
Semenjak saat itu aku memasukkan alamat email Che ke daftar spam. Dengan demikian aku tak perlu repot dan merasakan cemas serta kesal saat mengecek dan menanggapinya lagi ketika dia berpikir sungguh patut bagi seseorang yang telah menyakiti aku seperti dirinya untuk mengirimiku pesan yang tidak jelas dan tidak penting semacam itu lagi di masa yang akan datang. Semuanya sudah selesai sekarang. Banyak hal lain yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Banyak hal yang jauh lwbih pwnting dan lebih perlu untuk kuprioritaskan. Tidak ada waktu dan tenaga lagi buat memikirkan orang-orang yang seharusnya kutempatkan di masa lalu.
Aku sudah mulai mengerjakan tesisku. Pembangunan kantor cabang juga sudah hampir selesai, jadi kami juga sudah mulai melakukan persiapan untuk acara peresmian. Selain itu ada satu hal yang semakin lama semakin menyita pemikiranku. Pernikahan Mimi tinggal dua minggu lagi dan aku belum mengambil baju yang ada di “penjahit” itu. Percayalah. Dua bulan ini aku sudah berusaha untuk berhemat dan menabung setiap sen yang bisa kusisihkan, akan tetapi aku tetap saja khawatir. Gimana nanti kalau uang yang kumiliki ternyata kurang? Aku harus pinjam pada siapa? Aku tidak ingin "mengadu" lagi sama si Alex karena nanti pasti dia akan bilang kalimat andalannya. “Ambil aja. Anggap itu bla bla bla.” Kalau bilang ke Tante Meli, aku agak malu. Bukan agak sih, akan tetapi sangat malu. Sudah dibantu untuk mencarikan tempat menjahit baju yang bagus, sekarang malah minta dibayarkan pula. Duh, sungguh aku tidak mau. Enggak enak, aku sudah terlalu banyak merepotkan keluarga mereka. Mau mengadu ke Bang Bian atau Bang Rian, malasnya juga. Ogah banget kan kalau harus mendengarkan repetan mereka dulu sebelum mendapatkan duit yang memang sejak awal juga sudah akan ke luar dari saku mereka itu. “Kenapa ongkos jahitnya bisa semahal itu, Kayra? Baju kamu memangnya terbuat dari apa, hm? Apa benangnya pakai benang emas? Kainnya dari apa?.” Mereka—eh, no, no, no, bukan mereka, akan tetapi Bang Rian—bisa melebihi emak-emak kalau sedang mengomel. Maka dari itu aku benar-benar berniat untuk menghindari apa pun yang berpotensi membuatku menerima omelan si kembar itu.
Aku harus bagaimana, Tuhan?
Aku akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Tante Meli dengan muka yang kutebal-tebalkan. Namun, siapa yang menyangka kalau wanita paruh baya nan masih terlihat seperti seseorang yang berusia tiga puluhan itu menjawabnya dengan menyodorkan sebuah tas berlogo “penjahit” terkenal tersebut? “Ini, Ra. Beberapa hari yang lalu Mbak Anne telepon Tante, buat kasih tahu kalau baju kamu udah jadi. Karena lagi di luar, Tante pikir gak ada salahnya sekalian Tante mampir ke tempat dia dan jemput baju kamu itu. Coba dilihat dulu, sana. Dicek. Sesuai keinginan hasilnya apa enggak,” terang Tante Meli dengan senyum yang membelah wajah cantiknya sembari mengulurkan tangan yang berisi ke arahku.
Aku meraih tas kertas putih berlogo House of Anne berwarna emas tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Tidak enak, karena sekali lagi Tante Meli telah berhasil menambah besar hutang budi yang harus kubayar di kemudian hari.
Tante Meli di kalakian berdiri dari kursinya dan berjalan mengelilingi meja kerja menuju ke arahku. “Ayo, Ra, dicoba dulu bajunya.” Beliau mengambil tas itu dariku dan mengeluarkan baju di dalamnya. Baju cantik kedua setelah gaun sutra yang diberikan Alex. Aku jadi ingat kata-kata Alex waktu itu bahwa harga memang tidak pernah bohong. Benar, harganya sepadan dengan hasil yang diberikan oleh nama besar itu.
