
“Ayolah, Dek." Rianza Salim, si paling pintar berargumentasi dan membujuk orang lain, memulai pidatonya. "Kamu gak kasian lihat kamera yang dibawa Alex nganggur gitu aja? Dia udah capek-capek gendong dari Jakarta lho, Dek. Bayangin aja, betapa percumanya tenaga yang udah dia keluarkan untuk itu, tapi pada akhirnya dia gak bisa gunain kameranya itu. Sia-sia, Dek. Mubazir. Kamu tahu, kan, kalau orang yang suka mubazir itu kawannya setan.”
Aku kini menatap Bang Rian dengan sebelah alis hampir mencapai garis rambut. "Kawannya setan, ya?" tanyaku penuh sindiran.
Abangku yang muda delapan menit saja dari Bang Bian itu hanya cengengesan.
Tiba-tiba saja Alex berdeham, memotong apa yang dengan pasti akan menjadi sebuah awal dari cekcok berkepanjangan. “Gak apa-apa, Bro. Mungkin kita bisa jalan lain kali. Gue harus fokus sama project ini dulu.”
Tatapanku kembali pada Alex, kedua alis kini sama tingginya, seakan mengatakan "oh really?"
“Yeah,” ucap Alex lemah sambil mengedikkan bahu. Harapan di matanya mulai luntur.
“Tapiiiiii,” sela Bang Rian. Dia dengan sengaja mengulur bunyi huruf i di akhir kata yang diucapkan. “Dek, kamu kan tahu Alex juga balik ke Jakarta akhir pekan ini. Come on, Dek. Coba kamu mikirnya gini; Alex ini kan bule, ya. Anggap aja dengan kamu ngasih izin ke Abang buat ngajakin dia jalan-jalan, kamu sudah berkontribusi terhadap pengenalan pariwisata daerah kita ke dunia. Nanti dia pasti foto-foto tuh. Nah, dia biasanya upload ke Instagram, kan? Ribuan follower-nya Alexander Rahardjo yang terhormat ini pasti lihat. Nah, nah, nah. Ya, kan? Gimana?”
Please, deh. Aku tidak menyangka dia akan menggunakan alasan itu. Memanglah, tidak ada kata menyerah bagi Bang Rian sebelum kehendaknya tercapai.
Ketika aku masih diam seribu bahasa, terdengar suara Alex di tengah keheningan. “Sorry, man. Lo gak usah memojokkan Kayra gitu juga, dong. It's not fair. Kayaknya emang lain waktu aja.”
Bang Rian mendesah dengan dramatis.
Alex di kalakian menunduk, kembali mengarahkan pandangan ke Mac-nya yang ada di atas meja.
Aku ikut-ikutan mendesah dalam hati. Sialan mereka berdua ini. Apa yang sedang mereka lakukan padaku? Apa yang sudah dilakukan oleh Alex sehingga aku jadi mudah merasa tidak enakan begini padanya? “Go.” Akhirnya aku memecah keheningan yang kembali menerjang ruang tengah keluarga Salim.
“What?” tanya Alex yang kepalanya menoleh dengan sangat cepat ke arahku. Matanya melebar, harapan kembali menyinari manik biru itu.
Entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menyukai saat di mana matanya kehilangan sinar seperti sebentar ini. Apalagi postur tubuhnya yang terlihat sedih dengan bahu yang turun seperti tadi.
“Go.” Aku menguatkan pernyataanku dengan kibasan tangan.
Alex tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “You sure? Kamu serius?”
Nah, ekspresinya yang seperti ini yang aku suka.
Wait, what? Apa yang baru saja kuucapkan? Sialan!
__ADS_1
Kepalaku juga ikut-ikutan memberontak, mengingkari keinginan hati. Ia mengangguk dengan sendirinya. “Yeah. Aku bisa urus beberapa keperluan yang harus diselesaikan sendiri. Lagian cuma masalah administrasi, kok. Kamu jalan aja. Have a mini vacation before our flight back to reality next weekend.”
Oh, no. Aku baru saja tidak mengatakan apa yang aku katakan, bukan?
