
Bab 14
Aku membuka mataku, kepalaku rasanya pusing sekali. Aku melihat ke sekelilingku ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Tangan kiri dan kepalaku sudah terbalut perban.
Di sebelahku terlihat ada ibu dan bapak. Tapi mataku tertuju pada lelaki yang sedang duduk di sofa belakang sambil memangku Devano.
"Andres."
Lalu dia berdiri, mendekat ke arahku. Mataku melebar saat wajah nya terlihat dengan jelas, ternyata dia mas Adi.
"Mas Adi, kamu."
"Iya nak, ibu yang menghubungi nya. Bagaimanapun dia masih suamimu, dia berhak tahu keadaanmu."
"Dimana Andres?" Aku sengaja menanyakan keberadaan Andres untuk membuat mas Adi merasa kesal.
"Ia sudah pulang lebih dulu, ia juga menyampaikan permintaan maaf padamu karena kejadian tadi."
"Tadinya ia akan menemani mu disini, tapi ibumu malah kekeh menelpon Adi, jadi nak Andres pulang duluan." Bapak melirik kearah mas Adi yang berdiri di sebelahnya.
"Kenapa dia pulang, seharusnya aku meminta maaf padanya karena tidak mendengarkan dan malah merepotkan dia." Aku menyalahkan diriku sendiri, aku merasa bersalah padanya karena telah membuatnya khawatir.
"Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu."
Mas Adi membuka suara, sepertinya dia kesal karena aku mengabaikannya dan malah membahas Andres.
"Bukan urusan kamu mas." Aku menjawabnya singkat lalu memalingkan wajahku.
"Jelas urusanku Inara, statusmu masih istriku, jadi aku berhak tahu.
"Ya, aku memang istrimu mas. Istri yang tak di anggap."
mas Adi hendak berbicara lagi, tapi bapak langsung mencegahnya.
"Sudah cukup, Adi kamu tidak berhak tahu siapa laki-laki yang bersama dengan Inara saat ini, bukankah waktu itu kamu sendiri yang bilang bahwa kamu hanya akan bertanggung jawab pada anak-anakmu saja bukan pada Inara. Jadi, jangan mencampuri urusannya lagi."
"Tapi status..." Belum sempat ia melanjutkan, bapak langsung menyerobot ucapannya.
"Statusnya memang istrimu, tapi jiwa dan raganya bukan milikmu lagi. Karena kamu sudah terlanjur berjanji untuk menceraikannya kelak bayi itu lahir."
"Cukup pak, seharusnya bapak yang tidak mencampuri urusan kami berdua, Inara masih menjadi istriku dan aku masih berhak atasnya selama bayi itu ada dalam kandungannya. Aku bertanggung jawab atasnya, jika terjadi sesuatu pada anakku karena kecerobohannya seperti tadi, aku tidak akan tinggal diam."
"Lancang kamu ya bicara seperti itu padaku. Kamu mau mengancam anak ku."
Bapak hendak mendekat ke arah mas Adi tapi ibu mencegahnya, karena kalau bapak sampai menghajar mas Adi, ia bisa diusir dari sini.
"Sabar pak, sudah." Ibu memegangi bapak dengan sekuat tenaga.
Tiba-tiba perutku terasa sakit, rasanya seperti di adu-aduk, aku memegangi perutku dengan kuat.
"Aaw, Bu sakit.."
Lalu bapak segera pergi keluar dan memanggil dokter, ia begitu panik sehingga ia lupa kalau di ruangan ini ada tombol khusus untuk memanggil dokter.
"Kamu bertahan ya nak." Ibu Memegangi perutku dan mencoba menenangkan ku.
__ADS_1
Mas Adi terlihat kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa. lalu ia menggendong Devano yang terlihat sangat cemas.
Lalu dokter pun datang dan dikuti oleh bapak. Dokter memeriksa perutku dengan hati-hati.
"Kandungan nyonya Inara saat ini sedang dalam keadaan lemah dan harus ekstra hati-hati dalam beraktivitas. Jangan terlalu banyak bergerak. Dan kalau bisa jangan dulu terlalu banyak berjalan. Jika ingin ke toilet nyonya bisa menggunakan kursi roda."
"Tapi, ada apa dengan tangan kiri ku ini dok, kenapa diperban seperti ini." Aku meringis memegangi tanganku yang dibalut perban.
"Sepertinya saat nyonya terpental, nyonya menahannya dengan tangan kiri sehingga tangan kiri nya mengalami patah tulang. Tapi beruntungnya, dengan pengorbanan nyonya menahan tubuh oleh tangan, keadaan janin nyonya jadi terselamatkan dan kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi, nyonya harus tetap berhati-hati ya."
"Apa istri saya sudah boleh pulang dokter. Biarkan saya merawatnya di rumah."
Mas Adi tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin merawat ku. Aku mengorek-orek telingaku, apa aku salah dengar?.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi, Sampai proses pemulihannya benar benar selesai. Saya permisi dulu."
Lalu dokter pun pergi meninggalkan kami. Pandangan ku beralih kepada mas Adi.
"Apa kamu bilang, kamu akan merawat ku di rumah? Apa aku tidak salah dengar?. Kamu bahkan sudah jijik untuk melihat wajahku, bagaimana bisa kau merawat ku."
"Jangan banyak tanya Inara, rumah sakit ini harganya mahal, apalagi laki-laki itu membawamu ke ruang VIP"
Cihh...
Aku tersenyum sinis, ternyata alasannya untuk segera membawaku ke rumah karena biaya rumah sakit yang mahal. Gajinya bahkan terhitung lumayan besar, tapi untuk mengeluarkan biaya perawatan ku dan calon anaknya saja dia hitung hitungan.
