
Beep. Beep. Beep. Layar ponsel di atas meja terjaga. Aku menyentuh bar notifikasi di layar.
Kak Raya : Kay, kamu di rumah ya?
Kak Raya : Meet up yuk!
Hm. Tahu dari siapa dia kalau aku ada di sini? Ah, iya. Kemarin aku memperbaharui cerita di akun Instagram-ku. Dasar Kayra. Ini adalah efek dari belum cuci muka, nih. Setelah merutuki diru, aku membalas chat dari Kak Raya.
Me : Iya, kak hehe
Me : Baru nyampe semalam
Me : I’ll call you later, ok?
Aku masih belum memiliki niat untuk melakukan jalan-jalan. Aku ingin menikmati suasana rumah terlebih dulu. Lagi pula juga ada urusan yayasan yang harus dikerjakan yang rencananya akan mulai kukerjakan pada hari Senin besok.
Hari Sabtu dan Minggu aku habiskan dengan bermain di rumah. Aku meminta Uni Cya untuk menginap selama aku berada di sini karena ingin menghabiskan waktu bersama keponakan kecilku. Mama dan Papa terlihat sangat bahagia dengan suasana rumah yang lengkap saat ini. Dan aku juga bahagia melihat beliau bahagia.
Minggu malam. Aku mulai membuka dokumen keperluan yayasan. Menghubungi kembali satu per satu teman yang akan membantu. Kami merencanakan pertemuan di hari Kamis. Mereka juga yang akan mengatur tempatnya. Karena urusan pekerjaan sudah beres, aku lantas masuk ke chatroom grup teletubbies.
Me : kumpul yuk!
Me : kita harus ngumpul sebelum acara nikahannya Lulu nih!
Me : hitung-hitung bachelorette party
Kuberikan sebuah emoji menjulurkan lidah di akhir pesanku.
Seketika saja aku melihat pesan balasan dari Lulu masuk ke chatroom yang masih terbuka.
Lulu : yesss!
Lulu : best idea
Mimi : oke oke
Anggre : Dimana?
Mimi : senin aku bisa izin dulu
Me : ketemu di kampus. How?
Mimi : kamu ok ketemu di sana?
Me : I’m really ok
Me : 100%
Me : ciyus
Eew. Ciyus was soooo last year. Aku tidak tahu kenapa aku mengetik kata itu. Untung tidak ada yang mengacuhkannya.
Anggre : kampus kalo gitu
__ADS_1
Lulu : pagian yaaa
Me : ok. Biar aku yg bawa mobil
Wide : have fun, guys!
Duh. Kasihan Wide. Dia tidak bisa ikut karena kali ini dia belum bisa mengambil cuti. Aku sudah memberi tahu belum kalau dia sudah pindah ke Jakarta juga? Dia tinggal dan bekerja di restoran saudara sepupunya.
Chat dengan teletubbies selesai. Tugas selanjutnya. Aku berpindah ruang perpesanan dan mengetik sesuatu untuk Kak Raya.
Me : kak, besok sore aku ke Padang ya
Me : aku mau nginap tempat kakak
Me : boleh gak?
Kukirimkan emoji kepala kuning yang tersenyum sambil menutup mulutnya.
Done.
Aku menyimpan ponsel, di kalakian ke luar dari kamar untuk kembali bermain bersama Malik yang sedang disuapi makan malam oleh Mama. “Pa, besok aku ke Padang, ya.” Aku meminta izin kepada Papa. “Mau ketemu teman-teman mumpung lagi di sini. Boleh kan, Pa?” Kukedip-kedipkan mata beberapa kali sembari memasang tampang sok memelas.
“Biar aku yang antar aja, Pa.” sahut seseorang dari balik pinggungku.
Aku langsung menoleh dan mengiriminya tatapan yang tajam. “Ih, Abang, ngapain? Aku mau nginap di tempat Kak Raya. Abang mau nginap di mana, ha?" bantahku dan mencibir ke arah abangku itu. Pertanyaan yang tidak perlu sebenarnya karena Bang Rian has tons of friend whereever he is. "Udahlah, Bang. Aku bisa bawa mobil sendiri kok. Ya kan, Pa?"
