Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
18. Episode Baru


__ADS_3

Jika move on berarti bahwa aku harus pindah ke luar kota, aku akan melakukannya dengan senang hati.


****


Good morning, Jekardah!


Ah, maafkan sikapku yang berlebihan.


Namun, aku tidak dapat membendung kegirangan ini lebih lama lagi.


Pagi ini aku terbangun di sebuah kamar baru dengan kepenatan yang masih menggantung di pelupuk mata. Bagaimana tidak, aku sengaja mengambil penerbangan paling akhir menuju Jakarta setelah sehari sebelumnya menghabiskan waktu bersama teman-teman teletubbies-ku di Padang sebagai bentuk acara perpisahan.


Seminggu setelah wisuda, aku kembali ke rumah dan Papa kemudian menceritakan soal perbincangan yang beliau lakukan dengan Om Seno, sahabatnya yang tinggal di sini. Om Seno ingin aku membantu Tante Meli, istrinya, di yayasan perusahaan mereka. Beliau menjelaskan bahwa ini adalah kesempatan yang bagus, kemungkinan untuk mengembangkan potensiku tersedia dengan lebih besar, dan hal-hal persuasif lain yang diperlukan untuk membujukku menerima tawaran tersebut.


Little did he know tidak butuh sebanyak itu untuk meyakinkanku untuk pergi jauh dari kota itu.


Aku tahu apa yang dikatakan oleh Papa dan Om Seno adalah benar, ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus. Kalau begitu, kenapa tidak kucoba saja? Iya, kan? Yang paling penting, ada seribu tiga ratus kilometer antara kota ini dan Jakarta. Kesempatan untuk menghilangkan bayangan Harris juga sudah pasti ada. Kemungkinan untuk move on akan semakin besar. Lagi pula, semua kenangan tentang dia tidak akan terus mengejarku hingga sejauh ini, bukan?


Aku harus ke luar dari sana.


Oleh karena itu, aku menerima tawaran itu tanpa berpikir panjang.


Dan, di sinilah aku sekarang.

__ADS_1


Mbak Inah, perempuan muda yang ditugaskan oleh Om Seno untuk menjaga kebersihan rumahnya yang terletak di daerah Cempaka Putih Jakarta Pusat, ternyata sudah menyiapkan sarapan untukku. Aku menyapanya dengan sedikit rasa bersalah. Kemarin dia sudah begadang semalaman demi menunggu kedatanganku.


Setelah percakapan kami, Papa langsung menghubungi Om Seno dan mengatur semua keperluanku di sini, termasuk rumah dan transportasi. Om Seno menawarkan aku untuk menempati salah satu rumahnya lengkap dengan mobil yang diurus oleh Mbak Inah. Dia adalah anak dari asisten rumah tangga kepercayaan Om Seno. Karena sudah terlalu tua, Bi Darsih kembali ke kampungnya untuk beristirahat dan mengirim Inah sebagai penggantinya. Kantor yayasan juga tak jauh dari sini, masih satu komplek. Hanya butuh waktu kira-kira lima belas menit dengan berjalan kaki.


It's a good start.


Kuhabiskan roti panggang dengan selai cokelat kacang yang sudah disiapkan. “Mbak, Mbak Inah juga tinggal di sini kan?” Aku membuka percakapan.


Wanita yang hanya beberapa tahun lebih tua dariku itu menghentikan kegiatan mencuci piringnya dan kemudian menjawab. “Sebelumnya, sih, enggak, Non. Saya tinggal di rumah kontrakan belakang komplek sini. Setiap hari saya balik untuk membersihkan rumah. Tapi, Tuan Seno bilang mulai sekarang saya akan temanin Non di rumah. Kamar saya yang paling belakang itu, Non.”


“Fiuh. Aku sempat cemas, Mbak. Serius. Soalnya pasti gak enak banget sendirian di tempat baru kayak gini. Kalau ada Mbak Inah di sini, aku kan jadi ada temannya," akuku setelah mengembuskan napas lega.


Mbak Inah tersenyum. Kami melanjutkan percakapan ringan dengan membahas hal-hal biasa seperti umur dan asal masing-masing. Daei percakapan itu kuketahui bahwa Mbak Inah berusia dua tahun lebih tua dariku. Wow. Sungguh sangat mujur. Pasti ada beberapa hal yang bisa kami bahas bersama.


“Hati-hati, ya, Non. Good luck buat hari pertama kerjanya!”


