
Pukul 6.15 PM, Warung Pecel Ayam pinggir jalan.
Di sinilah kami dua hari kemudian. Aku yang menawarkan untuk mentraktir Alex setelah gaun yang diberikannya padaku, dan Alex yang memaksa untuk makan pecel ayam ini sebagai traktirannya. Sejak kapan?
“Kamu boleh minta ditraktir makanan yang lain kok, Lex. Gak harus yang kayak gini. Kalau gini aku merasa dikasihani tahu, gak?” Aku mengatakannya saat kami sedang menunggu pesanan kami. Kali ini kami makan di tempat baru yang memiliki meja lesehan. Untung tempatnya masih belum terlalu ramai saat kami datang. Jadi, Alex tidak perlu mencemaskan soal posisi duduk kami lagi.
Alex yang kini duduk di hadapanku seketika mendongak setelah mendengar pernyataan itu. “Don’t feel that way, please. Bukan gitu maksud aku. Aku dapat rekomendasi dsri asisten aku, katanya tempat ini yang paling enak di Jakarta. Makanya aku penasaran banget pengen nyoba bareng kamu. Aku mau tahu pendapat kamu gimana. Makanya sekarang kita makan disini.” Dia mengatakan semua hal tersebut sembari menatap lurus pada mataku, mungkin karena dia ingin menyampaikan kejujuran yang ada di sana.
Aku menyipit. Walau sudah mendengar penjelasan Alex, aku masih saja meragukan alasan itu.
“Please, Kay.” Di kalakian Alex memohon lagi.
Aku di kesudahannya menghela napas panjang. “Oke lah kalau gitu. Lagian aku juga yakin gak bakal bisa meladeni selera kamu yang sebenarnya, Lex. Makasih udah mau bersikap sangat pengertian sama aku.” Aku tersenyum langsung ke matanya, akan tetapi kali ini Alex tak balas tersenyum. Ada sesuatu di dalam mata itu yang tidak aku ketahui artinya, kilatannya kini berbeda. Apakah itu guratan luka?
Setelah percakapan yang somehow berhenti namun meninggalkan jejak yang awkward itu, Alex lebih banyak diam. Dia hanya mengkonsumsi menu yang dipesan tanpa banyak berkomentar. Sungguh berkebalikan dengan yang dibilangnya tadi. Tidak ada tanggapan soal apa yang dia makan.
Selesai, dia menungguku di dalam mobil ketika aku membayar makanan kami. “Kamu kenapa, Lex? Apa aku ada salah ngomong? Kok dari tadi kamu diam aja?” Aku bertanya padanya setelah duduk di kursi sebelah pengemudi mobil sedan mewah itu, tidak tahan dengan aura-aura tidak menyenangkan yang menyebar di antara kami.
“Nothing.” Alex menggeleng. Dia kembali terdiam sebelum melanjutkan. “I was thinking about sesuatu yang bikin kita impas, Kay.” Dia kemudian menyalakan mesin mobil.
“Maksud kamu?” Aku menjadi semakin bingung.
“You should buy me something international too." Dia menginjak pedal gas dan mobil membelah jalanan malam itu.
7.35 PM Starbucks.
__ADS_1
Alex menyesap Iced Americano-nya dan aku menunggu hot caramel macchiato-ku sedikit lebih dingin dengan mengecek sosial media. “Thanks for the International drink, Kay.” Aku mengerang dan mengalihkan tatapan dari layar ponsel. Alex mengangkat cangkir kopinya seperti hendak bersulang. “Sekarang kita impas.” Dia memamerkan senyum penuh kemenangan.
Aku meletakkan ponsel di atas meja dan menyilangkan tangan di dada. “Whatever.”
Di tengah suara tawa Alex, aku mendengar sebuah dentingan dari ponselku. Kulihat ada notifikasi sebuah email baru masuk di layar. Nama pengirimnya membuat aku tercekat.
"What's that?" Alex seketika sudah ada di dekatku dengan wajah yang penuh kecemasan. "Kamu kenapa?"
Aku melirik pada Alex dan layar ponselku bergantian. "Hm. Ada ... ada email masuk dari Che."
Rahang Alex seketika berkedut. Aku melihat ketegangan sekilas melintas di wajah itu. Hanya sekilas dan Alex sudah bisa menguasi dirinya lagi. Dia berdeham sebelum berkata, "Apa yang mau kamu lakukan? Apa yang kamu inginkan?"