Aku menoleh pada Tante Meli. “Bajunya cantik banget. Ini ongkosnya pasti mahal kan, Tante?”
Tante Meli hanya tersenyum.
“Kamu jangan khawatir, Mbak Anne bilang ini gratis. Beliau bilang cukup post foto kamu pake bajunya terus kirim ke tim mereka. Nanti biar Tante yang bantu untuk soal itu. Kamucuma tinggal foto aja.” Tante Meli mendekatkan baju itu ke badanku. “Beliau bilang kalau kamu pasti cantik banget pake baju ini, makanya beliau mau bayarannya diganti sama foto aja. Daripada harus nyari model lagi, kan?" Wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri itu lalu tertawa renyah. Dia mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi, Tante emang setuju banget sama Mbak Anne. Baju ini udah cantik, tapi pasti jadi cantik banget kalau kamu yang pakai. Mudah-mudahan teman kamu yang jadi pengantin enggak marah, ya. Secara cantiknya jadi tersaingi sama kamu.” Tante Meli membelai pipiku lembut dan meletakkan baju itu kembali ke dalam tas.
Well, I don't know what to say to that comment. I don't even know how to take it, really. Di satu sisi, aku senang sekali mendapatkan pujian dari seorang Anneke Zayn, salah satu perancang mode ternama di Indonesia. Ditambah lagi aku bisa memakai baju hasil dari pekerjaan tangannya dan diberikan kesempatan untuk "mempresentasikan" karya itu di dalam potretan-potretan nanti.
Namun, di sisi lain, komentar terakhir Tante Meli terngiang-ngiang di telingaku. Apa yang akan dilakukan oleh Lulu ketika aku memakai gaun ini nanti? Apakah benar dia akan marah padaku? Apakah gaun ini terlalu berlebihan jika aku pakai sebagai pendamping pengantin? Memang, bajunya hanya didesain dengan model mermaid yang menutupi kakiku dan bodice serta lengan panjang yang terbuat dari bahan brokatnya. Meskipun demikian, entah apa yang bisa membuat baju ini terlihat ... lebih.
Ah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap hal ini.
****
Setelah berterima kasih berulang kali dan akhirnya ke luar dari ruangan Tante Meli dengan hati yang mendua, aku langsung mengirimkan pesan pada Alex. Dia adalah orang pertama yang terlintas di kepalaku saat Tante Meli menyebut bahwa aku harus mengambil foto dan memberikannya ke Tante Meli lagi sebelum beliau yang menyerahkan pada tim Anne Zayn. Setelah aku tanya kenapa Anne Zayn tidak mau ikut campur dalam pengambilan gambar secara langsung, Tante Meli hanya mengedikkan bahu dan berkata, "Tante bilang sama Mbak Anne kalau kamu udah lunya fotografer pribadi."
Ternyata beliau dan aku mempunyai ide yang sama. Aku ... juga tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan komentar Tante Meli yang ini. Sepertinya komentar-komentar yang dikeluarkan oleh beliau hari ini terlalu spot on.
Me : yo, Mister
Me : kamu mau aku kasih kerjaan gak?
****
Namun, sampai keesokan harinya Alex belum jua membalas pesanku. Kenapa, ya? Apa yang terjadi? Hm. Aku rasa kami tidak punya masalah apa pun, akan tetapi dia juga tidak memberi kabar padaku kalau dia akan pergi ke suatu tempat atau melakukan suatu perjalanan. Ah, sudahlah. Memahnya aku pikir aku siapa? Alex pasti sedang sibuk sehingga dia tidak bisa membalas pesanku sekarang. Lagi pula fotonya tidak harus diambil saat ini juga, kan? Kalau dia memang tidak sempat, fotonya bisa diambil nanti saja pas acara Lulu. Kalau sudah sampai di rumah, aku akan meminta tolong pada Bang Rian.
