
Bab 6
Aku tak henti hentinya menangis sampai aku terlupa bahwa jam sudah menunjukan pukul 11. Aku harus menjemput anakku disekolah, biasanya ia pulang jam 10 lewat.
Aku bergegas dan memoles wajahku dengan sedikit krim wajah agar mata sembab ku tak terlihat. Lalu setelah itu aku keluar menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum, tak lupa ku kunci rumah terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit sebuah angkot datang dan terlihat Devano keluar dari dalamnya bersama teman temannya.
"Ma, mama mau kemana." Tanya Devano dengan wajah polos.
"Mama tadi mau jemput kamu nak, ternyata kamu sudah sampai."
"Iya ma. Sebaiknya mulai sekarang mama tidak usah lagi mengantar dan menjemput ku ke sekolah, karena teman temanku banyak ko,aku selalu berangkat bareng mereka semua jadi mama tidak perlu khawatir."
"Yasudah kalo gitu, kita pulang ya cuaca sangat panas hari ini." Aku berjalan menuntun Devano. Kebetulan rumahku lumayan jauh dari jalan raya untuk angkutan umum, jadi setelah turun dari angkot aku dan Devano harus berjalan kaki untuk sampai rumah, terkadang kita juga naik ojek.
Rasa sedihku sedikit berkurang ketika bertemu dengan Devano, dia selalu menjadi penyemangat ku. Bahkan sampai saat perekonomian kami menipis karena mas Adi sering menggunakan uang nya seenaknya tanpa memikirkan kebutuhan rumah, aku masih bertahan karena aku tak mau membuat Devano menjadi anak tanpa ayah.
Tapi, sekarang kesalahan mas Adi sudah tidak bisa dimaafkan. Dan aku sudah yakin ingin melepaskan ikatan ku dengannya. Meski hanya dengan membayangkannya saja hati ini terasa nyeri, tapi aku harus bisa kuat dan ikhlas menerima semua ini.
...----------------...
Aku mencela diriku sendiri, seburuk itukah keadaan ku saat ini, sehingga mas Adi tega menghina dan menduakan ku.
Malam ini bulan dan bintang terlihat begitu memancarkan cahaya.
Aku melihat diriku di depan cermin besar di atas meja rias ku. Wajahku terlihat kusam karena aku jarang memakai dan membeli peralatan makeup, rambut panjang ku terlihat masih berantakan meskipun aku sudah sering merapikan nya. Tubuhku yang semula langsing tinggi semampai, kini terlihat sedikit berisi karena banyaknya lemak ditubuh ku. Bahkan perutku dipenuhi banyak garis hitam bekas melahirkan meskipun Devano sudah menginjak 8 tahun, tapi bekasnya masih tetap ada.
Jika karena itu kamu menduakan ku, aku akan membuat kamu menyesal telah mencampakkan ku mas.
Setelah lama aku memandangi diriku didepan cermin tiba-tiba kepalaku terasa pusing, perutku sakit dan rasanya aku ingin muntah. Aku lalu berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.
Devano yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu, seketika menghampiriku.
"Ma, mama kenapa, apa mama sakit, pasti karena tadi mama kepanasan ya saat mau menjemput ku." Devano tampak khawatir dengan keadaanku.
__ADS_1
"Enggak kok sayang, mama cuma kecapean aja."
Tiba-tiba aku kembali mual dan terus saja memuntahkan isi perutku. Rasanya perutku ini terasa di remas remas dari dalam. Akhirnya ruangan terasa gelap, mataku perlahan mulai terpejam, kulihat Devano menangis dan memanggil memanggilku. Tapi aku tak bisa menahannya, sampai akhirnya aku pun jatuh pingsan.
.
.
Aku perlahan membuka mataku, ternyata aku sudah berada di dalam ruangan dengan cat berwarna putih. Cahaya dari luar membuatku mataku sedikit menyipit karena silau.
Aku melihat kesamping, terlihat Devano sedang tertidur sambil memeluk tangan ku.
"Inara, alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga."
Terlihat kak Diana sudah berdiri di sampingku dan langsung memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaanku kembali.
Devano seketika bangun dan langsung memelukku sambil menangis."Ma, mama jangan seperti ini lagi, aku gak mau kehilangan mama."