Bang Rian sontak bersorak. Alex pun begitu. Tahu-tahu suasana rumah yang semula hanya berlatar belakang suara televisi dan percakapan aku dan Alex kini riuh oleh suara dua lelaki dewasa yang penuh dengan excitement.
“Thank you! Kamu emang benar-benar keren!” seru Alex sambil menunjukku.
Aku hanya mengedikkan bahu, senyum yang menarik sudut bibirku seakan mengatakan "I know". Because, let's face it, Folks, I am.
Alex menggeleng sambil tersenyum sebelum menuju ke kamar tamu. “Kalau gitu, gue mau beberes dulu.”
****
Hari Senin, aku dan Roni, teman satu kampus yang sebelumnya sudah kuhubungi untuk membantuku mengurus project ini, mengurus izin ke kantor pemerintahan. Setelah melengkapi persyaratan, izin akan dikeluarkan pemerintah dalam waktu tujuh hari kerja.
Urusan perizinan selesai, kami kemudian bertemu dengan pemilik tanah yang akan menjual tanahnya untuk pembangunan cabang yayasan. Bapak Ramli, si penjual, memberi tahu kami bahwa beliau tidak akan mau menjual tanah tersebut jika bukan untuk kepentingan kemanusiaan. Beliau berharap cabang yayasan nantinya bisa membantu anak-anak sekitar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Sampai di rumah, aku mengirim beberapa email kepada Tante Meli, melaporkan beberapa hal yang telah selesai, yang sedang diurus, atau yang akan diselesaikan dalam beberapa hari kedepan. Tante Meli membalas email-ku dengan memberitahukan bahwa urusan pembebasan lahan akan ditangani oleh Andrew, karena RS Grup meminta diberikan tanggung jawab penuh soal pembangunan gedung.
Perekrutan pengurus yayasan dan pendataan anak-anak yang akan dibantu aku serahkan kepada Roni dan rekan tim yang lain.
So far so good. Great job, Kayra. Aku memberi semangat pada diriku sendiri.
Beep. Sebuah pesan baru saja masuk ke ponselku.
Alex : Kay, your hometown is rock!
Alex : I’m sorry I can’t help you today
Alex : See you this evening
Aku tergelak membayangkan Alex yang kegirangan mengelilingi dua kota cantik yang sedang mengadakan festival makanan sambil menggendong kamera super canggihnya.
Setidaknya aku pikir hanya ini yang bisa aku lakukan setelah apa yang terjadi di taman waktu itu. Aku tahu Alex masih menyimpan tasa bersalah yang tak berguna itu.
__ADS_1
Kuperiksa lengan bawahku. Bagian yang memerah kini hanya berwarna kekuningan. Meski memarnya sudah memudar, akan tetapi rasa yang ditinggalkan oleh perlakuan cowok berengsek itu tidak. Untung ada urusan-urusan yang mengalihkan perhatian. Kalau tidak ....
Ah, jangan berpikiran ke sana. Yang jelas kamu baik-baik saja. Kamu hanya terkejut. Kamu lasti akan baik-baik saja. Andrew datang di saat yang tepat. Aku kembali meyakinkan diri.
Ya, Alex datang tepat pada waktunya.
Ya, aku tidak seharusnya membencinya dengan tidak jelas lagi.
Mengingat dia, aku kembali ke fokus mengetik pesan balasan pada pemuda itu.
Me : It’s fine really
Me : and for your info, you’re the boss
Me : Just enjoy it while you can
Me : soalnya besok kita mau ketemu penjual tanah untuk urus pembebasan lahan.
Tak lama balasan pesanku dari Alex sudah sampai.
Alex : got it, Capt
Sebuah emoji bulat kuning yang sedang berkedip mengakhiri pesan di dalam bubble itu.
Sialan. Apakah dia baru saja menertawakan kaus kesayangan yang kupakai kemarin?
Me : watch it
Me : kalau aku jadi kamu, aku pasti bakal hati-hati banget ngomongin itu
Me : soalnya aku penggemar nomor satu Kapten Amerika
Me : kalau gak hati-hati nanti aku masukkan ke dalam es kamu ya
Me : LOL
__ADS_1
To be continued ....