“Siapa bilang yang punya teman cuma kamu? Aku juga punya teman kali. Yeee.” Bang Rian si Banyak Bacot balas mencibir. Tahu-tahu kekehan Malik terdengar. Mungkin dia senang melihat ekspresi Om Rian-nya yang mirip monyet.
“Papa ....” Jurus andalanku keluar lagi. Aku tidak segan-segan mengeluarkannya demi mendapatkan dukungan dari Papa. Mama yang memilih untuk melakukan aksi no comment melanjutkan kegiatannya menyuapi Malik.
Ih, menyebalkan! Ingin rasanya aku melancarkan aksi protes yang lebih lagi, akan tetapi aku tahu semua itu akan terbuang percuma. Sekali Papa membuat keputusan, tidak akan ada yang bisa mengubahnya. “Ya udah." Akhirnya aku menyerah. "Tapi, abang jangan ganggu teman aku, ya. Jangan resek.” Aku tidak tahan untuk memperingatkan dia. Selain banyak omong, Bang Rian juga terkenal dengan mulut manisnya yang suka melambai kepada wanita-wanita di luar sana. Meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu kucemaskan karena aku hanya akan bertemu dengan teman-temanku yang sudah kenal lama dengan si Centil ini. Mereka pasti sudah imun terhadap pesona Bang Rian. Iya, kan?
Lagi pula, apa salahnya mengajak dia? Kami jadi punya sopir pribadi. Aku tidak perlu repot mengemudikan mobil ke sana kemari nanti.
Okay. I'll take that as a win.
"Diiih. Kamu pikir Abang cowok apaan, ha? Yang begitu mudahnya menggoda sembarangan cewek. Enggak lah, yau!"
Dan tahu-tahu Malik terkekeh-kekeh lagi.
Jangan bilang kalau selera humor keponakanku itu sama dengan Om Rian-nya. Please, jangan sampai begitu.
****
Aku sudah bersiap untuk tidur saat ponselku yang ada di atas nakas, bergetar. Saat kulihat di bar notifikasi, ada satu e-mail masuk. Aku membukanya karena penasaran ketika mengetahui alamat si pengirim.
What in the actual hell?
From : budithesmokers@gmail.com
To : salimnumber3@gmail.com
Subject : no subject
__ADS_1
What now Che?
Kay, karena aku enggak punya kontak kamu lagi makanya aku kirim email ini. Aku tahu kalau sekarang kamu ada di rumah. Aku mau ketemu sama kamu. Hari Rabu, jam 10 pagi di kafe biasa. Aku tunggu.
Sudah. Itu saja isi e-mail yang dikirimkan oleh cowok itu. Aku mendengkus kesal. Kuletakkan ponsel kembali dengan agak keras. Who do you think you are, Che? Setelah beberapa lama masih saja dia berpikir bisa menyuruhku seenak jidatnya.
Ugh!
****
Bang Rian sudah menyalakan mesin mobil saat aku menggendong dan mengecup Malik bertubi-tubi. “Tante Kay pergi bentar, ya. Besok kita main lagi di sini.” Aku lagi-lagi mengecup pipinya.
Bocah dua setengah tahun itu di kalakian merengek, risih agaknya. Aku terkekeh sebelum memberikannya kepada Uni Cya lagi. "Bye, Malik Ganteng. Yuk, Uni, Ma. Kayra jalan dulu." pamitku sambil berjalan ke arah pintu samping pengemudi Honda CRV milik Bang Rian.
Abangku itu membunyikan klakson sekali saat dia menginjak pedal gas dengan pelan ketika keluar dari pekarangan rumah kami. Mobil mulai bergerak mengarah ke jalan raya.
“Dek.” Bang Rian memanggilku setelah beberapa saat kami lalui dalam hening.
Aku sekonyong-konyongnya mengalihkan pandangan dari pemandangan jalan yang tampak dari kaca mobil.
“Apa, Bang?”
Bang Rian tak langsung menjawab. Dia sepertinya mempertimbangkan sesuatu dulu di dalam pikirannya. “Kamu mau janji sesuatu sama Abang?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari jalan yang ada di depan kami.
“Abang mau aku janji apa sama Abang?” Aku benar-benar penasaran. Jarang sekali aku melihat ekspresi serius di muka abang nomor duaku ini. Serius bukan karakternya, akan tetapi ciri khas Bang Bian. Bang Rian adalah si paling supel dan si paling ceria serta si paling luas circle-nya karena sifat ramah yang dia miliki.
