Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 21


POV Inara


Sekitar pukul 4:30 sore, akhirnya aku bersama Devano dan Andres pulang dengan perasaan gembira.


Aku tidak menyangka kalau uang yang aku kumpulkan selama empat tahun menjalankan bisnis bersama Dipika sudah mencapai dua milyar lebih. Itu adalah hasil bersih dari yang sudah aku sisihkan lagi untuk modal dan menyewa tempat baru.


Aku benar-benar tidak sabar ingin segera punya rumah baru dan memisahkan diri dari mas Adi dan gundiknya itu.


Sepanjang perjalanan, aku hanya tersenyum bahagia membayangkan kebebasanku dari rumah itu.


Andres sesekali melirik dan memperhatikanku sambil ikut tersenyum. Tapi aku tidak menghiraukan apa yang sedang dipikirkannya tentangku. Saat ini aku hanya ingin tersenyum bahagia karena Devano tidak perlu lagi melihat adegan suami yang menyimpan dua istri didalam satu rumah. Itu sungguh contoh yang tidak baik untuknya.


"Kamu udah pikirkan, kapan kamu akan pindah dari rumah itu?" Andres membuyarkan lamunan indah ku.


"Eh, emm aku lagi cari perumahan sederhana di website penjualan rumah. Mungkin besok atau lusa aku akan mendatangi beberapa perumahan yang aku tandai."


"Mau aku antar lagi?"


"Memangnya kamu nggak ke kantor lagi? Besok kan hari Senin."


"Ra, aku punya banyak asisten, mereka bisa menghandle semuanya. Aku akan selalu bantu kamu jika kamu memerlukan ku."


"Sebaiknya kamu masuk kantor saja. Kali ini aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak mau kalau terus membuatmu repot, apalagi kamu sampai meninggalkan pekerjaanmu."


Aku menolaknya halus, aku juga tidak mau jika ia harus terus meninggalkan pekerjaannya hanya demi membantuku terus.


"Yasudah, kali ini kamu pergi sendiri. Tapi kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan mengabari ku. Okey"


Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya, ada rasa bangga dalam diriku karena memiliki sahabat yang perhatian seperti Andres, bahkan melebihi suamiku sendiri.


Setelah beberapa lama diperjalanan, akhirnya kami sampai di depan rumah. Andres memarkirkan mobilnya dihalaman rumahku, ia memangku Devano yang masih tertidur pulas dan kami membawanya kedalam rumah. Sedangkan aku menenteng belanjaan dan makanan yang kami beli Di perjalanan.


Ketika hendak masuk, tiba-tiba pintu di buka oleh mas Adi dari dalam. Ia berdiri didepan pintu dan menatap tajam ke arah kami.


"Dari mana saja kalian? keluyuran sampai pulang petang seperti ini." Tanya mas Adi sambil berdecak pinggang.

__ADS_1


Ia melihatku dari bawah sampai atas, ia heran dengan penampilan ku yang berubah.


"Dan ini, baju apa yang kamu pakai? kenapa penampilan kamu jadi berubah seperti ini? Habis apa kalian di luar sana?"


Mas Adi terus saja menghujani kami dengan berbagai pertanyaan. Kami hanya diam menatapnya dengan tatapan yang datar.


"Aku capek mas, biarkan aku istirahat."


"Aku tidak akan membiarkan pria ini masuk seenaknya lagi ke rumahku. Ngerti kamu."


"Tenang saja, aku juga tidak ingin bertemu dengan mu. Aku hanya ingin membawa Devano masuk karena ia tertidur pulas di dalam mobil. Aku tidak mungkin membiarkan Inara memangku Devano sendiri ke dalam rumah." Andres mulai bicara dengan datar pada mas Adi.


Mas Adi langsung merebut Devano dengan kasar dan membawanya ke pelukannya.


"Biar aku yang membawanya. Sekarang kamu boleh pergi dari sini, dan jangan pernah menginjakan kaki kamu lagi di rumah ini.


Andres tersenyum sinis pada mas Adi dan langsung pergi setelah berpamitan pada ku.


"Ra, aku pulang ya, jaga diri kamu baik-baik."


"Iya, kamu hati-hati ya. Terimakasih sudah mau antar."


Mas Adi membawa Devano masuk dan menidurkannya di kamar ku. Ketika aku juga hendak masuk, ia menarik tanganku kasar keluar kamar dan meminta penjelasan padaku.


"Apa yang kamu lakukan diluar bersama pria itu Inara. Kamu bahkan merubah penampilanmu seperti ini." Ia menatapku dengan kesal.


