
"Aku .... Aku ...." Aku tidak bisa menemukan kata-kata. Lidah ini seperti terkunci setelah telinga puas dibuai oleh untaian madah yang tak dipungkiri membuat lena. Tak hanya itu saja. Hilang sudah semua fungsiku sebagai manusia yang mampu setelah menoleh dan bertemu dengan ... apalagi kalau bukan dua kolam berwarna biru yang kini jernih dan berbinar-binar itu?
"Hey."
Alex memanggilku. Tak sadar dia sudah berhasil menarikku kembali ke kenyataan setelah terhipnotis pesonanya. Diraihnya tanganku yang di kalakian dibungkus dengan tangannya sendiri. Hangat genggaman itu me ... me ... me ....
"Take your time, okay?" katanya lagi. Lagi-lagi pemuda itu tak sadar telah menarikku dari perangkap di dalam pikiran sendiri. "Take your time. Take this easy. Take us easy. Kalau kamu gak bisa jawab sekarang, gak bisa mikirin soal ini sekarang, it's okay. Gak masalah. Aku gak akan maksa juga. Gimana kalau kita jalanin aja dulu? Take one day at a time?"
Oh. My. God.
Apa dia benar-benar serius? Aku benar-benar ... kehilangan kata-kata. Dia berhasil membuatku tercengang dengan pengakuannya dan sekarang ... semua ini.
"Atau gini aja, deh. Let's make a pact."
"A-a ... a p-pact?" ujarku dengan terbata. Ternyata lidahku yang sedari tadi kelu masih ingat cara untuk memproduksi satu kata meski harus keluar separuh-separuh dulu.
Sebuah jawaban berupa "yes" meluncur dari bibirnya dengan mantap.
"Ho-how?"
"Gini. Kamu gak usah mikir yang macam-macam dulu, ya. Pikiran kamu itu gak usah ke mana-mana dulu. Jangan overthinking dulu." Dia lagi-lagi melakukan aksi kekanak-kanakan itu. Alex menowel keningku.
Aku refleks memicingkan mata dan terkikik. Kuelus bagian yang baru saja dicoleknya.
Kembali ke laptop.
Entah bagaimana, seseorang yang baru aku kenal selama kurang lebih dua minggu bisa menangkap fakta bahwa aku adalah orang yang suka memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Alex tertawa tertahan sekali. Lalu dia menggeleng. "Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa paham kalau kamu salah satu dari sekian penganut kebiasaan buruk overthinking itu, kan?" Telunjuknya kemudian terangkat dan berlabuh di antara kedua alisku. "Ini, nih," ucapnya sembari memberikan sedikit tekanan di sana dengan ujung jarinya. Kalakian dielus-elusnya bagian itu, naik-turun, dengan begitu halus, begitu pelan.
Tak disangka-sangka hal itu memberikan efek yang ... menenangkan.
__ADS_1
"Aku bisa lihat banyak isi kepala kamu yang muncul ke permukaan dan lalu lalang di sini." Alex menambahkan. "Udah, ya. Gak usah banyak pikiran lagi. Nanti keriputnya jadi permanen, lho! Kamu emangnya mau?"
"Ih!" Segera saja kutampol lengannya yang terjulur ke arahku. "Kamu!"
Dia tertawa lagi. Dia tertawa seraya menarik tangannya untuk kembali menggenggam tanganku. "Jadi .... Yang tadi aku bilang itu, kamu ngerti, kan? Gak usah mikir apa-apa, atau gimana-gimana. Gak usah jadikan ini beban. Kita jalanin aja. Kita biarkan mengalir, kita lihat aja ke mana kita diarahkan oleh takdir."
Takdir.
Takdir.
Takdir.
"Nah, nanti, kalau takdir mengantarkan kita ke jalan yang sama dengan yang aku mau, bahwa apa yang aku inginkan memang direstui sama Tuhan, aku akan ketemu sama orang tua kamu. Aku ingin meminta kamu baik-baik ke mereka."
What? WHAT?
Apa maksud dari ucapannya itu? Memintaku baik-baik pada Papa dan Mama? Apa, ha? Apa?
"Nah, tuh, kan? Udah mulai lagi." Kini Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah dibilang gak usah banyak pikiran juga."
Oh, my God. Alex, helo! Gimana bisa aku gak banyak pikiran kalau dari tadi kamu gak berhenti memborbardir aku dengan kalimat-kalimat kamu yang rata-rata bikin syok itu? Gimana bisa aku gak mikirin apa pun setelah kamu melemparkan semua ini sama aku?
