Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
42. Emas dan Makanan di Restoran Mewah


__ADS_3

Pertemuan dengan Mr. Rahadi dan Mas Niko, sang arsitek muda andalan RS Grup, berjalan


dengan sangat baik. Tentu saja begitu. Tidak ada yang tidak akan berjalan dengan mulus apabila ditangani oleh perusahaan multinasional sekelas mereka. Alex memberikan kesempatan buatku untuk mempresentasikan laporan di depan mereka dan beberapa orang perusahaan. Dia ... entah kenapa terkesan sengaja mengambil langkah mundur agar aku bisa maju ke depan.


Bahkan selama makan siang pun, Alex bertingkah aneh yang sudah biasa. Dia mengajakku makan di sebuah restoran mewah yang berada di sekitar gedung kantornya. Dan, buset, Saudara-Saudara Sekalian, satu porsi yang akan disajikan bisa berharga setengah emas. Shoot. Aku jadi teringat mendiang nenek dari keluarga Mama jadinya. Almarhumah memang suka sekali menggunakan emas sebagai pembanding harga suatu barang.


Memang dasar manusia yang tidak punya otak dan rasa syukur, aku masih saja sempat-sempatnya mengeluarkan komentar pedas dan tidak berotakku setelah ke luar dari restoran. “Besok-besok kamu mending traktir aku siomay di simpang masuk kantor aku aja, deh, Lex. Porsinya jauh lebih banyak dan hal yang paling penting buat aku adalah harganya juga


jauh, jauh, jauh lebih manusiawi. Lex!”


Akukemudian berseru dengan setengah berbisik, setengah berteriak. "Hargasatu porsi makanan ditambah minuman di sini itu sama dengan harga emas di toko emas terpercaya di kampung aku, kamu tahu gak? Aku rasanya gak mau makan habis ngelihat harga yang ada di daftar menu."


Untung saja si Alex tidak tersinggung oleh ucapan sembronoku itu dan hanya menanggapinya dengan memiting kepalaku sambil bergurau dan tertawa. Dia malah balik mengejek dan mengataiku dengan tak kalah sadis. "Itu perut apa gentong, sih, Kay? Masak 5-course meal gak bisa bikin kamu kenyang?"


Sialan dia!


****


Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa; aku disibukkan oleh urusan yayasan dan kuliah.


Sekarang aku sudah mulai memilah bahan untuk mendukung tesisku nanti. Urusan cabang juga sudah setengah jalan. Pembangunan juga sedang dilaksanakan, targetnya gedung dua lantai dengan konsep rumah minimalis itu akan selesai paling lama dalam dua bulan ini. Oh, iya. Seragam pengiring pengantinku juga sudah kuantar ke salah seorang “penjahit” langganan Tante Meli, kalau istilah “penjahit” pantas disandingkan dengan nama besar yang mengikuti. Sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi agar bisa membayar jasa “jahit” bajuku itu.


Namun, yang terasa sedikit berbeda adalah pesan-pesan Alex yang menggantikan


kehadirannya di saat dia tidak bisa bertemu denganku. Lelaki itu selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan rutin dan mundane di setiap kesempatan yang dia punya. Namun, hal itu tentu saja membuat aku .... Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkan hal yang aneh-aneh. Aku lebih suka menganggap bahwa dia hanya sedang menjalani perannya sebagai perpanjangan tangan Bang Rian.


Ngomong-ngomong soal Bang Rian, dia akan ikut bersama Mama dan Papa dalam kunjungan

__ADS_1


kenegaraan (yaelah) mereka ke Jakarta awal bulan depan. Katanya kangen sama adik


kecilnya, akan tetapi aku rasa alasannya bukan hanya itu. Dia pasti lebih merindukan Alex, the new found bestie-nya.


Spekulasiku terbukti ketika Alex


mengirimi aku pesan setelah video call yang aku dengan Mama lakukan selesai.


Alex : Rian just texted me


Alex : katanya dia bakal ke sini. Benaran?


