
Bab 31
Tin tin tin...
Suara klakson mobil memnggema di halaman tempat sewaan Inara.
"Siapa itu pak ?." Tanya Inara.
"Nggak tahu nak."
Kemudian Seseorang turun dari mobil, ternyata itu adalah Diana dan Aldo.
"Kak Diana, mas Aldo?."
"Ra, kamu sehat.?" Tanya Aldo seraya bersalaman pada Inara dan bapak nya.
"Sehat mas, udah lama ya gak ketemu." Balas Inara.
"Iya, pekerjaan lagi banyak banget, hampir setiap hari nggak ada waktu."
"Tapi, tumben pagi-pagi banget. Ada apa.?
"Nggak ada apa-apa kok, sengaja mau nengokin kamu sama Devano, dari semalam kepikiran terus." Diana menggenggam tangan Inara.
"Aku sama Devano udah agak baikan kok. Sekarang aja dia udah ajak ibu jalan-jalan cari bubur." balas Inara sambil tertawa.
"Ooh, pantesan sepi banget. Rupanya lagi cari bubur." Diana dan Aldo ikut tertawa.
"Bapak kebelakang dulu ya, ambil minum sama cemilan." Bapak beranjak untuk pergi ke dapur.
__ADS_1
"Nggak usah repot-repot pak, kami juga bawa cemilan banyak kok, sekalian buat Devano juga." Balas Aldo menahan Bapaknya Inara.
"Ooh yasudah. Bapak beres-beres dulu aja ya, kalo ada perlu, panggil bapak saja."
Katanya lagi sambil meninggalkan mereka.
"Udah cukup kok pak." timpal Diana.
"Ra, apa benar yang di katakan Diana. Kamu sama Adi....," Aldo menghentikan ucapannya ketika Inara menunduk.
"Iya mas, semuanya benar. Kami sudah mau berpisah, tapi nunggu anak kami yang ke dua ini lahir." Inara mengelus perutnya sambil tersenyum getir.
"Ya Allah, maafkan Adi ya Ra. Dan maafin mas juga, mas sama sekali nggak tahu kalau selama ini keadaaan rumah tangga kalian seperti ini."
"Nggak papa kok mas, bersyukur Allah sudah tunjukkan kebusukkan mas Adi sekarang. Kalau tidak, mungkin kehidupan aku akan lebih menderita selama masih bersamanya."
"Iya kak, semoga."
Setelah beberapa menit berbincang, matahari sudah mulai naik menunjukkan hari akan segera siang. Para karyawan juga sudah mulai berdatangan untuk kembali membereskan tempat tersebut. Sedangkan Inara dan kedua kakak iparnya tengah asik mengobrol.
Tapi, diitengah perbincangan mereka, Inara merasa janggal dengan kepergian ibunya dengan Devano. Pasalnya, sampai sekarang, sudah hampir jam sembilan siang mereka belum juga pulang.
"Ra, kenapa,? Kok gelisah gitu.?" Tanya Diana yang melihat kegelisahan Inara.
"Ibu, sama Devano kok belum pulang ya. Dari pagi-pagi sekali loh mereka pergi."
"Ibu kamu bawa ponsel,? Coba kamu hubungi dia." Saran Aldo, yang membuat Inara langsung mengambil ponsel di kamarnya.
Drrrt...drrrt..drrrt.
__ADS_1
Suara getaran berasal dari atas meja kasir.
"Ibu nggak bawa ponsel." Kata Inara sambil menunjukkan ponsel ibunya yang terletak dibawah tumpukkan kertas.
Tiba-tiba Bapaknya Inara keluar dari dapur dan perasaannya sama gelisah seperti Inara.
"Nak, coba hubungi ibumu, kok mereka belum pulang ya,? Apa ibumu langsung lanjut antar Devano ke sekolah.?"
"Iya pak, aku juga lagi coba hubungin ibu, tapi ponselnya nggak di bawa. Kalo mereka langsung ke sekolah, nggak mungkin mereka nggak pamit dulu pak." Balas Inara
"Ya Allah, kemana mereka,? Tolong lindungi istri dan cucu ku Ya Allah."
"Pak, Bapak nggak boleh ngomong gitu. Mereka pasti baik-baik aja kok. Kita tunggu sebentar lagi, mereka pasti pulang."
Diana mencoba menenangkan Bapak, meski dalam hatinya ia juga merasa gelisah dengan keadaan Devano.
Hingga tiba-tiba ponsel Inara berbunyi. Penelpon tersebut dari nomor yang tidak di kenal. Inara mengangkat panggilan tersebut dan.....
"Ha-*hal*o nak, Devano kecelakaan."
Suara tangis gemetar Bu Sarah di seberang telepon, Inara langsung menjatuhkan ponselnya dan berdiri mematung dengan tatapan kosong. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya luruh di atas lantai.
"Kenapa nak, apa yang terjadi.?"
"De-devano kecelakaan pak." Tangis Inara pecah.
Diana langsung mengambil ponsel Inara di atas lantai dan menghubungi nomornya lagi untuk meminta alamat rumah sakitnya.
........
__ADS_1