
Kamis, Jum’at, Sabtu.
Aku menghabiskan waktu yang tersisa di rumah. Berpuas diri menikmati suasana yang nanti tidak akan dapat dinikmati lagi. Bahkan untuk makan malam terakhir, kami lakukan di restoran favorit keluarga dengan traktiran dari Bang Rian.
And as usual, it was amazing.
Setelah adegan curhat di taman malam itu, esok harinya Bang Bian pulang lebih cepat dari biasanya. Kali ini gantian abang pertamaku yang memberikan wejangan. Apa yang mereka katakan kurang lebih sama; aku harus bangkit untuk diriku sendiri. Ketakutan itu berasal dari dalam diriku, dan hanya aku sendiri yang bisa menghilangkannya. Bang Bian juga memberikan pelukan semangat padaku malam itu.
Namun, rasanya ada yang sedikit berbeda dengan Alex.
Dia ... dia jadi lebih memperhatikanku, lebih berusaha untuk menghiburku. Pada saat kami berempat sedang menonton TV, dia akan memberikan remote televisi padaku dan membiarkan aku memilih channel yang akan ditonton . Padahal, kalian tahu, kan, bahwa pemegang remote adalah kasta tertinggi pada saat acara nonton bersama.
Atau, Alex akan menawariku minuman ketika dia mengambil minuman dari dalam kulkas. Atau, membelikanku cokelat di warung ujung komplek saat dia mengajak Genta jalan-jalan ke luar rumah.
Ada apa, sih?
Alex kenapa?
Apa dia salah makan?
Bang Bian dan Bang Rian juga menyadari hal ini. Tentu saja. Tak ada yang luput dari perhatian mereka. Namun, mereka hanya menanggapinya dengan mengangkat sebelah alis, lalu bertatapan, dan melakukan percakapan di dalam kepala mereka masing-masing, bertelepati. Hal yang hanya saudara kembar yang bisa melakukannya. Mama dan Papa hanya mesem-mesem sambil keduanya bergantian memandangku dan Alex. Uni Cya hanya mengedipkan mata padaku.
Ada apa, sih, ini? Kenapa semuanya pada bertingkah aneh seperti ini? Apa yang terjadi? Aku tidak dapat menemukan jawaban lain. Sepertinya semua orang di rumah sudah salah makan.
Aku merekap kembali apa hidangan yang kami santap di restoran tadi di dalam kepalaku. Bang Bonar, si Koki Handal, gak masak yang aneh-aneh, deh, kayaknya.
Ah, kenapa, sih, mereka semua?
****
Everyone is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always. –Anonymous.
****
"Kamu hati-hati di sana, ya. Jaga makan. Jaga kesehatan. Minum vitamin."
Aku mengangguk pada semua ucapan Mama yang sedang sibuk mengecek barang bawaanku. Padahal aku hanya membawa sebuah koper dan dua kotak oleh-oleh. "Iya, Ma. Iya."
"Tante Kayra jangan iya, iya aja. Ingat juga apa kata Oma." Uni Cya ikut-ikutan menimpali.
"Iya, Uni, iyaaaa. Kayra dengar, koook." Aku menanggapi dengan gemas.
Uni Cya yang tengah menggendong Genta di kalakian terkekeh.
"Benar apa yang mama dan unimu bilang, Kay. Kamu pasti bakal sibuk banget ngurus ini dan itu, kebutuhan proyek yang sedang kamu kerjakan untuk yayasan. Jangan sampai lalai jaga diri sendiri. Ya?" Kali ini Papa ikut-ikutan memberikan ceramah.
"Iya, Papa. Kayra janji bakal jaga diri, jaga makan, jaga kesehatan. Oke? Papa dan Mama juga jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran. Gak usah khawatirin aku, aku bakal baik-baik aja."
Mama langsung saja membantah perkataanku. "Gak usah khawatirin kamu gimana maksudnya? Ya, mengkhawatirkan anak-anak ini kan sudah jadi tugas orang tua lho, Kay. Kalau Mama dan Papa gak khawatir, itu tandanya kami tidak menjalankan tugas dengan baik dan benar, dong."
__ADS_1
Papa hanya mengedikkan bahu, seperti hendak berkata, "What can I say? Apa yang dibilang mamamu itu benar." Lagi.
