
Bab 18
"Inara, di mana kamu Inara"
Inara keluar dari kamarnya, matanya masih terlihat sembab tapi Bu Marta tidak berhenti mengganggunya sejak pagi.
"Ooh kamu enak-enakan diam di sini sedangkan Luna menantu idaman ku terbaring di rumah sakit dan harus kehilangan anaknya. Kamu harus tanggung jawab Inara."
Inara melebarkan matanya, ia terkejut mendengar kabar keguguran Luna.
"Luna keguguran Bu? Lalu apa salahku? kalian yang pertama kali mengusik kehidupanku tanpa henti. Aku sudah berusaha melupakan kesalahan kalian, tapi kalian tidak berhenti membuatku menderita."
"Dasar kurang ajar. Berani kamu membentak saya. Saya akan pastikan kamu mendekam di penjara, camkan itu." Bu Marta menunjuk wajah Luna, tapi ia menepisnya kasar.
"Cukup Bu, aku tidak takut dengan ancaman mu."
"Ooh tidak takut ya, kamu tunggu di sini polisi akan segera datang ke sini untuk menjemputmu."
"Silahkan saja laporkan Inara ke polisi. Karena pada akhirnya kalian lah yang akan mendekam di penjara."
Bu Marta mengalihkan pandangan pada Andres. Ia baru saja pulang setelah menjemput Devano dari sekolah.
"Apa maksudmu? kamu jangan berani mencampuri urusan keluarga kami ya. Jelas-jelas Inara yang telah membuat Luna kehilangan calon bayinya."
Andres menurunkan Devano dari pangkuannya dan langsung menyuruhnya untuk masuk ke kamar.
"Dengar ya Bu, saya juga punya bukti kejahatan anda dan Luna yang di lakukan pada Inara. Jika saya laporkan kalian pada polisi atas kejadian itu, saya pastikan kalian lah yang akan mendekam di penjara, bukan Inara." Jelasnya tegas.
Bu Marta hanya tersenyum sinis, ia tidak menanggapi ucapan Andres dengan serius.
"Bukti apa? Apa yang kami lakukan pada Inara?"
" Kami sudah mengetahui bahwa dalang di balik kecelakaan Inara pada malam itu adalah ulah kalian berdua, Bu Marta dan Luna."
Bu Marta melotot tak percaya, ia gelagapan dan tubuhnya bergetar, dan perasaannya jadi tak karuan.
"A-apa maksud mu? saya tidak mengerti apa yang kamu katakan." ia membuang muka karena ketakutan.
"Bu Marta jangan pura-pura tidak tahu, saya punya banyak asisten dan bodyguard untuk menelusuri kasus ini. Kasus sekecil ini bisa di atasi dengan mudah, jadi Bu Marta tidak akan bisa mengelak lagi."
Bu Marta terlihat gelisah, ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran di dahi nya.
__ADS_1
"K-kamu, siapa kamu sebenarnya? kenapa kamu lancang mencampuri urusan keluarga kami hah."
"Siapa diriku, itu tidak penting. Sekarang jika anda mengusik kehidupan Inara lagi, saya akan pastikan kalau kalian akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama." Ancam Andres dengan tatapan yang tajam.
Bu Marta ketakutan mendengar ancaman dari Andres. Lalu ia pergi dengan tergesa-gesa dari hadapan mereka berdua.
"Terimakasih ya An, kamu sudah banyak membantu ku." Inara mendekat ke arah Andres.
"Sudah Ra, sekarang mereka tidak akan berani mengusik mu lagi."
"Jika ibu mungkin tidak akan lagi, tapi mas Adi dan Luna pasti akan pulang ke sini karena mereka akan tinggal di sini."
"Kamu tidak perlu khawatir, jika mereka ingin tinggal disini, biarkan saja. Hubungi aku jika mereka berbuat tidak baik padamu." Inara mengangguk.
Lalu, ketika hari sudah mulai sore, akhirnya Luna bisa langsung di pulangkan dari rumah sakit karena kondisinya sudah mulai membaik.
Adi menuntun Luna berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, sedangkan Bu Marta berjalan di belakang mereka masih dengan perasaan takut.
Pintu di buka perlahan, Inara dan Devano nampaknya tidak ada di rumah.
"Inara, Inara." Adi memanggil-manggil Inara tapi tidak ada sahutan dari nya.
"Aku perlu Inara untuk menyiapkan air dan makanan untuk Luna Bu."
"T-tidak usah, biar ibu saja yang memasak untuk kalian nanti, sekarang bawa Luna ke kamar biar dia istirahat."
Saat mereka ingin masuk ke kamar utama, ternyata pintunya di kunci dari luar, mereka menggedor pintunya karena mengira Inara ada di dalam.
"Kemana si wanita jelek itu mas. Sudah sore gini masih enak-enakan keluyuran. Mana dia gak tanggung jawab lagi atas keguguran ku. Dobrak aja mas pintunya." Pinta Luna dengan kesal.