“Aku ... aku gak tahu. Aku gak tahu harus ngapain," jawabku dengan candid dan jujur. How can I know that I’m ready or that I’m not?
Ekspresi Alex lantas kembali melembut. “Hey. Aku sekarang ada di sini bareng kamu, kan? Aku akan ada di sini buat mendampingi dan mendukung kamu, apa pun yang kamu ingin lakukan pada email itu. Kamu harus ingat kalau aku ingin kita melalui ini sama-sama. Aku udah berkali-kali bilang ke kamu kalau aku serius. Kamu harus mulai belajar untuk percaya sama aku. Okay?”
Setelah mendengar motivasi dari dalam diriku, aku di kalakian bisa menganggukkan kepala pada Alex. “Kita akan melalui ini bareng-bareng.”
Alex menyentuh rambutku sambil tersenyum. Senyum yang sinarnya sampai ke mata biru itu. “Yes. Yes. Kamu benar.”
Setelah mengembuskan napas panjang, aku menyentuh notifikasi di layar yang langsung mengantarkan aku ke kotak masuk email, tempat di mana surat elektronik daei Che menunggu untuk dibuka.
From : budithesmokers@gmail.com
To : salimnumber3@gmail.com
__ADS_1
Subject : no subject
Aku kemudian menyentuh layar ponsel dan surat elektronik itu pun terbuka. Isinya tidak banyak, cuma sebuah lampiran dan beberapa kalimat.
Namun, siapa yang menyangka kalau kalimat yang jumlahnya tidak seberapa itu bisa memberikan sebuah efek yang ... besar?
Ini siapa, Kay? Dia enggak pantas buat kamu. Dia deketin kamu cuma buat main-main.
Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Che dan memilih membuka lampiran yang ada. Sebuah foto. Aku dan Alex ada di dalamnya. Dilihat dari latar dan apa yang adaa di sekitar, foto ini pasti diambil waktu kami sedang makan di restoran favoritku siang itu.
What the heck?
Aku serta-merta menyerahkan ponsel ke Alex. Dia melihat foto kami dan kemudian ... tersenyum? “We look good together.”
Pfff. Aku tertawa. Aku ragu dia akan mampu berkata seperti itu kalau sudah membaca pesan yang ada di sana. “Read the message first then.”
Alex kemudian menyentuh panel back. Layar kini menampilkan isi email. Dia malah menjadi semakin terbahak.
“It’s just a comment from a jealous ex boyfriend who clearly stuck with you and don’t want to see you with a man that way, way better than him," ujarnya dengan santai. Dia masih sempat menggodaku dengan menggerak-gerakkan alisnya naik turun beberapa kali. Aku mengernyitkan hidung bermaksud untuk membalas godaannya. “And he’s not even your ex.”
Mau tak mau aku tertawa. Ternyata setelah kau belajar untuk menghadapi kenyataan, kemudian kau belajar untuk menertawakan dirimu sendiri dan masa lalumu. Menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah kau buat, kesalahan-kesalahan yang terjadi, penderitaan yang pernah kau rasakan. Kau menertawakan semuanya sampai itu tidak menyisakan rasa yang dulu pernah ada. Rasa malu untuk kebodohanmu, rasa menyesal akan kesalahan, rasa sakit karena penderitaan. Kau menertawakannya sampai yang tersisa dari semua itu hanya kelucuan. Dan, ketika kau melihat kembali lembaran-lembaran masa lalumu, yang akan kau temukan hanyalah sesuatu yang lucu, masa-masa yang jenaka.
Jadi tidak ada gunanya menutup diri setelah kau patah hati atau hatimu dipatahkan oleh orang yang kau percayai. Dengan sebab itulah seharusnya kau melihat lebih banyak pada dunia luar, pada hal-hal yang akan memberikan alasan baru untukmu tetap bertahan. Membuka diri pada orang-orang yang akan mengajarkan tawa kembali padamu.
Bumi tidak akan berhenti berputar untuk menunggumu bangkit lagi; ia akan terus bergerak, tak peduli apa yang terjadi. Jadi, saranku, lebih baik kau segera berdiri, iringi gerakan bumi. Tak ada gunanya meratapi diri. Karena kau punya Tuhan yang Maha Tahu. Kalau kau sudah melakukan yang terbaik dari dirimu dan seseorang tetap saja pergi, itu berarti dia memang tak ditakdirkan di sini. Tuhan pasti punya yang lebih baik sebagai ganti.
__ADS_1
To be continued ....