Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
27. Hanya Sebatas Teman


__ADS_3

Bang Rian sudah menunggu di restoran hotel ketika aku selesai melakukan agenda seremonial perpisahanku dengan teman-teman. Ketika akhirnya kami menuju ke jemputan masing-masing, yang lain menggunakan jasa antar-jemput online selain aku, mendunglah hati ini. Namun, akan kurawat rindu yang seketika itu juga mengakar dengan janjian pertemuan di masa yang akan datang.


"Udah siap?" tanya Bang Rian dari balik punggungku.


Aku mengangguk, akan tetapi tidak melepaskan pandangan dari halaman hotel, di mana mobil yang baru saja membawa Mimi masih tampak bagian belakangnya.


"Gak usah pakai acara mewek segala kali, Dek. Dalam empat bulan kalian juga bakal ketemu lagi. Gak lama lah itu." Dia kembali berkomentar.


Ingin sekali rasanya kugebuk kepala laki-laki yang kini berdiri di sebelahku itu menggunakan tas carry-on yang ada di tangan. Lumayanlah kan, ya? Ada piyama, peralatan makeup, serta kain yang diberikan oleh Mimi kemarin. Setidaknya suara dari kejadian tersebut akan terdengar sangat memuaskan. Namun, tentu saja impianku ini tidak bisa kuwujudkan. Jadilah aku menggunakan taktik serangan balik. "Abang nginap di mana, sih? Jangan bilang teman kalau jenis kelaminnya cewek, ya. Awas aja kalau cewek. Aku kaduin ke Papa biar Abang digantung di pohon nangka angker yang ada di belakang rumah nenek," ancamku sambil mengarahkan telunjukku ke hidungnya.


Bukannya bertemu konfrontasi, sikap provokatifku malah dibalas dengan gelengan kepala dari abangku itu. "Enggak lah, Dek." Bang Rian membantah dengan sendu. "Abang nginap di kontrakannya teman abang, si Bayu. Sekalian kumpul sama teman lama yang lain. Lagian, Abang punya kamu, Dek. Abang gak mau mainin cewek apalagi ngerusak anak orang. Soalnya kami takut nanti kamu yang bayar dosa kami. Kamu pikir kenapa si Bian nikah muda, ha?"


Oh, dang it. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku pikir keputusan menikah muda bagi Bang Bian merupakan suatu yang natural karena memang begitulah sikapnya; tidak suka main-main dan selalu serius. Aku tidak menyangka keberadaanku mempunyai andil walaupun hanya secuil. Mendengar apa yang dikatakan oleh Bang Rian, hatiku jadi ikut-ikutan terharu. Kupeluk lengan kanan Bang Rian yang besarnya hampir sama dengan besar bantal guling bayi itu dengan kedua tanganku. Meskipun sudah berada dalam sikap terbaik saat mereka memperlakukan pasangan masing-masing, tetap saja kisah percintaanku tidak pernah berjalan dengan mulus.


Ah, itu karena akunya yang dikutuk.


Okay, cukup sudah.


“Udah jam setengah sepuluh, Bang. Kita langsung ke sana aja kali, ya.” Aku melepaskan pagutanku dan mulai berjalan ke arah lapangan parkir. Kenyataan ini membuatku semakin sadar akan kutukan yang kupunya.


****


Aku kira kami akan menjadi yang pertama datang, akan tetapi saat kami masuk ke dalam kafe, Bang Che ternyata sudah ada di sana. Dia mendongak saat mendengar suara pintu dibuka dan matanya agak membulat ketika melihatku masuk bersama Bang Rian yang merangkul bahuku seperti biasa. Tanpa ragu memamerkan sikap overprotektif yang dia punya terhadap adik perempuannya.


Cowok yang sepertinya masih mempertahankan gaya rambut shaggy-nya itu berdiri saat kami sampai di meja. Bang Che mengulurkan tangan yang dengan cepat disambar oleh Bang Rian. Aku hanya menjadi penonton dari aksi pertunjukan pamer kekuatan yang abangku lakukan. Kulihat Bang Rian menggenggam tangan Bang Che erat sekali, membuat cowok itu meringis dan berusaha menarik tangannya.