“janji sama Abang kalau kamu bakal ceritain semua yang kamu alami mulai dari sekarang. Entah itu sama Bian, atau sama teman kamu. Tapi, Abang lwbih suka kalau kamu selalu ngadunya sama Abang, sih.” Bang Rian melirikku sambil lalu. “Apalagi yang berhubungan dengan Harris dan Che. Abang pengen tahu banget soal dua bxjingan itu."
Deg!
Aku tersentak bukan karena mendengar sebutan yang diberikan Bang Rian untuk dua orang itu dan tidak menyukainya—in fact, aku benar-benar setuju dengan abangku itu, akan tetapi aku agak terkejut. Kenapa Bang Rian mengatakan hal ini setelah e-mail yang kudapat daei Che semalam? Apakah dia sudah memiliki firasat atau ini hanya sekadar kebetulan biasa saja?
Ah, aku tidak tahu.
Lampu lalu lintas tiba-tiba saja menyala merah. Mobil kami pun lambat laun mulai untuk mengurangi kecepatan dan berhenti. Aku mengalihkan tatapan pada Bang Rian yang ternyata sudah menatapku terlebih dahulu.
Di mata yang kami dapat dari Papa itu—bola mata dengan warna cokelat agak terang, tersirat kasih sayang dan kepedulian. Dia betul-betul tulus mengatakan itu semua. Dia sepertinya tidak hanya ingin tahu urusanku agar mempunyai alasan untuk berhadapan dengan dua orang bxjingan yag disebutkannya tadi. Dia ingin tahu agar dia dapat menjadi sandaran bagi adik perempuan satu-satunya.
Menyadari hal itu, aku tentu saja tidak dapat menolak permintaan dari abangku. “Hm. Sebenarnya ....” Aku mulai mengumpulkan kata-kata dan menjawab. Lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau, kendaraan-kendaraan lantas kembali bergerak. Bang Rian mengembalikan tatapannya ke arah jalanan. Membuat aku sedikit merasa lega karena aku tidak harus berada di bawah pengamatannya saat mengungkapkan apa yang akan kuungkapkan. “Che e-mail aku semalam. Dia tahu kalau aku di sini. Katanya dia mau ketemu aku hari Rabu.”
Hening. Hanya ada deru mesin mobil yang terdengar. Tidak ada tanggapan dari Bang Rian setelah dia mendengar pengakuanku. Aku kembali menatap pemandangan di balik kaca di luar sana, yang bergerak secepat pergerakan mobil.
Entah setelah berapa kala, akhirnya Bang Rian menggeram.
“Kalau bukan karena udah janji sama Bian, aku udah bikin perhitungan sama dia, Dek. Asal kamu tahu aja.”
Ada sesuatu yang membuatmu merasa sungguh berarti di saat menyaksikan sikap protektif yang ditunjukkan oleh Bang Rian saat ini. Melihat bagaimana dia mencekik stir mobil kuat-kuat dan mungkin sambil membayangkan bahwa itu adalah leher cowok gondrong tersebut, membikin hatiku banjir akan rasa kasih sayang. Sebegitu pedulinya abangku terhadapku.
Namun, aku tetap harus menjaga kewarasannya. “Gak usah buang-buang waktu sama tenaga Abang, ah. Aku udah enggak apa-apa kok. Aku udah baikan sekarang. Lagian belum tahu aku mau pergi atau enggak. Menurut Abang gimana?” Aku bertanya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar basa-basi untuk memberikan Bang Rian perasaan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dengan oknum tertentu.
“Terserah kamu aja. Yang penting, kalau kamu pergi, Abang juga ikut.”
Aku lagi-lagi menatap wajah Bang Rian dari samping, kali ini agak lama. Aku terharu. Kedua abangku merupakan contoh sempurna dari pria idaman wanita mana pun. Mereka tentu punya kekurangan, akan tetapi tidak ada yang kurang bagiku. Andai saja ada pria selain mereka yang memperlakukanku seperti ini. Karena berada di tengah keluarga seperti ini, aku menganggap semuanya akan sama. Orang lain akan memperlakukanku seperti itu juga. Namun, nyatanya tidak ada yang lebih pekat dari darah.
__ADS_1
To be continued ....