
Sesuai dengan perjanjian yang aku ajukan di kemudian hari, Tante Anne tidak akan meng-upload fotoku sampai hari pernikahan Lulu dengan alasan kejutan. Kalau Lulu sampai melihatnya terlebih dahulu, bisa-bisa aku langsung di-blacklist dari daftar tamu.
Jum’at malam aku dan Wide terbang dari Jakarta menuju Padang setelah diantar oleh Alex yang kembali mendaratkan kecupannya di keningku. Hal yang membuat Wide mesem-mesem dan menggodaku sepanjang penerbangan. Di bandara Minangkabau, Bang Rian sudah standby untuk mengantarkan kami langsung ke Batusangka. Kami sampai di rumah Lulu hampir lewat tengah malam.
Keesokan harinya, kami harus bangun pukul empat pagi untuk bersiap. Para pengiring pengantin didandani di ruang terpisah dengan pengantin. Teman-teman lain terkesiap melihat aku dalam balutan gaunku. “Kay, kamu benar-benar cari mati.” Mimi berkata sambil
tersenyum. Aku tahu dia tak serius dengan omongannya. Paling tidak soal kematianku hari ini. Yang lain hanya bisa tertawa. Kami menyempatkan foto bersama sebelum ke luar dari kamar.
And then the party begins.
Awalnya Lulu sempat melotot saat melewati kami di depan panggung tempat pelaksanaan akad nikahnya. Namun, seperti Mimi, dia tetap tersenyum padaku. Mungkin kebahagiaan yang membuncah saat itu berhasil menghalau kekesalannya. Ada seseorang lainnya yang juga memelototiku semenjak kami ke luar dari rumah; Bang Rian. Dia tak berhenti membidikkan kameranya padaku.
Bang Rian : dek, kok abang jadi terharu ya? Liat kamu pake gaun itu rasanya kamu yang lagi nikahan sekarang
Isi pesan Bang Rian yang baru saja dikirimkannya. Aku hanya menggeleng tak habis pikir dengan abangku itu. Lebay memang cocok jadi nama tengahnya.
Bang Rian: Abang kirim fotonya ke mama sama papa juga
Bang Rian : mereka bilang kamu nanti pulang gak usah ganti baju
Dasar Bang Rian selalu resek!
Bang Rian : tapi kok Alex bilang dia udah liat kamu pake baju itu duluan sih, dek?
Bang Rian : dia kirimin abang foto kamu yang lain
Bang Rian : katanya kamu sekarang juga udah jadi model designer terkenal
__ADS_1
Dasae si Alex yang juga sama reseknya!
Pesta resepsi selesai menjelang Magrib. Kami berkumpul di ruang keluarga rumah Lulu dan memberikan kado dari kami berempat. Lulu tampak tambah bahagia di hari bahagianya itu. Kami kembali berpelukan penuh haru. Akhirnya, salah satu dari kami sudah menjadi wanita sepenuhnya.
****
Aku dan Bang Rian lantas berpamitan untuk kembali ke rumah tidak lama setelah acara selesai, sementara Wide dan yang lain akan menginap hingga esok hari. Aku sudah menjelaskan situasinya kepada mereka; minggu depan aku akan mengikuti ujian semester di kampus. Mau tak mau mereka harus mengizinkan kami untuk berangkat.
****
Sesampainya aku di rumah, ternyata Papa dan Mama belum tidur. Beliau sedang mengobrol di ruang keluarga bersama seseorang yang wajahnya sangat familier olehku. Aku yanb memang sudah sangat lelah sekali karena ke-hectic-an hari ini, hanya bisa menatapnya dengan nanar, tidak percaya. Perjalanan dari kemarin membuat otakku agak sedikit lemot. Apa yang sedang dilakukannya di sini? Apa yang sedang dilakukan Alex di sini?
****
Dan, sebuah akhir hanyalah satu titik balik, untuk kita bisa kembali bermula sebagaimana kehendak-Nya. Sehingga, seperti akhir, sebuah mula hanya pengantar menuju ujung sebagaimana kehendak-Nya. Semua mengerti; awal dan akhir hanya untuk yang mencari arti.
****
“Lex?” Aku menyuarakan pikiranku, kerut di kening mengalahkan ombak di lautan. "Kok kamu ada di sini? Kenapa kamu bisa ada di sini?”
Alex lagi dan lagi memamerkan senyumnya. Papa dan Mama juga ikut-ikutan tersenyum. Kenapa mereka juga tersenyum?
Bang Rian di kalakian mendekati Alex. “Kapan sampai, Bro? Kok enggak bilang-bilang kalau jadinya hari ini?” Mereka lalu ber-high five ria. “Kalau tahu begitu sekalian aja diajak ke nikahan temannya Kayra. Hitung-hitung jalan-jalan lagi, kan?” Bang Rian jadi bersemangat sekali melihat sahabatnya ada di sini.
