Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
26. A Walk Down Memory Lane


__ADS_3

Kak Raya sedang sibuk menonton film di laptopnya saat aku ke luar dari kamar mandi. Aku baru sampai kira-kira tiga puluh menit yang lalu dan memilih untuk segera membersihkan badan. Bang Rian langsung menuju ke rumah temannya di kawasan Tabing setelah mengantarkan aku ke rumah Kak Raya. Aku kemudian mengambil hair-dryer yang terletak di atas meja rias dan mulai mengeringkan rambutku. “Kak, Bang Che ngajak aku ketemuan.”


Wanita yang biasanya tidak bisa diganggu jika dia sedang menikmati daily dose of oppa-oppa di whatever drama Korea yang tengah hits sekarang itu seketika menekan tombol spasi di keyboard dan berkonsentrasi padaku. “Apa? Kapan? Dia telepon kamu?” berondongnya sembari membelalak. Mungkin dia tidak siap dengan info yang baru saja keluar dari mulutku.


Jelas saja. Aku sendiri pun tidak menyangka akan mendapatkan e-mail itu dari orang yang tidak kuharapkan sama sekali.


“Enggak, gak nelepon. Dia kemarin ngirimin aku e-mail. Ngajak ketemuan hari Rabu ini. Menurut Kakak gimana? Aku harus apa?” Aku menatapnya. Ini bukan karena aku masih peduli dengan Che, akan tetapi lebih kepada kenyataan bahwa aku butuh pendapat orang lain agar bisa mengambil keputusan yang tepat untuk kebaikan bersama. Jika ingin menuruti kata hati, aku malas sekali melakukan pertemuan itu. Bukan hanya karena aku merasa tidak ada lagi urusan dengan dia, akan tetapi juga karena aku berpikir tidak akan ada gunanya melakukan hal tersebut. Jatuhnya hanya akan buang-buang waktu, tenaga, dan bensin saja.


Cewek yang tengah duduk bersila di atas kasurnya itu terdiam agak lama sebelum dia mengeluarkan suara. “Kalau menurut aku, kamu pergi aja. Mungkin dia mau minta maaf sama kamu.” Dia mengedikkan bahu yang sekarang bertambah padat itu. “Aku bukan ngomong atas suruhan Che atau gimana ya, aku juga baru tahu info ini dari kamu. Otomatis ini menjadi bukti bahwa tindakan yang dia ambil murni inisiatif Che sendiri. Mungkin dia merasa enggak nyaman karena merasa bersalah sama kamu selama ini. Bisa jadi gitu, kan? Siapa tahu.”


Aku kemudian mempertimbangkannya sejenak. Mungkin Kak Raya ada benarnya juga. Hm. Okelah kalau begitu. "Iya juga, ya?" Kak Raya mengangguk sebelum dia memencet tombol spasi untuk melanjutkan tontonannya lagi aku buru-buru menambahkan. "Eh, Kakak kenapa pindah dari tempat kerja yang lama, sih? Katanya gajinya di sana lumayan." Aku akhirnya menanyakan hal yang sudah menjadi buah pikirku selama beberapa hari setelah dia memberi tahuku soal kepulangannya ke Padang.


"Gajinya wmang lumayan, tapi Riko gak bisa LDR-an. Dia auruh aku pilih antara dia atau kerjaan itu. Ya, aku pilih dia, lah!" jawabnya enteng. Lalu dia mengembalikan perhatian kepada layar di depannya.


Oh, shoot. Aku juga tidak mengharapkan jawaban seperti itu.


****


Lulu datang tak lama setelah kami, aku dan Bang Rian, sampai di kantin kampus. Aku memandangnya dengan takjub. Aura bahagianya terpancar dari setiap bagian tubuh temanku itu. Aku lantas berdiri dan menyongsong untuk memeluknya. “Oh my God, oh my God, oh my God, Lulu!" pekikku saat kami saling berpagutan. "Kamu glowing banget! Ayo cerita gimana rasanya jafi calon pengantin!" Aku di kalakian menariknya untuk duduk di kursi yang ada di samping kananku. Aku menoleh ke kiri dan bertemu dengan Bang Rian yang tampak kebingungan. “Bang, lima bulan lagi Lulu mau nikah, loh!”


“Empat bulan lagi, Kay.” Lulu memperbaiki jawabanku.


Wow. Empat bulan lagi ternyata.


“Oh, ya? Selamat ya, Lu.” Aku mendengar Bang Rian memberi selamat kepada temanku itu.


“Makasih, Bang. Jangan lupa datang, ya. Terus bawa kado yang banyak.” Lulu tidak menunggu jawaban dari Bang Rian sebelum dia memulai ceritanya. Basically, dia menceritakan apa yang sudah kuketahui daei Wide. Namun, aku memilih untuk membiarkannya saja, kusiapkan telinga hanya untuk dengarkan. Lulu pasti sedang berada di puncak kebahagiaannya sekarang. Jadi dia tidak bisa berhenti membahas soal apa yang menjadi alasan dari kebahagiaannya itu.


Sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Namun, hal itu tidak membuatku terkejut karena kalau yang melakukan hal tersebut adalah orang asing, Bang Rian tidak akan pernah membiarkannya terjadi. Saat aku menelusuri lengan yang mulus itu hingga bertemu dengan wajah si empunya, sebuah senyum membelah wajahku. Mimi. Dia dan Anggre datang berbarengan.


"Hai, Gaes!" Aku memeluk keduanya bergantian. Mereka kemudian mengambil tempat masing-masing dan kami mulai memesan makanan. Ehem, kami di sini maksudnya adalah aku dan cewek-cewek yang lain, ya, karena Bang Rian sudah memesan makanan duluan. Dia tidak pernah bisa menahan selera makannya, abangku yang satu ini. Lulu kini lebih bersemangat bercerita pada seluruh orang yang ada di meja.


Bang Rian sudah menyelesaikan makanannya. Dia lantas menyilangkan sendok dan garpu di atas piring kemudian menggeser piring kosong itu ke depan. “Jadi, hari ini kalian mau jalan ke mana aja, hm?”


Pertanyaan itu dilemparkan ke tengah-tengah kami, jadi sah-sah saja jika yang menjawab adalah salah satu di antara kami. Meskipun jawabannya mungkin tidak seperti yang diharapkan oleh Bang Rian. “Kenapa Abang juga ikut sih, Bang?” tanya Mimi dengan agak asam.


Mimi memang tipe yang tidak berbasa-basi. Straight to the point. Dia akan mengeluarkan apa yang ada di dalam kepalanya dengan lugas, tanpa memandang bulu.


Aku tergelak setelah mendengar ungkapan tidak senang yang dibuat menjadi pertanyaan itu. Bang Rian yang tidak peka kembali tampak bingung.

__ADS_1


Mau tidak mau aku turun tangan untuk menyelamatkan saudaraku dari terkaman si Mimi. “Ah, udah ah, Mi. Biarin aja. Dia mau temanin adiknya, katanya masih kangen. Minggu depan aku harus balik ke Jakarta lagi. Sepanjang minggu ini Bang Rian menawarkan dirinya untuk jadi supir pribadi aku. Masa aku harus nolak, sih? Kan kasihan.” Aku mencibir ke arah orang yang dibicarakan.


Awalnya aku menjawab begiru karena bermaksud ingin menghindarkan dia dari adegan ledek-ledekan dengan Mimi. Namun, tak disangka tak dinyana maksudku tak tercapai.


“Emang kamu cemburu ya, Mi, kalau aku dekat-dekat sama Kayra terus? Gak perlu kali, Mi. Dia kan adik kandung aku. Kamu gak usah cemburu sama dia, ya.” Bang Rian malah membalas dengan melayangkan lelucon yang jelas menyulut api di dalam diri Mimi sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum dengan main-main.


Oh, my God. Noooo.


“Idih!" bantah Mimi lekas-lekas. "Ogah banget cemburu sama Abang,” sahut Mimi tidak mau kalah.


Sebelum Bang Rian sempat melemparkan jawaban yang lain lagi, Anggre yang sudah berdiri dari kursinya. “Yuk, ah, berangkat.”


Suruhan itu menjadi penutup aksi balas-membalas Bang Rian dan Mimi. Kami semua menurut pada titah Yang Mulia Anggre.


****


Kami sudah berada di posisi masing-masing dalam mobil saat Bang Rian menghidupkan mesin. Aku menoleh ke belakang untuk menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang dikatakan oleh Bang Rian dan menjadi penyebab dari kericuhan di dalam kantin kampus tadi. “Jadi, Girls, ke mana kita hari ini?”


Dengan pertimbangan efisiensi waktu, kami akhirnya sepakat untuk berkeliling kota saja. Makan siang, ke satu pertunjukan rumah hantu yang kebetulan buka mulai kemarin, ke pantai untuk menikmati sunset, melanjutkannya dengan karaoke lalu makan malam di Solaria. Semua kegiatan yang benar-benar membuat kami teringat akan masa perkuliahan. Setelah ini kami akan langsung ke hotel dekat pantai yang sudah kami pesan tadi.


Kami sedang memilih menu makan malam ketika ponselku berbunyi. Om Seno. Aku kemudian menyingkir ke luar dari keriuhan tempat makan untuk menjawab panggilan tersebut.


Pesanan kami sudah siap saat aku selesai menelepon. Aku kembali duduk di antara Bang Rian dan Mimi.


Ah, ah, ah. So sweet sekali rasanya melihat abangku dengan ekspresi yang seperti sekarang ini. Ternyata selain penasaran, dia juga merasa cemas akan kemungkinan itu.


Aku menggeleng. “Enggak, Bang. Malah liburnya ditambah seminggu lagi. Soalnya besok ada salah satu donatur yang datang ke sini dan pengen turun ke lapangan langsung buat ngurus project. Tapi, kata Om Seno besok kita harus jemput dia di bandara. Pesawatnya jam 12.10 siang dari Jakarta.”


