
Bab 12
POV Inara
Aku menyenderkan tubuhku di atas kasur. Ibu selalu saja menyuruhku untuk tetap diam di kamar, sedangkan ia mengurus segala nya sendirian. Memasak, cuci baju, membereskan rumah, menyiapkan keperluan sekolah Devano dan yang lainnya.
Aku jadi tidak enak malah mempekerjakan ibu seperti ini.
"Nak, ini makan dulu ya."
Ibu masuk ke kamarku sambil membawa piring berisi makanan.
"Makasih Bu, harusnya ibu tidak usah repot-repot mengurusi ku. Ibu kan juga baru sembuh."
"Issh, sudahlah kamu tidak usah merasa tidak enak. Kalo bukan ibu siapa lagi yang akan mengurusi mu."
"Bu, aku juga sudah tidak apa-apa kok. Tuh tuh, ibu lihat kan."
Aku berdiri dan berputar putar, tapi tiba-tiba kepala ku pusing lagi "Aduduh, aw." Aku langsung terduduk ditepi ranjang sambil memegangi kepalaku.
"Nah nah kan, kamu tuh seperti anak kecil saja. Sini berbaring lagi."
Ibu membantuku naik ke atas ranjang ku dan menyenderkan ku. Lalu ia dengan telaten menyuapiku.
Aku merasa kembali lagi seperti dulu saat masih kecil, ibu selalu menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Dan aku juga selalu menerapkannya pada Devano.
"Bu,makasih ya untuk semuanya. Kasih sayang ibu, perhatian ibu, dan semua yang ibu lakukan dari sejak aku kecil Sampai aku menikah dan punya anak pun, ibu selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi ku."
Aku memeluk ibu, ia sesekali membelai rambutku lembut, tak ada yang berubah darinya sejak dulu.
"Nak, di mata ibu kamu selalu menjadi anak kecil ibu. Anak cantik yang ceria dan selalu membawa kebahagiaan untuk ibu dan bapak.
Jadi, jangan pernah merasa lagi kalo kamu merepotkan ibu. Sekarang kamu habiskan dulu makananmu ya, ibu mau bereskan dapur dulu bekas masak tadi."
Ibu beranjak pergi meninggalkan kamarku, aku langsung lahap memakan masakan ibu tanpa sisa.
Huhh, rasanya bosan sekali harus terus berbaring seperti ini, tak ada kegiatan apapun yang bisa aku lakukan, jika sedikit saja aku bergerak membantu ibu, ibu pasti marah.
Tak lama setelah beberapa menit hanya melamun memandang jendela, tiba-tiba ponselku berdering, aku mengangkat telpon yang nomornya tidak dikenal. Tidak ada nama yang tertera dilayar hp ku, sepertinya telpon nyasar.
Lalu aku mengangkatnya, dan terdengar suara lelaki di sebrang telpon sana.
"Hallo, Inara."
Aku kaget, dia tahu namaku tapi aku tidak pernah mendengar suaranya.
"Hallo, ini Inara kan.?
"I-iya, ini siapa ya."
"Kamu masih ingat aku, Si kribo."
"Kribo?"
Aku mengingat ingat siapa yang dia maksud, kribo?. Aku mengangkat wajahku menatap keatas. Dan ternyata, ya aku mengingatnya.
"Andres."
Tanpa berfikir lagi aku langsung menyebut namanya. Ya, siapa lagi kalo bukan dia.
"Hahaha, kamu ternyata masih ingat. Syukurlah aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi."
"Yaiyalah ingat, siapa lagi sahabat aku yang rambutnya kribo, kan cuma kamu doang."
__ADS_1
Lalu kami pun saling bertukar kabar, menanyakan keadaan masing masing dan basa basi lainnya. Tapi, disela obrolan kami tiba-tiba dia mengatakan kalau dia ingin berkunjung karumah ku, dia bahkan tidak tahu kalau aku sudah tidak tinggal di rumahku melainkan di rumah suamiku.
"Ra, aku main ke rumah mu ya."
"Hah, ngapain."
"Ya ngobrol-ngobrol saja, kan udah lama kita gak ketemu. Lagi pula, aku kan sudah janji kalau aku pulang dari London aku akan mengabari mu."