"Kenapa mas, kamu heran dengan penampilanku sekarang hah,? selama ini kamu hanya bisa mengejekku karena selama ini aku jelek dan tidak bisa menjaga penampilan, sedangkan kamu tidak sedikitpun memberiku modal untuk itu. Kamu justru malah memberikannya pada Luna dan bersenang-senang dengannya karena ia lebih cantik dariku."


Aku menyeka ucapan ku, mas Adi hanya diam menatapku dengan bingung, ia gelagapan dengan penuturan ku.


"Harusnya kamu mikir mas. Bukannya malah menuduhku yang tidak-tidak. Andres dengan berbaik hati mendukungku dalam segala kondisi untuk bisa bangkit dari keterpurukan ku selama ini, bukan kaya kamu yang selalu membuatku tersiksa mas."


Aku berteriak dihadapannya dan membuat wajahnya memerah menahan amarah. Ia mengepalkan tangannya dan menatapku dengan sorot mata yang tajam.


"Jangan membuatku marah dengan memujinya dihadapan ku Inara. Kamu masih menjadi istri sah dari ku, dan aku berhak untuk melarang dan mempertanyakan apa yang kamu lakukan di luar sana, bersama pria asing."


"Aku tidak perduli dengan larangan mu mas. Tanggung jawab mu hanya sebatas pada anak-anka mu saat ini, bukan padaku lagi. Jadi kamu tidak berhak mengatur hidupku lagi."

__ADS_1


Aku melangkah hendak meninggalkannya, tapi ia memegang tanganku dengan erat. Ia tersenyum sinis seperti hendak menerkam ku.


"Aw, lepaskan tanganku." Aku memberontak tapi ia tidak juga melepaskan ku.


"Jangan-jangan kamu menjual dirimu padanya Inara. Jawab"


Aku terkejut dengan ucapannya dan berbalik menatapnya tajam. Ia menuduhku menjual diri pada Andres, sedangkan ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan bersama Luna sebelum mereka menikah siri.


Aku mengepalkan tanganku dan menamparnya dengan keras.


Plak...


"Jangan samakan aku dengan gundikmu itu ya. Aku tidak sehina seperti apa yang kalian lakukan di belakangku. Kamu menuduhku menjual diri? Lalu sebutan apa yang pantas untukmu dan gundikmu itu. Binatang yang tidak punya akal, hah?."


Mas Adi melebarkan matanya dan melotot ke arahku. Aku membalas tatapannya tak kalah tajam, meski hati ini terasa perih mendengar tuduhannya, tapi aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya saat ini. Aku harus bisa menahan air mataku agar tidak jatuh.


Aku langsung melangkah meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarku lalu menguncinya dari dalam.


Mas Adi mengikuti ku dan menggedor pintu dengan keras.


"Inara, buka pintunya. Aku belum selesai bicara."


Aku tidak menghiraukan teriakannya, ia tidak berhenti menggedor pintu sampai Devano merasa terganggu dan bangun dari tidurnya. Aku menghampirinya dan berusaha membuatnya tidak takut.


"Ma, papa kenapa teriak-teriak diluar." Tanya Devano dengan suara yang serak.


"Nggak papa kok sayang. Tadi papa lagi ngusir tikus yang masuk ke kamar ini. Kamu sebaiknya tidur lagi ya, sekarang sudah hampir gelap."


Akhirnya Devano kembali tidur, dan aku segera beranjak untuk membersihkan diri karena badanku sudah sangat lengket dan gerah seharian berada di luar.


Aku mandi dan langsung mencoba beberapa skin care yang ku beli dari mall, aku mulai merawat diriku dari hasil kerja kerasku selama ini. Aku juga memakai baju piyama baru yang lebih cerah dari baju-bajuku yang dahulu dibelikan mas Adi beberapa tahun lalu.


Aku merasa lebih segar dan lebih fresh saat ini, baru kali ini aku memakai skin care yang sering di pakai para wanita di luaran sana. Karena sejak gadis aku hanya memakai pencuci wajah dan pelembab biasa karena kulitku sudah bagus dan cantik tanpa skin care kekinian.


Aku membaringkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mata, mencoba melupakan kata-kata yang menyakitkan yang dilontarkan mas Adi padaku.


Aku jadi semakin tidak sabar untuk segera keluar dari penjara ini.

__ADS_1


Setelah lama aku bergelut dengan pikiranku, mataku benar-benar sudah tidak bisa lagi di tahan, dan akhirnya entah selang berapa menit aku langsung tertidur pulas.


.......


__ADS_2