Bu Marta langsung mencegahnya, ia berdiri di depan pintu dan membawa mereka ke sofa.
"J-jangan ganggu Inara Adi, saat ini kita sedang dalam bahaya." Bu Marta bicara dengan terbata-bata.
Luna dan Adi tampak saling melempar pandangan dengan heran.
"Kenapa si Bu kayak orang ketakutan gitu." Adi merasa bingung dengan tingkah ibunya saat ini.
"Iya nih bahaya apa si maksud ibu, sudah aku mau istirahat, dobrak saja pintunya mas." Pinta Luna lagi.
Saat Bu Marta ingin mencegahnya, tiba-tiba Inara datang bersama Devano, ia menatap mereka dengan tatapan yang datar, dan tanpa menghiraukan kehadiran mereka, Inara langsung melewati mereka menuju kamarnya.
__ADS_1
"Heh, wanita jelek, kamu harus tanggung jawab atas keguguran ku saat ini."
Inara berbalik dan melirik mereka sambil tersenyum sinis.
"cihh, apa yang harus aku pertanggung jawabkan? Kamu terjatuh karena kesalahanmu sendiri, kamu menarik tanganku, lalu terhempas karena terlalu kasar. Jadi, apa yang harus aku lakukan jika bayimu tidak bisa di selamatkan?".
"Dasar wanita jelek tidak punya hati. Harusnya kamu bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan calon bayi yang ada dalam kandunganku ini."
Luna menangis sesegukkan di pelukan Adi. sedangkan Inara hanya tersenyum sinis melihat tingkah lakunya yang so suci tanpa dosa.
"Tak punya hati katamu. Itu yang aku rasakan saat kalian mencoba menabrak ku. Sekarang kamu mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari pada aku Luna. Bukan karena aku, tapi karena ulah mu sendiri."
Adi dan Luna terkejut setengah mati. Mereka saling bertatap dan kembali memandang ke arah Inara.
"Kenapa? Kalian terkejut ? Ya, aku sudah tahu semuanya. Aku bisa saja melaporkan kasus ini pada polisi. Tapi tidak aku lakukan karena aku masih punya hati, karena saat itu Luna sedang mengandung. Jika aku mau, aku bisa menelpon Andres untuk segera melaporkan kalian sekarang juga berhubung ia juga sudah keguguran saat ini."
Inara berbicara dengan penuh ketegasan, meskipun dalam lubuk hatinya ia juga merasa iba karena Luna telah mengalami keguguran, ia juga merasakan bagaimana sakitnya saat hampir kehilangan calon bayinya. Tapi, untuk membuat mereka jera, itu semua harus di lakukan untuk memberi pelajaran pada mereka.
Adi berdiri tegas dari duduknya, ia merasa bahwa Inara sudah keterlaluan saat ini. Dadanya naik turun mendengarkan penuturan Inara yang menyebut nama Andres yang selalu membantunya saat ini.
"Cukup Inara, kamu jangan keterlaluan. Luna baru saja pulang dari rumah sakit, harusnya kamu layani dia dengan baik di sini, bukan malah mengancamnya."
"Layani dia? Kamu pikir aku babu kamu apa. Jika kalian masih punya rasa malu, harusnya kalian pergi dari sini, bukannya minta di layani. Aku juga perlu menjaga kesehatan dan kewarasan ku selama aku mengandung mas. Enak sekali dia harus aku jaga sedangkan kewarasan ku di pertaruhkan." Inara melipatkan tangannya.
"Kamu benar-benar lancang Inara. Sekarang berikan kunci kamar utama agar aku dan Luna bisa istirahat."
"Kenapa tidak belikan saja rumah baru untuknya? bukannya malah mengusik ku di sini. Kamu tidak mampu atau enggan untuk mengeluarkan uang?".
"Jangan kurang ajar kamu. Rumah ini masih atas nama ku. Berikan kuncinya, atau kau.."
"Atau apa mas? Kamu akan mengusirku dari sini? Jika itu kau lakukan padaku, maka aku juga akan melaporkan wanita murahan ini pada polisi."
Inara memotong perkataan Adi dengan tegas dan berani sehingga membuat Adi, Luna dan ibunya merasa ketakutan dan salah tingkah.
"Oh ya, jika kamu masih memaksakan ingin tinggal di sini, silahkan tidur di kamar tamu dan jangan pernah mengusik kehidupan ku."
Inara melempar kunci kamar tamu ke atas sofa sambil berlalu pergi dari hadapan mereka. Adi benar- benar terkejut dengan perubahan sikap Inara yang selalu mengalah, kini jadi tegas dan membangkang.
Tapi apa daya, ia harus mengalah dan menerimanya agar ibunya dan Luna bisa aman dari kasus mereka.
..........
__ADS_1