Aku memutar bola mata, menyembunyikan rasa haru di balik tingkah nyelenehku. "Iya, Papa. Iya, Mama. Kalau gitu, kayaknya aku harus bilang gini, ya. Kerjakan tugas kalian dengan baik, tapi jangan sampai sakit. Oke? Lagian di sana kan ada Om Seno sama Tante Meli yang jagain aku. Teman-teman di kantor juga. Di apartemen aku punya Mbak Inah."
"Dan sekarang juga ada Alex." Suara Bang Rian menambahkan dari balik punggung.
Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan kedua abangku serta Alex baru bergabung bersama kami. Mereka sepertinya baru dari suatu tempat di arah belakangku. Aku tidak tahu entah dari mana.
Kening ini lantas berkerut tidak setuju dengan pernyataan yang diutarakan Bang Rian barusan. Heran juga. Apa dasar yang membuat dia bisa berpikiran seperti itu? "Yeeee, maksudnya apa coba? Kayra gak ada urusannya kali sama Alex, Bang. Dia pasti punya banyak kerjaan lain selain ngurusin aku."
"Well, ef wai ai, dia yang sedang dibicarakan ini kayaknya gak keberatan, tuh," celetuk Alex.
Aku menoleh ke arahnya yang kini sudah berada di sampingku. Menengadah, aku melihat alisnya naik sebelah seakan menantangku untuk mengatakan sesuatu soal itu. Aku memilih untuk bungkam dan mencibir. Yeah, real mature. Namun, aku tidak ingin rasanya berdebat dengan Alex di depan keluargaku sendiri. Apalagi disaksikan oleh dua orang abang yang sepatutnya membelaku, bukan berdiri di belakang orang yang baru mereka kenal ini. Nanti saja dibahas kalau sudah tinggal kami berdua.
Setelah jawaban itu, kudengar kekehan dari yang lain. "Sudah, sudah. Barang bawaan kamu udah lengkap semua kan, Dek? Gak ada yang ketinggalan lagi?" Bang Rian bertanya demi mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, Bang. Rasanya semua udah masuk. Mudah-mudahan aja gak ada yang ketinggalan."
"Oke, deh. Hati-hati, ya. Jangan lupa kasih kabar kalau kamu udah sampai di apartemen," perintah Bang Rian seraya menenggelamkanku ke dalam pelukannya. Dikecupnya juga rambutku.
Kubalas pagutannya tak kalah erat.
Gantian selanjutnya giliran Bang Bian. "Dengar kata Mama sama Papa, Dek," ucapnya di telingaku. "Hati-hati di sana. Kalau ada perlu apa-apa langsung kasih tahu Abang. Abang gak peduli kapanpun itu. Kamu dengar?"
"Dengar, Bang."
****
"Apaan, sih, Lex?" Aku akhirnya menodong pemuda itu setelah kami sampai di ruang tunggu keberangkatan. Setelah menahan rasa tak habis pikir selama berpamitan dengan keluargaku dan menunggu proses check-in, aku menyemburkan pertanyaan itu di saat pertama aku mendapatkan kesempatan.
Si Alex malah punya nyali untuk terlihat bingung. "Lho? Kenapa? Aku salah apa?" Dia malah bertanya kembali padaku.
"Iiih, jangan berlagak gak ngerti gitu, deh, kamu!" seruku gemas. Aku menyilangkan tangan di depan dada sembari memutar badan ke arahnya yang duduk di samping kananku. "Maksud kamu apa coba bilang kalau kamu bakal ikut jagain aku segala?"
"Lah, emangnya gak boleh, ya?" Dia masih saja bersikukuh dengan sikap sok lugunya itu.
"Bukannya gak boleh, sih. Tapi, jangan suka janjiin sesuatu yang gak mungkin akan bisa kamu penuhi. Itu bohong namanya," ucapku setengah berteriak setengah berbisik. Meski sedikit kesal, untungnya aku masih memiliki kewarasanku. Aku tidak akan membuat scene di ruang tunggu yang masih ramai oleh calon penumpang lain dan menjadi bahan tontonan.
Alex kali ini hanya menatapku lurus-lurus.
Well ....