Alex : dia pengen aku kosongin jadwal sehari dua hari buat dia


Nah, kan?


Tidak terasa sudah sebulan saja sejak kepulanganku ke rumah beberapa waktu yang lalu. Kembali mengingat soal mereka membuat rasa rinduku membuncah-buncah di dada. Ingin rasanya mencabik hari, akan tetapi apalah daya; aku tak bisa. Mencabik-cabik Hari akan membuatku masuk penjara. Aku tidak sadar kalau aku sudah ketularan jayusnya Alex juga sekarang.


siap dongg".


Hm. Aku jadi teringat ongkos bajuku nanti. Dang.


****


Papa, Mama, dan Bang Rian memencet bel rumah di malam hari Minggu tanpa sebelumnya


mengabariku. Aku tercengang dan Mbak Inah panik karena tidak ada persiapan apa pun di rumah untuk menyambut kedatangan mereka. Tanpa ba bi bu lagi aku segera memboyong mereka semua ke salah satu restoran Padang yang terkenal di kota, sekalian dengan Mbak Inahnya.

__ADS_1


Siang keesokan harinya gantian Alex yang memencet bel tanpa memberi kabar; ya, setidaknya padaku terlebih dahulu. Dia baru pulang dari Chicago untuk menghadiri acara reunian kampusnya kemarin dan membawakan kami enam bungkus siomay yang pernah aku ceritakan. “Enggak harus ke Chicago dulu buat makan siomay ginian kan, Lex?” Aku mengomel, akan tetapi tetap menyendok makanan itu ke dalam mulut.


Meskipun tidak mendukung sikap tidak terpujiku, Papa tetap tertawa melihatku cemberut. “Makan dulu aja, Kay. Enggak boleh ribut-ribut di depan


rezeki.”


Aku mencuri pandang pada Alex. Cibiranku tidak jadi terlaksana ketika aku menangkap dia yang sedang menatapku dan di kalakian mengedipkan sebelah mata playfully. Aku tangani rasa grogiku dengan memutar bola mata, berlagak seakan-akan tidak terpengaruh oleh sikapnya yang bernada menggoda.


Weekend berlalu dengan cepat dan sekarang kami mengantar mereka ke bandara untuk kembali ke Padang. Aku membelikan beberapa baju untuk Uni Cya dan Genta, sedangkan Alex memberikan beberapa oleh-oleh yang dibelinya di Chicago untuk Genta. Padaku dia beralasan; seorang temannya menjual baju-baju tersebut dan dia membelinya karena kasihan. Oh, for the love of God, really?


“Kamu beliin Genta baju rajut mahal sementara aku cuma dikasih siomay doang, Lex? Benar-benar deh kamu, ya!”


Sejujurnya aku ingin tahu apakah Alex sudah mulai bosan mendengarkan omelanku selama kami saling kenal. Kami tengah terjebak macetnya Jakarta di akhir minggu di jalan menuju ke rumah.


Tawa yang ke luar dari bibirnya membuatku menjadi semakin kesal.


“Kamu nyebelin tahu ga, Lex.”


Alex melirikku sekilas sebelum sekonyong-konyongnya mengecilkan volume DVD Player yang sedang memutar lagu-lagu dari Coldplay favoritnya itu. “Kayra Salim, kamu ingat gak waktu kita makan di restoran dekat kantor aku beberapa waktu yang lalu?” tanyanya dengan santai.


Namun, pertanyaan itu berhasil membuat aku keki setengah mati. Aku mengangguk dalam tunduk sambil menyengir malu.


"Kamu masih ingat kamu waktu itu bilang apa?”


imbuh lelaki dua puluh delapan tahun itu lagi.


Aku lagi dan lagi menggerakkan kepala naik dan turun. Kemudian kukeluarkan jurus cengengesanku sekali lagi. “Sorry.”

__ADS_1


Alex menggeleng sembari tersenyum dan setelah itu suara Chris Martin terdengar jelas kembali.


To be continued ....


__ADS_2