Bang Juno langsung berbinar. “Kamu serius kan?” Dia serta-merta memelukku. “Iiih, Dek. Kamu gak tahu gimana senangnya Abang sekarang. Abang gak pwduli kita harus jemput satu orang atau bahkan ratusan orang sekali pun, yang penting Abang bisa bareng kamu lebih lama lagi.”


"Dih, apaan sih, Abang. Abang aja kali yang jadi sopir antar-jemputnya. Aku mah gak mau," selorohku dengan badan yang rasanya mau remuk dipeluk Bang Rian si paling rajin nge-gym erat-erat. "Bang, woy, Bang. Abang senang benaran apa cuma modus buat bikin aku pingsan, nih?"


"Eh, iya, iya. Sorry." Bang Rian terkekeh. Teman-temanku yang lain juga. Mereka sudah tidak asing lagi dengan kelakuan ajaib yang aku dan Bang Rian lakukan.


“Sinting,” rutuk Mimi sambil memutar bola matanya.


Dang it. Kami juga sudah tidak asing lagi dengan komentar-komentar ajaib dari cewek yang satu ini.


****

__ADS_1


Walaupun tubuh rasanya sudah mulai letih, akan tetapi semangat di dalam diri kami masih terasa full saat check-in di hotel. Memang benar kata orang; tak ada lelahnya kalau kau menghabiskan waktu dengan orang yang kau cintai. Atau, lebih tepatnya; kau tak peduli dengan lelah saat berada dengan orang yang kau cintai. LOL.


Kami sengaja memesan satu kamar demi mengulang kembali pengalaman di masa kuliah dan agar bisa saling bertukar cerita sepanjang malam. Lagi pula kan kami mau bahas persiapan pernikahannya Lulu. Tidak mungkin hal tersebut dilakukan jika kami menginap di kamar yang berbeda, kan?


Mungkin saja, sih, sebenarnya. Namun ... kalau mau kami begini, ya, mau diapakan lagi?


Sedangkan Bang Rian kembali menghilang entah ke rumah temannya yang mana.


Lulu kemudian membuka koper yang dia bawa. Ini yang aku pertanyakan dari tadi; apa isi koper itu sampai Lulu merasa harus membawanya saat kami memutuskan untuk menginap bersama hanya untuk satu malam? Setelah koper itu terbuka, akhirnya aku mengerti apa maksud dari keribetan ini.


Di dalam koper tersebut terdapat kain yang sengaja dibelikan Lulu untuk kami pakai di hari pernikahannya. Kami adalah para pendamping pengantin wanita. Tentu pakaian kami harus serasi.


“Aku sengaja beliin kalian bahannya aja biar kalian yang jahit sendiri. Soalnya sekarang kita udah enggak satu kota ya, jadi pasti susah kalau kita jahit di tempat aku.” Dia mulai membagikan kepada kami masing-masing satu paket. Ada brukat warna baby pink dan satin berwarna senada.


“Siap, Ibu Pengantin.” Aku menerima satu paket dengan penghormatan yang dilebih-lebihkan. Lulu terkikih melihat tingkahku itu. Di kalakian kuletakkan barang penting itu di dekat tasku. “Jadi untuk persiapan, ada yang bisa kami bantu?” Egh! Kebiasaan menjadi panitia kegiatanku terlihat. Dasar si paling anak organisasi.


“Kalian cuma harus terlihat cantik di pesta aku ya, tolong. Cukup bantu aku dengan itu.” Lulu menekankan kata cantik yang berarti tidak lebih cantik dari si pengantin wanita itu sendiri.


Okay, noted.


“Kalau masalah yang lain udah diurus sama Ayah dan Ibu sih. Engtga ada yang perlu dicemaskan lagi," tambahnya.


“Gaunnya gimana, Mi?” Anggre, yang terobsesi dengan pernikahan ala putri, menimpali.


“Aku udah serahin semuanya sama Wedding Organizer. Aku udah jelasin konsepnya. Nanti aku kirim fotonya pas aku fitting, ya.” Tidak kupungkiri, Lulu benar-benar tampak berbeda sekarang ini. Dia tampak lebih bersinar. Wish you the best, bride-to-be!


Saat asyik bercerita, aku teringat akan sesuatu. Di sela-sela lemparan komentar di sepanjang jalan kenangan aku mencuri waktu untuk mengirimkan sebuah pesan pada Bang Rian.


Me : Bang, besok aku ketemuan aja sama Che


Me : Kak Raya bilang dia mungkin mau minta maaf


Me : Abang temenin aku ya


Sesaat kemudian pesan balasan dari Bang Rian masuk ke ponselku.


Ari Baba : ok


Ari Baba : at your beck and call, sis

__ADS_1


Siapa yang menyangka Bang Rian bisa se sweet ini.


To be continued ....


__ADS_2