Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 26


Aku mendongak menatap ke arah mas Adi. Ia tampak memandangi orang tuaku dengan tatapan yang tidak suka.


"Kamu jangan seenaknya disini ya. Rumah ini sekarang sudah menjadi milikku dan mas Adi. Dan aku adalah nyonya besar di rumah ini. Jadi, bawa pergi orang tua kamu dari hadapan kami sekarang juga. Jangan harap mereka bisa tinggal di sini." Timpal Luna.


"Apa maksud dari semua ini nak? Jadi selama ini kamu tinggal satu atap bersama mereka berdua di rumah ini." Bapak tampak kebingungan.


Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Wajah ibu memerah menahan tangis sedangkan bapak hanya diam dengan tatapan yang kosong.


"Sudah, jangan ribut disini. Lebih baik kalian pergi dari sini. Kami sibuk dan harus berangkat bekerja. Gak kaya kalian yang pengangguran." Ejek Luna.


Luna dan mas Adi berlalu pergi setelah mengunci pintu masuk, termasuk pintu belakang.


Aku menatap ibu dan bapak dengan rasa iba. Mereka tampak kebingungan harus tinggal dimana.


"Bu, Pak. Jangan sedih ya. Lebih baik kita cari kontrakan untuk sementara waktu." Aku mencoba menenangkan mereka.


"Tapi kami tidak punya uang sepeser pun."


Ibu menunduk sedih dan putus asa.


"Sudah, jangan pikirkan masalah uang. Tadinya aku membawa kalian kesini hanya untuk membiarkan kalian istirahat dengan nyaman, sementara aku mencari kontrakan untuk kita tinggal sementara waktu."


"Sebenarnya, aku sudah membeli sebuah perumahan. Tapi masih dalam tahap pembangunan, jadi untuk sementara aku harus bertahan di rumah ini." Jelas ku perlahan.


"Tapi, kamu dapat uang dari mana sebanyak itu sampai kamu bisa beli rumah nak." Bapak menyeka ucapan ku.


"Nanti aku jelaskan lagi ya Bu, Pak, sekarang kita cari dulu kontrakan untuk sementara sampai rumah yang ku beli selesai di bangun."


Kami pun melaju mencari kontrakan untuk di tinggali. Aku menaiki motor ku sementara ibu dan bapak naik taksi online yang ku pesan.


Di tengah perjalanan, sebuah mobil menyenggol motor yang ku lajukan. Aku terkesiap dan kehilangan keseimbangan hingga motor ku terguling di tengah jalan.


"Aww.." Pekik ku yang sudah terkapar di atas aspal.


Ibu dan Bapak keluar dari dalam taksi bersamaan dengan orang yang menabrak ku.


"Ya Allah nak, ayo bangun bapak bantu." Bapak berusaha mengangkat ku ke pinggir jalan.


"Aduh, mbak maaf ya saya nggak sengaja." Timpal seorang wanita menghampiri ku dan mencoba membantu bapak.


Aku terkejut melihat seorang tersebut yang ternyata adalah kak Diana.


"Nara." Ia juga tak kalah terkejutnya dengan ku lalu membantu bapak memindahkan ku ke pinggir jalan.

__ADS_1


"Nara, Ya Allah maafin kakak, kakak nggak sengaja." Ia panik dan mencoba memeriksa luka di kaki dan tanganku.


"Aku gak papa kok kak, cuman kaget aja." Timpal ku sambil mencoba untuk berdiri.


"Om, tante, maafin aku ya." Ia lalu menyalami ibu dan bapak.


"Gak papa, lain kali hati-hati ya." Timpal bapa sembari tersenyum.


"Nara, om sama tante mau kemana rame-rame gini."


"Sebenarnya, kemarin rumah ibu dan bapa mengalami kebakaran. Sekarang kami mau mencari kontrakan."


"Hah, kebakaran? Kok bisa ? " Kak Diana nampak terkejut.


"Karena kelalaian bapak, bapak yang membuat semuanya jadi begini." Lirih bapak sambil menunduk.


Bapak berkaca-kaca menahan tangis. Sejak semalam ia selalu menyalahkan diri sendiri.


"Sudah pak, ini kehendak Allah. Bapak gak boleh terus-terusan menyalahkan diri sendiri seperti ini." Ibu lagi-lagi menenangkan bapak.


"Jadi sekarang kalian mau cari kontrakan dimana?."


"kami.."


Tak sempat aku bicara, tiba-tiba ponsel kak Diana berdering.