__ADS_1
Iya, Bang Rian juga ada. Aku hanya harus bersabar untuk beberapa hari lagi.
Namun, masalahnya adalah ... aku tidak sabar lagi. Tidak lama kemudian, ponselku berdenting. Ketidaksabaranku dibuktikan dengan betapa cepatnya tangan ini menyambar gadget yang di atas meja itu.
Lulu : sepuluh hari lagiiiiiiiiiiiiii
Ah, sial. Bukan dari Alex. Malah yang aku pelototi sekarang adalah chat Lulu yang sudah rutin dikirimkannya sejak tiga puluh hari yang lalu. Bayangkan, kami sudah melewati dua puluh hari menerima pesan seperti ini. Awalnya kami menanggapinya dengan antusias, ikut berdebar dengan hitungan mundur yang dilakukannya, akan tetapi setelah hari kelima, ke-excited-an itu memudar hingga tak ada yang memberi tanggapan seantusias pertama kali.
Namun, setelah dipikir-pikir, Lulu sekarang pasti sangat grogi sehingga diabaikan oleh kami pun tidak menjadi masalah baginya. Dan aku merasa sikap kami mungkin agak sedikit kejam. Seharusnya kami tetap mencoba untuk menjadi sahabat yang baik tidak peduli bagaimanapun sikap tidak jelas yang Lulu berikan. Memikirkan hal itu, aku mengetik sebuah balasan untuk si calon manten.
Me : Iya iya, non
Me : hitung yuk
Me : 10,9,8,7,6,5,4,3,2,1 goooo!
Lulu : Kaayy, baju aku udah muat lagi dong
Lulu : haha
Me : really?
Me : semangat ya
Me : tapi beratnya jangan sampai nambah lagi
Me : tukang jahitnya bisa repot banget nanti
Lulu : siaaap
Lulu : makasih ya, Kakay cantiiiiik
Lulu : kapan pulang?
Me : Friday night, Lu
Me : aku engga ambil cuti soalnya senin ada ujian di kampus
__ADS_1
Lulu : yang penting kamu ada pas hari H-nya yaaa
Lulu : enggak sabar
Me : me too
Lulu, Lulu, Lulu. Aku jadi ingat kalau aku belum memesan tiket untuk hari Jum’at depan. Aku segera log-in ke akun di salah satu situs pemesanan tiket online. And ... done. What a world. Semuanya bisa dilakukan sambil duduk dengan hanya menyentuh layar ponsel.
Me : Neng, aku udah pesan tiket kita ya
Me : Jum’at malam
Wide : Siap siap
Wide : eh kadonya apaan?
Iya, urusan kado pernikahan Lulu sudah kami bahas jauh-jauh hari. Jauh sebelum dua minggu yang lalu waktu Lulu mengirimkan fotonya dalam gaun pernikahan. Ya Tuhan. Nervous can affect your eating skill ternyata. Sebulan sebelum pernikahannya, berat badan Lulu sudah naik tujuh kilogram! Dia berhasil membuat pihak Wedding Organizer kebingungan setengah mati. Mereka kemudian memutuskan untuk membongkar gaun yang sudah jadi itu. Aku masih ingat foto yang dikirimkan Lulu. Ritsleting yang tidak bisa dinaikkan dan bagian yang meledak di sana dan sini. Ampun, deh!
Me : I don’t know
Me : chat di grup aja yuk
Kami memang membuat satu chat grup baru tanpa mengikutsertakan Lulu untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan keperluan persiapan pernikahan Lulu dari kami yang bersifat rahasia, seperti urusan kado ini.
Me : kado buat Lulu jadinya apa, guys?
Tiba-tiba semua anggota grup menjadi aktif. Ke mana mereka saat Lulu mengirim pesan tadi? Dasar.
Wide : kasih duit ajaa
Anggre : kalau duit nanti engga bisa dikenang dong
Anggre : Barang deh
Mimi : iya
Mimi : kasih cincin aja
__ADS_1
Dan kami sepakat dengan kado berbentuk cincin emas.
To be continued ....