
Akhirnya kami berbalik arah. Bahkan setelah mengantar Roni, kali ini ke kantornya, Alex masih saja dalam posisi tidur. Positif lelaki itu masih akan tidur dalam tiga puluh menit ke depan, aku memutuskan untuk langsung menuju ke rumah. Aku berpikir tidak ada gunanya mengajak dia untuk makan di luar kalau yang mau diajak saja masih molor begini.
Mobil sudah dalam posisi parkir di depan garasi dan Alex masih saja tertidur. He obviously sleeps like the dead. Aku memasukkan informasi ini ke dalam file berjudul "All Things About Alex" yang entak sejak kapan ada di dalam kepalaku.
Dia tidur dengan pulas.
Dia keras kepala.
Dia suka bekerja.
Dia suka fotografi.
Dia suka jalan-jalan.
Mata birunya sangat indah dan ekspresif.
Dia protektif.
Dia juga bisa menjadi sangat menyebalkan.
Lima menit kemudian, akhirnya aku berhasil mengumpulkan rasa tega yang cukup untuk membangunkan Alex. Kutepuk pundaknya lembut sambil mengatakan “Lex, wake up” beberapa kali. “Lex, come on. Wake up.”
Entah setelah kali ke berapa Alex mulai mengerang dan menggeliat di kursinya. Matanya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi karena masih berat. Penat masih bergelayutan di kelopak mata berbulu mata panjang itu. Dia lalu menggosok-gosok matanya. Mata itu terbuka lagi, agak lama kali ini, sebelum berkedip-kedip, digosok lagi, dan bertemu dengan mataku yang sibuk memperhatikannya dari tadi.
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Dia lucu sekali dengan wajah baru bangun tidur dan tatapan bingung serta lugunya itu.
Tampangnya terlalu menggemaskan untuk ukuran seorang pria dewasa.
Alex kemudian menegakkan badannya dan melihat ke sekeliling. Dahinya berkerut semakinbingung. “Oh, my God, Kay! Kita ada di mana?” tanyanya dengan suara serak. Dia berdeham untuk membersihkan tenggorokan.
Aku mengambil satu botol air mineral yang selalu aku siapkan di cup holder di antara tempat duduk kami dan memberikan botol itu padanya.
Alex menghabiskan setengah isi botol dalam sekejap.
“Kita udah sampai di rumah lagi, Sleepyhead,” candaku.
Mata Alex tiba-tiba melebar. “Di rumah? Serius kamu? ****! Lalu pertemuan dengan Pak Ramlinya gimana? Ffff-fudge! Kenapa kamu gak bangunin aku?” cecarnya. Jari-jari yang dimaksud untuk merapikan rambut kini malah memegang rambut-rambut itu dengan erat, seakan dia ingin menanggalkan mereka dari kepalanya. Hal ini memperlihatkan betapa frustasinya Alex.
Aku tertawa, baru kali ini aku melihat seorang anak bos besar frustasi karena ketiduran. “Hey, calm down. It’s okay.” Aku meyakinkan. “Pas kita sampai di sana, ternyata menantu Bapak Ramli baru selesai melahirkan tadi malam. Jadi beliau hari ini mau mengurus cucunya dulu. Beliau minta kita balik lagi besok. Atau kapan Pak Ramli bisa. Beliau berjanji bakal konfirmasi lagi nanti.”
Mendengar penjelasanku, ketegangan di wajah Alex sekonyong-konyongnya menguap. “Thank God.” Dia menghela napas panjang. Tangannya turun, kali ini untuk menggosok-gosok wajah, sebelum kembali naik untuk menyisir rambut. Kali ini benar-benar bermaksud untuk merapikan rambut cokelat terang yang agak bergelombang itu “So, kita udah sampai di rumah lagi sekarang.” Dia mengatakan.
“Yup.”
Alex menggeleng. “Sorry, Kay. I'm so sorry.”
__ADS_1
Aku tergelak. “It’s okay. Aku gak marah kok,” jawabku santai. “Everything worked out just fine in the end. But,” Aku kemudian menatap Alex, “Aku bakalan marah kalau kamu gak ke luar dari mobil dalam lima detik. Soalnya aku udah lapar banget, Lex.”
Belum saja aku selesai mengutarakan keinginanku, Andrew sudah terbang ke luar dari mobilku.
Duh, benar-benar, deh, si Alex penuh kejutan.
****
Pak Ramli mengkonfirmasi ketersediaan waktunya untuk kami besok pagi. Saat kami akan berangkat keesokan harinya, entah kenapa Genta ingin ikut denganku sampai dia menangis minta diajak pergi. Akhirnya kami membawa bayi delapan belas bulan itu dengan berbagai keperluan yang sudah disiapkan Uni Cya; beberapa botol persediaan ASI yang standby di dalam cooler box, popok, selimut, dan bantal kecil, juga beberapa pakaian ganti. Dan karena ini hanya pertemuan dengan Bapak Ramli, aku dan Alex memutuskan untuk tidak menggunakan setelan kerja kami.
Aku juga sudah menyiapkan sebuah kado untuk menantu dan cucu Pak Ramli untuk diberikan nanti.
Dengan Genta dalam pelukanku dan Alex yang menyetir, kami menuju ke rumah Roni. Kami sampai di rumah Roni yang tercengang melihat dua tas di kursi belakang. “Jangan bilang kalau kalian abis nyulik anak orang dan berencana kabur?” Roni meledekku saat masuk ke dalam mobil.
Aku mengangkat Genta agar Roni bisa melihatnya. “Perkenalkan Om Roni, aku Genta. Keponakannya Tante Kayra," ucapku dengan suara yang kubuat melengking. Kududukkan lagi Genta di atas pangkuan sebelum menoleh pada cowok berbadan gempal yang duduk di kursi penumpang. "Lagian kalau nyulik, mana mungkin sekalian sama seabrek keperluannya gitu, ha?"
