanyakan hah?. Dengar ya mas, jangan mengganggu kesenanganku saat ini. Aku membuat diriku bahagia dari hasil kerja kerasku sendiri, dan kamu tidak usah ikut campur dengan semua ini, ngerti." Tutur ku tanpa jeda.
"Heh, berani kamu ya membentak mas Adi.Dasar gak tahu malu, udah numpang hidup, ngelunjak lagi. Mau kami usir kamu dari sini hah?" Balas Luna mengancam ku.
"Cihh, Anak-anak ku bahkan lebih berhak berada di sini dari pada kamu, ******."
"Cukup Inara, jangan kurang ajar kamu." Mas Adi membentak ku dengan tegas.
"Kenapa? Gak terima? Kamu tidak terima aku memanggilnya sebagai wanita ******, sedangkan kalian dengan tanpa dosa menuduhku sebagai wanita penjual diri?"
Mas Adi tampak tertegun dengan penuturanku. Aku tersenyum getir dan langsung meninggalkan mereka masuk ke kamarku.
"Ma, papa kok marah-marah terus sama mama. Kok papa selalu belain Tante Luna dari pada mama, memangnya dia siapanya papa?"
"Sayang, kamu mau kan mama ajak pindah dari rumah ini, tanpa papa?". Aku mengalihkan pertanyaan Devano agar ia tidak terlalu dalam menanyakan tentang Luna.
"Kenapa ma, memangnya kita mau pindah kemana?"
" Beberapa hari lagi, mama akan bawa kamu pergi jauh dari sini okey. Sekarang mending kita cobain mainan dan baju yang tadi kamu pilih, yuk."
Devano mengangguk kegirangan dan langsung mencoba barang-barang pilihannya. Sedangkan aku harus memikirkan bagaimana aku bisa bertahan di sini sampai rumahku selesai dan bisa ku tempati.
Tiba-tiba suara ponselku berbunyi dan membuyarkan lamunan ku. Aku mengangkatnya tanpa melihat nama yang menelpon ku.
"Hallo, siapa" Tanyaku dengan nada sedikit malas.
"Inara, tolong kami."
Aku terkejut mendengar suara yang bergetar di sebrang telepon, aku tahu persis suara siapa itu.
Lalu aku menjauhkan handphone ku dari daun telinga dan melihat nama yang tertera di layar. Mata ku melebar dan langsung menjawabnya dengan segera.
__ADS_1
"Ada apa.?" Jawabku
......