
Bab 34
"Luna..!!"
Bu Marta bertreriak memanggil Luna dari arah dapur.
Luna dengan malas melangkahkan kaki dengan sapu dan kain pel ditangannya.
"Apa lagi si bu.?"
"Apa, apa. Kamu tuh, nyapu sama pel lantai lama banget si. Nih, bantuin ibu masak. Cepetan." Bu Marta menyodorkan bahan makanan yang harus di potong-potong, pada Luna.
"Ngapain masak si bu. Kan bisa pesan Go Food. Mana banyak banget lagi bahan makanan, kaya mau hajatan aja." Tolak Luna.
"Gopud, gopud apaan. hari ini tuh kakaknya Adi akan segera datang. Udah lama mereka nggak kunjungin ibu."
"Hah..Kakak ?, kenapa datangnya kesini si bu. Kan yang mau di kunjungin itu ibu, bukan mas Adi. Kenapa nggak kerumah ibu aja."
"Kamu tuh, banyak menyangkal omongan ibu. Udah, nggak usah banyak omong lagi. Kamu sekarang turutin aja apa kata ibu." Titah Bu Marta.
Luna hanya bisa menghentakkan kaki nya dengan kesal. Ia dengan terpaksa menuruti kemauan ibu mertuanya untuk memasak, walaupun seumur hidupnya ia tidak pernah memegang sepatula ataupun wajan.
Bu Marta hanya menyuruh dan menunjuk apa yang harus dilakukan. Sedangkan Luna terus melaksanakan apa yang ditunjuk oleh Bu Marta.
Hingga sore tiba, Bu Marta sudah selesai bersih-bersih untuk menyambut kedatangan putra pertamanya, yaitu Aldo.
Bukan tanpa alasan, Bu Marta selalu ramah jika di kunjungi oleh Aldo, karena Aldo selalu memberikan uang yang cukup banyak untuknya.
Tapi, meski begitu. Pada Diana, menantunya ia tak pernah bersikap baik karena sudah beberapa tahun, Diana belum juga memberikan cucu padanya.
Vroom...
Deru mobil Adi terparkir dihalaman rumahnya. Bu Marta dengan segera membuka kan pintu rumah.
"Ibu,? Kok ibu yang buka kan pintu, Luna kemana,?" Tanya Adi.
"Luna lagi bersih-bersih dapur. Tadi ibu habis masak banyak di dapur."
"Ooh."
Adi menjatuhkan diri di sofa. Memyimpan tas, dan beberapa barangnya di atas meja.
"Fyuhh...".
"Luna..! Ambilkan air untuk Adi." Teriak Bu Marta lagi.
Luna datang dengan pakaian yang kucel dan kain lap di bahu kirinya. Ia lalu menaruh air minum dihadapan Adi dengan cemberut.
Adi mengrerinyitkan dahinya ketika melihat Luna yang berpenampilan acak-acakkan.
"Lun, kamu belum mandi,?" Tanyanya sambil meneguk air.
"Gimana mau mandi. Ibu dari tadi nyuruh aku beres-beres. Lihat tuh, nggak kelar-kelar." Luna menunjuk ke arah dapur.
__ADS_1
"Kamu tuh, baru begini aja udah protes. Jadi istri itu harus bisa ngurus rumah dengan baik, dan cekatan. Bukannya lelet kaya tadi. Makannya nggak kelar-kelar." Timpal Bu marta yang tidak mau di salahkan.
"Gimana mau cekatan, dari tadi ibu cuma nunjuk-nunjuk nggak bantuin. Mana masak makanan banyak banget, kaya mau hajatan."
Bu Marta hanya diam. Luna yang dari tadi hanya berdiri, akhirnya ikut duduk di sofa dan merebahkan diri.
"Emangnya ibu masak banyak mau buat apa.?" Tanya Adi.
"Oh iya, ibu lupa kasih tahu kamu. Kakak kamu Aldo, mau kesini katanya. Udah lama nggak kunjungin ibu. Tadinya dia mau ke rumab ibu. Tapi, berhubung ibu ada disini, yaudah ibu suruh dia kesini juga. Sekalian tuh kenalin istri baru kamu, kan dia nggak tahu." Jelas Bu Marta.
"Ooh, tapi kok mbak Diana nggak bilang tadi."
Kata Adi sambil melepas sepatu dan kaus kakinya.
"Emang kamu ketemu Diana dimana?"
"Di kantor bu. Kan sekarang mbak Diana jadi auditor di kantor aku. Si Andres yang pindahkan dia dari kantor cabangnya ke kantor aku sekarang."
"Ooh, yaudah deh nggak penting juga tahu tentang si mandul itu." Nyinyir Bu Marta.
Adi yang mendengar itu langsung melirik dengan sinis Bu Marta karena kata-kata kasarnya.
"Bu, gitu banget ngomongnya."
"Iya, iya maaf."
Tin, tin..
Sementara Adi langsung menyuruh Luna untuk membersihkan diri sebelum ikut menemui kakaknya.
"Aldo, kamu apa kabar nak.? Iama banget kamu nggak kunjungin ibu."
Aldo dan Diana menyalami Bu Marta dan Adi sebelum mereka dipersilahkan masuk.
