
Bab 21
"Nara."
Panggil Dipika, rekan bisnis Inara yang berambut pendek ikal yang duduk di kursi pojok sebelah kanan.
Inara yang baru saja membuka pintu kafe langsung menghampirinya dan duduk bersama dengannya.
"Hai." Balas Inara sambil cipika cipiki.
"Yaampun kamu cantik banget hari ini Ra."
"Kamu bisa aja, kamu juga makin cantik aja." Balas Inara sambil duduk.
"Kamu kesini sama siapa? sendiri?" Tanya Dipika sambil menatap ke arah pintu masuk.
"Enggak, aku ditemenin sama anak dan sahabatku. Mereka masih di luar sebentar lagi kesini kok."
"Oooh yaudah, kita pesan dulu aja ya. Kamu mau apa?"
"Terserah kamu aja deh." balas Inara.
Dipika memanggil pelayan dan langsung memesan makanan. Sambil menunggu, mereka mulai membicarakan tujuan mereka bertemu.
Tak lama Andres datang sambil menuntun Devano, ia menyapa rekan Inara dengan sopan dan hangat sambil berkenalan dengannya.
"Ini yang kamu maksud sahabat kamu Ra." Dipika menatap Andres.
"Iya, kenapa?"
"Ganteng banget." Bisiknya pada Inara.
"Ishh, dasar mata kamu itu jelalatan, udah punya suami juga."
Andres hanya tersenyum melihat tingkah teman Inara yang terpesona padanya. Memang pada kenyataannya ketampanan Andres yang paripurna akan membuat banyak wanita terpesona, tanpa terkecuali.
Kemudian pelayan datang membawa pesanan yang dipesankan Dipika untuk mereka semua, ia juga memesan makanan untuk Devano dan Andres.
"Terimakasih." Ucap Dipika pada pelayan.
__ADS_1
"Oh ya, jadi gimana perkembangan usaha kalian, lancar?" Tanya Andres membuka obrolan.
"Alhamdulillah lancar kok. Desain kue yang selalu dibuat oleh Inara selalu laku terjual dengan omset pemesanan yang saangat besar." Tutur Dipika sambil tersenyum bangga kearah Inara.
"Oh ya ?, jadi kamu Ra, desainer semua kue yang ada pada gambar yang sering kamu tunjukan padaku?"
Andres terkejut sedangkan Inara mengangguk malu, Inara tidak memberi tahu Andres secara detail bisnis yang ia jalankan, ia hanya memberitahu separuh tentang pembuatan kue dan modal yang ia keluarkan.
"Inara ini sejak bekerja di toko bersamaku dulu, ia selalu menjadi karyawan teladan loh. Dia selalu menghasilkan karya -karya untuk mendesain kue yang akan di pasarkan. Dan bagusnya lagi, karya yang ia buat selalu membludak dan habis terjual." Timpal Dipika kembali.
"Issh, kamu berlebihan deh, itukan cuma kue biasa yang aku desain." balas Inara merendah.
"Kamu itu harusnya bangga loh Ra sama diri kamu sendiri. Bahkan sampai saat ini karyamu selalu diminati banyak pelanggan. Dan berita bagusnya lagi, penghasilan yang kita dapatkan bulan ini, jauh lebih besar dari pada bulan kemarin-kemarin, dan itu berkat desain kue terbaru kamu bulan ini." Kata Dipika dengan antusias memberitahu kabar gembira mengenai perkembangan bisnisnya.
Inara terkejut dan merasa sangat senang. Ia tidak menyangka kalau bulan ini penghasilannya akan makin bertambah.
"Oh ya? Jadi omset pemesanan kue yang kemarin laku juga?" Tanya Inara dengan gembira.
"Yups, dan aku selalu bilang kalau karya kamu gak pernah gagal di pasaran."
"Alhamdulillah YaAllah." ucap Inara sambil mengusapkan tangan ke wajahnya.
"Kalian butuh bantuan? Aku akan coba cari kan tempat yang luas dan nyaman untuk toko kalian." Andres membuka suara untuk menawarkan bantuan.
Dipika langsung menoleh kearah Andres dengan penuh kegirangan.