****


Itulah yang terjadi dalam urusan mencintai. Kau tidak hanya dituntut untuk bisa menerima keberadaan baik dan buruk seseorang secara utuh, akan tetapi kau juga harus bisa melepaskan keseluruhan dia jika orang itu tidak lagi ingin bersama. Cinta tidak dapat dipaksa. Pun tidak ideal rasanya memperlakukan cinta sebagai sebuah perjanjian. Kau hanya mempunyai dua pilihan; tetap di sini atau pergi. Keduanya sama-sama berat. Menerima keberadaan orang yang salah atau mengikhlaskan kepergian seseorang yang terasa begitu benar.


****


7.05 AM.

__ADS_1


Aku berdiri di depan sebuah bangunan dua lantai. Di depannya terdapat sebuah plang; YAYASAN PEDULI ANAK DAN PENDIDIKAN. RUMAH KITA. BERDIRI DI BAWAH NAUNGAN SUSENO ENTERPRISE COMPANY.


It feels sureal but so real at the same time.


Bunyi klakson mobil mengejutkanku, walaupun suara itu sebenarnya tidak terlalu keras. Hanya pikiranku saja yang tengah mengembara untuk beberapa saat. Setelah aku berbalik untuk menghadap ke arah benda ofensif itu, terlihat Om Seno tersenyum dari balik kaca kemudi. “Kamu pagi-pagi kok udah bengong, Ra?” Om Seno kemudian turun setelah memarkir mobilnya di halaman kantor.


Aku menghampiri beliau dan menjabat tangan pria paruh baya yang audah kuanggap sebagai ayahku sendiri itu. Sudah lumayan lama semenjak kami mengunjungi beliau dan keluarga terakhir kali. Dan, ah. Aku benar-benar rindu panggilan itu. Hanya Om Seno dan Tante Meli-lah yang auka memanggilku dengan sebutan "Ra", bukan "Kay" seperti yang orang rumah lakukan.


Om Seno menepuk-nepuk bahuku lembut. “Kamu pasti semangat banget mau mulai kerjanya, ya? Jam segini udah di kantor. Paling di dalam baru ada Pak Parmin, OB kantor kita." Pria yang berperawakan kurang lebih sama seperti Papa, tinggi dan berbadan agak berisi, itu terkekeh. "Yuk, masuk. Kamu bisa lihat-lihat di sekeliling dulu sebelum Om kenalin sama semua karyawan.”


Aku mengangguk. "Oke, Om." Kami di kalakian melangkah ke dalam.


Setelah mendengarkan cerita Om Seno, aku jadi mengetahui bahwa sebenarnya bangunan ini dulu merupakan rumah Om Seno juga. Namun, karena anak-anaknya sudah besar, Om Seno dan Tante Meli memilih untuk tinggal di apartemen yang dianggap lebih praktis. Lalu, rumah ini disulap menjadi kantor yayasan.


Ada lima kamar yang semuanya diubah menjadi ruang kerja section heads, sedangkan kamar utama menjadi kantor ketua yayasan, Tante Meli sendiri. Beberapa ruangan tetap dipertahankan fungsinya seperti dapur, ruang televisi, dan ruang baca, sementara di bagian-bagian lain hampir semua terdapat kursi dan meja kerja.


Suara feminin seseorang memanggil namaku dan seketika itu juga aku berbalik. Kudapati Tante Meli yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Beliau dan Om Seno memang berangkat dengan mobil terpisah karena Om Seno harus berangkat ke kantor setelah ini. Beliau singgah ke kantor yayasan hanya untuk menyambut kedatanganku. Wanita yang terlihat sangat muda untuk usianya itu menghampiriku dengan lengan terbuka lebar. Aku membalas pelukannya. “Tante senang sekali kamu akhirnya ada di sini.” Tante Meli mengecup pipi kiri dan kananku.


“Aku juga senang akhirnya bisa ada di sini, Tante. By the way, terima kasih banyak atas tawaran Om dan Tante. Aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkan kesempatan yang sangat bagus ini.”


“Kamu kan udah Tante anggap anak sendiri. Jadi gak usahlah sok-sokan pakai acara terima kasih segala." Kedua pasangan paruh baya itu bertukar pandangan dan tertawa. " Ya sudah. Kita lanjutin cerita-ceritanya nanti, ya. Yang lain sudah nunggu kamu di ruangan Tante. Kamu akan kenalan sama teman-teman baru kamu di sini. Yuk.” Kami pun melangkah menuju lantai dua.


Aku melangkah menuju episode baru di dalam hidupku.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2