Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
24. Ringan


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari Tante Meli, aku langsung memesan tiket pesawat dan pulang ke rumah untuk bersiap. Aku harus membujuk Mbak Inah yang sedikit merajuk karena ditinggal selama seminggu dengan keripik sanjai balado khas dari Bukittinggi. But, it's okay. Kalaupun Mbak Inah tidak ngambek, aku juga pasti akan membelikannya oleh-oleh.


****


And ... here I am.


“Abang di mana? Kayra udah turun pesawat nih, Bang. Ini langsung ke luar kok.” Aku celingak-celinguk ke arah luar dari pintu kedatangan. Ternyata Bang Bian sudah berada di sana, melambai-lambaikan tangannya untuk menarik perhatianku. Aku menjadi terlalu bersemangat untuk bertemu kangen dengan Abang nomor satu-ku itu. Cepat-cepat aku berjalan untuk menghampirinya, senyum yang mengembang daei telinga ke telinga tidak dapat ditahan. Bang Bian langsung saja merentangkan lengan kirinya sehingga aku bisa segera masuk ke dalam sana. Dipeluknya aku erat-erat untuk beberapa saat sebelum mengecup puncak kepalaku. Dia dan aku di kalakian melepaskan pagutan kami di waktu yang bersamaan.


Ah, aku sudah bisa mencium aroma rumah.


****


"Maa, ada tamu!” Aku bisa mendengar Bang Bian berteriak untuk memanggil Mama saat masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


Aku segera keluar dari mobil dan berlari menuju pintu depan. Pintunya tertutup seperti dugaanku. Aku lantas memencet bel tiga kali.


“Iya, tunggu sebentar.” Terdengar seseorang menyahut dari dalam.


Suaranya terdengar lembut, pasti itu suara Mama. Yes, kejutanku sedikit lagi berhasil. Kegirangan dan antisipasi yang kurasakan sudah sampai di ubun-ubun. Aku sudah siap untuk menyambut Mama dengan kedua tangan terkepal di depan dada, yang siap untuk kelemparkan ke udara saat melihat orang tua perempuan itu. Namun, tak disangka tak dinyana, yang membukakan pintu malah seorang lelaki kekar. Bukannya wanita berusia lima puluh tahunan yang bertubuh kecil dan mungil.


“Waaaaaa, adik kesayangan Abang pulaaang. Mamaaa!” Kini giliran abang nomor duaku itu yang memelukku dengan erat, kegirangan.


What in thr actual hell? Apa yang sudah terjadi?


Yang jelas rencanaku gagal total. Keinginan awal—yang telah aku beri tahukan pada Bang Bian—adalah aku ingin Mama yang membukakan pintu, tidak si manchild banyak bacot yang merupakan kembarannya Bang Bian ini. Aku sekonyong-konyongnya langsung memasang muka masam.


“Kenapa cemberut kamu? Enggak senang ketemu sama Abang, ha? Enggak kangen sama Abang, ya?” Sudahlah. Kubilang juga apa. Bang Rian memang terlalu banyak bicara.


“Mama mana?” Aku masih berdiri di depan pintu, dengan tangan bersilangan di depan dada dan wajah cemberut.


Ekspresi Bang Rian melembut dan dia akhirnya memelukku dengan benar kali ini. “Mama sama Papa ada di dalam, Dek, mau siap-siap makan. Yuk, masuk dulu. Jangan kayak vampir kamu. Nunggu diundang dulu sebelum masuk ke rumah.”


Kutepuk lengan berotornya dengan sepenuh hati.


Abangku itu malah semakin terkakah-kakah.


Akhirnya aku menyerah dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah menjadi tempat tinggal sekaligus tempat kami memulangkan segala keluh kesah semenjak hari pertama kami, anak-anak dari Bapak Deni dan Ibu Ayu, lahir ke dunia ini.


Di dalam, kulihat Mama dan Papa sedang duduk tenang di kursi yang mengelilingi meja makan untuk sepuluh orang itu. Tidak ada ekspresi terkejut, pun ekspresi mereka juga tidak terlalu biasa. Ada sebuah cahaya yang berbeda daei keduanya yang tidak kudapati saat melakukan panggilan video terakhir kali.


Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati. Aku seketika melirik Bang Bian. Pasti dia sudah memberi tahu kepada Mama kalau aku akan pulang ke rumah hari ini.

__ADS_1


Sadar akan tatapanku yang menusuk, semua orang tertawa. Aku seketika saja berlari mengejar Bang Bian, hendak meluapkan kekesalanku padanya. “Tadi kan Abang udah janji gak bakal nasih tau Mama dulu, Baaang.” Aku masih terus mengejarnya dengan gemas.


Tawa Bang Bian semakin keras bahkan Bang Rian kini juga ikut-ikutan.


