Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 8


"Tapi Bu, ada satu lagi."


Aku tertunduk sambil memegangi perutku.


"Aku hamil."


Mata ibu berbinar, terharu dan bahagia. Ia tersenyum mendengar kabar kehamilanku.


"Kamu hamil nak, itu tandanya Devano akan memiliki adik."


"Apa suami mu tahu tentang hal ini Inara."


Bapak memotong pembicaraan kami.


"Tidak pak, kehamilanku baru diketahui oleh dokter saat aku pingsan kemarin."


Lalu bapak berdiri, hendak pergi tapi ibu menahannya."Bapak mau kemana."


"Bapak akan menemui Adi, bagaimana pun janin yang dikandung Inara masih memiliki hak atas tanggung jawabnya."


"Jangan pak, aku tidak mau mereka menganggap kita mengemis dan berpikir bahwa aku tidak ingin berpisah dari mas Adi."


Aku mencoba menghentikan langkah bapak, tapi ia tidak mendengarkan ku. Lalu aku dan ibu pergi menyusul bapak walau aku sedikit merasa lemas.


Sesampainya di rumah mertuaku, bapak langsung memanggil mas Adi sambil menggedor pintu dengan keras.


"Adi, keluar kamu laki-laki brengsek."


Tak ada sahutan dari dalam rumah. Tampaknya mas Adi dan ibu sedang pergi. Tapi bapak tidak berhenti berteriak memanggil manggil mereka.


"Pak, sudah pak malu dilihatin orang-orang nanti, sepertinya mereka tidak ada di rumah, lebih baik kita pergi dari sini."


Ibu mencoba menenangkan bapak yang dirudung emosi, ia memegangi tangan bapak agar berhenti menggedor pintu rumah mertuaku.


"Lepaskan Bu, aku harus bicara dengan lelaki jahanam itu. Dia telah menyakiti putri kita satu satunya."


"Iya pak, ibu mengerti tapi mereka saat ini tidak ada di rumah. Lihat, pintunya saja dikunci."

__ADS_1


Akhirnya bapak luluh oleh bujukan ibu. Aku yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka hanya bisa terdiam karena aku masih merasa lemas, bahkan untuk berjalan lagi pun rasanya aku tidak kuat karena barusan aku harus berlari mengejar bapak, karena jarak rumahku dan mertuaku memang tidak terlalu jauh.


"Inara, kamu sakit lagi nak." Tanya bapak cemas melihatku lemas dan duduk di teras.


"Ini semua gara gara bapak tidak mau mendengarkan. Inara jadi harus ikut lari mengejar bapak." Ibu mengomel sambil mengangkat ku naik untuk duduk di atas kursi yang ada di teras.


Tak lama kemudian, tiba-tiba sebuah mobil melaju ke halaman rumah dan terparkir di hadapan kami. Sepertinya itu mobil mas Adi.


Lalu tak lama mas Adi dan ibunya turun dari mobil di susul oleh Luna, wanita selingkuhan nya mas Adi.


"Ada apa kalian ngumpul disini. Mau membujuk Adi agar tidak jadi menceraikan perempuan kucel ini."


Ibu mertuaku berjalan menghampiri kami.Dugaan ku memang benar, jika aku kesini pasti mereka mengira kalau aku akan mengemis cinta nya mas Adi kembali.


"Aku ingin bicara denganmu dan Adi." Bapak membuka suara


"Apalagi yang harus di bicarakan pak. Keputusanku sudah bulat untuk menceraikan Inara. Lagi pula sebentar lagi aku dan kekasihku akan menikah, jadi jangan mengganggu ketenangan kami."


'menikah' batinku bergejolak, bahkan surat gugatan baru saja ia kirimkan tadi pagi. Dengan datarnya ia membicarakan pernikahan nya dihadapan keluargaku.


Lalu tanpa aba-aba bapak langsung menghajar wajah mas Adi yang berdiri tidak jauh dari ibunya. "Dasar laki-laki tidak tahu malu."


Kami semua panik, ibuku mencoba menghentikan tangan bapak, tapi tenaga ibu tidak sebanding dengan bapak yang hatinya dipenuhi oleh amarah. Akhirnya ibu sedikit terhempas kesamping dan kembali memegangi ku yang benar-benar sudah lemas.


Bapak melayangkan tiga kali pukulan kearah wajah dan perutnya mas Adi. Ia jatuh tersungkur tanpa bisa membalas pukulan bapak. Lalu ia bangkit, langkah nya sedikit terhuyung, bapak mencengkram kerah bajunya dengan kuat sehingga mas Adi sedikit terangkat.


"Kamu jangan macam-macam Adi. Kamu masih harus bertanggung jawab pada anak dan cucuku."