Aku diam tanpa menjawabnya. Bagaimana aku menjelaskan semuanya kalau aku sudah menikah dan punya anak. Dan sekarang orangtuaku di rumah karena keadaan rumah tangga ku sedang tidak baik-baik saja. Pasti rumit sekali menjelaskan padanya.
"Ra, kamu masih di sana kan.? Nanti sore aku ke rumah mu ya."
"Emm sebaiknya jangan deh An. Saat ini aku sudah menikah dan aku tidak tinggal di rumah orang tuaku."
Aku menjeda omonganku, dia hanya diam tanpa suara, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
"An, maaf."
"Tapi paman sama bibi ada dirumahnya kan, aku ke sana saja. Aku juga rindu dengan mereka." Tiba-tiba ia beralih menanyakan ibu dan bapak.
"Bapak sama ibuku juga di sini, mereka sedang mengunjungi ku."
"Yasudah kalau begitu, kirim alamat rumah mu, aku ke sana saja sekalian kamu kenalkan aku dengan suami mu ya."
Aku terkejut, jika dia kesini apa kata orang-orang nanti. Pasti mereka berpikir yang tidak-tidak tentangku. Apalagi mas Adi sudah jarang pulang ke rumah
"Hah, emm jangan An. Aku tidak mau orang-orang berfikir yang tidak-tidak tentang ku."
"Inara, kamu jangan seperti itu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mu. Biarkan aku mengunjungi mu ya. Tidak akan ada masalah kok, kan kamu tidak sendiri, ada orang tuamu juga di sana."
YaAllah, kenapa dia begitu keras kepala. Sikapnya sama sekali tidak berubah.
"Tapi, keadaan kita sudah berubah An, kita sudah sama-sama dewasa dan tidak sepantasnya kamu masih menghubungiku seperti ini."
Tututut....
Andres memutus telpon nya tanpa menunggu jawaban dari ku.
Dia dari dulu seperti itu. Kalau mau main ke rumah selalu saja memaksa. Entah apa yang dia cari di sana, yang pasti kalau sudah ke rumahku, dia selalu tidak ingin pulang dengan alasan dia nyaman dengan bapak dan ibuku. Dia selalu menganggapnya sebagai orangtuanya sendiri.
Kami memang bersahabat sejak kecil, sudah menjadi kebiasaan jika pulang dari sekolah, Andres bukannya pulang kerumahnya dia malah mengikuti ku pulang ke rumahku. Makan dan tidur bahkan sampai magrib dia baru pulang kerumahnya.
Kebiasaannya tidak hilang sampai kami masuk SMA. Kami sudah seperti kakak beradik, dari SD sampai SMA kami selalu berada di sekolah dan dikelas yang sama.
Tak ayal jika sekarang dia masih sangat merindukanku, meskipun aku juga begitu. Tapi aku merasa bersalah karena tidak mengabarinya tentang pernikahanku.
Sejak ia melanjutkan kuliah di London, aku tak pernah mendengar kabar tentangnya, ia tak pernah meneleponku. Aku berpikir kalau dia sudah melupakanku karena jarak antara kita terlalu jauh. Tapi, dari mana dia tahu nomor ponselku.
"Nak.."
Disela sela lamunanku, tiba-tiba ibu datang, sepertinya ibu mendengarkan obrolanku dengan Andres di telpon.
"Kok ibu dengar kamu tadi bicara sendiri."
"Tidak Bu aku sedang bicara di telpon."
"Ooh dengan siapa, suami mu? dia menghubungi mu lagi?"
"Bukan Bu, ibu ingat Andres? barusan dia yang menelpon ku, dia baru pulang dari London. Dan sekarang dia mau berkunjung ke sini. Apa tidak akan ada masalah jika dia datang ke sini Bu."
Ibu mencoba mengingat lagi, sepertinya ibu juga sudah lupa, karena memang sudah lama sekali dia pindah ku London.
"Andres sahabatmu itu, yang kamu panggil si kribo."
__ADS_1
"Naah iya Bu, yang itu."
"Sudah lama sekali ibu tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang?"