“Kayra, Sayang, sudah, sudah. Sini duduk dulu, makan dulu. Kamu enggak capek apa? Baru sampai langsung lari-larian gitu.”


Aku seketika menghentikan langkahku setelah mendengar suara Mama. Kupandang kedua orang tuaku itu dalam-dalam, lwbtih lama daeiyang pertama kali kulakukan. Ah. Aku belum menyapa mereka. Dasar anak macam apa aku ini. Oleh sebab itu, aku lantas beranjak dan memberikan ciuman di pipi keduanya.


Papa tersenyum dan menepuk pundakku beberapa kali saat aku mengalungkan lengan di leher beliau. Sementara Mama berdiri dan memeluk tubuhku erat dengan tubuh kecilnya. “Tadi Bang Bianmu telepon Mama, katanya kamu barusan nelepon dia dan bilang mau pulang. Tapi, kami harus berlagak pura-pura enggak tahu, biar rencanamu berhasil. Tapi, ya, gitu deh. Mana tahan Bang Rianmu buat gak godain adiknya?” Mama kemudian tersenyum lebar. Kebahagiaan saat melihat ketiga anaknya berada di satu rumah terpancar dengan begitu terang di raut mukanya.


Setelah menikmati pemandangan itu, aku mencibir kepada abang kembar yang kini tahu-tahu sudah duduk bersebelahan di seberang meja. Aku mengikuti mereka dan menggeser kursi di samping Mama kemudian ikut duduk.


Selesai makan, aku membereskan barang bawaanku di kamar dan berganti baju. Nanti saja mandinya sebelum tidur. Lagi pula aku juga akan mandi saat akan tidur nanti, sudaj terbiasa dari dahulu.


Aku di kalakian ke luar dari kamar dan bergabung bersama Papa, Mama, dan Bang Rian. Bang Bian sedang menjemput Uni Cya dan Malik untuk menginap di sini. Kami kembali sibuk bercerita, bercanda, dan tertawa dengan soundtrack suara suara televisi.


Ah, ini keluargaku. Aku benar-benar merindukan mereka. Mereka memang tiada duanya.


****


Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh lima malam, Mama dan Papa sudah masuk ke kamar mereka untuk beristirahat kira-kira setengah jam yang lalu. Bang Bian dan Uni Cya sedang menidurkan Malik. Kini tinggal aku berdua dengan Bang Rian yang masih bertahan dan kami memilih untuk benar-benar menonton TV.


“Dek.” Bang Rian memanggilku.


“Kamu kenapa engga bilang ke Abang kalau Che jahatin kamu?”


Eh, what? Rasa kaget membikin aku menoleh dengan cepat ke arah Bang Rian dengan mata yang melotot.


“Jangan bilang kalau enggak ada apa-apa, ya. Abang tahu. Abang tahu semuanya.” Bang Rian juga memutar kepalanya hingga pandangan kami bertemu.


Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Bukan karena membahas Che lagi akan membuatku sakit hati, akan tetapi kini aku benar-benar diliputi rasa bersalah dan malu kepada abangku itu. Rasa-rasa tersebut memberatkan kuduk dan membuatku tertunduk.


“Dek, Abang sayang sama kamu. Bian juga. Kami gak mau kamu sakit, apalagi disakitin kayak gitu. Kami selama ini tahu ada yang salah sama kamu, perasaan kamu, tapi si Kunyuk Bian itu bilang kalau kami harus percaya sama kamu. Kamu pasti bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri karena kamu udah dewasa. Makanya Abang sabar-sabarin setiap ketemu sama cowok-cowok itu. You know how much we love you.” Bang Rian menghela napas panjang. "I want to hurt them so bad for hurting you."


Oh, dear. Apa yang dikatakan Bang Rian barusan betul-betul membuat sesuatu di baling tulang rusukku menyelekit. Dia sungguh terdengar sangat terluka. Dia betul-betul penuh rasa kesal


Suara pintu yang ditutup mengisi kekosongan di antara aku dan Bang Rian. Tak lama Bang Bian sudah ada di samping sofa tempatku duduk. Dia mengisyaratkan agar aku menggeser posisiku hingga aku berada di tengah-tengah mereka.


Kutegakkan kaki lalu kulingkarkan kedua lenganku di sekelilingnya. Kutopangkan dagu di atas lutut yang tegak. Bang Bian yang duduk di sebelah kiri kini mengelus rambutku penuh kasih sayang. “Kay, Abang sayang banget sama kamu. Kamu satu-satunya adik perempuan kami. Tapi, Abang boleh tanya sesuatu? Apa kamu enggak anggap kami sebagai kakak juga, hm? Kenapa kamu diam aja saat punya masalah?”


Dia berhenti berbicara hanya untuk menarikku ke dalam pelukannya. Tak pelak tangisku pun pecah. Dalam sekejap aku sudah tersedu di dada abang pertamaku itu. Meski aku menangis di dalam pelukan salah satu mereka, akan tetapi kedua abangku itu sepertinya sepakat untuk membiarkan adiknya menangis dalam diam. Bahkan Bang Rian sengaja menambah volume televisi agar dapat menenggelamkan isakku.

