
Sorot mata Bang Che yang sebelumnya bahagia seketika menjadi kelam. Emosi sudah melingkupinya kembali. Aku melihat Bang Rian sudah berdiri dan mulai berjalan ke arah kami dengan perlahan untuk berjaga-jaga. Dia berhenti beberapa langkah di belakang Bang Che.
“Maksud kamu?” Bang Che menantang tatapan mataku.
Sejenak aku takut melihat tatapan itu, akan tetapi aku kembali menguasai diri. Bang Rian juga sudah ada di belakang Bang Che, berdiri tenang namun tetap siap siaga di sana.
Dia akan selalu bisa melindungiku. “Aku enggak punya perasaan khusus buat Abang. Aku enggak cinta sama Abang.”
Mungkin ada petir menggelegar di dalam pikiran Bang Che, membuatnya tiba-tiba saja berdiri. Melihat pergerakan itu, Bang Rian juga dalam sekejap mata melesat dan menjauhkan Bang Che dariku. Bang Rian memposisikan tubuhnya di antara aku dan Bang Che, menjadikan badan yang berotot itu sebagai benteng perlindungan yang kokoh untukku.
Di saat tangan kanan Bang Rian bertemu dengan dada kurus milik Bang Che-lah, cowok tinggi ramping itu kembali pada kenyataan. Dia sadar akan kehadiran Bang Rian yang jelas bukan tandingannya. Dia sadar pada akhirnya dia tak bisa berbuat apa-apa. Kepalanya di kalakian tertunduk, rambut panjang sebahu yang tidak diikat itu jatuh dan menutupi wajahnya bak tirai. Dia terduduk. “Kamu jahat, Kayra.”
Kalimat yang salah, Bang Che.
Aku tahu kalimat itu tidak akan membawa dampak yang baik bagi siapa pun.
“Maksud lo apa, ha?” Bang Rian maju satu langkah lebih dekat pada Bang Che. Kedua tangannya tahu-tahu sudah mencengkeram leher kemeja kotak-kotak yang dipakai oleh pemuda di depannya. Insting menyuruh aku untuk menahan gerakan Bang Rian dengan memegangi lengan kirinya. Namun, hanya dengan sebuah lirikan dari Bang Rian, aku menyingkirkan tanganku sari sana. “Elo yang jahat, Bxrengsek! Elo yang nyakitin dia lalu seenaknya elo bilang kalau Kayra yang jahat? Bxjingan lo!” Bang Juno meluap. “Apa cerita yang kemarin udah lo sebar ke seluruh kampus, ha? Di mana lo saat semua orang salah paham sama dia? Elo enak-enakan sembunyi di balik kebohongan lo. Elo biarin semua orang salahin dia, ngomongin dia, bilang yang enggak-enggak tentang dia. Itu yang namanya sayang? Itu yang maksud lo cinta sama dia? Dasar banci lo!” Bang Rian meluapkan semua kekesalan yang dia tahan selama ini, sedikit banyak dia mewakili perasaanku juga. Harus ada yang bilang ini kepada Bang Che biar dia sadar kalau selama ini dia udah salah.
Kini giliran Bang Che yang terdiam dan tertunduk.
Bang Rian menarik kerah baju yang dipegangnya hingga wajah mereka menjadi semakin dekat. “Dan gue bilang sama lo, ya. Kalau elo berani deketin Kayra lagi, lo akan berurusan sama gue. Ngerti lo? Gue harap lo ngerti karena lo gak bakal percaya sama apa yang akan gue lakukan ke bxjingan kayak elo,” geramnya.
Aku cukup dekat untuk mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut abangku itu. Dan ... dang it! Aku tidak bisa untuk tidak merasa bangga memiliki saudara yang bisa berubah menjadi binatang buas seperti Bang Rian. Rawr.
Bang Rian berbalik dan membawaku bersamanya. Kami meninggalkan Bang Che yang .... Aku tidak tahu dan tidak peduli untuk mengetahui keadaannya sekarang. Aku tidak ingin melirik ke belakang karena past should stay there, in the past.
****
Kami masuk ke mobil. Di dalam perlindungan kabin mobil, kuembuskan napas panjang. Bang Rian serta-merta menoleh padaku. “You good?" tanyanya dengan kening berlipat.
Aku berpikir-pikir sejenak sebelum tersenyum lebar padanya. “I’m ... good. Super even. Rasanya lega banget, Bang. Makasih banyak Abang udah mau temenin aku, ya. Aku gak akan bisa melakukan itu kalau gak ada Abang.” Aku berusaha memeluk Bang Rian dengan poaisi duduk kami. Dia kemudian menggeser duduknya demi mengakomodasi keinginanku dan membalas pelukanku.