“Sorry.” Bang Rian tersenyum lebar berlagak tak berdosa. We all know that wasn't true. Kami berdua pun segera duduk.


“Ada apa Abang ngajak aku ketemuan di sini?” Aku langsung kepada inti pertemuan. Tidak ada gunanya berbasa-basi.


Bang Che terlihat enggan menjawab. “Eng, ehm ... enggak ada maksud apa-apa sih, Kay. Aku ... eng ... aku ....” Dia terbata.

__ADS_1


Bang Rian menggeser duduknya ke depan, mungkin berusaha untuk mendekatkan tubuhnya ke lawan yang ada di seberang meja. “Budi, lo dengar, ya. Gue akan kasih lo kesempatan buat ngomong baik-baik sama Kayra. Kalau sampai adek gue sakit lagi sedikit aja, lo tahu apa yang bisa gue lakuin," ancamnya. Dia menekankan setiap kata seperti hendak menekan tubuh Bang Che secara harfiah agar tidak berani melakukan apa-apa padaku.


Intimidasi sukses dilaksanakan.


“Oke, Bang.” Hanya itu yang keluar dari mulut Bang Che yang membentuk garis lurus di wajahnya.


Bang Rian menoleh padaku dan hanya lewat tatapan mata, kami berkomunikasi.


"Kamu yakin bisa menghadapi si Bxjingan ini sendiri, Dek?" Begitulah kira-kira pertanyaan yang diajukan oleh matanya itu.


Aku mengangguk sekali, dengan mantap.


Bang Rian pun balas mengangguk. Dia kemudian ke luar dan memilih untuk duduk di smoking area kafe itu. Bukan karena dia ingin merokok—Bang Rian adalah salah satu dari orang dengan gaya hidup yang paling sehat di dunia, aku yakin, akan tetapi karena dari sanalah dia bisa mengamati kami secara langsung tak langsung. Hanya dinding kaca yang membatasi kami.


Aku mengalihkan pandangan dari Bang Rian dan menatap permukaan meja dalam diam.


“Kay.” Bang Che memanggilku, akan tetapi aku tetap bergeming. Dia mengembuskan napas panjang. “Aku tahu kamu marah banget sama aku. Setelah apa yang aku lakuin, aku pantas terima itu semua.” Bang Che melanjutkan. “Sekarang aku mau minta maaf sama kamu.”


Oh, ya? Benarkah? Ngomong maaf aja sih mudah, yaa.


Bang Che mencoba meraih tanganku yang sedang memain-mainkan sedotan minuman yang tidak lama diantarkan oleh pelayan. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana karena Bang Che sudah memesankan minuman untukku. Awalnya aku tidak suka dengan sikapnya itu. Namun, sekarang, ketika minuman ini bisa dijadikan alasan untuk tidak memandang dia, aku ingin berterima kasih pada kecenderungannya untuk bersikap seenaknya itu. Meskipun demikian, rasa terima kasih saja tidak cukup untuk membiarkan dia menyentuhku. Kukibaskan tangannya. “Don’t you dare.” Aku mendesis. Kali ini kutusuk dia lngsung di titik mata.


Akubisa merasakan tatapan Bang Rian tak lepas dari kami.


“Oke, oke. Sorry." Dia menarik tangan dan mengangkatnya dengan telapak menghadap ke depan sebagai tanda menurut. "Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Kay. Aku serius. Aku menyesal, benar-benar menyesal. Aku enggak pernah lebih serius dan menyesal dari ini.”


Yeah, right. I know, I know.


“Udah setahun aku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah, Kay. Selama kamu pergi, aku enggak pernah bisa lepas dari perasaan itu. Aku enggak bisa berhenti mikirin kamu.”


Duh, duh, duh. Lihat siapa yang bicara.

__ADS_1


“Kay, aku udah mikirin ini lama. Dan apa yang setahun ini buktikan adalah kalau semua yang aku rasain selama ini ke kamu itu tulus. Aku ingin kita mulai dari awal lagi, buka lembaran baru lagi. Kita lupain semua yang udah terjadi antara kita.”