Aku berdeham. Lalu menyisipkan rambut ke belakang telinga. Dudukku mulai tak tenang. Aku kemudian memilih untuk mengalihkan pandangan dari mata biru yang indah sekaligus dalam itu. Bisa-bisanya sepasang manik unik milik Alex membuatku grogi seperti ini. Di saat seperti sekarang ini lagi.
Sialan.
Keheningan yang tiba-tiba saja menyelimuti kami membikin rasa canggung semakin menggunung. Kupilih untuk memperhatikan pemandangan di balik dinding kaca besar yang ada di depan. Terlihat beberapa petugas sedang sibuk dengan satu pesawat di lapangan terbang.
"Hey."
__ADS_1
Suara rendah Alex sampai ke telingaku. Aku lantas mengembalikan pandanganku padanga lagi. "Hm?"
"Aku boleh nanya sesuatu gak?" Dia kini juga sudah mengubah arah duduknya sehingga kami sekarang berhadap-hadapan.
Alisku serta-merta bertaut, curiga. "Mau tanya apa dulu?"
Kudengar dia tergelak sekali. "Kamu, ya. Ditanya malah balik nanya lagi."
Aku hanya mengedikkan sebelah bahuku.
"Jadi gimana, nih? Aku boleh nanya gak?" desaknya.
"Iya, boleh. Apa?" Aku menjawab pendek.
"Hm. Tapi, kamu janji dulu kalau kamu gak akan marah."
Aku mendengkus versi terkontrol dengan sedikit penahanan pada udara yang kukeluarkan. Sekali lagi kubilang, aku masih waras. Aku tidak ingin membuat scene di tempat umum seperti ini. "Apa, sih, Lex? Kalau kamu kebanyakan intro nanti yang ada aku marah duluan sebelum pertanyaan kamu ke luar."
Si bule malah tertawa. Dasar!
"Lex!" Aku memelototinya.
"Sorry, sorry." Dia meminta maaf di antara gelak. Hal yang malah menegasi makna dari permintaan maafnya itu. "Kamu, sih, lucu banget."
Kali ini giliranku yang menatapnya lekat-lekat.
Kakahnya memudar hingga yang tersisa hanya sebuah senyum yang terkembang dari ujung ke ujung pipinya. "Kaaan, lucu, kaaan."
Terus saja aku menusuknya dengan tatapan.
"Oke, oke. Sorry, gak bercanda lagi, deh." Dia lalu berdeham. Bola-bola biru itu menjerat manik cokelatku. "Jawab jujur, ya, Lyn."
Setelah mendengar permintaan Alex, sekonyong-konyongnya suasana di ruang tunggu kini menjadi sunyi. Orang-orang yang ada di sekitar kami seketika saja mengabur karena perhatianku hanya terfokus pada laki-laki di depanku itu.
Jantungku mulai berdegup lebih keras dari biasanya.
"Gini. Ehm, aku sebelumnya minta maaf kalau pertanyaan aku lancang atau kelewat batas. Tapi, aku juga rasanya gak bisa menahan rasa penasaran aku. Daripada menduga-duga, aku pikir lebih baik tanya langsung ke kamu. Karena cuma kamu satu-satunya yang punya jawaban yang aku mau." Dia berhenti sejenak sebelum berdeham lagi. "Aku cuma mau nanya, kenapa kamu gak percaya pas aku bilang aku juga mau ikut jagain kamu? Kenapa kamu bilang kalau aku gak bakal bisa memenuhi janji aku?"
What the ...?
Kenapa dia bertanya seperti itu? Pertanyaan macam apa itu? Kepalaku rasanya berputar-putar. Apa jawaban yang harus kuberikan padanya? Aku–
"Selamat sore. Perhatian kepada para penumpang pesawat Citilink dengan nomor penerbangan QG-959 tujuan Jakarta dipersilahkan untuk naik ke pesawat udara melalui pintu C3. Sekali lagi. Perhatian kepada para penumpang pesawat Citilink dengan nomor penerbangan QG-959 tujuan Jakarta dipersilahkan untuk naik ke pesawat udara melalui pintu C3. Terima kasih."
Saved by the airport announcement.
Setelah mendengar pengumuman itu, aku langsung bergerak menuju gate yang berada tak jauh dari tempat duduk kami. Meninggalkan Alex yang aku yakin kini memiliki lebih banyak pertanyaan-pertanyaan lain di dalam otaknya.
To be continued ....
__ADS_1