
“Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Yayasan Rumah Kita berdiri di atas prinsip kemanusiaan. Dengan visi dan misi yang sejak awal kita junjung tinggi, kini adalah saat yang tepat untuk menyebarkan semangat kemanusiaan lebih luas ke seluruh pelosok negeri. Dengan harapan kita dapat menggerakkan lebih banyak roda suka dan rela yang kemudian akan mendorong pendidikan Indonesia menjadi lebih maju, merata, dan terasa di semua kalangan anak bangsa.
"Alasan kami memilih Sumatra Barat sebagai cabang pertama dari Yayasan Rumah Kita adalah karena perubahan harus dimulai dari diri sendiri, karena Sumatra Barat adalah tanah kelahiran Bapak dan Ibu Suseno. Yang dari sanalah semua yang kita lakukan hari ini berasal. Oleh karena itu, Bapak dan Ibu Suseno merasa sudah tiba saatnya bagi mereka untuk membalas budi kepada negeri kelahirannya. Dan ini hanya langkah awal, sebelum semua kita merasakan hal yang sama dan bergerak menuju seluruh penjuru Indonesia. Hidup kemanusiaan! Hidup pemerataan pendidikan! Hidup anak bangsa! Kita semua ada di sini, karena ini adalah Rumah Kita. Terima kasih dan selamat malam.”
Fiuuuh. Selesai juga akhirnya.
Aku turun dari podium seiring dengan tepuk tangan meriah yang diberikan oleh seluruh peserta presentasi. Ada sekitar seratusan orang yang datang. Aku tidak mengira bahwa acaranya akan sebesar ini. Ah, Bu Sukma sudah mengerjaiku.
Aku masih ingat sekali saat di mana beliau berkata bahwa ini hanya akan mejadi acara presentasi biasa. Hanya akan ada aku yang melakukan presentasi di depan beberapa donatur penting yayasan dan kemudian akan dilanjutkan dengan makan malam.
Ya, mungkin ini adalah hal yang biasa bagi mereka yang sudah menjadikan ratusan pasang mata sebagai audience, akan tetapi jelas sekali bukan bagiku yang biasanya hanya melakukan presentasi bahan kuliah di depan paling banyak empat puluh orang mahasiswa atau sesuatu tentang organisasi dalam ruangan sekretariat kecil yang disediakan kampus dan hanya disaksikan oleh dua luluh anggota himpunan.
Aku langsung menuju ke belakang panggung dan meneruskan langkah hingga sampai di dalam toilet wanita. Kuembuskan napas panjang ketika pintu toilet sudah tertutup dengan rapat di balik punggungku. Semuanya sudah selesai, Kayra. Kamu sudah melakukan usaha terbaik kamu. Sekarang tinggal menunggu. Ayo, ambil napas dalam-dalam lalu embuskan. Sekali lagi. Sekali lagi. Rasakan tubuh dan pikiran kamu menjadi lebih rileks sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Aku memandang pantulanku di cermin. Meskipun sudah memberikan afirmasi kepada diri sendiri sebelum tampil tadi, akan tetapi penampilanku tetap menerima dampak dari kecemasan yang kutahan di dalam diri. Agaknya kegugupan yang kucoba sembunyikan tidak bisa benar-benar sembunyi. Mereka masih saja menampakkan kehadiran mereka dengan mengacak sedikit tampilan luarku. Kurapikan rambut, kucek makeupku, dan baju di kalakian. Untung saja damage-nya tidak banyak. Hanya helaian anak rambut yang memilih untuk bebas dari kungkungan loose low bun yang kubikin tadi siang.
Sudah, sudah cukup. Aku sudah bisa bernapas dengan lebih tenang sekarang. Kini aku harus ke luar dan bersiap menghadapi para donatur itu lagi. Aku tidak bisa menyuruk di dalam toilet ini selamanya.
Ini akan menjadi malam yang panjang.
Nope. Nope, Kayra. Kamu tidak boleh berpikiran seperti itu. Kamu harus berusaha untuk lebih positif. Think positive, Kay. Stay positive. Like attracts like and all that, right?
Okay then. It's gonna be a fun night!
“Mbak, aku sekarang masih gemetaran loh ini.” Aku mengangkat kedua tangan ke hadapan Mbak Eka dan menggerak-gerakannya.
“Yee, itu mah bercanda. Ya, udah ah, yuk ke luar. Kamu udah ditunggu Pak Seno sama Ibu Meli dari tadi. Ini Mbak disuruh buat nyariin kamu. Katanya mereka mau kenalin kamu ke para donatur secara khe-ses.” Mbak Eka mencolek pinggangku dan seketika menarikku ke arah pintu.
__ADS_1
Dasar Mbak Eka.
Om Seno dan Tante Meli sedang sibuk mengobrol dengan beberapa orang saat aku kembali dari toilet. Mbak Eka sudah melepaskan tarikannya dua langkah sebelum pintu masuk ballroom. Dia melambai sekilas sebelum memisahkan diri dan berjalan menuju arah yang lain. Aku cepat menyesuaikan langkah kaki dan langsung berjalan ke tempat di mana Om dan Tante berada.
“Nah, ini dia bintang kita.” Om Seno berbicara kepada beberapa orang itu saat hanya tinggal dua langkah saja yang memisahkan aku dan grup yang sedang berdiri melingkar di tengah ruangan itu. Beliau dan Tante Meli tersenyum dengan lebar—aku pribadi lebih suka menganggap rasa yang mengiring senyum yang merekah di wajah keduanya adalah rasa bangga, saat mereka melihatku. “Perkenalkan, Gentlemen, ini adalah Kayra Salim, penggagas dari rencana besar kita malam ini.”
Aku mengedarkan senyum kepada beberapa orang laki-laki di hadapanku itu. “Maafkan saya, Bapak-Bapak, tapi Pak Suseno sepertinya terlalu berlebihan. Saya hanya menyampaikan ide dari tim di yayasan.” Semua orang tertawa. Setelah berbincang-bincang beberapa waktu, aku pamit dengan alasan masih ada beberapa yang harus diselesaikan.
Keluar dari kumpulan itu aku segera mengarah ke meja hidangan. Ya, memang acara kali ini berkonsep makan malam prasmanan. Aku mengambil satu gelas air putih dan beberapa potong dessert lalu mencari tempat duduk. Tidak salah tadi aku melihat kolam renang di bagian luar ballroom hotel ini. Aku menuju ke sana.
Kulitku berterima kasih saat bersentuhan dengan udara malam. Rambut-rambut halus yang ada di sepanjang lengan berdiri karena saking leganya. Aku senang berada di tengah-tengah orang hebat yang ada di dalam ruangan di belakangku, akan tetapi tidak dapat kupungkiri aku hanya dapat bertahan beberapa jam saja di suasana ramai dan hectic seperti itu. Aku selalu saja akan menginginkan waktu untuk bersama diriku sendiri.
Winding down in solitude.
__ADS_1
Aku terbiasa menenangkan diri setelah ke-hectic-an kegiatan semenjak menggeluti dunia organisasi. Aku akan berhibernasi dalam kamar, menghabiskan waktu dengan menonton, mendengarkan musik atau membaca novel. Itulah caraku untuk mengisi ulang baterai tubuhku. Malam ini, karena belum bisa pulang, tidak ada buku, dan ponsel yang sengaja kutinggal di mobil, aku memilih berada di kursi pinggir kolam renang. Menikmati semilir angin malam yang berembus di sela-sela rambut. Menikmati air putih dan beberapa potong brownies cokelat yang sudah menggodaku sedari tadi.
To be continued ....