
Aku meletakkan ransel di atas sofa di ruang keluarga dan menuju ke ruang makan. Semua orang sudah ada di sana, termasuk Alex yang sudah berpakaian super duper rapi dengan menggunakan setelan jas mahalnya dan terlihat sangat mencolok di antara para rakyat jelata yang hanya memakai pakaian kasual. Meskipun aku juga mengenakan setelan kerja yang lumayan rapi dan lumayan "mahal" menurut standarku, akan tetapi tetap saja; levelku dan level Alex sudah pasti jauh berbeda.
Lagi pula aku yakin aku tidak akan pernah bisa memberikan vibe seperti yang mengitari Alex sekarang.
Melihatnya sekarang tidak pelak membuatku sedikit gugup. No, bukan sedikit, akan tetapi sangat gugup. Gak usah panggil Bapak karena kamu bukan anak buah saya, my xss. Kalau setelannya begitu, siapa yang tidak dibuat merasa selalu menjadi bawahan sama dia?
“Dek, sorry Abang gak bisa ngantar kamu hari ini, ya. Ada clothing line dari Bukittinggi yang kontak Abang kemaren. Katanya mau ada project bikin video promosi untuk barang baru mereka.” Bang Rian, yang pekerjaannya adalah sebagai videografer dan memiliki rumah produksinya sendiri itu, berkata dari seberang meja makan.
Aku menggeser kursi lalu duduk di samping Mama. Hari ini Mama dan Tek Nur menyiapkan nasi goreng kampung plus telur mata sapi sebagai sarapan kami. Aku mengambil sepiring nasi dan satu buah telur goreng itu. “Iya, Bang. Gak apa-apa kok. Lagian kan aku perginya juga bareng Pak Alex.” Dari sudut mata, aku bisa melihat yang bersangkutan mengangkat sebelah alisnya ke arahku. Sendok yang masih berisi nasi tergantung di udara.
Aku tidak mengindahkan tatapan yang diarahkan Alex padaku. Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan? Boleh saja kemarin dia menyuruhku untuk tidak memanggilnya Bapak, akan tetapi bukan berarti aku harus menurut, kan? Terlebih lagi sekarang belum termasuk jam kantor, jadi aku masih bisa mengabaikan segala ucapannya.
Huh! Kenapa sih aku? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri ini? Kenapa aku masih menyimpan rasa tidak enak kepada bule seperempat Jawa yang duduk di sebelah Bang Rian itu? Bukankah kami sudah clear the air kemarin malam?
Hm. Belum! Percakapan kami semalam diinterupsi oleh telepon dari seorang wanita cantik. Dasar laki-laki buaya! Sudah punya pasangan masih saja mau bersikap friendly yang berlebihan kepada cewek lain, rekan kerja lagi. Dih! Dia benar-benar berhasil membuatku muak sepagi ini. Dan jika dipikir aku harus menghadapinya seharian ....
Dang it!
"Kayra, itu telur gorengnya mau dibunuh apa gimana? Kok motong telur mata sapi aja berisik begitu. Sampai kayak mau pecah piringnya."
Suara Papa memecah pikiranku. Aku baru menyadari genggamanku pada garpu dan sendok di tangan sangatlah kuat. Seperti sedang mencekik leher seseorang. "Err, sorry, Pa," ringisku ke arah lelaki paruh baya yang sudah mewariskan rambut lurusnya padaku itu.
__ADS_1
Untuk selanjutnya, agenda sarapan berlangsung dengan ... uneventful.
Setelah sarapan, anggota keluarga Salim bersiap untuk melaksanakan kegiatan masing-masing. Papa lantas mengambil koran untuk dibacanya di kursi teras belakang, Mama dan Tek Nur mulai membereskan meja, Bang Bian sedang berpamitan pada istrinya untuk berangkat ke kantor. Begitu pula dengan aku dan Bang Rian. Dia sedang mengecek kembali isi tas ranselnya sebelum menyandang benda yang selalu dibawanya ke mana-mana tersebut. “Tolong jagain adik gue ya, Bro.”
