
Dering ponsel membuatku tersentak, akan tetapi aku masih bisa tertidur lagi. Kantuk yang menggantung berat di pelupuk mata benar-benar kembali membawaku tenggelam ke alam bawah sadar lagi. Meskipun demikian, ketenangan tidak bertahan lama. Deringan itu kembali terdengar lagi. Kali ini aku tidak bisa menyelam kembali ke alam lelap. Yang ada deringan itu malah membengkakkan kalang. Membikin mata menyalang. Aku sudah benar-benar terbangun sekarang. Dengan susah payah aku berbalik untuk melihat jam digital yang ada di atas nakas. Pukul tujuh lewat dua puluh enam pagi.
Aku baru tidur kurang lebih pada pukul tiga dini hari tadi. Jadi bagiku jam segini masih terlalu dini. Siapa yang berani membangunkanku sepagi ini? Apa mereka tidak tahu kalau aku baru pulang ke rumah di jam vampir? Apakah mereka tidak tahu kalau aku akan menjadi zombie jika dibangunkan tiga jam setelah aku tertidur? Aku harap ini benar-benar sesuatu yang penting. Kalau tidak, aku akan melepaskan bencana ke arah mereka. Aku memaki-maki siapa pun di seberang sana dalam hati.
For the love of God, kenapa mereka ngotot sekali?Tanpa melihat identitas si penelepon, aku mengangkat panggilan yang sungguh berniat untuk memancing emosiku itu.
“I am getting married!” Seseorang di seberang panggilan menjerit dengan histeris.
Dear God. Sekarang tidak hanya tidurku yang terganggu, pendengaranku harus diserang juga. Seperti tidak ingin membiarkanku tenang, muncullah sahutan demi sahutan yang riuh dari beberapa suara lainnya yang entah berasal dari mana.
Oh, my God. What is happening? Di kalakian aku mencuri pandang ke layar ponsel. Panggilan video grup Teletubbies.
Sepagi ini.
Saat aku sedang membutuhkan waktu tidurku.
Tidak peduli betapa pun kuatnya sebuah ikatan persahabatan, kalau harus disandingkan dengan waktu tidur, apalagi kalau baterai tubuh benar-benar butuh diisi ulang seperti ini, tetap saja waktu tidur yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Kututup mataku lagi setelah menyandarkan ponsel ke bantal yang ada di samping kepalaku.
“Lulu, kamu serius?”
“Iyaa. Aku akan menikah akhir tahun ini!”
“Kenapa? Kok bisa?”
“Sama siapa?”
“Kamu enggak hamil kan, Lu?”
Entah siapa yang berkata seperti itu, akan tetapi yang jelas dia berhasil membuatku tersedak oleh ludah sendiri karena menahan tawa sementara yang lain terdiam setelah mendengar pertanyaan konyol itu.
"Mi!" Seseorang terpekik.
__ADS_1
Seseorang tertawa terbahak setelah beberapa saat terdiam.
“Aku gay hamil, Mimi.” Seseorang, Lulu, menanggapi dengan nada yang agak angker. Oh, ternyata Mimi. Mimi memang selalu tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Kalau mengerjai sahabat sendiri dengan pertanyaan seperti ini bisa dianggap sebagai salah satu caranya.
“Gak usah ditanggepin, Lu. Mimi cuma bercanda kok. Ayok, cerita-cerita ke kita. Siapa orangnya? Kok bisa? Gimana prosesnya?” Ini pasti tanggapan dari Wide. Dia memang selalu menjadi yang paling excited. Jadilah mereka mendengarkan cerita Lulu, bagaimana dia bertemu dengan calon suaminya, proses ta'arufnya sampai akhirnya melamarnya kemarin malam. Aku hanya mendengarkan, suara Lulu yang menjadi latar belakang kembali membuaiku, mengizinkan kantuk untuk mulai menyerang saraf-saraf mataku lagi. Aku hampir benar-benar jatuh tertidur ketika seseorang memanggil, bukan, meneriakkan namaku. “Kay! Lo kok diam aja, sih?”
Oh, nooooo.
Aku menggosok-gosok mata, berharap dapat mengusir setan yang masih bergelayutan di pelupuknya. “Sorry, Lu." Shoot. Suaraku terdengar serak dan berat, seperti suara seseorang yang sudah berpuluh tahun mendiang pita suaranya dengan api dan asap rokok. Aku serta-merta berdeham.
Duh, kering sekali rasanya kerongkongan ini.
"Sorry, sorry." Aku meminta maaf karena sudah mengganggu kegirangan Lulu, membuat percakapan yang tadinya berjalan dengan lancar menjadi tersendat seperti ini, dan bahkan mengotori telinga mereka dengan suaraku yang sama sekali tidak ramah lingkungan. "Bukannya aku enggak senang, tapi aku sekarang lagi ngantuk banget. Aku baru banget tidurnya. Acara kemarin selesainya sini hari tadi." Untuk menambah efek, sebuah kuap daeiku menguap di tengah-tengah kami.
Aku benar-benar ingin menatap wajah mereka satu per satu dan meminta maaf dengan tulus, akan tetapi kelopak mata ini tidak bisa diangkat lebih dari yang sekarang, yang artinya sama saja dengan tidak terbuka. Hanya ada secercah celah yang terdapat di antara kelopak mataku, dan itupun sangat susah untuk dipertahankan.
“Ya udah, Lu. Biarin Kayra istirahat lagi aja. Nanti biar aku yang mampir ke tempatnya dia buat cerita, ya?”