Eh, what?


“Aku sayang sama kamu, Kay. Aku cinta sama kamu. Perasaan aku lebih besar dari yang sebelumnya aku rasain. Perasaan aku cuma buat kamu, Kayra.”


Oh, really? Fiuh. Whatever. Aku benar-benar tidak peduli.


“Kay, kamu lihat aku dong. Kamu lihat aku, tatap aku, biar kamu bisa menyaksikan keseriusan aku ini." Nada bicara yang memelas dan mendayu tadi kini mulai diisi oleh desakan.


Okay, Kayra. Rasanya sudah cukup untuk mendengarkan apa yang dia perlu ucapkan. Untuk itu kamu datang ke sini, bukan? Let’s end this. Setelah merasa yakin, di kalakian aku mengangkat kepala dan menatap lurus pada mata Bang Che.


Baru bertemu saja mata kami, dia sudah terlihat sangat semringah. “Sekarang kamu lihat, kan? Aku sungguh-sungguh cinta sama kamu, Kayra. Aku harus apa biar kamu bisa percaya?” Che terus saja berbicara dan berharap aku bisa yakin padanya.


"Stop, Bang. Cukup," suruhku dengan pelan namun setegas mungkin. "Abang gak perlu jelasin apa-apa lagi ke aku.”


Entah kenapa sneyum di wajah Bang Che semakin merekah. “Akhirnya kamu bisa lihat itu, Kay. Akhirnya kamu sadar gimana perasaan aku ke kamu. Kamu juga sayang selama ini sama aku, kan? Bilang aja, Kay. Ungkapin aja semuanya. Di antara kita enggak perlu ada rahasia-rahasia lagi.” Che meraih dan menggenggam tanganku.


Aku terkesiap, ingin berontak, akan tetapi dnegan sekuat tenaga kutahan penolakanku. Dari balik punggung Bang Che pun kulihat Bang Rian melotot dan hendak berdiri menghampiri kami. Aku segera memberikan isyarat dengan tatapan mataku padanya.


Percaya aku, Bang, aku harus selesaikan sendiri semua ini sekarang.


Dengan berat hati Bang Rian akhirnya duduk kembali.


Setelah hitunggan ketiga di dalam hati, kutarik tanganku lambat-lambat sambil memberikan senyum kaku pada Bang Che yang memandangiku dengan kening berkerut. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa tidak peka sama sekali seperti ini. “Bang, aku minta maaf kalau sebelumnya aku udah bikin Abang salah paham.”


“Engga usah bahas yang dulu-dulu lagi, Sayang,” sergahnya.


Jujur saja, bulu kudukku berdiri saat dia memanggilku dengan sebutan itu dan bukan karena alasan yang bagus. Aku berdeham untuk mengusir rasa tidak enak yang seketika saja menjalar di sekujur tubuh. “Sekarang aku mau Abang dengerin aku dulu, biar semuanya jelas. Aku enggak mau ada kesalahpahaman lagi di antara kita. Oke?” Aku mengubah taktik. Kali ini kugunakan nada yang lembut dan membujuk. Mudah-mudahan saja dia mau dibujuk.


“Oke.” Che menurut.

__ADS_1


Terima kasih banyak, Tuhan. “Bang, aku ngerti perasaan Abang. Aku juga enggak mau mengungkit yang dulu-dulu, semua yang terjadi waktu itu udah aku maafin. Apa pun itu dan apa pun alasan Abang melakukannya, aku udah enggak peduli sekarang. Setahun ini aku udah belajar banyak, batng, dan pada akhirnya aku sampai di titik ini. Perasaan aku udah enggak sakit lagi, aku udah enggak sedih lagi. I learned to let go and here I am. Hampir semuanya berubah dalam diri aku, Bang, dan syukur banget aku rasa sebagian besar jadi lebih baik. Tapi, satu hal yang sama; dulu dan sekarang adalah perasaan aku ke Abang. Aku menganggap Abang sebagai senior, sebagai teman, sama kayak aku menganggap Bang Riko atau teman-teman Abang yang lainnya. Enggak lebih, Bang.”


To be continued ....


__ADS_2