
Mbak Inah membangunkanku karena dia mendengar seseorang memencet bel rumah beberapa kali. Wanita itu terlihat cemas saat aku menemuinya di depan pintu kamar. “Non Kayra, siapa sih yang mencet bel malam-malam gini? Mbak jadi takut banget.”
Aku menggosok-gosok mata sambil mencoba mencerna apa yang Mbak Inah katakan dengan terburu-buru. "Apa, Mbak? Mbak Inah bilang apa barusan?"
"Ada orang di depan, Non. Lagi mainin bel rumah. Dia mencet berkali-kali. Mbak jadi takut banget, Non. Malah udah mau tengah malam lagi."
Perkataan Mbak Inah dan caranya mengucapkan itu membuat aku benar-benar terbangun sekarang. Segera saja aku berjalan untuk mengambil sapu yang ada di dapur sebelum kembali bergerak menuju ke arah pintu depan. Orang yang ada di balik pintu memencet bel sekali lagi.
Bukannya takut seperti yang dirasakan oleh asisten rumah tanggaku itu, aku malah merasa sangat kesal. Akubaru saja tertidur setelah seharian sibuk mengurusi ini dan itu di kantor dan kampus. Belum lagi mencoba sekuat mungkin untuk menenangkan hati karena sudah dari kemarin tidak ada kabar dari Alex.
Semua akan lebih baik kalau yang datang itu orang penting, yaa. Soalnya ini udah jam setengah dua belas malam, hellow! Kalau hanya orang iseng, atau bahkan setan yang cuma mau nakut-nakutin saja, siapa pun itu akan terima akibatnya. Aku tidak segan-segan jika harus membuat setan itu mati untuk yang kedua kalinya.
Aku berjalan ke pintu dengan tangkai sapu yang sudah dalam posisi siap di tangan kanan. Aku memutar kunci dan membuka pintu lambat-lambat. Kuintip siapa pun yang ada di balik pintu dari celah yang terbuka sedikit itu. Mataku bertemu dengan pemandangan yang ... tidak biasa. Seseorang yang masih memakai setelan kerja mahal dengan wajah campuran tampan yang lumayan lelah berdiri di depan pintu.
Alex.
Tangkai sapu otomatis turun dari posisinya dan langsung kuberikan kepada Mbak Inah. Kubuka pintu depan dengan lebih lebar sehingga aku benar-benar bisa mengkatalogkan keadaan lelaki yang kini berdiri di hadapanku dengan senyum yang terkembang sumbang di wajahnya yang kuyu. “Alex?"
Dia membalas sapaanku dengan serak. "Hey."
Sekonyong-konyongnya perasaan kesalku berubah menjadi iba. "Masuk dulu, Lex. Kamu kelihatannya capek banget. Kamu mau dibikinin kopi?”
Lelaki tersebut segera masuk dan berjalan menuju ke ruang tengah dan dia langsung menghempaskan dirinya ke atas sofa.
“Mau, Kay. Kopi kedengarannya enak banget sekarang.” Disandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, matanya kemudian dibuat terpejam.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang sudah dilaluinya hari ini?
Tidak ingin mengganggu Alex, dengan pelan dan hati-hati aku bangkit. Aku kemudian bergerak mengarah ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Alex. Mbak Inah ternyata sudah menyiapkan cangkir dan sedang memanaskan air.
“Mas Alex kelihatannya capek banget ya, Non? Lagi banyak kerjaan kali, ya.” Mbak Inah bertanya sambil berbisik. Aku hanya mengangguk. “Mau dibikinin makanan juga sekalian gak, Non?”
Hm. Makanan kayaknya juga bagus. Biar Alex mendapatkan tenaganya kembali. “Iya deh, Mbak. Bikinin spaghetti aja, yang simple. Saus pasta instannya masih ada kan, Mbak?" Mbak Inah kini yang mengangguk. "Oke, deh. Makasih banyak ya, Mbak.”
Aku lantas membawa secangkir kopi hitam yang sudah siap itu kembali ke ruang tengah. Aroma yang mengudara seketika membuat Alex terbangun dan menegakkan tubuhnya.
“Thanks.” Alex di kalakian menyambut uluran tanganku yang berisi cangkir kopi dan lantas menghirup aroma kopi itu dalam-dalam. Aroma kopi panas membuat matanya lebih menyalang. Dia kemudian meniup permukaan kopi beberapa kali itu sebelum menyesap sedikit minuman hitam kental dari dalam cangkir. Kopi hitam khas kota kami yang dibawakan Mama pada kunjungan sebelumnya.
Alex menoleh kepadaku dan tersenyum, kali ini senyuman itu dipenuhi rasa bersalah. “Sorry, aku gak balas pesan kamu, ya. Aku lagi jalan ke pedalaman Maluku buat urusan perusahaan dan ternyata di sana sinyalnya susah banget. Makanya aku memilih langsung ke sini setelah turun pesawatj am setengah sembilan tadi. And I’m sorry for waking you up. Kamu sama Mbak Inah pasti keganggu banget sama kedatangan gak diundang aku ini. Mana udah larut lagi.”