"Kamu tenang saja mas, biaya rumah sakit ini sudah di tanggung oleh Andres. Jadi kamu tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk menanggungnya."
"Kamu memang suami perhitungan Adi, bagaimana bisa kamu ingin merawat Inara jika biaya pengobatannya saja kamu perhitungan seperti ini."
"Aku sanggup membayar tagihannya jika aku mau, tapi aku terlanjur malas karena kamu telah dekat dengan seorang lelaki, dan mengabaikan kandungan mu. Jadi tanggung sendiri ulah kecerobohan mu."
Ia beralasan, tapi alasannya seperti tidak masuk akal. Aku bahkan tidak melakukan apapun dengan Andres.
Jika aku menceritakan pada bapak kalau dia tadi ada ditempat kejadian saat aku ditabrak, tapi dia malah mengabaikan ku tanpa menolong. Mungkin bapak akan menghajarnya habis-habisan.
"Harusnya kamu berterima kasih padanya karena dia telah menolongku dan segera membawaku ke sini. Kalau tidak, mungkin kandunganku tidak akan selamat saat ini. Dia bahkan lebih perduli dari pada kamu sebagai ayahnya."
Aku menjelaskannya sepanjang mungkin, dia terlihat gelagapan, dari raut wajahnya dia sepertinya takut kalau aku akan menceritakan semuanya pada bapak.
"Sudah, sekarang lebih baik kamu pulang. Setidaknya kami sudah menghargai mu dengan memberi tahu tentang kondisi calon bayimu."
"Baiklah kalau begitu, jika ada apa-apa lagi dengan bayiku, kamu yang bertanggung jawab atas itu Inara."
Bapak menatapnya tajam, lalu mas Adi dengan segera melangkah jauh setelah menciumi Devano.
..........
Hari sudah pagi, keadaan ruangan ku terlihat begitu sepi, kemana perginya mereka semua.
Aku mencoba bangun dan turun dari tempat tidurku tapi, "Aww". Aku hampir terjatuh kelantai.
Tiba-tiba mas Andres datang dan langsung menangkap ku yang meringis kesakitan.
"Inara kamu ngapain, jangan memaksakan bangun seperti itu jika tidak bisa, kesehatanmu bisa bermasalah lagi nanti."
__ADS_1
Lalu ia membantuku merubah posisi menjadi terduduk dan menyender di atas kasurku.
"Kamu mau apa, apa yang kamu butuhkan Ra?."
Aku terdiam dan memegangi tanganku, ia menatapku lekat. Ada rasa khawatir dalam raut wajahnya.
"Aku hanya ingin bangun, aku merasa sangat bosan berada terus di ruangan ini."
"Lalu kenapa tidak memanggil suster, kan kamu bisa memintanya mengantarkan mu berkeliling."
"Aku.."
Lalu ia bangkit mengambil kursi roda dan membawanya kedekat ku. Ia menggendongku dengan hati-hati dan tangan kananku berpegangan erat ke lehernya agar tidak jatuh. Ia menduduk kan ku ke atas kursi roda, lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan ku.
"Sekarang kita berkeliling, kamu jangan sekali-kali lagi bertingkah ceroboh seperti tadi."
Lalu ia berdiri dan mendorongku ke luar ruangan. Kami melewati beberapa lorong rumah sakit dan turun dengan menaiki lift.
Ia membawaku ke taman rumah sakit, areanya begitu luas dan suasananya sangat sejuk, aku menghirup nafasku panjang dan mengeluarkan nya perlahan.
Ada beberapa pasien juga yang memakai kursi roda dan berjalan dengan tongkat, mereka juga tampaknya sedang menikmati udara di pagi hari yang begitu menyegarkan.
Lalu Andres menghentikan langkahnya di Depan kursi taman di bawah pohon rindang, ia duduk menghadap ku, aku langsung salah tingkah saat jarak kami berdekatan apalagi sampai berhadap-hadapan seperti ini.
"Kamu sudah makan?" Aku menggeleng
Lalu ia merogoh saku celananya dan menelpon seseorang.
"Sus tolong kirim makanan untuk pasien yang ada di taman bersamaku." Tanpa ada jawaban dari seberang telepon, ia langsung mematikannya. Sepertinya dia sangat berpengaruh di rumah sakit ini.
Lalu tak membutuhkan waktu lama, seorang suster membawakan makanan ala rumah sakit. Dan memberikannya pada Andres.
"Terimakasih." Lalu ia langsung menyuapi bubur ke mulutku.
"Bapak, ibu sama Devano kemana ya? Kok saat aku bangun, mereka tidak ada di ruangan."
"Mereka tadi pamit padaku, dan memintaku untuk menjagamu. Kan Devano ada ujian, ibu harus menyiapkan keperluannya, sedangkan bapak harus berjualan sayur karena pesanan yang banyak dari pelanggannya."
"Aku lupa dengan ujian anakku, aku bahkan tidak sempat mengajarinya menjelang ia ujian. Aku memang ibu yang tidak berguna."
Aku menitikkan air mata, menyesal dengan keadaanku saat ini. Aku memang ibu yang tidak berguna.
"Hey, jangan bilang seperti itu, kamu ibu yang hebat, buktinya kamu bisa melewati ini sendirian menghadapi cobaan-cobaan yang menimpamu selama ini."
Lalu Andres memegang dagu ku. Ia mengangkat wajahku hingga wajah kami saling bertatapan, dan ia mengusap air mataku dengan lembut.
"Kamu tahu semuanya An."
"Sudah, jangan bahas itu sekarang kamu habiskan makananmu dulu ya."
Ia terus menyeka air mataku yang berjatuhan, hingga tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami berdua.
"Ekhemm."
Seketika kami menoleh ke arah suara
__ADS_1
.....