Tak di sangka ternyata ibu juga tidak lupa pada nya. Tak heran juga si karena ibu juga sangat dekat dengannya.
"Dia baik Bu, tapi dia mau datang kesini nanti sore, bagaimana menurut ibu. Aku sudah melarangnya kesini, aku takut orang-orang menganggap ku yang tidak-tidak. Tapi di bersikeras, katanya rindu sama ibu sama bapak juga."
"Mmmm, kamu tanya bapak saja nanti kalau sudah pulang ya."
"Yaudah deh Bu."
Aku bersiap, karena hari sudah mulai sore. Devano juga sudah pulang dari sekolah, tapi kenapa bapak belum pulang juga ya.
Aku sudah terlanjur memberikan alamat ku pada Andres. Bagaimana jika dia lebih dulu datang dan bapak marah karena aku lancang memasukan lelaki ke dalam rumah.
Tiba-tiba suara mobil menderu di halaman rumah. Sepertinya itu dia datang, aku semakin gugup. Kenapa rasanya seperti seorang gadis yang hendak akan di lamar pacar nya.
Aku membuka kan pintu, dengan riasan seadanya. Aku tidak mau terlalu mencolok karena aku tidak ingin ada fitnah di antara kami.
Lalu tiba-tiba seorang pria datang dengan pakaian yang rapih memakai kemeja dan jas berwarna hitam, celana panjang dan sepatu fentople layaknya seorang direktur perusahaan. Rambutnya rapih dengan cepak sebelah kanan.
Aku melihatnya dari atas sampai bawah, apa dia Andres, YaAllah tampan sekali. Pandangan ku tak lepas dari wajahnya yang manis.
"Hai.."
Dia tersenyum mengibaskan dan tangannya dihadapan ku. Aku tersadar dan langsung memalingkan wajahku. Rasanya malu sekali, meskipun kami bersahabat, tapi perpisahan yang terlalu lama membuatku canggung bertemu kembali seperti ini.
"Silahkan masuk."
Aku berjalan masuk diikuti olehnya, lalu ibu keluar dari dapur dan langsung menyapa nya.
"Bibi... Apa kabar."
"Nak Andres, mari silahkan duduk."
Ia menyalami ibu dan langsung duduk di sofa, sedangkan aku mengambil air di dapur dan beberapa cemilan untuk di suguhkan.
"Kamu kapan datang nak, sudah lama sekali ya sejak kamu pindah ke luar negri."
"Iya Bi, aku baru saja tiga hari sampai ke sini. Aku mungkin akan menetap lagi di sini, karena aku harus meneruskan perusahaan papa. Aku teringat dengan paman dan bibi juga Inara. Lalu aku menghubunginya tadi, ternyata Inara sudah menikah. Kenapa tidak memberi tahuku. Kan aku bisa memaksakan untuk datang."
"Iya nak, Lagipula setelah kamu pergi kan kalian sudah tidak bisa saling menghubungi. Mungkin karena jaraknya yang terlalu jauh."
Ibu dan Andres begitu asyik mengobrol. Aku hanya diam tertunduk, aku merasa malu dengan penampilanku saat ini.
"Oh iya, katanya Inara sudah punya anak, dimana dia sekarang."
"Ada, dia sedang bermain di luar. Sebentar ibu panggilkan ya." Ibu beranjak meninggalkan kami berdua untuk mencari Devano yang sejak tadi pergi bermain diluar dengan teman-temannya.
Lagi-lagi aku merasa gugup. Aku merasa kalau dia memperhatikan ku. Dia terus saja curi-curi pandang ke arahku, apa dia jijik melihatku.
"Ra, kok kamu diam saja. Kamu gak kangen sama aku."
"Hah, emmm aku.."
Tiba-tiba terdengar suara motor terparkir diluar. Jangan-jangan itu bapak. Ia pasti bingung karena ada mobil asing yang terparkir dihalaman rumah
"Assalamu'alaikum."
Bapak melangkah masuk ke dalam, dan ia terkejut melihat seorang pria sedang duduk di sofa bersamaku. Lalu ia mendekat ke arah kami dengan tatapan yang dingin dan.......
....
__ADS_1