“Anything for you, Dek. Kayak gini malahan yang Abang mau. Kamu ngadu sama Abang, Abang bantu kamu sebisa Abang. Kalau Abang perlu marahin orang, Abang bakal marahin orang yang jahatin kamu. Just like when we were kids. Walaupun sekarang kamu udah lebih besar, lebih dewasa, I can’t help it, Dek. I will always be your older brother who stand there for you everytime. No matter what, aku akan selalu ada di belakang atau di depan kamu. Bahkan setelah nanti aku menikah, kayak Bian. We won’t change. Sampai suatu hari nanti, ada yang berjanji untuk selalu bahagiain kamu, kami juga enggak akan berubah. Malah pada saat itu tiba, jumlahnya akan nambah jadi empat orang. Empat orang laki-laki yang akan mati-matian buat kamu, Dek.”
Aku ... aku mengangguk berkali-kali ke dada abangku itu. Meng-aamiin-kan setiap ucapan Bang Rian. Terima kasih, Tuhan, sudah memberikan keluarga yang begitu sempurna.
Beep. Beep. Beep. Sebuah pesan mengakhiri acara pelukan dua kakak beradik ini. Aku mengecek ponsel. Sebuah pesan dari nomor yang tidak terdaftar di kontakku.
+628111213145 : Saya sudah landing. Maaf tadi saya tidak sempat memberi kabar. Apakah Sdr. Kayra sudah berada di bandara?
Oh My Goodness! Mataku terbelalak saat membaca pesan itu. Aku serta-merta menoleh ke arah Bang Rian. “Duh, Bang. Orangnya udah sampai di bandara! Gimana ini?” pekikku.
__ADS_1
Bang Rian juga ikut terbelalak dan panik. “Mampus. Ayok, cabut!” Dia lantas menginjak pedal gas dalam-dalam.
“Abang! Jangan terlalu ngebut juga kali, Bang! Kita mau jemput orang, bukannya mau dijemput sama malaikat pencabut nyawa. Udah, pelanin mobilnya. Aku balas pesan Bapaknya dulu, bilang kita udah on the way ke bandara. Abang! Pelanin mobilnya!” Kutinju lengan atasnya dengan agak keras karena gemas.
Bang Rian akhirnya menurut sambil meringis dan terkekeh.
Sialan. Barulah setelah itu aku mengetik pesan balasan untuk Bapak tersebut.
Me : Maaf, Pak. Saya kira penerbangan Bapak seperti yang diberitahukan kepada saya. Saya harap Bapak bersedia menunggu sebentar, saya sudah dalam perjalanan menuju bandara. Sekali lagi saya minta maaf, Pak.
Beep.
+628111213145 : Tidak apa-apa, Sdr. Kayra. Saya akan menunggu di dalam gerai Roti. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjemput saya
Me : Baik, Pak. Saya akan langsung menghampiri begitu sampai di bandara.
****
Aku melompat ke luar mobil segera setelah Bang Rian berhasil memarkirnya di tempat terdekat dengan gerai Roti yang disebutkan oleh Bapak itu setengah jam kemudian. Bang Rian mengikutiku dengan tergesa-gesa di belakang. Kami berusaha secepat mungkin menembus kerumunan.
Akhirnya gerai Roti itu terlihat, seseorang lelaki berdiri di dekat pintu masuk. Ada sebuah koper kecil di dekat kakinya.
Alex.
****
Alex melihatku sesaat setelah aku melihatnya. Dia di kalakian tersenyum dan berjalan ke arah kami. Aku tertegun, berhenti di tempatku berdiri. Bang Rian juga ikut-ikutan bingung. “Dek, kok kamu diam aja? Tamunya udah nunggu tuh.”
Aku tidak menghiraukan ucapan Bang Rian. Perhatianku hanya tertuju pada Alex yang sudah semakin dekat.
"Dek," desak Bang Rian sambil menyenggol bahuku.
“Enggak perlu, Bang. Orangnya udah jalan ke sini.” Mataku tak lepas dari sosok lelaki muda yang berjalan—hm, tidak, tidak, tidak, melenggok ke arah kami.
“Itu ... ini ... di-dia tamunya? Kamu serius?” Bang Juno terbata. Dia pasti sudah memecahkan pertanyaannya sendiri dan terkejut dengan sosok yang ada di hadapan kami saat ini.
