Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
47. Jatuh


__ADS_3

Aku betul-betul tidak menyangka kalau yang dimaksud dengan “siapin konsep dikit” seorang Alex berarti mendatangkan fotografer profesional lengkap dengan tim makeup dan hair stylist-nya. Seharusnya aku bisa menebak semua ini. Seharusnya aku bisa menyamakan level pemikiranku dengan lelaki itu; sedikit bagi seorang Alexander Rahardjo berkemungkinan besar menjadi sesuatu yang berlebihan bagiku. Melihat kehebohan di rooftop RS Group Building pagi ini, sedikit banyaknya membuatku kesal dan menyesal. “Aku seharusnya tahu kamu bakal melakukan hal kayak gini. Kamu bilang persiapan dikit aja, Lex, tapi kenapa yang datang satu kompi begini?” Aku berkata sambil menggertakkan gigi.


Alex yang berdiri di sebelahku hanya mengedipkan sebelah matanya.


“Pantas aja Bian sama si Rian kerja dengan sangat keras buat jagain kamu, Kay.” Andrew berbisik di telingaku sembari menatap mataku di cermin. “And ... I mean, wearing this on your friend’s wedding day? You’re totally gonna blow her up. Kejam kamu, Kay. Kejaaam.” Dia tertawa sembari merapikan anak rambut yang menempel di keningku dari belakang.


Komentar itu ada lagi. Aku kini benar-benar mempertimbangkannya. "Kamu serius, Lex? Terlalu berlebihan, ya, pakai gaun ini ke nikahannya Lulu? Apa aku ganti sama baju yang lain aja? Biarin deh dia marah sama aku karena enggak kompak daripada dia merasa gak senang di hari yang seharusnya jadi hari bahagianya dia," ungkapku. Otak sudah mulai bekerja dengan lebih keras lagi. Dia mulai berputar dan menghasilkan lebih banyak pikiran dan pertanyaan dan spekulasi dan hal-hal yang negatif lainnya.


"Hey." Badanku tiba-tiba saja bergerak membuat aku dan Alex kini berdiri berhadapan. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga mata kami bertemu. "Jangan mulai deh, ya. Aku gak suka banget kalau kamu udah bersikap begini. Oke, oke. Aku tahu maksud kamu baik, kamu gak mau meng-outshine si Lulu di hari pernikahan dia, akan tetapi tidak ada yang bisa kamu lakukan, Kayra. It's not about the dress. It's you, Baby. It's just ... you."


Baby. He just called me Baby. What on earth is happening?


Alex kembali berdiri dengan tegak dan memain-mainkan anak rambut yang sengaja dibiarkan membingkai wajahku dengan lembut. Sesekali ujung jarinya menyentuh kulitku, mengirimkan sensasi yang membikin aku merinding hingga ke sumsum tulang.


Kami saling bertatapan, mata birunya berbinar memantulkan sinar matahari pagi Kota Jakarta yang sudah pasti sibuk di bawah sana. Namun, di atas sini, di atas salah satu gedung pencakar langit ini, di bawah tenda darurat yang didirikan untuk keperluan pemotretan, di bawah tatapannya yang intens, aku merasa tidak ada yang paling sibuk dari apa yang ada di dalam tubuhku.


Jantung sibuk berlari. Paru-paru sibuk menarik napas, mencoba mengimbangi. Darah sibuk mengalir sembari mengangkut oksitosin dalam jumlah yang tinggi. Hati sibuk menikmati rasa. Otak sibuk untuk berusaha agar tidak memikirkan apa-apa.


Kemarin malam dia mengecup keningku. Pagi ini dia memanggilku dengan sebutan baby. Lalu dia melakukan ini. Setelahnya, apa lagi?

__ADS_1


Alex kembali mengecup keningku. Pada kesempatan kali ini dia melakukannya dengan lebih lama, lebih lembut, dan lebih ... I don't know. Aku merasa kali ini sentuhannya menjadi lebih ... berarti. It's like he really means it with all of him.


