Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
29. Tidak Menentu


__ADS_3

Mereka asyik bertukar informasi soal diri masing-masing. Aku yang tidak mau terlibat dalam percakapan itu memutuskan untuk berpura-pura tertidur.


Hanya mata yang terpicing. Telingaku sibuk menyaring apa yang mereka bicarakan. Hatiku sibuk menelaah rasa yang timbul. Kepala sibuk menerka-nerka penyebabnya.


Sebenarnya apa yang membuatku menjadi kesal begini?


Hm. Entahlah. Saat mengetahui bahwa Alex-lah yang datang, aku merasa sudah dikerjai. Kenapa dari awal dia tidak bilang kalau yang mengirim pesan itu adalah dia, Alex? Dia bisa kan mengawali pesannya dengan "Hi, Kayra. Ini Alex. Masih ingat aku, kan? Aku ditugaskan papaku untuk memantau perkembangan project cabang yayasan, nih. Nanti aku naik pesawat jam segitu. Aku minta tolong untuk dijemput, ya" Nah, kalau begitu kan enak. Bukan seperti tadi caranya. Dia tidak memperkenalkan diri saat mengirimiku pesan. Padahal dia tahu bahwa aku yang akan membantunya di sini. Aku merasa seperti sudah dikelabui secara sengaja.


Ah, ah, ah. Mungkin benar itulah yang kurasakan.


Namun,setelah dipikir-pikir lebih jauh, kenapa dia harus memberi tahu aku soal siapa dia? Kedatangannya? Memangnya siapa aku? Bukankah aku hanya seorang pekerja yang mestinya siap sedia untuk mengikuti semua perintah atasan?


Argh! Aku benar-benar dibuat pusing oleh pikiran-pikiranku sendiri.


Karena hanya pura-pura tidur, aku masih bisa mendengar dengan jelas percakapan yang dilakukan oleh dua orang pemuda seumuran itu. To be honest, aku juga agak sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Bang Rian dan Alex seumuran. Bukannya aku ingin mengatakan kalau Alex terlihat tua, ya, tidak sama sekali. Namun, ada aura lain yang mengelilingi Alex. Aura yang terlihat seperti sebuah ... kematangan. Entah karena memang pembawaannya yang sudah disetel seperti itu sebab dia adalah seorang pemimpin perusahaan besar atau hanya karena setelan jas mahal yang dipakainya saat pertama kali kami bertemu.


Eh, tapi, tadi dia tidak memakai jas, loh! Dia memakai pakaian casual dan tetap saja .... Fix. Itu adalah efek dari aura dan pembawaannya.


Dari hasil mencuri dengar, aku bisa mengumpulkan data-data pribadi Alexander Rahardjo—aku tidak tahu dia punya nama tengah atau tidak. Dia lahir di Chicago dan pindah ke Indonesia saat berusia lima tahun karena nenek dan kakeknya—orang tua dari Mr. Rahardjo, yang juga blasteran Jawa dan Belanda—di Jogja sudah sangat renta dan mulai sakit-sakitan. Setelah menyelesaikan SMA, dia "dikirim" kembali ke Amerika oleh ayahnya untuk sekolah bisnis. Kemudian dia balik ke negeri kita yang tercinta ini setelah menyelesaikan studi magister-nya empat tahun yang lalu.


Aku seketika saja sibuk mengerjakan soal matematika yang tiba-tiba muncul di dalam benakku. Jika empat tahun lalu Alex kembali daei Amerika setelah menyelesaikan S2 dan sekarang dia berumur dua puluh delapan tahun, jadi dia menyelesaikan sekolah magister bisnis tersebut pada usia dua puluh empat tahun. Wow. Fakta yang sungguh mengesankan, bukan?


Lanjut kepada fakta lainnya.