"Sayang, biar dokter periksa lagi keadaan mama kamu ya, biar mama cepat sembuh."
Aku tak berdaya, rasanya saat ini tubuhku benar-benar lemas sekali.
"Dok bagaimana keadaan adik saya Inara."
Kak Diana menanyakan keadaanku pada dokter yang sedang memeriksaku dari mulai mata, lalu menempelkan alat pendengaran ke dadaku.
Lalu tiba tiba dokter tersebut memeriksa keadaan perutku seperti pemeriksaan terhadap ibu hamil.
"Selamat Bu, Ibu Inara saat ini sedang mengandung."
Bagai disambar petir disiang hari, aku terkejut dengan hasil pemeriksaan dokter. Aku terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Aku bingung antara senang karena sebentar lagi Devano akan memiliki adik, tapi di sisi lain aku juga sedih karena bayi dalam kandungan ku akan lahir tanpa ayah karena mas Adi sudah merencanakan perceraian nya denganku.
"Apa, adik saya hamil dok. Alhamdulillah, Devano sayang akhirnya sebentar lagi kamu akan mempunyai adik."
__ADS_1
"Hah adik, yeeey jadi mama akan punya bayi lagi dan aku punya adik. Horee" Devano melompat lompat kecil saking bahagianya.
"Oh ya , Ibu Inara harus jaga kesehatan ya jangan terlalu kecapean, jangan terlalu stres dan jaga pola makan. Sekarang Bu Inara sudah boleh pulang. Saya permisi dulu."
Akhirnya dokter pun pergi meninggalkan kami bertiga.
Aku terdiam memikirkan keadaan ku. Aku bingung apa yang harus kulakukan sekarang. Jika aku hamil, maka proses perceraian ku dengan mas Adi akan batal, dan setelah itu aku harus bertahan dengan keadaan rumah tanggaku yang sudah tidak berarti lagi.
"Ra, kamu kenapa, apa masih lemas? kakak panggilkan lagi dokter ya biar kamu diinapkan di sini." Kak Diana membuyar kan lamunan ku.
"Emmm enggak kok kak gak usah, aku sudah baikan kok. Lagian aku juga ingin buru-buru pulang ke rumah, rasanya sumpek sekali berada di rumah sakit ini."
Akhirnya setelah menyelesaikan administrasi dan menebus obat, kami bertiga pun pulang dengan mengendarai mobil yang di bawa oleh kak Diana.
Di sepanjang perjalanan, kak Diana dan Devano tampak begitu antusias dan bersemangat ingin menyambut kehadiran calon bayi dalam kandungan ku.
Mereka menyiapkan nama yang akan diberikan pada bayinya, dan mereka akan mendekorasi kamar yang akan ditempatinya kelak.
Sementara itu, aku hanya menatap kosong ke arah jendela mobil yang sedikit terbuka karena aku tidak tahan dengan AC mobil dan bau tidak sedap yang berasal dari pewangi ruangan yang ada didalam mobil.
Kak Diana tampak memperhatikan ku. Ia bingung, bukannya senang aku malah terlihat murung bahkan tidak berkata apapun.
"Ra, kamu ini melamuun saja kerjanya, kamu yang semangat dong. Lihat tuh Devano dari tadi kegirangan dan tidak sabar menyambut kehadiran Dede bayi."
"Iya ma, mama harus yang semangat dong, kan sekarang di rumah kita akan ramai dan semakin menyenangkan. Ada mama, papa, aku dan juga Dede bayi yang sebentar lagi akan lahir."
Devano menjadi orang yang paling bahagia dengan kehamilan ku ini, jadi aku tidak boleh mengecewakannya, aku harus terlihat bahagia dan harus mengesampingkan egoku.
"Iya sayang, kita akan sambut Dede bayinya dengan meriah ya di rumah kita. Kamu juga udah siapin nama kan buat calon adik mu." aku mencoba tersenyum manis padanya.
"Iya dong ma, aku udah siapin namanya. Tapi aku gak mau kasih tahu sekarang, nanti gak jadi surprise dong." Ia nyengir sambil menunjukkan giginya yang ompong.
"Nah gitu dong. Yang semangat."
Lalu mobil pun terus melaju menembus macetnya jalanan.
__ADS_1