“Iya, deh. Maaf juga udah ganggu kamu pagi-pagi gini ya, Kay sayang. Tunggu cerita dari Wide. Love you!”
Dengan embusan napas lega aku kembali menyongsong lelap yang sudah menunggu di depan sana.
****
Hari-hari di kantor menjadi lebih sibuk karena para donatur akhirnya menyetujui rencana pembukaan cabang di Sumatra Barat. Aku mulai menghubungi beberapa teman di organisasi yang akan membantuku untuk mengurus persiapan cabang nanti. Meski kini semua bisa diselesaikan secara virtual, akan tetap alangkah baiknya jika dalam waktu dekat aku bisa menemukan waktu untuk bertemu dan bertukar ide secara langsung dengan mereka.
Aku baru selesai menghubungi Roni ketika teleponku kembali berdering.
Kulihat foto Papa yang sedang tersenyum memenuhi layar ponsel.
“Assalmu’alaikum.” Suara Papa terdengar agak serak.
“Waalaikumsalaam, Pa. Papa kenapa? Sakit?” Aku langsung bertanya. Aku cemas. Akhir-akhir ini Papa sering mengeluh mudah lelah saat aku menelepon ke rumah.
__ADS_1
“Enggak, Sayang, Papa baik-baik aja kok. Sehat. Alhamdulillah. Ini, Mama mau ngomong sama kamu.” Papa di kalakian memberikan ponsel pada Mama.
“Hai, Sayang.” Mama memanggilku dengan suara serak yang sama di seberang sana. “Kamu apa kabar, Nak? Kami kangen sama kamu.”
Duh. Hatiku mencelus setelah mendengar pengakuan yang to the point dari Mama. Memang, selama tiga bulan persiapan presentasi, Mama dan Papa tidak datang berkunjung. Sebenarnya mereka mau, akan tetapi aku larang karena kegiatanku yang sangat banyak.
“Ma, Mama sama Papa pasti lagi enggak enak badan, ya? Jangan lupa makan yang sehat. Minum vitamin juga. Istirahat yang cukup, Ma. Papa pun gitu, ya, Pa. Aku enggak mau Mama sama Papa sakit begini sedangkan aku gak ada di dekat kalian.” Air mata tak mampu kubendung lagi. Aku sudah terlalu lama tak mengacuhkan mereka. Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku sadae bahwa aku seharusnya lebih perhatian pada orang tuaku. Kuseka air mata yang mengalir di pipi dengan telapak tangan. “Maaf ya, Ma, Pa, Kay sibuk banget akhir-akhir ini. Kayra enggak punya waktu buat Mama sama Papa.”
“Engga apa-apa, Sayi. Mama cuma mau bilang kami lagi kangen kamu aja. Kamu juga jaga kesehatan di sana ya, Nak. Minum vitamin dan makan makanan yang sehat juga. Dah. Ini papamu.”
Mama mengembalikan ponsel ke tangan Papa. Layar ponsel kembali dipenuhi oleh wajah Papa yang tampak kurang segar. “Kayra, jaga diri baik-baik di sana, ya. Kamu lanjut kerjanya. Semangat. Papa sama Mama selalu berdoa buat kamu.”
“Iya, Pa. Makasih ya, pa. Papa juga baik-baik di rumah sama Mama. Love you, Pa, Ma.” Aku menggigit bibir bawah, berusaha menahan isak yang benar-benar ingin meloncat ke luar dari dada.
“We love you too, Sayang. Papa tutup dulu teleponnya, ya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalaam.”
Meski sambungan sudah terputus beberapa detik yang lalu, akan tetapi air mata tetap terus saja mengalir, tidak dapat dibendung. Ah, selalu saja seperti ini. Kalau aku sudahali menangis, pasti akan selalu susah untuk menghentikan alirannya.
Aku tersentak ketika tiba-tiba saja aku merasakan sebuah sentuhan di bahuku. Entah berapa lama aku meratap di depan jendela panorama yang ada di lantai dua ini. Aku menoleh ke belakang dan ternyata Tante Meli sudah ada di balik punggungku.
“Kamu habis teleponan sama mama dan papamu, ya?” Tante Meli bertanya penuh simpati. Ada keteduhan dan pengertian yang dalam di tatapannya.
Aku hanya mengangguk, tak mampu mengeluarkan suara.
“Kamu pasti kangen banget sama mereka. Dan mereka apalagi. Tante udah hafal banget rasanya ditinggal anak, Ra. Berat, tapi Tante gak bisa apa-apa. Mereka juga punya kehidupan sendiri yang harus dijalani.”
Aku menatap Tante Meli dengan mata yang aku yakin sudah sembab dan merah. Beliau menatap ke luar jendela, akan tetapi pandangannya tampak jauh ke tempat di mana anak-anaknya berada. Kerinduan kentara sekali terpancar dari tatapan ibu dua anak itu. Aku masih memilih untuk diam karena rasanya aku tidak ingin merusak apa yang sedang beliau rasakan di dalam hatinya.
Entah beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu menoleh. “Kamu sebaiknya pulang, Ra. Mereka pasti pengennya gitu, tapi gak bisa bilang sama kamu secara langsung karena gak enak. Lagian kan kuliah lagi libur juga sekarang.” Tante Meli terus menatapku. “Tante akan kasih kamu izin satu minggu. Kamu bisa sekalian ketemu sama orang-orang yang dibutuhkan project kita di sana.”
To be continued ....
__ADS_1