Oh, mungkin itu. Mungkin mereka memang sudah ada rencana sebelumnya dan Alex ingin memberikan kejutan kepada bro-nya itu. That's why Bang Rian mentioned something "yang jadinya hari ini", right?
“Soalnya beberapa minggu kedepan gue mau jalan keliling Indonesia sama beberapa negara lain, Yan. Biasa, urusan kerjaan. Makanya gue sempatin sekarang aja, takut rencananya mundur lama banget entar malah jadi basi.” Alex mengedipkan matanya ke arah abang nomor duaku itu.
__ADS_1
Aku sekonyong-konyongnya tidaak dapat menahan diri ini dari memutar bola mata. Sudah cukup rasanya aku menonton ke-bromance-an mereka, jiwa ragaku yang lelah setengah mati sudah meronta-ronta minta diistirahatkan segera. “Silakan mesra-mesraan berdua deh ya, aku mau tidur dulu. Capek banget. Bye, lovebirds!” Aku mencibir ke arah mereka berdua sambil berjalan untuk memberikan ciuman pada Papa dan Mama. Kemudian aku meluncur ke kamar tanpa menoleh. Sebelum masuk ke kamar, sayup-sayup kudengar suara Bang Rian yang menyebut soal gaun yang aku pakai saat pesta Lulu tadi.
****
Aku bergerak di atas tempat tidur, semua tulangku rasanya kaku. Menurutku menggeliat akan sangat nikmat maka aku melakukannya dengan khidmat. Suara-suara seperti berderak keluar, serasa tulang-tulangku beradu. Ya Tuhan!Aku bangkit dari tempat tidur lambat-lambat, duduk agak lama, lalu menuju kamar mandi dengan pelan. Semuanya kulakukan seperti diberi efek slow motion, padahal tidak ada yang sedang memproduseri adegan ini selain diriku sendiri.
The fatigue does that.
Awalnya aku berencana kembali ke Jakarta sore ini, akan tetapi Mama tidak mengizinkan hal itu setelah melihat kondisi badanku yang masih sangat kelelahan. Alex menyarankan sebaiknya kami mengambil penerbangan paling pagi esok hari. Aku tidak punya pilihan lain, terpaksa setuju dengan saran lelaki yang tampaknya sudah didukung oleh seluruh keluarga itu. Lagi pula, ujianku akan dilaksanakan pukul satu. Jadi, tidak ada yang perlu kukhawatirkan di pagi hari selain masuk ke kantor.
Dan aku baru menyadari kalau semua keluarga sudah ada di rumah sepagi ini. Yeah, maksudku kalau jam setengah dua belas masih bisa dikategorikan “sepagi ini”.
Aku memeluk Uni Cya dan kemudian beralih pada Bang Bjan, mereka pasti sudah datang dari tadi. “Tidur apa bikin skripsi sih, Dek? Lama banget.” Bang Bian mengacak-acak rambutku yang baru saja disisir. Aku menepis tangannya sambil bergaya ala seorang jagoan bela diri.
"Abang semalam dikasih makan apa sama Uni? Kok udah bisa ngelawak aja," balasku.
Bang Bian tertawa dan tidak lagi berusaha mengangguku. Dia tentu sudah mengerti dengan sebuah peraturan tidak tertulis di keluarga kami; kalau aku sudah bangun siang dan terlalu banyak diam atau memberikan jawaban yang ketus, sebaiknya tidak usah menggangguku atau aku akan mengamuk.
Aku sekonyong-konyongnya menuju meja makan, Tek Nur baru saja selesai masak untuk makan siang. Perutku langsung berontak marena sudah kosong dari pagi.
Selesai makan, aku menuju ruang tengah untuk menonton. Bang Bian, bang Rian, dan Alex sedang menonton sebuah film laga. Aku duduk di sebelah Bang Rian setelah sebelumnya mengambil satu toples stik kentang dari atas meja. Si Abang Nomor Dua serta-merta menyenggol lenganku lembut dengan sikunya. “Eh, nanti Papa ngajakin makan malam di luar.”
Aku menoleh dan memberikan anggukan cepat sebagai jawaban.
Bang Rian tidak berbicara lagi. Dia pun pasti sudah mengerti.
Tak lama terdengar suara Genta yang merengek dari dalam kamar, kemudian dia ke luar bersama Uni Cya. Sepertinya dia juga baru bangun tidur siang. Aku mengulurkan tangan dan Genta mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kini dia menyandarkan kepalanya dan duduk di pangkuanku. Aku menggoyang-goyangkan kakiku dengan lambat, berusaha memberikan kenyamanan padanya. Genta sepertinya masih mengantuk. Dia tertidur lagi setelah beberapa saat. Aku mengecilkan volume televisi dan membiarkannya tidur di sana.
__ADS_1
To be continued ....