Meski sentuhan-sentuhan kecil yang kamu daratkan di kulit aku kadang bikin aku salah fokus. Atau mata kamu yang sekarang seperti warna air laut yang disinari oleh cahaya matahari langsung dan cahayanya memantul di permukaan, membuatnya berkilau seperti kaca, membuat aku semakin kehilangan akal karena indahnya.
Atau aroma peppermint dari napas kamu. Sialan, Lex. Pandangan aku terhadap permen itu tidak akan pernah sama lagi. Aku yakin, di mana saja aku melihat bungkusnya, aku akan langsung mengasosiasikannya dengan kamu.
Atau wangi misterius yang sedari awal bertemu sudah menggoda hidung aku. Apalagi jarak kita sekarang yang tak menghabiskan tiga jengkal tanganku. Entah itu berasal dari aftershave-mu, body cologne, atau parfum yang kamu pakai. Yang jelas, aku akan mengingat bau ini dan menjadikannya obsesi.
Seperti aku mulai terobsesi dengan rambut-rambut yang baru mau tumbuh di sekitar rahangmu yang tegas, dagu, dan di atas bibir kamu yang terlihat seempuk bantal bulu angsa kesayanganku. Rambut-rambut mau tumbuh yang kini hanya sekadar memberikan efek membayang di wajah bagian bawah kamu sebelum benar-benar mencuat ke luar. Lalu rambut-rambut halus di kedua tangan dan kakimu.
Setelah itu, tubuh kekar kamu yang menunjukkan bahwa kamu tidak lagi seorang pemuda yang beranjak dewasa. Bahu lebar, tanjakan dan lembah yang diciptakan oleh otot-otot itu, pembawaan yang tenang, serta cara berpikir yang terbuka jelas menjadi tanda bahwa kamu adalah sosok yang berdedikasi tinggi dan sudah dewasa.
__ADS_1
Namun, apakah aku .... Apakah aku bisa mempercayai apa yang aku lihat itu, Lex? Apakah aku bisa mempercayai apa yang aku dengar? Apakah aku bisa mempercayai sesuatu yang terbentuk dalam waktu yang sesingkat ini? Apakah aku bisa .... Apakah aku bisa mempercayai ... kamu?
No, no, no. Pertanyaan yang sebenarnya bukanlah itu. Seharusnya begini; apakah aku bisa mempercayai ... laki-laki lagi?
"Hey. Kayra Salim, listen to me. Kita akan jalani ini dulu. Kita akan lihat ke mana semua ini membawa kita. Lalu, ketika aku yakin sama perasaan aku, aku akan bertemu sama orang tua kamu. Dan jika pada saat itu kamu juga merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan, kamu tinggal jawab di depan semua keluarga kamu. Oke? No pressure."
Yeah, Lex. Just like that, eh? No pressure. No pressure at all.
"Gimana? Kamu mau, kan?"
Aku merenangi manik-manik Alex lagi. Menikmati indahnya sekaligus mencoba untuk meraba-raba apa yang ada di sana. Kuselami saja sekalian. Lebih jauh, lebih dalam. Dan yang kutemukan hanyalah ... kebahagiaan.
Bagaimana bisa?
"Kamu ... kamu udah sering bilang gini sama cewek-cewek yang kamu temui sebelum aku, ya?" Otak penuh kecurigaanku mengambil alih. Kenapa tiba-tiba saja soal begini omonganku jadi lancar sekali?
Alex terlihat benar-benar terkejut. Ekspresinya tak dibuat-buat. "What? Kok kamu bisa bilang begitu?"
"Soalnya kamu lancar banget ngomongnya. Kayak udah sering latihan."
Kini gilirannya yang mengarungi aku lewat mataku. Dan setelah itu dia menggeleng sekilas, mengembuskan napas, tertawa tertahan sekali lagi. "Kay, aku akan abaikan ucapan kamu barusan karena aku yakin kata-kata pahit itu berasal dari tempat terdalam kamu yang masih menyimpan luka."
What in the world? Who is this man?
"By the way, aku akan tetap jawab. No. Aku gak pernah melakukan ini sama cewek lain selain kamu. Kamu pikir aku juga tidak terkejut dengan keberanian dan keputusan yang diambil sepihak oleh hati aku sekarang? Terkejut. Banget malah. But, aku pernah bertemu dengan seseorang yang so freaking awesome. Dia bilang gini; when you know, you know."
What?
"So this is me knowing."
Oh, my God. How can I say no to ... that?
__ADS_1
To be continued ....