Lalu ibunya mas Adi dan Luna berteriak meminta pertolongan. Tak lama kemudian datang segerombolan lelaki dan mencoba memisahkan mereka.


"Cukup pa, ada apa ini ribut-ribut dikampung ini." Ujar salah seorang lelaki yang memakai kaos hitam.


Bapak langsung melepaskan cengkeramannya lalu tak henti hentinya berucap "Astagfirullah, astagfirullah astagfirullah."


"Jika ini masalah keluarga, silahkan dibicarakan baik-baik, jangan sampai membuat keributan seperti ini." Ujarnya lagi yang membuat bapak merasa sedikit malu


"Maafkan saya pak. Saya diliputi oleh amarah. Sekarang bapak-bapak bisa pergi karena kami akan menyelesaikan masalah kami secara kekeluargaan."


Lalu mereka semua pergi meninggalkan kami sekeluarga.

__ADS_1


"Kita bicarakan didalam saja. Saya tidak mau kalian buat malu keluarga kami." Ibu menggiring kami semua masuk ke rumah dan membicarakan nya baik-baik.


Mas Adi tampak masih memegangi ujung bibirnya yang berdarah. Lalu ibunya kembali membuka suara.


"Apa maksud bapak tadi, Adi masih harus tanggung jawab atas Inara. Untuk apa, mereka berdua sudah pasti akan bercerai kok."


"Bukan pada Inara, tapi pada anak yang dikandungnya. Inara saat ini sedang mengandung anak kedua dari Adi." Suara bapak tampak melemah.


Luna dan ibu terlihat syok dengan penuturan bapak. Mereka berdua saling bertatap satu sama lain, sedangkan mas Adi tampak sedang berpikir.


"Apa yang kamu pikirkan mas, kamu bisa-bisanya masih berhubungan dengan istrimu sebelum kalian bercerai. Lalu bagaimana dengan pernikahan kita."


Luna memberanikan diri bicara dan protes dihadapan kami. Bapak melirik wanita itu dengan tatapan yang tajam.


"Jangan ikut campur nak. Ini urusan suami dan istri sah, dan bukan saatnya untuk kalian membicarakan pernikahan."


Wanita itu diam dan terlihat wajahnya memerah menahan malu dan rasa kesal.


"Tapi ini menyangkut harga diriku. Aku juga sedang mengandung anaknya mas Adi."


Bapak langsung melebarkan matanya wajahnya memerah menahan amarah. Aku dan ibu terkejut dan saling bertatap. Lalu Ibu memelukku dan menenangkan perasaan ku.


"Dasar manusia tidak tahu malu. Kalian berhubungan sampai sejauh ini dan memamerkannya dihadapan kami semua."


Bapak refleks berdiri dana menunjuk wajah mas Adi.


"Cukup pak Harto, jangan membuat keributan lagi di rumah ini. Sudah cukup kami dibuat malu tadi, pak Harto jangan macam-macam lagi dengan anak saya atau saya laporkan pada polisi." Ibunya mas Adi ikut berdiri dan mencegah bapak agar tidak membuat gaduh lagi.


"Silahkan, silahkan kamu laporkan saya ke polisi. Dan saya akan balik melaporkan Adi anakmu atas tuduhan perselingkuhan disaat anak saya sedang mengandung. Saya pastikan Adi akan mendekam dipenjara, karena buktinya sudah kuat."


mereka bertiga tampak gelagapan. Mas Adi hanya terdiam sambil sesekali mengusap darah yang terus mengalir di sudut bibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Baiklah, saya akan beri keputusan. Saya akan tetap membiayai Inara dan anak saya sampai bayi itu lahir. Setelah itu kami berpisah dan hak asuh Devano akan beralih ke tangan saya. Dan kalian jangan mengganggu kehidupan kami lagi."


"Seenaknya kamu bicara seperti itu Adi. Sampai kapanpun, hak asuh Devano akan ada pada Inara. karena kami tidak mau cucuku diasuh oleh manusia tidak tahu malu seperti kalian." Bapak sepertinya sudah tidak tahan ingin menghajar mas Adi kembali. Tapi ibu langsung mencegahnya dan meminta untuk mengakhiri pembicaraan ini.


"Sudah pak, sebaiknya kita pulang saja kasihan Inara dari tadi sudah lemas. Biarkan dia istirahat."


"Baiklah, jika sebelum Inara melahirkan, kalian masih tetap berhubungan maka aku akan melaporkan kalian ke polisi. Camkan itu."

__ADS_1


Lalu kami beranjak pergi meninggalkan mereka. Sepertinya mereka sedang berdiskusi. Terdengar suara Luna protes dan memarahi mas Adi.


Aku berjalan digandeng oleh ibu dan bapak karena saat ini kaki ku benar-benar lemas.


__ADS_2