Ternyata mereka punya hobi yang sama, bermain musik. Alex juga pernah mempunyai sebuah band di Amerika, The fairygods, yang beraliran underground. Namun, karier bermusik pemuda itu harus berakhir seiring dengan berakhirnya pendidikan di Amerika. Padahal, katanya, mereka cukup terkenal di kalangan mahasiswa.


Hm. Aku meragukan keabsahan info ini. Aku yakin grup band tersebut terkenal di lingkungan kampus bukan karena kelihaian personilnya memainkan musik, akan tetapi karena "siapa" yang ada di dalam band itu. Satu Alex saja sudah cukup untuk menarik perhatian banyak wanita, apalagi kalau ada dua, tiga, atau semua anggota band mereka seperti cowok beraksen yang duduk di belakangku ini? Eh, eh, tapi, aku juga tidak ingin bersuuzan dan mengatakan bahwa grup band apa namanya tadi, The Fairygods, tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, ya. Mungkin saja mereka memang benar-benar jago memainkan alat musik dan bernyanyi.


Maybe not.


Ah, sudah, sudah.


Sekarang, mantan pemain gitar band itu memilih traveling dan fotografi sebagai pelepas penat setelah disibukkan oleh rutinitas di kantor dan pekerjaan. Kadang dia juga menyempatkan diri untuk melakukan jalan-jalan dan mengambil foto saat melakukan perjalanan bisnis. Seperti yang akan dia rencanakan kali ini di Sumatra Barat. Setelah mencari tahu melalui beberapa artikel di mesin pencarian dan bertanya sana-sini, dia mengaku sudah mempunyai beberapa daftar tempat yang ingin dia datangi nanti.


Dan, itulah informasi terakhir yang bisa kurekam.


****


Sesuatu membuatku tersentak dan terjaga dari tidur beberapa puluh menit dari rumah. Ah, dang it! Aku tidak mengira bahwa aku akan betul-betul terlelap.


Saat kami sampai di rumah, matahari sudah mulai turun ke ufuk barat. Sayup-sayup rona jingga muncul malu-malu, menyelinap di antara langit biru dan awan kelabu yang mulai mengelam. Aku turun dari mobil, menuju ke kamar, dan langsung memutuskan untuk membersihkan diri dengan mandi. Namun, itu semua hanya akan jadi harapan belaka karena kenyataannya setelah turun dari mobil, aku berpikir harus memberikan penjelasan kepada orang rumah tentang pemuda yang tiba-tiba kami bawa pulang.


Walaupun demikian, lagi-lagi aku harus dihempas badai fakta lain karena sepertinya aku salah. Orang-orang di rumah ternyata, oh, ternyata pemirsa sudah bersiap untuk menyambut tamu.

__ADS_1


Dari mana mereka semua mengetahui soal ini? Oh, iya. Om Seno adalah sahabat Papa. Kenapa aku bisa lupa?


“Selamat datang di Sumatera Barat ya, Alexander. Ini kali pertama kamu ke sini?” Papa membalas jabat tangan Alex dengan semringah. “Rian, ajak Alex ke kamar tamu. Tadi sudah dibersihkan sama Tek Nur kok. Mungkin dia ingin beristirahat sebentar sebelum makan malam.”


Oh, yeah. Right. Great.


****


Selesai makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga. Aku berada di samping Malik yang sedang duduk di kursi makan dan memain-mainkan rotinya. Ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Panggilan masuk dari Roni.


Aku beranjak menuju ke halaman belakang rumah yang terletak di luar pintu samping di sebelah barat ruangan ini. “Ya, Roni."


"Halo. Kayra, besok kita ketemu di meeting room Hotel Maxima, ya. Pukul delapan pagi. Pertemuannya gak resmi-resmi amat, kok. Paling cuma kayak diskusi kita biasa aja pas di organisasi, santai." Roni memberi tahu dari seberang sambungan.