Roni terlihat puas karena sudah membuatku kesal dengan leluconnya. Dia benar-benar suka menggangguku dari dulu semasa kuliah. "Be te we, gak tidur lagi, nih, Pak?" Kali ini dia mengarahkan serangannya pada Alex.
Aku memelototinya dari tempat dudukku. Kadang memang suka sembarangan ini makhluk.
Telinga Alex memerah, akan tetapi dia berhasil menguasai diri dan mencoba menanggapi godaan Roni dengan santai. "Orang RS Grup juga manusia kali, Ron. Kelihatannya aja yang super. Kita juga butuh tidur tahu."
Well, dia juga bisa ngelawak ternyata. Atau lebih ke ngelawak sambil nyombong, sih. Namun, tidak apa-apa. Yang jelas bisa membungkam mulut besar si Roni ini.
****
Bapak Ramli ke luar dari dalam rumahnya tepat saat Andrew memarkir mobil di bawah pohon yang sama. Aku keluar dari mobil sembari menggendong Genta. “Aduh, Nak Kayra, lucu sekali bayi kamu?”
"Eh, bu–"
“Dan ini pasti papanya, ya?” cetus Pak Ramli saat melihat Alex mendekat sambil menyandang sebuah tas di bahu lebarnya.
Roni berusaha menahan tawa di belakangku.
Alex yang diomongkan hanya tersenyum sambil membalas uluran tangan pria paruh baya itu.
Sementara aku tergagap menjelaskan. “Ah, enggak, Pak. Bukan. Ini keponakan saya.” Aku memperbaiki posisi Genta yang sedang memegang teething rubber itu dalam gendonganku. “Dan ini adalah bos saya. Anak dari pemilik RS Grup.” Aku mengangguk ke arah Alex.
Pak Ramli malah tertawa. “Oooh. Bapak minta maaf. Baiklah kalau begitu. Di dalam ada dua orang pegawai kantor Notaris/PPAT kenalan saya yang sudah menunggu,” lanjut beliau sambil mempersilakan kami masuk.
****
“Baiklah, Pak, berarti semuanya sudah selesai. Setelah ditandatanganinya akta jual beli ini, berarti pemindahan hak atas tanah yang semula milik Bapak sudah sah. Sekarang, tanah tersebut sudah menjadi milik yayasan yang diwakili Bapak Alex. Dan, segala biaya yang ditimbulkan oleh kesepakatan ini akan ditanggung oleh pihak yayasan.” Salah satu pegawai kantor Notaris/PPAT memberikan penjelasan kepada Bapak Ramli.
Bapak Ramli mengangguk mengerti.
__ADS_1
Sementara melangsungkan transaksi, Genta tertidur dalam pelukanku setelah minum susu.
Sementara melakukan transaksi, pegawai kantor Notaris/PPAT yang satu lagi sibuk mencuri pandang dan menarik perhatian cowok yang memang menarik itu.
Dan aku sungguh tidak menyukai tatapan yang diarahkannya pada lelaki yang duduk di sampingku itu. Betul-betul sikap yang tidak profesional. Menggoda klien di saat jam kerja.
Untung Alex tidak tergoda. Tidak pernah sekali pun dia membalas tatapan wanita yang duduk di seberangnya itu.
Ugh!
****
Penandatanganan kesepakatan dan akta yang diperlukan berjalan dengan cepat. Tak terasa kami sudah berada di perjalanan pulang lagi. “Kayaknya kamu udah cocok banget jadi ibu lho, Kay. Nunggu apa lagi, sih?” Roni membuka suara.
What? Apa-apaan, soh, si Roni ini? Kenapa dia berkata seperti itu sekarang? Di depan Alex yang practically orang asing lagi.
Aku menatapnya tajam sebelum kembali melihat ke depan. Kami sedang berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang. “Nunggu waktu yang tepat. Dan orang yang tepat.” Aku menjawab asal.
“Nanti kalau kelamaan kamu keenakan sendirian, lho. Masa cewek cantik gini enggak ada yang mau, sih? Atau kamunya aja yang terlalu milih?” Roni asik berceloteh di balik punggungku.
Genta sedang memain-mainkan bonekanya dipangkuanku.
Alex sedang konsentrasi mengemudi, aku berharap sekali dia memilih untuk tidak mengacuhkan percakapan kami.
Dan aku?
Aku sedang berusaha mengendalikan diri. “Roni, kamu kenal aku. Kamu tahu jawaban dari pertanyaan kamu sendiri.” Aku menjawab pendek.
Roni satu kampus denganku, otomatis dia tahu sedikit banyak tentang aku dan kisahku di kampus.
“Iya, iya, aku tahu. Tapi, cepat atau lambat kamu harus belajar membuka hati lagi, Kay. Enggak semua cowok berengsek kayak dua orang itu.”
Roni sudah terlalu banyak bicara.
Aku kembali menatapnya tajam, berharap dia mengerti dengan isyaratku, sebelum menghadap ke depan lagi.
Too much, Ron, Too Much Freaking Information yang tidak perlu diketahui oleh orang lain lagi di sini as know as Alex.
Aku lalu melirik Alex yang masih memperhatikan jalan dengan kening yang berkerut. Apakah dia menyimak percakapan ini? Atau kerutan di keningnya itu benar-benar karena berkonsentrasi pada jalanan?
“Iya, Roni. Aku ngerti. Aku paham.”
Dan sekarang tutup mulut ember kamu itu. For the love of God, shut the fudge up, please!
To be continued ....
__ADS_1