Kurasakan mataku menutup secara otomatis. Kuresapi apa yang aku rasa tanpa ingin merusaknya dengan berpikir terlalu jauh, terlalu banyak, terlalu sering. Kali ini aku hanya ingin merasa ... dicintai.


Sudah lama aku tidak membiarkan diriku merasakan hal yang seperti ini. Sudah lama aku menahan diri dan terus berusaha untuk menutup hatiku terhadap pesona Alex, dan sekarang baru aku sadari bahwa semua itu menciptakan perasaan lelah yang luar biasa. Kali ini aku benar-benar ingin melepaskan kendali dan jatuh ke dalam apa yang Alexander Rahardjo berikan selama ini kepadaku.


Perasaannya.


Entah sudah berapa lama, akan tetapi rasanya begitu cepat waktu berlalu dan Alex sudah melepaskan bibirnya dari keningku. Diusapnya sedikit spot yang baru ditinggalkan oleh bibirnya itu. "Thank God aku gak bikin makeup kamu rusak. Bisa digiling aku sama Mas Yudhi."


Aku tidak percaya itulah yang keluar dari mulutnya setelah apa yang barusan terjadi. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin dia sengaja melakukannya karena ... let's face it, Folks, dia mungkin ingin mengantisipasi respons dariku. Dia tidak ingin membuat aku overthink di saat seperti ini.


Di kalakian tangannya menjalar turun hingga ke bahuku demi memutar tubuhku untuk menghadap ke cermin lagi. Dia kembali berdiri di belakangku. Perbedaan tinggi kami membuat kepalanya masih bisa terlihat meski aku sudah berdiri tepat di depannya. "Look at that. You see what I mean?" Pun dia kembali berbisik.


Aku melakukan apa yang dia suruh.


Rambutku kini sudah dipasangi extension hingga panjangnya menjadi sepinggang. Dengan sentuhan tangan profesional from head to toe, aku telah berubah wujud dan merasa tengah menjadi seorang putri negeri khayalan.


Aku melihat pantulanku di cermin, tidak ingin berlagak sok rendah hati, aku akan mengakui bahwa tampilanku sekarang sungguh mengagumkan. Aku serta-merta menoleh pada Alex. “I can’t believe the one I see in the mirror is me.”

__ADS_1


Alex memamerkan senyum menawannya setelah mendengar komentarku.


Aku benar-benar merasa sedang berada di langit ketujuh.


****


Sesi pemotretan sudah dimulai. Dengan latar bangunan pencakar langit ibukota lainnya yang ada di sekeliling, gambarku diambil kurang lebih dua jam lamanya. Aku sempat mengomel pada Alex karena merasa malu harus dilihat oleh orang sebanyak ini, akan tetapi Alex terus saja berusaha untuk meyakinkan aku. “Kamu enggak harus pose ini itu kok. Cukup lakukan yang kamu suka dan Mas Yudhi akan ngambil gambarnya. Kan tadi juga udah dijelasin sama Mas Yudhi ke kamu.”


Sebelumnya semua ini dimulai Mas Yudhi, sang fotografer, memang sempat memberi penjelasan dan arahan soal bagaimana proses dan cara pengambilan gambar. Mas Yudhi juga memperlihatkan beberapa hasil foto model-model yang bisa aku ikuti.


Setelah sesi pemotretan selesai, Alex mengantarkan aku untuk bersiap berangkat ke kantor. Di jalan menuju ke rumah, aku akhirnya bisa menyemprot Alex dengan cara yang benar. Kulancarkan kembali aksi protes. Si Alex, yang punya banyak alasan, hanya berkilah dengan, “Kay, fotonya kamu bilang buat Anneke Zayn, kan? Terus, maksud kamu, kamu mau ngambil foto buat nama sebesar itu cuma sama kamera HP dan modal editan di aplikasi foto aja? Babe, please, jangan bikin malu aku, deh.”


Okay, that Babe got me. Lagi pula, apa yang dia bilang sangat benar adanya. Aku sebaiknya tidak mengomel lagi. Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening.


"You look so wonderful, by the way."


God!


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2