"Ayo, ayo masuk. Ibu udah masakin banyak buat kamu."
Diana celingak-celinguk, matanya munyusuri setiap inci rumah tersebut.
"Mbak Diana cari apa.?" Pertanyaan Adi mengagetkan Diana.
"Nggak, mbak nggak cari apa-apa." Jawab Diana sambil duduk di sofa.
"Oh ya, Bu. Diana bilang, Adi sudah menikah lagi ? Kok ibu nggak bilang sama aku?" Aldo langsung to the point menanyakan perihal rumah tangga Adi.
"Iya acaranya dadakan, jadi nggak sempet hubungin kamu. Adi katanya udah nggak betah sama Inara. Inara udah nggak bisa rawat diri. Nggak kaya dulu."
"Apa hanya itu alasan kamu meninggalkan Inara Adi.?" Tanya Aldo dengan sorot mata yang tegas.
Adi hanya terdiam. Ia tidak bisa menatap mata tegas dari kakak satu-satunya itu.
"Dengar Adi. Kalau kamu mencari kesempurnaan dalam diri seorang wanita, kamu tidak akan pernah menemukannya. Kecuali kamu sendiri yang membuat wanita itu sempurna dimata kamu sendiri." Timpal Diana.
"Sudahlah, nggak usah bahas wanita itu lagi. Sekarang Adi udah bahagia juga kok sama istri barunya." Bu Marta mencoba menengahi pembicaraan mereka
__ADS_1
"Ibu juga, kenapa malah mendukung perselingkuhan mereka.? Ibu harusnya bisa menasihati Adi," lanjut Aldo.
"Loh, itukan keputusan Adi. Ibu mana bisa menolak keinginan anak-anak ibu." Kilahnya lagi.
Aldo dan Diana hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala dengan kelakuan Bu Marta.
Ditengah perbincangan mereka, Luna yang sudah selesai membersihkan diri pun ikut bergabung menemui Aldo dan Diana.
"Hai semuanya." Ia melambaikan tangan dan menyalami kedua kakak iparnya.
"Jadi ini, istri baru kamu.?" Tanya Diana.
"Iya mbak. Namanya Luna."
"Kamu kerja.?" Tanya Diana lagi pada Luna.
"Kemarin-kemarin si masih kerja. Kalau sekarang udah enggak. Diberhentikan sama mas Adi." Luna menyikut tangan Adi sambil cemberut.
"Iya, karna kalo dia ikut kerja. Keadaan rumah jadi kaya kapal pecah semenjak ditinggal Inara. Sedangkan Luna bangunnya selalu siang. Nggak keburu beres-beres sebelum berangkat." Tutur Adi.
"Udah, nggak usah bahas Luna. Yang penting dia bisa segera memberi keturunan buat anak ibu, itu udah cukup." Bu Marta mencoba menengahi lagi, tapi malah membuat Aldo geram dengan kata-katanya.
"Ibu.!!." Sentak Aldo, yang sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
"Mas, sabar." Diana mengelus punggung tangan Aldo.
"Kami kesini cuma mau memberi tahu kalian, kalo Devano, cucu ibu mengalami kecelakaan. Kalau memang benar ibu menginginkan seorang cucu, beri perhatian pada anaknya Inara, kalian jenguk dia di rumah sakit, karena dia juga cucu ibu." Lanjut Aldo.
"Devano kecelakaan? Kok bisa.?" Tanya Adi terkejut.
"Tuh, kan. Kamu lihat sendiri Aldo,? Inara itu, udah nggak bisa rawat diri, nggak bisa memanjakan mata suaminya, ngga becus pula menjaga anaknya. Udah paling bener keputusan Adi ninggalin Inara."
"Cukup bu, ibu memang tidak pernah menghargai Inara sebagai menantu. Semua menantu dimata ibu selalu salah, termasuk aku. Apa ibu nggak memiliki rasa empati pada wanita? Padahal ibu juga seorang wanita, ibu juga pernah menjadi seorang menantu."
Diana sudah mulai geram. Ia tidak bisa menahan emosinya saat Bu Marta menjelek-jelekkan Inara dihadapan semuanya.
"Jadi kalian datang kesini tuh cuma buat nyuditin ibu. Udah nggak pernah jenguk, sekali datang malah menyalahkan ibu."
Bu Marta menangis. Ia mengeluarkan air mata buaya betina, seolah-olah ia begitu tersakiti oleh perkataan menantunya.
"Sudahlah, lebih baik kami pergi. Yang penting, kami sudah menyampaikan apa yang harus kami sampaikan. Ini uang bulanan untuk ibu."
Aldo menyodorkan amplop coklat berisi uang bulanan. Bu Marta langsung melotot dan menghentikan tangisnya, lalu mengambil amplop tersebut tanpa ragu.
Kemudian, Aldo dan Diana berpamitan dan beranjak meninggalkan mereka.
Vroom..
"Maaf, mas. Aku terlalu kasar sama ibu kamu.". Diana menyender dibahu suaminya.
"Iya, mas ngerti kok. Keputusan mas juga udah benar, membawa kamu jauh dari ibu. Karena kalo tidak, ibu juga pasti akan selalu ikut campur dengan keluarga kita."
........
__ADS_1