Alisku seketika bertemu di tengah-tengah dahi. "Hm. Oke, oke. Tapi, aku agak ragu sama situasinya, apa bisa kita santai? Soalnya kan ada perwakilan dari donatur juga yang ikut dalam pertemuan besok itu. Kalau kita ngobrol santai aja apa gak dikira kurang profesional nanti?"


"Emang perwakilannya siapa? Cewek apa cowok? Muda apa udah bangkotan?" Dia bertanya.


"Cowok," jawabku cepat. "Masih muda. Seumuran sama Bang Rian." Wait, wait, wait. Kenapa aku merasa perlu untuk menyebutkan tentang informasi yang terakhir itu? Memangnya apa ada manfaat tersendiri jika Roni tahu? Secepat apa info itu ke luar dari mulutku, secepat itu pulalah aku menyesali perbuatanku.


Kayra, Kayra, Kayra. Aku tidak habis pikir pada diriku sendiri.


"Ah, kalau itu sih bisa kali, Kay." Roni terdiam sejenak. "Eh, tapi ...."


"Siap, Bos," sahutnya.


"Jangan lebay, deh!" erangku. Semenjak aku menelepon dia untuk mengumpulkan pasukan soal project ini, Roni dan kawan-kawan yang lain mulai memanggilku dengan sebutan itu. Inhate it. "List yang aku kasih ke kamu udah dicek semua, Ron? Ada yang kurang?"


"Gak, gak. Udah aman. Clear."


"Oke, kalau yang itu udah fix, berarti kita udah siap buat ketemu besok. Yang lain tolong dikondisikan ya, Ron."


"Siap, Bos!"


Errgh. "Oke. Makasih banyak ya, Roni. Bye." Fiuh. Akhirnya selesai juga. Setelah aku menutup telepon, aku berbalik dan welp! Tahu-tahu Alex sudah berdiri beberapa langkah di belakangku. Dia sedang menyandarkan tubuhnya di tonggak rumah dengan tangan bersilangan di depan dada.


“Kay, let’s have a conversation.”


Aku ... tidak tahu harus merasakan apa setelah mendengar kalimat itu.


Rumah kami dikelilingi oleh teras dengan taman dan kebun sederhana yang diurus oleh Mama bersama Tek Nur. Juga ada gazebo dan satu set kursi taman yang terbuat dari besi. Kami memilih untuk duduk di kursi itu.


“The sky is amazing here. Something you don’t get in Jakarta.”

__ADS_1


Aku melirik Alex yang berbicara sendiri sembari menengadahkan kepalanya ke langit. Rasa yang tak menentu tadi sudah memutuskan siapa yang lebih dominan di antara rasa yang ada. “Karena di sana gak ada yang peduli soal bintang yang ada di atas langit. Orang-orang cuma sibuk mikirin bintang yang jadi embel-embel sesuatu,” timpalku sinis. "Hotel bintang lima, restoran bintang lima, pelayanan bintang lima, bla bla bla bintang lima."


Alex sekonyong-konyongnya menoleh kepadaku. Sebuah kerutan yang cukup dalam timbul di antara alis matanya. Aku takut hal itu akan menimbulkan bekas yang permanen di sana. “I’m pretty sure you’re not that kind of girl, Kayra.”


Lagi dan lagi. Cara lidahnya menyebutkan namaku mengacaukan perasaan ini lagi. Hal tersebut menyulut kekesalanku pada diri sendiri. Kenapa aku membiarkan keberadaan orang baru seperti Alex memengaruhi perasaan dan fungsi otakku? “Dengan segala hormat, Pak Alex, tapi Anda tidak tahu apa-apa soal saya.” Aku menatapnya dengan tajam.


Tanpa ragu Alex membalas tatapanku. Untuk beberapa saat kami hanya saling menantang mata masing-masing. “Let’s end this," pintanya di kalakian seraya menghela napas panjang. "Saya tidak mau memulai sebuah pekerjaan dengan kesan seperti ada bad blood di antara kita. Kalau kamu memang merasa begitu, tolong jelaskan pada saya. What makes you so upset?” Dia lalu mengubah posisi kursi hingga kini dia duduk menghadap padaku.