Aku mengangguk. “Tapi, kan tadi kamu panggil dia Bapak? I don’t think he’s that old though ....”
Mungkin Bang Rian berpikir yang akan kami jemput adalah seorang pria dengan usia sekitar lima puluhan, menggunakan setelan mengkilap ala bos-bos besar, dengan kepala botak setengah, tampang sangar, berkumis lebat dan nafas bau cerutu. Mungkin aku juga berharap begitu. Namun, setelah dipikir-pikir, tidak ada donatur yayasan dengan kriteria seperti itu.
Dari caranya memandang “Bapak” yang kami jemput itu; seorang pemuda tinggi berusia dua puluh-an, berwajah campuran, menggunakan celana jeans selutut, kaus polo hitam, kaca mata RayBan dan sneaker, mungkin saja Bang Rian mengalami seperti halnya culture shock, syok tingkat tinggi. Apa yang diharapkannya malah berbanding terbalik lalu berkali-kali jungkir balik dengan kenyataan yang terjadi.
__ADS_1
"Hi, Kayra." Sebuah sapaan dari lidah campuran yang membuat namaku terdengar agak ... aneh.
Bang Rian tidak melanjutkan kalimatnya. Alex benar-benar membuatnya bingung. Aku memilih untuk mempercepat proses ini. Tiba-tiba aku merasa ... aneh. “Bang, kenalin. Ini Bapak Alexander Rahardjo, anak dari pemilik Rahardjo Grup. Perusahaannya adalah salah satu donatur terbesar di yayasan Tante Meli.” Saat Bang Rian tidak juga mengulurkan tangannya seperti yang aku harapkan, aku mengambil tangan lelakiyang bisa-bisanya dilanda oleh perasaan starstruck ketika melihat seseorang pria lainnya itu dan mengarahkannya ke Alex yang segera menyambut jabatan tangan Bang Rian.
“Dan, Bapak Alex, perkenalkan. Ini adalah kakak saya, Rianza Salim.”
Aku memandang Alex sekali lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku, akan tetapi apalah daya. He’s the boss.
Alex lagi-lagi melemparkan senyumnya kepada kami.
Bang Rian akhirnya sadar akan keadaan. Dia segera mengambil koper yang ada di dekat kaki Alex dan memimpin jalan ke arah mobil kami. “Mari, Pak.”
Alex mengangguk dan mengisyaratkan agar aku berjalan duluan. Dengan susah payah aku menahan dengkusan dan bola mataku yang sangat, sangat, sangat ingin berputar di rongganya.
Untuk beberapa saat kami berjalan dalam hening. Tidak ada suara selain keriuhan dari kesibukan orang lain di bandara itu sendiri. Setelahsampai, Bang Rian bahkan membukakan pintu untuk Alex. "Silakan, Pak."
Ih!
Setelah meletakkan koper di dalam bagasi, Bang Rian berjalan ke arahku. Entah apa yang ada di dalam pikiran abangku itu, dia dengan berani-beraninya menegurku. “Kamu jangan ketus gitu sama bos!” desisnya.
Aku berbalik dan tidak menanggapi ucapannya sama sekali. Aku sudah terlanjur merasa tidak enak hati. Kubuka pintu mobil sambil mendengkus.
Bang Rian segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Tak lama setelahnya mobil yang kami tumpangi bergerak menuju ke arah luar kawasan bandara. “Bapak sudah makan siang, Pak?” Bang Rian memulai percakapan bersama Alex.
Aku tidak peduli. Aku memilih untuk tidak peduli dan memusatkan perhatianku pada keadaan di pinggir jalan yang berlalu di luar sana.
“Belum. Any suggestion?” Alex menjawab. “And please, tidak usah panggil saya Bapak. Saya baru dua puluh delapan tahun. Panggilan itu membuat saya merasa sangat tua.”
“Really?” Dari nada suaranya, aku tidak menyangka kalau Bang Rian bisa kembali terkejut. Aku khawatir dengan jantungnya, dia sudah sering kali terkejut dalam satu hari ini. “And you’re the CEO?”
“No, my father is. I’m here to help Kayla out for the project.”
Kenapa mereka jadi berbahasa inggris ria, sih?
“I see. We’re in the same age, by the way. Can I call you by name?"
Ah, Bang Rian, sudahlah.
“Sure. I’m Alex by the way. And you are?”
“Rian. Just call me Rian.”
__ADS_1
Oh, my God!
To be continued ....