Aku menggeleng. “Don’t be sorry. Kamu harusnya langsung pulang aja, Lex. Kamu pasti capek. Kamu bisa bales pesan aku besok. Kamu bisa balas pesan aku pakai pesan juga, gak harus nyamperin aku ke sini juga, kan?”
Aku memutar bola mata. Lagi dan lagi mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik lagak sok tidak suka yang kutampilkan. “Sempat-sempatnya ngegombal dengan muka kuyu begitu. Kamu lagi fresh aja gombalannya enggak mempan, Lex, apalagi sekarang.” Aku mencibir.
Lelaki itu lantas menjangkau kepqlaku dan mengacak rambutku dengan gemas. “Dasar kamu. Suka banget ngatain aku. Eh, by the way, job apa yang kamu mention di chat? Jobnya halal kan, ya?”
Ah, itu. Aku jadi teringat lagi akan permintaan Tante Anne. “Kamu tahu yang punya The House of Anne, gak?” Aku langsung memulai. Mumpung Alex bertanya akan hal itu.
Alex berpikir sejenak sebelum mengangguk dengan agak ragu. “Aku gak kenal secara personal, sih, cuma kayaknya mama aku kenal. Kenapa emangnya?”
Aku berdeham sebelum memberikan pwnjelasan panjang lebar. “Kan, ceritanya teman aku yang mau nikahan besok itu pengen kita pake baju seragam pengiring pengantin. Jadi kita dikasih kain, disuruh jahit sendiri. Nah, Tante Meli ajak aku ke tempat beliau. Jadilah baju aku dibikinin jadi cantik banget, Lex. Kemarin dibawain sama Tante Meli ke kantor.” Aku terkekeh malu. “Tapi, masalahnya bukan itu. Tante Anne, si Pemilik House of Anne itu, bilang bajunya gratis. Beliau cuma mau aku foto pake baju itu buat diunggah ke media sosialnya beliau. So.” Sengaja kalimat kuhentikan di sana, dengan harapan Alex bisa mengerti lanjutannya tanpa harus kuungkapkan dengan lisan. Aku lalu mengedikkan bahu.
__ADS_1
“Iya, biar aku yang ambil fotonya. Kapan?”
Oh, my. How I love the quick-witted Alexander Rahardjo. Aku tersenyum lebar mendengar tanggapannya.
“Terserah kamu, Lex. Kapan kamunya bisa. Tapi, kalau bmkamu tanya aku pengennya kapan, kalau bisa sebelum acaranya Lulu, sih. Bisa gak, ya? Soalnya nanti aku enggak tahu bajunya masih utuh atau enggak habis itu.” Aku menaik-turunkan alis sambil tersenyum playfully.
Alex terkekeh dan menggeleng. "Dasar kamu." Dia mengacak-acak rambutku lagi. Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaan baru baginya malam ini. “Oke deh kalau gitu. Nanti aku atur jadwalnya dulu, ya. Kamu bantu aku kirim foto bajunya biar kita bisa siapin konsep dikit.”
"Iiiiiiiik, thank youuuu!" Aku sekonyong-konyongnya menghambur sembari mengembangkan lengandan berakhir dengan memeluk lelaki itu. "Thank you, thank you, thank youuuu!" Kukecup pipinya basah.
Seketika suasana menjadi lebih .... Ih, kenapa rasanya rumah ini jadi lebih panas, ya?
Kudengar kekehan Alex yang sudah bangkit dari sofa dan mulai bersiap-siap. “Makasih banyak kopinya ya, Kay. Aku udah mengambil keputusan yang tepat buat datang ke sini. Aku tahu ketemu kamu bisa bikin aku semangat lagi.”
Aku kembali mencibir—hello, acting skills!—sambil ikut-ikutan bangkit dari tempat duduk.
“Dan tolong bilang makasih aku sama Mbak Inah for the spaghetti.”
"Iya, nanti aku bilangin." Aku menimpali.
"Bye, Kay. See you soon."
Dan apakah kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Kalian tahu apa? Alex menyelipkan tangannya di antara helai-helai rambutku sebelum menempelkan bibirnya ke dahi. Aku terkejut sekali dengan apa yang dilakukannya. Saking terkejutnya, aku hanya berdiri mematung di sana.
Ini adalah kali pertama Alex melakukan itu; mencium keningku. Hal yang berhasil membuat jantungku jungkir balik di dalam dada. Namun, aku tidak pernah bilang kalau aku ... tidak menyukai bagaimana sensasi yang ditimbulkan oleh bibirnya di keningku. Bahkan kenyataannya aku ... sungguh menyukainya.
__ADS_1
Oh, no. Oh ... yes.
To be continued ....