Kutarik napas dalam-dalam dan kulepaskan perlahan. Ayo, bahas ini sekarang, Kayra. Besok otakmu harus jernih untuk mengurus pekerjaan. Lagi pula, dia yang bertanya duluan, kan? Jadi kamu tidak perlu takut untuk disalahkan.


Oke. Baiklah. Kuambil beberapa detik lagi untuk menyusun pikiran-pikiranku. “Dengan segala hormat Bapak Alex–”


"Oh, come on." Alex menyalip kalimatku. "Gak usah pakai panggilan Pak segala, lah. Drop the honorific. Kita lagi di rumah, bukan di kantor. Lagian kalau ada di kantor pun saya tidak mau dipanggil Pak sama kamu."


Sebuah "why?" terlepas begitu saja dari mulutku tanpa betul-betul kupertimbangkan.


"Ya ... karena saya gak suka aja kalau kamu manggil saya Pak. Lebih baik panggil nama. Alex. Lebih-lebih lagi kamu bukan anak buah saya di kantor. So ...." Dia mengedikkan bahu bidang yang kini ditutupi oleh baju kaus itu.


Dang it. Kenapa dia bersikap seperti ini, sih? Kenapa sikapnya terus saja berhasil memantik emosiku? "Pak, tadi Bapak menyuruh saya untuk menjelaskan alasan kenapa saya bersikap seperti ini, akan tetapi Bapak selalu menyela kalimat saya. Sebenarnya Bapak benar-benar mau mendengarkan atau permintaan tadi hanya sekadar basa-basi saja, Pak?"


Mata Alex seketika membulat. "No! Saya benar-benar ingin tahu, Kay. Please, do explain. Supaya kita bisa memperbaiki sikap jika memang ada kesalahan yang telah dilakukan." Dia menggeser kursinya ke depan dan lebih dekat ke meja. Ditelekan kedua lengan di atasnya dengan jari-jemari yang saling bertautan. Lelaki itu di kalakian berdeham. "Please, proceed."


Oke, markimu. Mari kita mulai. "Tolong jawab dengan jujur ya, Pak. Apa tujuan Anda datang ke sini?"


“To help you with this project," sahutnya cepat dengan nada yang tidak dibuat-buat.


“Kenapa bisa?”


"Mr. Rahardjo yang menyuruh saya datang. Kamu juga dengar sendiri saat kita bertemu untuk kedua kalinya di acara malam itu, kan?"


Well, dia benar. Dan entah kenapa aku menyukai caranya menyebut ayahnya dengan Mr. Rahardjo karena dengan begitu secara tidak langsung dia menyatakan bahwa kedatangannya ke sini memanglah untuk urusan pekerjaan. “Kenapa Anda tidak memberi tahu detail soal siapa Anda kepada saya saat mengirimkan saya pesan? Apakah Anda sengaja melakukan hal itu?”


“Well ...." Untuk pertama kalinya semenjak percakapan ini dimulai, Alex terlihat agak bingung. "Saya tidak tahu jika saya harus mengkonfirmasi siapa saya ke kamu. Saya pikir kamu sudah tahu bahwa sayalah yang kamu jemput.”


"I have no idea," sergahku.


"Well, then–" Suara ponsel memotong kalimat Alex. Dia segera merogoh saku celana kargo hitam yang dipakainya untuk mengeluarkan gadget itu. Di saat yang sama, tampak sekilas layar yang menyala itu olehku. Seorang wanita sedang menghubungi Bapak Alexander Rahardjo yang terhormat. "I have to take this. Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali. Oke?" Tak menunggu jawaban dariku, dia berjalan menjauh.


Perasaanku jadi tidak menentu lagi.


Kayra, what the heck?


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2