"Beneran? Kalau tidak merepotkan si boleh saja, kami akan dengan senang hati menerima bantuan mas Andres." jawab Dipika dengan semangat.
"Nggak usah lah An, biar saja kami melakukannya sendiri, kami tidak mau merepotkan orang lain." Timpal Inara
"Aku nggak meresa di repot kan kok, justru aku senang bisa bantu kamu lebih banyak lagi." Jawab Andres sambil tersenyum manis pada Inara.
"Tapi.." Lanjut Inara.
"Sudahlah Ra, mas Andres cuma bantu cari tempatnya saja kok, bukannya ngasih cuma-cuma."
"Kalau mau yang gratis juga ada. Aku punya gedung yang tak terpakai tapi masih terurus dengan baik. Tapi tempatnya jauh dari daerah sini, sekitar empat jam perjalanan." Jawab Andres
Inara dan Dipika saling pandang, mereka merasa tidak enak dengan penuturan Andres yang dengan serius menanggapi ucapan Dipika.
__ADS_1
"E-eh, nggak nggak usah An, lagian kita perlu tempat yang dekat-dekat sini saja biar tidak repot mengontrol." Jawab Inara dengan sedikit malu.
"I-iya mas Andres, lagian aku cuma bercanda kok. Kami sudah benar-benar berterimakasih banyak sama mas Andres karena bersedia membantu." Timpal Dipika.
"Yasudah, kalau gitu aku akan cari beberapa tempat dan kalian yang akan mensurvey sesuai yang kalian inginkan."
"Iya, terimakasih ya mas Andres."
"Iya sama-sama."
Mereka pun menyantap makanan yang telah dipesan, Andres menyuapi Devano dengan telaten dan penuh perhatian, sedangkan Inara menuangkan air kedalam gelas Andres, adegan ini persis seperti keluarga kecil Yang bahagia.
Dipika memperhatikan mereka bertiga sambil senyum-senyum dan sesekali menyuapkan spagety ke dalam mulutnya. Ia sesekali memperhatikan Andres dengan sedikit rasa heran.
"Kayanya wajahnya mas Andres ini tidak asing deh di mata saya. Saya sepertinya pernah bertemu mas Andres, tapi dimana ya."
Inara merasa heran, kapan Meraka pernah bertemu. Bahkan Andres baru saja datang dari London dan baru lulus kuliah.
"Ya jelas lah Tante, om Andres ini wajahnya mirip sama artis Korea kesukaannya mama. Jadi, Tante juga pasti sering seperti melihat om Andres di tivi."
Jawab Devano dengan polos sambil mengunyah makanannya. Dipika hanya tertawa mendengar penuturan polos dari Devano.
"Oh ya? Jadi om Andres ini mirip sama artis Korea ya? kamu memang benar Devano, mungkin Tante sekilas melihatnya di tivi." Dipika membenarkan ucapan Devano sambil tertawa kecil.
"Issh, kalian ini, sama saja." Kata Inara.
"Eh, oh iya Ra. Uangnya udah aku transfer ya. Kamu bisa cek sendiri nominalnya dari empat tahun lalu. Kamu bisa hitung kembali, jika ada yang kurang kamu bisa hubungi aku lagi ya."
"Oh, iya makasih ya dip. Kamu memang rekan kerja sekaligus temanku yang paling bisa aku andalkan." Balas Inara sambil memegang tangan Dipika.
"Iya Ra, kalau gitu aku pergi duluan ya. Suamiku udah nunggu di depan, ada beberapa urusan lagi yang harus di selesaikan."
Ucap Dipika sambil beranjak dan pamit pada mereka bertiga. Tak lupa ia juga membayar tagihan makanan mereka.
"Yasudah, kamu hati-hati ya. Sekali lagi makasih banyak ya dip."
"Iya, aku pergi dulu ya daaah." Ucap Dipika sambil pergi keluar.
Tinggal mereka bertiga yang sedang menyantap makanan dengan lahap. Setelah selesai makan. mereka juga langsung beranjak meninggalkan kafe dan masuk kedalam mobil.
__ADS_1
.....