__ADS_1


Rasanya lama sekali aku menangis sampai akhirnya aku berhenti dan dapat menemukan suaraku kembali.


Kuambil remote untuk mematikan suara TV di depan kami. “Abang, maafin Kayra.” Aku mulai angkat bicara. Sambil menunduk, kulepaskan tubuhku dari kungkungan lengan Bang Bian. “Kayra gak kasih tahu Abang karena Kayra enggak mau bikin Abang berdua khawatir. Abang pasti bakal marah sama mereka. Aku gak mau dianggap enggak dewasa karena ngadu sama Abang.”


“Mereka? Maksud kamu Harris juga?” Bang Rian lekas menanggapi dengan nada bicaranya yang rendah namun membuat bergidik.


Aku mengangguk. Kulihat Bang Rian meninju bantal kursi sambil memaki di bawah napasnya.


“Rumor yang beredar kalau si Harris sialan itu ngeduain kamu. Jadi itu benar?” Kini Bang Bian yang meminta konfirmasi.


Aku mengangguk lagi.


Dari jangkauan penglihatanku, aku bisa melihat tangan-tangan maskulin yang ada di kedua sisiku mengepal dengan kuat.


Aku cepat-cepat menggeleng, berharap dengan begitu emosi mereka mereda. “Tapi, itu semua udah enggak ada artinya sekarang, Bang." Kutatap keduanya bergantian. "Kayra udah enggak apa-apa. Aku udah lebih baik sekarang. Aku udah move on kok.”


Keheningan terjadi beberapa saat sembari mereka menguasai diri.


“Jadi ... kamu sengaja pergi ke Jakarta biar bisa jauh dari semua itu?” Bang Rian akhirnya bertanya lagi. Aku yakin pertanyaan-pertanyaan ini ada karena mereka mencoba mengumpulkan potongan-potongan puzzle kehidupanku.


“Awalnya iya, Bang. Biar aku bisa buka lembaran baru tanpa bayang-bayang dari mereka. Pas aku berangkat, aku bertekad bahwa aku akan meninggalkan semua perasaan sakit itu di sini. Tapi, semakin hari alasannya semakin bertambah. Aku benar-benar mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan aku, aku bisa lanjutin sekolah, bahkan seiring berjalannya waktu, perasaan sakit aku pun hilang, Bang. Sekarang aku udah lupa sama gimana sakitnya." Sekali lagi kutatap kedua kakak laki-lakiku itu bergantian untuk meyakinkan mereka bahwa apa yanh aku katakan itu benar adanya. "Abang harus percaya sama aku.”


Mereka balik menatapku, kening masing-masing berkerut dengan cara yang sama. Mereka masih tampak ragu.


“Abang lihatnya jangan gitu.” Ah, sialan. Aku tidak ingin berlama-lama diamati seperti ini. Aku tidak punya pilihan lain selain menggunakan senjataku yang paling ampuh. Aku mulai merengek karena aku tahu aku tidak akan pernah menjadi wanita dewasa di depan mereka.


Bang Rian kini yang menyuruhku untuk mendekat padanya dan aku menurut. Kemudian aku kembali masuk ke dalam pelukan hangat yang penuh perlindungan, akan tetapi kali ini dengan tubuh yang lebih kekar dan berotot dari tubuh yang sebelumnya. Aku rasa inilah salah satu alasan kenapa tidak ada yang bisa menggantikan keluarga.


“Abang percaya sama kamu, Dek. Kamu itu adik kami yang paling hebat dari dulu.” Dia mencium rambutku.


Aku tidak tahan untuk tidak menjawabnya. "Aku adik Abang satu-satunya. Karena gak ada yang bisa menghadapi kalian selain aku."


Aku bisa merasakan kekehan Bang Rian yang menggetarkan dadanya. "Sialan kamu. Abang serius ini. " Dia kemudian berdeham. "Maafin Abang karena kami enggak ada buat kamu saat kamu butuh, ya, Dek. Tapi, itu bukan berarti kami gak peduli. Bian yakin kalau kamu pengen melewati ini sendiri, kamu bisa menanganinya sendiri. Itulah alasan kenapa kamu enggak cerita sama kami. Iya, kan?”


Aku mengangguk sekali.


Bang Rian lalu mengelus rambutku. “Gak nyangka kamu udah dewasa banget sekarang, ya. Perasaan baru kemaren kamu lari-larian cuma pake pampers doang.”


Aaargh! Bang Rian bikin malu! Aku lantas memukul perutnya yang keras dan membuat sakit tanganku sendiri.


Tawa pun pecah. Aku ... aku merasa lebih ringan sekarang.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2