
Aku bisa melihat Alex yang duduk di sebelah kiriku melirik ke arahku sambil tersenyum. Namun, dia segera membuang pandangan saat aku menoleh dan menangkap basah tatapannya. Aku kembali menatap layar televisi. Dia tidak berkomentar apa-apa. Mungkin saja dia sudah diberi peringatan oleh Bang Bian atau Bang Rian untuk tidak menggangguku atau dia akan berada dalam bahaya.
Aku tidak tahu entah kapan dan bagaimana aku bisa tertidur dengan Genta dipangkuan, yang jelas, aku terbangun saat jari seseorang sedang bermain-main di wajahku. Jari-jari mungil dan halus tepaatnya. Aku berusaha untuk membuka mata yang tak disangka masih sangat lekat dengan satu sama lain bahkan setelah banyak jam tidur seperti ini dan menemukan Genta sudah berdiri di sebelahku dengan Alex yang duduk di samping Genta untuk menjaganya. Dia tertawa memamerkan gigi-gigi kecil putih saat aku menggosok mata dan memperbaiki posisi dudukku.
“Tante Kay udah bangun tuh, Gen.” Alex berbicara pada Genta yang kini sudah dalam posisi duduk. Bocah satu setengah tahun itu mengambil boneka dinosaurus kecil kesayangannya yang tergeletak di atas sofa, di dekat kaki yang sama kecilnya. Genta melihat padaku saat Alex menyebut namaku. Aku menjadi gemas dan segera menghujani pipi gembulya dengan ciuman.
“Maafin Tante Kakay ketiduran ya, Sayang," ungkapku di sela-sela hujan kecupan yang kusebar di seluruh penjuru wajah dan badannya yang gembul. Perut gendutnya yang lembut juga tak luput dari serangan. Dia kemudian berteriak, antara tertawa dan kesal, minta untuk segera dilepaskan. Aku tertawa lalu bangkit dari tempat duduk. “Lex, lihatin bentar, ya. Aku mau cuci muka dulu.” Aku berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Keluar dari kamar mandi, aku baru menyadari bahwa rumah terasa sangat sepi. Kecuali suara Alex dan Genta yang sedang bermain, aku tidak mendengar suara dan melihat keberadaan siapa pun selain kami. Bahkan Mama dan Papa. “Yang lain pada ke mana, Lex?”
Alex seketika mendongak, melepaskan pandangannya dari mainan yang mengelilingi Genta sejenak. “Papa, Mama, Bian sama Cya lagi ke acara nikahan salah satu anak teman Papa kamu yang juga temannya Bian. Dan si Rian, sih, katanya mau se suatu tempat. Dia sempat bilang ke mana sih tadi, tapi aku lupa nama daerahnya. Aduh, ke mana, ya?” Dia terlihat berpikir dengan keras untuk mengingat kata-kata yang hilang itu.
“Oh, ya udah. Gak apa-apa. Paling dia mampir ke studionya di Pandan."
"Nah, itu dia! Pandan! Kenapa aku bisa lupa, ya?" Dia tergelak sendiri.
__ADS_1
"Terus Genta enggak ikut mama sama papanya, dong?” tanyaku saat kembali menghempaskan tubuh ke atas sofa.
"Enggak. Tadi pas dia bangun, aku langsung ambil soalnya kamu tidur pulas banget. Aku ajak main. Eh, pas Bian sama Cya udah siap buat berangkat, dia malah enggak mau ikut. Mungkin dia lebih pengen main sama aku daripada ikut orang tuanya. Secara kan aku gitu lho, yaa.”
Aku mencibir dan memilih untuk mengabaikan kalimat narsis lelaki itu. “Kamu udah makan siang, belum?”
Alex seketika menggeleng. "Nanti aja, si Genta masih mau main ini."
Kulihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh lima. “Jangan gitu, ah. Udah jam segini. Kamu makan duluan aja, biar aku yang main sama dia. Habis itu gantian.” Aku mengulurkan tangan tangan pada Genta, akan tetapi tak disangka tak dinyana diabaikan oleh si bocah keponakan pertamaku itu.
“Nah, kan? Dibilang juga apa. Yok lah, kalau gitu kita makan siang barengan aja. Genta juga udah waktunya dikasih snack deh kayaknya.” Dia di kalakian berdiri dan Genta langsung mengulurkan tangannya pada lelaki itu. Alex menggendong Genta dan mengangkatnya tinggi, membuat Genta tertawa terbahak-bahak.
Kami berjalan menuju ke dapur. Dengan Genta berada dalam gendongannya, Alex masih bisa mengangkat kursi makan anak yang sudah pasti berat itu, kemudian mengambil mangkok yang diisinya dengan potongan buah untuk Genta yang sudah disiapkan Uni Cya di dalam kulkas.
__ADS_1
Aku memperhatikan gerak-gerik Alex; bagaimana dia melakukan semuanya dengan ... easy. Luwes. Gerakannya tidak terlihat kaku sama sekali. Menggendong Genta, mengambil kursi, dan sekarang menyiapkan makanan. Genta juga terlihat sangat nyaman berada dalam pelukannya. “Kamu kayaknya udah pengalaman banget ya, Lex. Jangan-jangan kamu itu bapak-bapak beranak lima yang ngakunya masih single buat nyari mangsa, ya?”
Alex menatapku agak lama dan kemudian tersenyum, akan tetapi dia tidak mengatakan apa pun. “Lunch is ready. Waktunya makan!” He talked to Genta with a bright voice. Genta otomatis mengangkat tangannya dengan antusias. Alex mendudukkan Genta di kursi makan yang sengaja diletakkan di antara kursi kami. Dia kemudian memasang celemek makan di sekeliling leher mini me-nya Uni Cya itu.
Aku menyuap nasi dengan lauk dendeng lado hijau yang sudah ada di atas meja sambil memperhatikan mereka berdua. Genta yang makan dengan lahap dan Alex yang dengan cekatan selalu mengawasinya; membersihkan bibir dan pipi Genta yang belepotan, membersihkan pinggiran mangkok, bahkan memberikan kata-kata yang membuat Genta lebih bersemangat untuk menghabiskan snack-nya. Another side of Alex I just found out. Another thing to add to my list.
Aku tidak tahu sepanjang apa list ya g aku buat itu nantinya kalau selalu saja ada bagian dari Alex yang bisa kutemukan setiap kali kami berinteraksi.
Bang Bian dan Uni Cya datang saat kami baru saja menyelesaikan makan siang dan Genta lagi dan lagi meminta bermain bersama Alex. Aku bukannya tidak ingin ikut bermain, akan tetapi apa yang dilakukan Alex hari ini bersama Genta sepertinya memberikan semacam shock hebat di dalam kepalaku.
He looks so experienced and ... hot with how easy he was handling all the things. And the baby. Cowok tampan yang pintar. Gurus anak itu level ketampanannya seketika bertambah satu miliar kali lipat di mataku.
Dang it, Lex. Apa ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh lelaki ini? Apa kelemahan kamu, Lex? Apa yang bisa aku jadikan sebagai nilai minus? Kenapa yang aku temukan selalu hal yang positif, sih? Kamu gak mungkin sesempurna ini, kan? Kamu pasti ada kurangnya juga, kan? Ayo, Lex, kasih tahu aku sisi kamu yang lain. Aku mau mengenal seluruh bagian dari dalam diri kamu. Aku gak mau cuma tahu yang manis-manisnya aja. Aku juga mau lihat sisi gelap yang kamu punya. Aku mau lihat semuanya, Lex, agar aku yakin sama keputusan yang sepertinya akan aku ambil ini.
__ADS_1
To be continued ....