
Melihat mamanya, Genta seketika menjadi sangat senang dan kemudian mengejarnya. Uni Cya menggendong anaknya dan bermaksud untuk membawa si bocil ke kamar. “Makasih banget loh, Om Alex Ganteng, udah mau repot jagain Genta sebentar. Dia gak rewel kan?"
Dengan lekas Alex menggeleng. "Gak ah, Uni. Dia pintar banget malah, gak rewel sama sekali. Gak repot juga kok."
"Syukurlah," timpal Uni Cya. "Ya udah, kalau gitu Genta mau ke kamar dulu ya, Om. Bye, Tante Kakay!” Uni Cya menggerakkan tangan Genta serupa lambaian. Alex balas melambai dan duduk di sebelahku yang masih tidak bisa berhenti menatapnya.
“Like what you see?” Alex mengedipkan sebelah matanya padaku. Dasar Alex. Dia mulai lagi.
Aku memberikannya tatapan heran. “How did you do that, Lex?” Aku akhirnya mempunyai kesempatan untuk menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran.
__ADS_1
Alex mengamatiku untuk beberapa saat sebelum memberikan senyum yang selalu dia banggakan itu. “Aku punya empat orang keponakan, Kay, anak dari kakak-kakak aku.” Dia akhirnya menjawab pertanyaanku. Kalimatnya diselingi senyum akan kenangan empat orang keponakan yang melintas. “Jadi aku bisa dibilang udah biasa ngurusin anak-anak.”
Aku di kalakian mengangguk pelan, sedikit-sedikit menyerap informasi yang diberikan Alex tentang dirinya.
Dia mulai menceritakan bagaimana orang tuanya mengharuskan dia tinggal bersama kakak tertuanya, Ashley, saat masih kuliah. Ashley melahirkan anak pertamanya, Carla, ketika Alex masih di tahun pertama. Dua tahun kemudian, lahir adik Carla yang diberi nama Calvin. Setelah menyelesaikan S1, Alex memutuskan untuk lanjut S2 di Universitas yang sama. Namun, kali ini dia harus menemani kakak keduanya, Aubrey, yang baru melahirkan dan tinggal seorang diri karena suaminya yang seorang pilot dan memiliki jam terbang yang sibuk. Sementara di Indonesia, kakak laki-lakinya, Adrian, tinggal bersama orang tua mereka. Oleh karena itu dia mempunyai banyak sekali kesempatan untuk belajar mengenal tingkah dan cara menghadapi anak-anak.
Setelah semua hal yang dikatakan Alex, aku tiba-tiba menyadari satu hal; selama ini aku tidak mengetahui apa pun soal dirinya. Aku bahkan tidak pernah bertanya. Semua yang kami lakukan hanya berfokus pada kebutuhanku, keinginanku. Aku merasa jadi teman yang buruk untuk Andrew. “I’m sorry.” Aku menyela Alex yang sedang sibuk bercerita.
“Sorry for what, Kay?” Dia kemudian merubah posisi duduk. Dinaikkannya sebelah kaki ke atas sofa dengan posisi direbahkan sehingga kaki kanannya kini ada di space di antara tubuh kami. Aku yakin itu adalah salah satu upaya agar dia bisa membuat suasana menjadi sedikit lebih santai dan nyaman.
__ADS_1
Aku serta-merta mengubah arah tubuhku sehingga bisa menatap Alex.
“Aku minta maaf karena udah bersikap egois selama ini sama kamu. Selalu aja kamu yang ada buat aku, dan aku bisa dikatakan gak tahu apa-apa soal kamu dan keluarga kamu. Aku bahkan gak pernah nanya. Jahat banget, kan?” Aku menunduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Aku mendengar gelak Alex sebelum merasakan sentuhannya di kulitku. Dia berusaha untuk mengangkat wajah dan melepaskan tanganku agar aku bisa menatapnya. Dia kini tersenyum.
Ah, senyum itu lagi. “Don’t be sorry. You can take the whole time to know everything about me.”
Aku menatapnya dan melihat sesuatu di mata Alex yang belum pernah kulihat sebelumnya sehingga aku tidak mengerti artinya apa.
__ADS_1
To be continued ....