Uhm, what? Apa aku tidak salah dengar? Apa yang baru saja abangku itu katakan?
“I will.” Alex menjawab tanpa ragu.
Eng, what? Apa yang baru saja bule seperempat Jawa itu katakan?
Dan yang benar saja. Baru hari kedua bertemu, mereka sudah dengan santainya ber-bra-bro bra-bro ria?
Ugh!
****
Kami sedang berjalan menuju parkiran Hotel Maxima. Sudah pukul tiga lewat dua puluh lima menit—tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan cukup sampai di sini.
“Mereka terlihat sangat kompeten. Kamu pasti bergaul dengan baik saat sekolah,” ujar Alex saat membuka pintu samping pengemudi. Komentar personal pertama yang dikeluarkannya hari ini.
Aku mengedikkan bahu. “Iya, mereka memang sangat kompeten dan kita sangat terbantu karenanya. Sebagian besar keperluan project ini, yang ada di sini, akan ditangani oleh mereka. And I do nothing. Ini gak ada hubungannya sama gaul-gaulan pas sekolah.” Aku dapat mendengar tawanya dari dalam mobil saat akan menutup pintu.
__ADS_1
"Okaay, but you did the most important thing in thjs project, Kay, the idea.” Alex menyesuaikan tubuh tingginya di dalam kursi penumpang Honda Jazz milikku itu. Setelah menutup pintu mobil, dia seketika membuka jas dan melonggarkan dasinya.
"Tante Meli sama Om Seno juga udah punya idenya sejak lama kok. Aku cuma mengingatkan aja," timpalku lagi. Aku tidak berniat untuk menyetujui apa pun yang ke luar dari mulut cowok ini.
“And, by the way, baru jam segini. Kita boleh mutar-mutar dulu, gak? Aku lihat banyak tempat yang bagus di sini. Kamera aku butuh kerja juga, nih.” Sebuah kamera canggih dengan lensa tambahan yang biasanya aku lihat di tangan Bang Rian atau teman-temannya saat syuting, atau di tangan seorang fotografer profesional tahu-tahu sekarang sudah berada di pangkuannya.
Aku tercengang setelah melirik benda itu. Namun, segera kuperbaiki ekspresiku lagi. Mau heran, akan tetapi yang ada di sebelahku adalah anak dari pemilik RS grup. Dia bisa memiliki apa saja yang dia inginkan dengan hanya menjentikkan jari. Tanpa sadar kuhela napas panjang.
“What?”
Aku hanya mengangkat bahu dan menyalakan mesin mobil.
****
Mobil yang kami tumpangi berbelok ke kiri, kami memasuki kawasan parkir sebuah tempat wisata yang sedang in di kota ini. Kuhentikan Honda Jazz yang sudah menemaniku semenjak aku kuliah itu di salah satu apot parkir yang lumayan kosong. Hm, mungkin karena hari ini adalah weekday, jadi tidak banyak pengunjung yang datang sekarang.
Sebelum turun, aku mengganti sepatu high heels-ku dengan sendal jepit yang selalu standby di mobil. Saat ke luar, aku baru menyadari tatapan dari lelaki yang tahu-tahu sudah ada di depanku itu. "What?" Aku bertanya pada matanya yang bersinar nakal dan senyumannya yang cuma sebelah. "Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Aku akui, sungguh puas rasanya hati ini sudah berhasil membengkakkan kalang Alex sedikit demi sedikit dengan melakukan apa yang sudah dilarangnya.
"Come on, Kay. Saya harus bilang berapa kali sama kamu biar kamu ngerti dan berhenti manggil saya dengan sebutan Pak, Pak, Pak itu, ha?"
"Dan saya yakin saya tidak pernah menyetujui hal itu," jawabku dengan cepat. "Pak." Tidak lupa kutambahkan sejumput bumbu untuk mempercepat proses meledaknya lelaki ini. Entah kenapa, semenjak kemarin, membuat Alexander Rahardjo meledak oleh rasa marah sudah menjadi salah satu tujuan hidupku.
__ADS_1
"Shxt, Kay. I know you will be the death of me."
To be continued ....