Tak terdengar suara orang diseberang telepon sana. Tapi, sepertinya ia sedang di nanti kan oleh orang tersebut.


"Oh iya, aku ke sana sekarang." Panggilan di matikan.


"Maaf ya Nara, om, tante, aku gak bisa bantu, aku ada janji sama seseorang."


"Iya gak papa kok kak. Kita bisa cari sendiri. Kakak lanjutin aja perjalanan nya."


"Yaudah kalo gitu aku pergi ya. Sekali lagi maaf ya om, tante." Katanya lagi sambil memegang tanganku dan berlalu pergi setelah menciumi tangan bapak dan ibu.


"Kalo kamu nggak kuat kita duduk dulu aja di sini ya." Kata bapak sambil membantu ku duduk di sebuah warung lesehan.


Tak berselang lama kami istirahat. Tiba-tiba ponsel ku berdering. Tertera nama 'Dipika'. Dan aku langsung mengangkatnya.


"Iya Dip kenapa?."


"Ra, kamu kemana aja si aku telponin dari kemarin gak diangkat. Mas Andres juga hubungin kamu gak bisa." Katanya nyerocos.


"Aku lagi ada sedikit masalah. Aku lagi dijalan cari kontrakan."

__ADS_1


"Hah, buat apaan? Sekarang kamu kesini aja dulu, kita survey tepat yang di rekomendasiin sama mas Andres buat toko baru kita."


"Kamu urus sendiri aja dulu, nanti aku menyusul. Aku harus cari tempat buat orang tua ku tinggal dulu." Aku menegaskan ucapanku agar dipika mengerti.


Tiba-tiba suara Andres tampak mengambil alih telepon dari Dipika.


"Ada apa sama paman dan bibi Ra, ada masalah apa? Kenapa gak hubungin aku?" Ia tampak khawatir.


"Ceritanya panjang An, aku harus cari tempat tinggal sementara untuk kami karena mas Adi tidak mengizinkan kami tinggal di rumahnya."


"Lebih baik sekarang kalian kesini dulu, kamu lihat dulu tempat yang akan kalian gunakan untuk usaha kue kamu."


Ia menutup telepon dan mengirimkan lokasi dimana mereka berada.Dan kami bertiga langsung saja pergi ketempat yang di tuju.


Tak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Langsung ku parkirkan motorku dan membawa ibu dan bapak masuk ke dalam untuk mencari Andres dan Dipika.


"Nara." Panggil Dipika dan kami langsung menghampirinya.


Andres dan Dipika menyalami kedua orang tua ku.


"Ra, apa yang terjadi? tadi kamu bilang mau cari kontrakan. Buat apa?" Tanpa basa-basi Andres menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Aku menjelaskan semua kejadian yang menimpa ibu dan bapak kemarin. Dan juga kejadian tadi pagi saat mas Adi dan Luna mengusir kami.


Andres dan Dipika nampak terkejut mendengar cerita ku. Mereka juga mengkhawatirkan keadaan bapak dan ibu.


"Terus, rencananya kamu mau ngontrak gitu?" Tanya Dipika.


"Sebenarnya tanpa sepengetahuan mas Adi, aku udah beli perumahan di dekat sini. Baru aku kasih DP karena masih tahap penyelesaian. Kira-kira dua minggu lagi baru akan selesai."


"Sementara menunggu rumahnya jadi, aku membawa ibu dan bapak ke rumah untuk istirahat dan menghilangkan trauma dari kejadian kemarin. Tapi Luna dan mas Adi malah mengusir kami. Jadi, terpaksa aku harus cari kontrakan sementara untuk kami tinggali." Lanjutku.


"Kebetulan tempat yang akan kita sewa ini memiliki ruangan khusus untuk istirahat dan bersantai. Jadi kalo tempatnya udah resmi kita sewa, kamu tinggal dulu aja di sini bareng ibu dan bapak." Tawar Dipika.


"Tapi, kemana pemilik tempat ini? belum dateng?." Tanyaku sambil celingak celinguk.


"Sebentar lagi dateng kok. Dia ke toilet sebentar. Mending kamu lihat-lihat aja dulu. Kalo gak suka kita bisa cari yang lain." Timpal Andres.


"Aku percayakan semuanya sama Dipika aja deh, kalo menurut dia bagus, aku ikut aja."


"Oh okey."


"Permisi, maaf ya nunggu lama." Ucap seseorang dari arah belakang.


Aku menoleh ke arah suara dan merasa heran dengan orang yang ada di hadapan ku.

__ADS_1


"Loh, Nara?".


__ADS_2